Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_071

gambar

The Beginning After The End


BAE_071

Chapter 71: Hari yang Membingungkan

 

Aku memutuskan untuk tinggal di rumah satu hari lagi, sebelum kembali ke sekolah. Jadi, aku akan kembali minggu depan, tepat saat Aurora Constellate. Tapi sepertinya, aku sudah mengembangkan semacam trauma pada Ibu dan Ellie.

Itu membuat mereka percaya, jika entah bagaimana aku akan selalu terluka, setiap kali meninggalkan rumah.

Aku beruntung memiliki mereka. Tapi, aku juga berhutang budi kepada mereka.

Waktu terus bergulir, aku terus menghabiskan waktu dengan keluargaku, lebih tepatnya ibu dan adikku. Ayah akan selalu pergi bekerja saat fajar, setelah mengecekku. Tabitha memutuskan datang saat ini.

Dan setelah diskusi singkat, mereka akhirnya pergi berbelanja. Dan cukup jelas bagiku, untuk tidak bisa mengatakan ‘tidak’, untuk hal ini kepada Ibuku.

Sigh…

Setidaknya, aku bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengambil jalan memutar. Lagipula, itu searah dengan Xyrus Academy. Aku memang tahu jika semuanya selamat, sesuai dengan apa yang orang tuaku dengar dari Profesor Glory. Tapi, aku juga tidak harus terus menyembunyikan tentang apa yang terjadi padaku setelahnya.

Aku juga agak khawatir, tentang kondisi Tess saat ini.

Aku sudah tidak bisa menghitung, berapa banyak tempat yang kami kunjungi saat ini. Tapi, aku tidak berani menunjukkan ketidak-senanganku itu di depan adikku. Saat berkeliaran melalui toko-toko ini, aku akhirnya menyadari, betapa bodohnya diriku.

Fakta jika satu-satunya waktu aku mengunjungi toko-toko adalah setelah aku dilahirkan kembali ke dunia ini, ditambah dengan kenyataan jika aku tidak punya peralatan penting selain pedangku. Itu membuatku merenungkan untuk mencari peralatan baru.

Aku masih ingat waktu ketika aku digendong di punggung Ibu, dan melihat semua tenda kecil yang penuh dengan barang dagangan, saat berada di kota kecil Ashber.

Sebagian besar masa kecilku dihabiskan di Kerajaan Elenoir. Lebih tepatnya, di dalam benteng. Bahkan, saat aku pergi berbelanja sebelumnya, kami hanya langsung pergi ke distrik fashion, yang jelas tidak menarik bagiku.

Ada beberapa item dengan kemampuan pelindung, baik karena materi atau dari rune yang diukir ke atasnya. Tapi, mereka tidak cukup kuat untuk menarik perhatianku.

“Bibi Helstea, apakah ada toko di mana mereka menjual sesuatu, yang dapat membantuku berlatih lebih cepat?” tanyaku, saat kami menuju ke dalam sebuah toko yang secara eksklusif menjual syal.

“Hmm? Maksudmu elixirs? Tentu saja.”

Tabitha menatapku bingung, seakan aku mengajukan pertanyaan yang dipenuhi jebakan.

Aku tidak pernah menggunakan elixir. Tapi, jika mereka memiliki sesuatu seperti obat yang beberapa praktisi selalu digunakan di dunia lamaku. Maka, aku tidak ingin pergi ke mana pun, selain berada di dekat mereka.

“Sebenarnya, ada obat mujarab dan obat-obatan di toko kecil di sudut jalan. Jika kamu mau, kamu bisa pergi melihatnya, sementara kita berbelanja beberapa syal…”

Itu adalah yang paling aku butuhkan untuk menjalankan strategi ‘menjauh’.

“Terima kasih! Aku akan menunggumu di depan toko!”

Aku berteriak sambil berlari, setelah dengan hati-hati menyimpan tas yang diebankan padaku.

“Kyuu!”

‘Jangan tinggalkan aku!’

Aku melihat Sylvie memperpanjang keluar kakinya terhadapku, saat dengan putus asa berusaha melarikan diri dari pegangan Ellie. Tapi, aku hanya menatapnya sedih, sebelum berlari menjauh.

Pengorbananmu tidak akan sia-sia, Kamu sangat kuhormati.

Setelah berbelok sesuai instruksi, wajahku menjadi bingung.

Ini, sebuah toko?!

Setelah berbelok, jalan membawaku ke sebuah gang sempit, yang mungkin digunakan untuk memata-matai orang yang lewat. Di akhir gang sempit ini, ada gubuk suram yang bahkan tikus akan memberontak, jika disuruh tinggal di dalamnya.

Papan kayu yang memuat nama toko, tampak seperti mereka telah dicat dengan lumut dan jamur, udara basi terpancar keluar, melewatiku dengan hawa menyeramkan.

Terakhir, tempat ini juga dilengkapi dengan gulma hijau, yang merayap keluar dari bagian bawahnya. Yang seakan, bahkan mereka tidak ingin terjebak di sana.

[WINDSOM’S POTIONS AND MEDICINES]

Aku harus memiringkan kepalaku, agar bisa membaca tulisan yang terukir pada tanda yang miring. Yang hampir tidak lagi tergantung pada satu paku.

Apakah mereka benar-benar menjual elixir dan obat-obatan di sana?

Aku tidak akan terkejut, jika mereka malah menjual botol berisi wabah penyakit dan racun di sana.

“Apa ada yang bisa kamu berikan, anak muda?”

Suara serak mengagetkan dan menyadarkanku dari lamunanku.

Di sampingku, duduk seorang pria tua pucat, dengan tangan mengulur kearahku.

Aku segera mengambil langkah mundur karena terkejut. Secara naluriah, aku juga mengedarkan mana ke seluruh tubuh.

Bagaimana bisa aku tidak merasakan orang tua, yang hampir berada tepat di sebelahku?

“Kamu terlihat, seperti kamu melihat hantu, anak muda. Sayang, aku hanya seorang pria tua yang meminta beberapa hal saja.”

Wajah orang tua itu berkerut, saat dia mengungkapkan senyum seputih Mutiara, yang tidak cocok dengan keadaannya yang compang-camping.

“Ah ya, tentu.”

Aku merogoh sakuku untuk mengambil koin copper, menggunakan kesempatan itu untuk juga melihatnya lebih dekat lagi.

Dengan rambut tebal berwarna merah yang jatuh ke bahunya saat ia sedikit membungkuk, dia menatapku dengan mata putih susunya.

Wajah orang tua itu keriput, meskipun begitu, itu tidak membuatnya terlihat lemah dan lelah. Itu lebih ke arah cerdas dan cerah, untuk beberapa alasan.

Aku tahu, jika orang ini mungkin sangat tampan di masa mudanya. Yang mana, itu membuatku merasa sedikit berkecil hati, karena melihat dia berakhir seperti ini.

“Banyak terima kasih, anak muda.”

Tangan keriputnya gesit menyambar koin dari tanganku, dengan kecepatan yang mengejutkan.

Di antara jari tengah dan telunjuknya. Di sana terlihat koin silver, bukan copper.

Sialan!

Aku tak sengaja memberinya koin silver!

Itu senilai seratus koin copper!

“Tunggu… Aku tidak bermaksud memberi itu…”

Aku merogoh sakuku lagi. Dan aku hendak memastikan, ternyata koin yang tersisa itu memang copper. Saat aku melihat kembali, aku melihat jika orang tua itu sudah pergi.

“Apa yang…”

Aku berdiri di sana, bingung untuk ketiga kalinya dalam 5 menit terakhir.

Uangku…

Setelah membiarkan napas tak berdaya keluar dari bibirku, aku mengambil langkah maju menuju gubuk Windsom. Aku meraih gagang pintu kayu yang tampak seperti itu akan menyerang. Semua itu karena aku merasakan konsentrasi mana dari gagang pintu tembaga itu.

Menyelimuti tanganku dengan mana, aku membungkus jari-jariku di sekitar pegangan, bersiap-siap untuk memutarnya. Sentakan kaku menjalar dari tangan dan lenganku. Untungnya, mana melindungi tanganku dan membantuku menarik diri secara paksa setelah memutar gagang, untuk membuka pintu.

Begitu pintu dibuka, shock-ku berhenti juga.

Mendorong pintu berderit, aku segera disambut oleh angin dari sesuatu yang tak terlukiskan. Itu bau busuk yang begitu kuat, hingga segera memicu rentetan batuk dariku.

“Oh, pelanggan! Apa yang bisa kubantu untukmu?” suara familiar menyambutku.

“Kamu!”

Aku tidak bisa mengerti, tapi menunjukkan jariku ke arahnya dengan kemarahan dan kebingungan. Itu orang tua tunawisma yang menghilang, setelah mengambil koin silver-ku!

“Apa yang membawamu ke sini?”

Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bersalah.

Aku mendesah frustrasi.

“Bisakah aku mendapatkan koinku kembali? Aku perlu uang itu untuk membeli beberapa hal… dan selain itu, kamu bilang kamu tunawisma.”

Aku mengarahkan tanganku ke arahnya.

“Tidak, tidak… aku tidak bilang, aku hanya seorang pria tua belaka. Berdasarkan lingkungan di mana kamu bertemu denganku dan dengan penampilan dan sikapmu. Itu adalah dirimu yang menganggapku seorang tunawisma.”

Dia menggoyangkan jarinya padaku dengan cara memarahi. Seolah-olah, aku yang benar-benar salah disini.

“Bagaimana dengan ini, kamu bisa memilih satu item sini secara gratis, sebagai terima kasih yang sebelumnya,” lanjutnya dengan cara murah hati, karena dia memutar-mutar koin silver-ku di antara jari-jarinya, ia sedang mengejek.

Alisku mengejang kesal. Tapi, aku menenangkan diri dan cepat memindai daerah sekitar yang disebut dengan toko ini.

“Apa kamu yakin, bahkan ada item yang selayak 1 koin silver di dalam sini?”

Suaraku keluar, bersama dengan rasa frustrasi di dalamnya.

“Tentu saja! Aku tidak akan memberikan kesempatan ini untuk sembarang orang, kamu tahu. Kamu hanya perlu memilih dengan hati-hati.”

Mata pria tua itu memberi sinar gembira dari penjudi kelas dua yang baru saja menang.

Aku mengusap pelipisku untuk mencoba dan menenangkan kemarahan mendidih yang mengaduk di dalam diriku.

Orang tua harus dihormati, Arthur.

Orang tua harus dihormati…

Pada saat ini, hidungku akhirnya terbiasa dengan bau misterius yang memiliki kekuatan untuk mendorong pergi bahkan Mana Beast yang paling buas. Melihat kembali ke rak berlapis debu, aku menjadi lebih dan lebih kagum pada bagaimana tempat ini, yang masih bahkan bisa berjalan hingga saat ini.

“Apa kamu tidak pernah membersihkan tempat ini, orang tua?” tanyaku, sambil memainkan jariku ke salah satu rak.

Aku mungkin bisa membangun manusia salju dari debu, dengan jumlah debu yang aku kumpulkan di sini.

“Apa kamu meminta seorang pria berusia seperti diriku, untuk melakukan pekerjaan kasar?”

Dia tersentak sinis, membuat ekspresi ngeri.

“Lupakan.”

Aku tidak bisa mengerti, tapi memutar mataku pada orang ini. Aku tidak bisa mengukur kepribadiannya. Yang mana, itu membuat semuanya menjadi lebih sulit bagiku, untuk percaya padanya.

Jalan melewati kotak setengah terbuka yang memblokir jalan. Aku pergi menuju rak yang diletakkan di bagian belakang toko.

Saat memindai melalui berbagai botol dan wadah yang diisi dengan pil, baik cair atau yang berwarna keruh… aku dikejutkan oleh seseorang yang duduk di atas rak.

Sialan, ada apa dengan tempat ini?

Aku tidak bisa merasakan apa pun di dalam sini, sampai itu berada tepat di depan hidungku.

Sosok tersebut menjadi lebih jelas, saat aku terfokus padanya. Itu adalah kucing hitam yang sangat gelap. Satu-satunya bagian dari tubuhnya yang tidak hitam, adalah bulu putih di depan telinganya.

Tapi, bukan itu yang menarik perhatianku.

Yang menarik adalah mata menawannya. Mata kucing itu tampak, seolah-olah membawa alam semesta di dalamnya. Mereka tampak seperti langit malam dengan bintang-bintang berkelap-kelip terang bertabur di dalamnya.

Dengan warna putih, garis vertikal bersinar seperti bulan sabit juga terlihat di sana.

Saat aku terpaku pada mata menyihir kucing itu.

Kucing itu mengintip kembali ke arahku dari atas rak dengan rasa superioritas yang jelas, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi.

Menggelengkan kepala, aku berfokus kembali pada berbagai botol dan wadah, ketika kotak hitam kecil akhirnya menarik perhatianku.

Mengambil kotak polos yang kira-kira seukuran sesuatu yang akan kamu gunakan untuk menyimpan perhiasan kecil. Aku mencoba untuk membukanya.

Dengan suara klik kecil, engsel dibuka untuk mengungkapkan sebuah cincin kecil di dalamnya. Aku kemudian membawa cincin itu menjadi lebih dekat ke wajahku, ketika ‘permata’ yang tertanam di dalam cincin, tiba-tiba menyemprotkan sesuatu ke arahku.

Seketika, aku segera menggerakkan kepalaku ke samping, agar aliran cairan bening melewatiku dan mendarat di belakangku.

Itu air.

“Cih… kamu berhasil mengelak.”

Aku berbalik untuk melihat orang tua itu menggerutu, saat masih mengutak-atik koin silver-ku.

“…”

Pada titik ini, aku merasa seperti, jika aku tinggal lebih lama lagi di sini. Aku hanya akan kehilangan kewarasanku.

Pertama, gagang pintu mengejutkan…

Sekarang, cincin yang menyemprotkan air ini. Orang tua ini benar-benar mencintai lelucon…

Bahkan, kucingnya menatapku dengan rendah.

Tapi aku bertekad. Jika aku bisa mendapatkan barang apa pun di dalam toko ini gratis. Maka, aku akan mencari yang paling berharga di dalam toko ini.

Aku menghabiskan setidaknya satu jam di dalam, hanya untuk menyisir melalui elixirs, yang bahkan aku tidak perlukan. Mengapa bocah dua belas tahun memerlukan obat mujarab untuk menumbuhkan rambut?

“Kyu!”

‘Papa! Aku di sini!’

Bayangan putih melesat melewati pintu yang dibiarkan terbuka, dan mendarat di kepalaku.

“Kuu!”

‘Papa, kamu meninggalkanku!’

Sylvie mengembungkan pipinya, sementara memukul dahiku dengan kakinya.

‘Kamu selamat, kawan!’

Aku tersenyum, menggosok kepala mungilnya.

“Orang tua, aku tidak dapat menemukan apapun yang aku…”

Aku mulai berkata, tapi ekspresi orang tua itu seakan membeku di wajahnya. Wajahnya tampak seperti ia melihat hantu saat ini. Karena, dia sangat pucat. Mata susu-nya yang merosot turun, hingga tampak seperti bulan purnama. Ekspresinya benar-benar berubah.

“Kami akhirnya menemukan…”

“Kamu baik-baik saja, orang tua?”

Aku melambaikan tanganku di depannya. Pemilik toko segera menggelengkan kepalanya, dan mengeluarkan batuk.

“Ya, aku cukup baik-baik saja.”

Suaranya bergetar, sedikit membingungkanku.

“Pokoknya, orang tua, aku tidak bisa menemukan apa pun yang layak diambil. Tak bisakah kamu memberikan kembali uangku?” gerutuku, saat aku mengambil tatapan terakhir melalui toko.

“Kamu benar-benar tidak memiliki mata yang baik.”

Dia berjalan keluar dari belakang meja, dan berjalan ke salah satu rak di sudut depan toko.

“Ah, ini dia.”

Tanpa melihat kembali, dia melemparkan bola kecil seukuran kelereng kepadaku. Itu berlapis debu, tapi ketika aku menyekanya, jelas ada bintik warna yang berbeda mengambang di dalamnya.

“Apa ini?” tanyaku sambil membawa bola menjadi lebih dekat ke wajahku untuk mempelajarinya… memastikan jika itu tidak akan menyemprotkan air.

“Jangan khawatir, itu sesuatu yang butuhkan. Sekarang pergilah. Menggodamu membuatku bosan.”

Dia mengusirku.

“Oke, oke.”

Aku berjalan keluar dari toko, lalu menatap untuk terakhir kalinya ke gubuk tua itu.

Saat aku berjalan keluar dari gang sempit, aku melihat kucing hitam menatapku dan kemudian Sylvie. Sebelum ia berbalik, seolah-olah dia tiba-tiba bosan.

Setelah sedikit memikirkan itu, aku akhirnya mencapai persimpangan dari gang, dan berbelok untuk melihat ibu dan adikku sudah duduk di meja, bersama dengan Tabitha.

“Hai Kakak!”

Ellie melambai, sambil memegang minuman dengan tangan lainnya.

“Apa kamu menemukan apa yang kamu cari?”

Ibu bertanya, setelah meletakkan minumannya.

“Aku… pikir?”

Aku menggaruk kepalaku. Aku meletakkan bola tadi di dalam cincin dimensiku. Tapi aku tidak bisa mengerti, tapi berpikir jika itu bukan sesuatu yang istimewa.

“Oh benarkah? Toko itu terkenal, karena memiliki cukup berbagai elixir dan obat-obatan untuk membantu dengan pelatihan. Sebagian besar siswa di Xyrus pergi ke sana, untuk berbelanja bahan pelatihan mereka.”

Tabitha bangkit, mengambil semua tas belanja dari lantai.

“Apa? Tempat lusuh dan tua itu?”

Aku menjawab, terkejut jika sekelompok anak nakal sombong kaya akan pergi keluar dari jalan, untuk berbelanja di gubuk kumuh.

“Lusuh? Apa yang kamu bicarakan?”

Ibu dan adikku berdiri juga, menyerahkan tas mereka dengan acuh tak acuh.

Saat kami berjalan menuju gang, Tabitha berbelok pertama dan menunjuk toko.

“Aku tak akan mengatakan itu lusuh,” katanya, dengan sedikit rasa bingung karena komentarku.

“Benarkah? Jika itu tidak buruk, maka aku tidak akan…”

Aku ternganga, bersama dengan tas belanja yang aku pegang.

Di ujung gang sempit sebelumnya, ada marmer yang ditata menuju bangunan tiga lantai dengan tanda emas bertuliskan:

[XYRUS ELIXIRS.]




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_071"