Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

UG_009

gambar

Unlucky Game

UG_009

9. Rubah Licik

 

Senyum cerah itu terasa busuk baginya. Dan ekspresi santai dan seolah tak terjadi apa-apa itu, membuatnya ingin memukul wajah bajingan itu.

“Duduklah, gas. Kita sudah lama tak mengobrol.”

Ucap pria berpakaian rapi seolah pejabat itu, sambil menawarkan kursi yang ada di depannya.

Dengan tangan yang terkepal karena marah, marah karena semua kebahagiaannya terrenggut oleh penghianatan lelaki kepercayaan almarhum ayahnya itu. Dan nasib kakaknya yang masih mengenaskan…

Rasa benci di dadanya sangat memuncak, hingga pemuda ini ingin segera membunuh pria itu.

 Tapi…

“…gas…”

Ada suara gadis yang sedari tadi berdiri di sampingnya, merasakan keanehan dari Bagas yang sangat terlihat.

“Siapa dia?”

Belum sempat Bagas menjawab, pria yang telah beranjak dari kursinya itu, mendekat.

“Oh… apakah kamu pacarnya Bagas?”

“P-pacar?”

Melihat ekspresi gugup di wajah gadis itu, senyum licik pria itu terasa menyembunyikan niat jahat.

“Hei, jangan libatkan dia, Paman Yudha!”

Tekanan pada nama itu, membuat si pemilik nama langsung menoleh ke sumber suara, dan melihat ekspresi kemarahan di raut pemuda itu.

“Okey… kalau begitu, mari kita bicara,” tawarnya lagi, sambil mengarahkan tangan kanannya pada kursinya yang masih hangat.

Bagas lalu menoleh sedikit ke arah gadis itu, dan berkata.

“Pulanglah dulu.”

“Ta-tapi…”

Sebelum gadis itu bisa menjawab, Bagas memotongnya.

“Tolong…!”

Melihat ekspresi dan nada Bagas yang semakin berat, membuat gadis itu khawatir. Tapi, dia tak protes pada tindakan itu. Dengan raut wajah sedih, gadis itu segera beranjak dan memberikan kata-kata terakhir.

“Hati-hati…”

Tanpa menjawab, kedua matanya masih tertuju pada musuh bebuyutannya ini.

Di sisi lain, pria bernama Yudha itu mengikuti kepergian gadis itu dengan seksama.

“Seleramu bagus…”

Tanpa mengiyakan kalimat itu, Bagas malah menuju topik utama.

“Kenapa kamu kemari?!”

Seolah tak mempermasalahkan itu, Yudha segera tersenyum kembali dan menghadap ke pemuda yang terus berusaha mati-matian menahan amarahnya.

“Duduklah dulu… Ada hal yang harus aku sampaikan.”

“Untuk apa?!”

Dengan senyum yang masih belum hilang, pria itu kembali menatapnya.

“Untuk kakakmu.”

‘Kakak?’

Seolah panah yang mengenai lingkaran hitam dari target, Bagas tak bisa membantah atau apapun. Perlahan, kakinya menuju ke arah yang ditunjukkan pria itu.

Setelah keduanya duduk, Yudha segera mengeluarkan satu berkas dari tas kantor di sampingnya.

“Aku tahu, kamu sedang kesulitan keuangan, setelah membeli kapsul game itu.”

“Kata siapa, hah?!”

Dengan senyum sinis, Yudha terus membalikkan berkas itu…

“Yah, terserah. Yang terpenting adalah rumah sakit tempat kakakmu dirawat, sudah menjadi milikku.”

“Apa?!”

…Kini, senyuman itu menjadi senyuman kemenangan yang sangat tulus.

Sambil menyodorkan berkas itu, di mana ada kolom kosong tentang tanda tangan berada.

“Yah, itu bukan masalah. Lagi pula, dari awalnya, rumah sakit itu termasuk anak cabang dari perusahaan ayahmu.”

“Kamu!!!”

“Ah, sebelum kamu menjadi tak rasional, tanda tangani ini dulu,” ucapnya seraya menunjuk pada berkas itu.

“Ini adalah berkas perjanjian, di mana kakakmu akan dijamin kesehatannya, sampai dia sembuh. Dengan sarat, kamu berjanji menyerahkan seluruh anak perusahaan ayahmu itu kepadaku.”

“Apa?!”

Matanya membelalak lebar, melihat pengakuan yang blak-blakan itu.

Berbeda dengan cara licik yang ia lakukan dulu, Yudha tak sungkan-sungkan untuk mengeluarkan niat busuknya.

“Ah, sebenarnya. Kamu mau menanda-tangani berkas ini atau tidak, itu tak masalah. Karena, semua direksi sudah menyetujuinya.”

“Lalu, kenapa kamu melakukan ini?”

Meredam emosinya yang sempat mengelora, dia berusaha untuk tetap logis disituasi ini, terlebih dia tak ingin jatuh ke dalam perangkap rubah ini lagi.

“Yah… kamu pasti juga sudah tahu… Pengacara ayahmu itu mempersulitku, kecuali aku bisa mendapatkan tanda tanganmu.”

‘Paman Zaki?’

Seolah tak menyangka jika nama itu muncul, Bagas hanya termenung.

“Tapi, dia sekarang tak mungkin bisa berbuat apa-apa, setelah aku membeli seluruh saham rumah sakit itu.”

Bagas tak bisa berkata apapun, dan hanya terus mendengar celotehan rubah licik ini.

“Oh iya, apakah kamu tahu? Atau mungkin, pengacara itu sudah memberi-tahumu? Jika aslinya perawatan kakakmu itu tak semurah itu?”

Tatapan bermain-main Yudha segera berubah menjadi serius dan tajam. Seolah, semua yang ia lakukan adalah mimpi.

Di sisi lain, Yudha yang sebenarnya sudah tahu itu, setelah mencari cara untuk menyadarkan kakaknya dari koma, hanya bisa terdiam.

Ya, dari awal dia sebenarnya sudah curiga.

Biaya bulanan pasien koma yang seharusnya 30 juta perbulan, langsung menjadi 5 juta saja. Tentu saja, itu sangat aneh. Tapi, saat dia memikirkan jika ayahnya berjasa besar pada rumah sakit ini, dia berfikir jika mereka ingin membalas budi.

Lagi pula, pengacara ayahnya, Zaki, tak menceritakan hal itu. seolah, hal itu memang wajar. Alhasil, Bagas mulai menerima alasan itu.

Tapi, saat si licik ini berbicara seperti itu, fikiran Bagas mulai tersusun ulang. Tapi, belum sempat itu menjadi bangunan utuh, ada penjelasan yang membuat jiwanya menjerit.

“Aku sengaja melakukan itu.”

Bagas melihat marah kepada pria yang kembali tersenyum licik kepadanya.

“Ada bawahanku yang berhasil mengecoh pengacara itu. Sehingga, dia tak mempermasalahkannya hingga sekarang.”

Itu berarti, bawahan rubah itu telah menjadi donatur untuk kakaknya yang sedang koma. Lalu, itu akan dibuat sebagai senjata tersembunyi miliknya.

“Bajingan…!!!”

Amarahnya tak bisa tertahan lagi. Sungguh, rubah licik ini benar-benar tak manusiawi.

“Oh, jadi kamu sudah paham? Baguslah… sepertinya pembicaraan ini bisa cepat selesai.”

 Mendorong kembali berkas itu, Yudha lalu mengeluarkan pulpen yang tersangkut di saku dadanya.

“Baiklah, tanda tangani ini sekarang. Dan kamu bisa membuat kakakmu tercinta itu… tetap hidup.”

Ucapnya perlahan, seolah menekankan semuanya pada kata terakhir ‘tetap hidup’. Tapi setelah itu, dia mengeluarkan ponselnya, dan mencari sesuatu.

“Oh iya, agar kamu tak ragu… Aku pinjamkan poselku untuk menghubungi pengacara itu.”

Di depannya, ada kontak yang bernama ‘Pengacara Zaki’. Dan benar, memang itu nomornya.

Tanpa berkata apapun, Bagas masih terpaku pada layar itu.

“Aku tahu, kamu sekarang lagi irit. Jangan memaksakan diri.”

Seolah tak terfikirkan jalan lain, Bagas menerima ponsel itu dengan tak rela.

Setelah berdering agak lama, akhirnya panggilan itu tersambung.

-Halo?

“Paman…”

-Bagas?

Tanpa menjawab, pemuda itu merasa, jika pengacara ayahnya yang sedari awal telah membantunya, terasa berhasil menusuk punggungnya.

Ya, dia sebenarnya ingin marah pada satu-satunya orang yang ia percayai lagi, setelah dikhianati oleh asisten ayahnya, yang ada di depannya sekarang.

Andai kata pengacara itu memberi-tahukan semuanya sejak awal. Tentu saja, dia tak akan terjebak dalam situasi pelik ini.

-Apakah ini tentang perawatan kakakmu?

“Kenapa kamu tak memberi-tahuku semuanya?”

-Aku baru tahu hari ini. Ternyata, Yudha sudah sangat kuat di perusahan ayahmu.

“Sialan!”

Ya, yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengumpat. Karena, tak ada hal lain yang bisa ia lakukan.

“Jangan bercanda, paman!”

-Aku tak bercanda. Semuanya rumit…

“Aku tak percaya lagi padamu!”

Tanpa menunggu jawaban dari pihak yang dihubungi, Bagas langsung mematikan ponsel itu. Dia sudah muak dengan semua orang di sekelilingnya ini. Tak ada satu orang pun yang bisa ia percayai.

Seolah memenangkan ‘negosiasi’ ini, senyum Yudha semakin berkembang.

“Baiklah… karena aku juga tak tega melihatmu dan kakakmu menderita, ini ada sedikit hadiah dariku.”

Di depannya, ada selembar cek yang berisi nominal 100 juta lagi.

Tangannya yang semakin erat memegang ponsel itu, serasa ingin menghancurkannya… karena dia telah terperangkap dua kali di jebakan rubah licik ini.

Tapi, Yudha tak mempermasalahkan itu, dan tetap tersenyum bahagia.

“Aku akan membalasmu, berkali-kali lipat,” ujar Bagas berapi-api.

Pria itu mendecakkan lidahnya, dan menyodorkan cek itu lebih ke depan.

“Kamu harus tetap realistis… dan jangan diambil hati. Ini hanya bisnis, tak ada masalah personal.”

***

 

Sungguh, seolah dunia tak henti-hentinya menjepitnya, dia masih harus tetap bertahan demi kakaknya.

Sebelum perjalanan pulang ini, seluruh emosinya yang sedari ia tahan, telah meledak… dan dia hanya memukul tembok restorannya tempat ia bekerja, dengan sekeras kerasnya.

Dia merasa sungguh tak berguna, karena kehilangan seluruh harta yang telah ayahnya perjuangkan. Bahkan, untuk menjaga kakaknya saja, dia merasa gagal.

Karena dia tak tahu bagaimana akan menghadapi rubah licik itu.

“Bagas…”

Untungnya, gadis yang sedari tadi telah menunggunya, mendatanginya.

“Tolong jangan menyakiti dirimu sendiri.”

“Pergilah… sebelum kamu terlibat.”

Gadis itu bukannya menjauh, tapi langkah kaki ringannya malah mendekat.

“Kamu tak akan bisa bekerja besok, jika kamu seperti ini…”

Gadis itu lalu mengeluarkan sapu tangan putih dari tasnya, dan membalut tangan kanan Bagas yang mengucurkan darah.

Sementara itu, Bagas hanya melihat itu dengan tatapan kosong. Karena sekarang, dia masih terbakar amarah oleh rubah licik itu.

Setelah fikirannya tenang, dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke Bogor, dan tak jadi menginap di rumah sakit tempat kakaknya dirawat.

Ya, dia sudah menanda-tangani kontrak iblis itu. Sehingga, dia kini tak bisa untuk tidak membenci tempat itu.

Di dalam MRT, sendirian, dia hanya terpaku melihat tangannya yang terbalut sapu tangan yang sudah penuh dengan noda darah itu. Dan selembar cek yang ia pengang dengan kuat.

“Tak ada masalah pribadi, huh?!”

Dia hanya tersenyum kecut pada kenyataan pahit itu.

***

 

Di depan jalan rumahnya, ada sebuah mobil hitam yang terparkir di sana. Dia tahu siapa pemiliknya.

Saat dia menoleh ke teras, ada pak Raden yang berterima kasih, setelah menerima amplop dari pria berjas hitam itu.

Lalu, saat keduanya mengetahui kedatangan si pemilik rumah, Bagas, pak Raden segera pamitan.

“Terima kasih, pak.”

“Sama-sama.”

Setelah itu, pak Raden bergegas ke Bagas dan menyapanya.

“Baru pulang?”

“Iya, pak.”

Orang desa yang polos itu tersenyum lebih lebar, setelah melihat Bagas yang terlihat kelelahan.

“Ibuk tadi memasak opor ayam. Nak Bagas bisa melihatnya di dapur.”

“Terima kasih, pak.”

Serasa urusannya di rumah ini telah selesai pak Raden si pengurus rumah ini segera pergi. Meninggalkan Bagas yang sudah merasa lelah dengan dunia ini, dan pria berjas hitam yang entah memiliki tujuan apa untuk datang ke rumah ini.

“Ada apa paman?”

Seolah melupakan kejadian sore tadi, Bagas menyapa tamunya ini.

“Apakah kamu menanda-tanganinya?”

“Tentu saja, aku tak punya jalan lain,” jawabnya sambil menghempaskan diri di kursi teras.

Pandangannya masih tertuju ke depan. Memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Aku minta maaf… karena tak menyadari hal ini.”

“Tak apa-apa paman. Ini sudah terlewat… lagi pula, aku seharusnya yang harus minta maaf, karena membentakmu tadi.”

Setelah melihat kondisi Bagas, dan mendecakkan lidahnya, Zaki pun segera duduk di samping Bagas.

“Yudha sangat kuat di perusahan ayahmu. Sebenarnya, dia sudah bisa mengambil alih perusahaan itu sejak lama. Tapi untungnya, ayahmu sudah menyadari gelagat buruk itu.”

“Apa?! Ayah menyadarinya?”

“Ya… tepat sehari sebelum kematiannya, ayahmu sudah mengalihkan kepemilikan saham dan anak perusahaannya kepadamu.”

“Tapi, kenapa kamu bilang sekarang?”

“Karena, yang mengurus berkas itu adalah Yudha, dan notaris yang dipilih ayahmu juga sudah menjadi bawahannya Yudha.”

‘Bajingan licik itu!’

Amarahnya yang sempat mereda ini, kembali naik dengan cepat. Dan dia segera membanting tangannya yang terbalut sapu tangan.

“Hei… obatilah lukamu dulu. Baru kita lanjutkan.”

“Tak apa-apa. Aku sudah merawatnya.”

Dengan hembusan nafas berat, Zaki kemudian mengeluarkan rokok dari sakunya. Lalu, dia menawarkan rokok pada Bagas yang langsung menerimanya.

Setelah rokok di tangannya menyala, dan setelah satu hisapan dan hembusan kuat, tatapan Zaki kembali melihat ke depan.

“Apa yang kamu lakukan sekarang?”

“Aku akan menjual item game.”

“Throne of Paradise?”

“Heem.”

Dengan anggukan dan deheman, Bagas mengiyakan itu. lalu, dia mulai mencoba rokok yang selalu ia hindari, karena mengurangi jatah makannya.

Ughugh…”

Hanya tersenyum kecil, Zaki pun menepuk punggung Bagas. Menyadari, jika pemuda yang sok kuat di sampingnya ini, baru pertama kalinya merokok.

“Kamu tak sendirian… tenang saja, aku akan membantumu.”

“Sialan… rokok ini panas.”

Ada cairan hangat yang mengalir di kedua mata Bagas, seolah dia menolak untuk mengakui, jika dia sedang menangis.

Mengetahui hal itu, Zaki menghiraukannya dan melihat ke depan, setelah mengeluarkan asap rokoknya.

“Ayahmu telah mengubah hidupku… Seorang anak gelandangan yang tak punya harapan…”

***

 

Zaki teringat masa kecilnya, di mana ia hidup bersama dengan ibu dan adik perempuannya.

Ketiganya terseok-seok di gunung sampah. Dan dia selalu bekerja keras tiap hari, untuk menganjal perut mereka.

Saat itu, ibu mereka yang sebatang kara membesarkan mereka dengan sakit tumornya. Karena, sang ayah telah mati karena kecelakaan kerja di tempat kontruksi.

Sebagai seorang kakak dan laki-laki di keluarga kecil itu, walaupun masih berumur 14 tahun, Zaki terus berusaha melakukan yang terbaik untuk bisa membawa dua bungkus nasi ke rumah kayu bekasnya.

Untuk ibunya yang terbaring lemas. Dan untuk adiknya yang baru berumur 8 tahun.

Suatu ketika, saat penyakit tumor ibunya kambuh, dia harus berlari ke apotek yang jauh dari rumahnya, untuk membeli obat ibunya. Ya, setelah dewasa dia tahu, jika itu hanya obat pereda nyeri.

Setiap mengingat kebodohannya itu, Zaki selalu tersenyum kecut, menertawakan kebodohannya.

Tapi sebelum ia sampai ke rumah, dirinya tertabak mobil yang entah muncul dari mana. Dia pingsan, dan terbangun di rumah sakit.

Di sana, dia melihat seorang lelaki yang berpakaian rapi.

“Obat… obat…”

Dia hanya teringat akan obat yang ada di tangan kecilnya itu.

“Kamu tak apa-apa, nak?” ucap lelaki itu.

“Obat… ibu…” jawabnya sambil mencoba berdiri.

Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, dia mengetahui, obat yang ia beli dari apotek ada di atas meja. Dengan susah payah dan menahan nyeri di seluruh tubuhnya, ia meraih kantung kresek yang berisi obat ibunya itu.

“Tenanglah, nak.”

“Ibu… butuh… obat…”

“Baik… baik…”

Setelah melihat ke arah lain, lelaki itu memanggil supirnya.

Kemudian, ketiganya pergi ke rumah kumuh Zaki. Tapi, sebelum sampai di sana, mereka harus jalan kaki 20 menitan, karena rumah Zaki ada di tengah area kumuh ini.

Saat itu, Zaki digendong lelaki itu.

Dengan terbata-bata, dia menunjukkan arah rumahnya, sementara tangan lain memegang obat ibunya.

Tapi, saat dia sampai di rumah, ada yang aneh…

Dia merasakan feeling buruk.

Memaksa untuk turun, dia akhirnya bisa berjalan dan membuka pintu rumahnya sendiri. Saat terbuka, adik perempuannya langsung memeluknya erat.

“Kakak… ibu… ibu…”

Mendengar kalimat itu, Zaki langsung melepas pelukan adiknya, dan berlari ke kamar ibunya, yang ada di ruangan samping.

“Ibu!!!”

Matanya kaku, saat melihat sosok kaku di atas kasur yang sudah rusak itu. Dengan langkah berat, dia akhirnya sadar, jika ibunya telah tiada.

Setelah itu, dia dan adiknya hidup dalam perawatan lelaki itu, yang mana itu adalah ayah Bagas.

***

 

“Login.”

Saat matanya terbuka, dia sadar, jika dia saat ini ada di kamar pub. Tempat yang ia dapat dari mentor kejamnya, Albert.

‘Seharusnya dia sudah pulang.’

Dia langsung beranjak dari tempatnya, dan segera menuju ke ruang utama, di mana pelayan dan pengunjung bertemu. Tapi, ada yang aneh. Semuanya masih sepi.

‘Dia belum pulang?’

Seolah Tuhan mengetahui kekhawatirannya, pintu belakang pub terbuka dengan keras. Tatapannya segera tertuju pada sumber suara. Dan di sana, dia melihat sosok yang berdiri tegap berlumuran darah di sekujur tubuh, dan seorang gadis yang tertidur atau tak sadarkan diri di pelukannya.

“Paman!”

Ya, orang yang berdiri itu Albert. Sementara, gadis yang ada dipelukannya adalah…

‘Evaline!’

“Paman! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Eva…”

“Diam.”

Dia sepertinya menendang pintu, untuk bisa segera masuk. Lalu, dia segera membaringkan gadis di pelukannya itu ke atas meja dapur. Tanpa memperdulikan pemuda di depannya.

Lalu, dia segera meraih botol cairan merah, heal potion dari ‘Sub Space’-nya.

Selanjutnya, dia mengeluarkan botol cairan hijau dan beberapa tumbuhan. Lalu, dia mencampurkannya dalam sebuah mangkuk. Kemudian, dia memasukkan cairan heal potion.

Seolah sihir terjadi, cairan di mangkuk itu segera berubah keemasan.

Dengan sedikit menaikkan kepala Evaline, dan sedikit membuka mulutnya. Lalu, cairan emas itu segera masuk ke tubuh pucat Evaline.

Setelah beberapa saat, kulit pucat itu segera menjadi segar kembali.

Menarik nafas berat, Albert mulai mengendurkan seluruh sarafnya yang tegang.

Serasa waktunya tepat, pemuda yang telah menunggu dengan panik dan juga tak mengerti dengan kondisi ini, lalu mulai berbicara.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Pasukan gereja di serang, demon.”

“Ya. Black Demon.”

***




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "UG_009"