Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

UG_010

gambar

Unlucky Game

UG_010

10. Black Demon

 

“Black Demon?”

Nama itu terasa asing baginya. Terlebih lagi, dia sudah membaca banyak artikel di waktu sengangnya. Tapi, dia tak pernah mendengar istilah itu sebelumnya.

“Ya.”

“Apakah paman berduel dengannya?”

“Ya, kami seri.”

“Seri?”

‘Orang sekuat paman Albert seri?!’

Azvein menyadari, jika Albert merupakan salah satu ‘NPC bernama’ yang tersembunyi.

Sebagai NPC bernama, tentu saja banyak player yang mencoba menantang para NPC bernama tersebut, untuk mendapatkan quest langka, perubahan kelas, skill langka, dll. Tapi masalahnya, hingga sekarang, tak ada berita atau artikel yang menceritakan tentang keberhasilan player membunuh NPC bernama.

Sehingga sangat mustahil untuk mengalahkan mereka.

Oleh sebab itu, Albert memang sangat kuat dan tak akan mudah untuk dikalahkan. Terlebih lagi, jika dia sudah full set armor-nya. Tentunya, kekuatannya akan berkali-kali lipat.

Tapi sekarang, ada seseorang yang bisa mengimbanginya?

“Lalu, bagaimana kamu bisa sampai di sini?”

“Dia melihatku melindungi Evaline. Lalu dia menyarungkan pedangnya, dan mengucapkan selamat tinggal.”

“Apa?!”

‘Itu aneh.’

“Dia sama sepertimu, manusia abadi.”

“Apa?!”

‘Seorang player berhasil seimbang dengan Albert?’

Manusia abadi.

Itulah julukan para player yang ada di dunia ini. Julukan yang diberikan oleh NPC yang menjadi penduduk asli dunia ini.

“Namanya, Arthur.”

***

 

Dua hari yang lalu…

Dengan hembusan nafas hangatnya, Albert terus mengikuti petunjuk dari Eye of Seeing.

Setelah melewati Frozen River, dia terus menjelajah ke utara, di mana itu sudah direbut manusia beberapa bulan yang lalu. Di sana, ada reruntuhan benteng yang sedang ingin dipulihkan oleh gereja.

Sehingga, diperlukan berbagai macam tindakan.

Mulai dari mempertahankan wilayah liar itu, memperbaiki dinding benteng, mengirim priest, high priest, dan bishop untuk memurnikan benteng itu, dan juga berdoa selama 100 hari, agar Pandora of God bisa aktif di wilayah itu.

Sebenarnya, Albert sudah tahu, jika hari saat Pandora of God aktif semakin dekat, para demon dan demon beast akan semakin gencar untuk menyerang. Hal ini dikarenakan, setelah Pandora of God aktif, kekuatan para demon akan menurun hingga setengahnya.

Lalu, cursed land yang menjadi buff mereka juga akan dinetralkan. Bahkan, itu akan menjadi kutukan suci, saat kekuatan Pandora of God meningkat.

‘Sial… perasaanku tak enak.’

Merasa jika semuanya terasa cocok, Albert berlari sekuat tenaga, untuk segera sampai ke reruntuhan itu.

“Sialan.”

Saat dia berhenti, ketika reruntuhan benteng itu terlihat, asap hitam menjulang tinggi di langit. itu tanda, jika sedang terjadi peperangan di sana.

“Ghost Step.”

Dengan skill ini, Albert menerjang ke depan, tanpa meninggalkan jejak di salju yang lembut. Seolah, dia melayang di atasnya.

Dia mulai melihat jika benteng yang belum sempurna itu dikepung oleh demon beast, dia tahu ada yang salah.

‘Jumlah mereka terlalu banyak. Apa seorang count datang?’

Ya, hirarki di dunia demon tak jauh berbeda dengan dunia manusia. Ada banyak bangsawan yang bisa menguasai wilayah demon, dengan bantuan black magic mereka.

Semuanya bertingkat-tingkat, hingga sampai ke posisi Demon Lord, yang sekarang diduduki oleh Baal Zrecte. Seorang demon yang berhasil menduduki tahta, setelah membunuh semua pesaingnya, atau keturunan Zrecte lainnya.

Setelah itu, dia mulai melakukan perang dengan para dwarf dan elf, saat dia beberapa bulan menjabat.

Banyak spekulasi tentang mengapa ras manusia tak diserang demon. Tapi, menurut rumor yang ada di antara para dwarf dan elf, manusia telah menjalin kerja sama dengan demon. Sehingga, itu juga menyulitkan bagi player yang mempunyai tim antar ras.

Memang di beberapa tempat tak seberapa. Tapi, saat berada di wilayah kerajaan Hamman Kingdom, ras dwarf dan elf akan benar-benar dibunuh. Hal itu dikarenakan, perang yang tak berkesudahan yang terjadi di sana.

Parahnya, di kerajaan Hamman Kingdom juga menerapkan hukuman brutal pada tawanan dwarf dan elf. Sehingga, itu semakin memperuncing permusuhan ketiganya.

‘Di mana dia?’

Saat ini, Albert sedang mengintai daerah sekitar, mencari di mana pemimpin musuh. Andai kata pemimpin musuh itu Count Demon, tentu dia bisa menyelinap dan membunuhnya. Tapi, jika target berada di atas level count, tentu dia lebih memilih menerobos masuk dan membawa paksa Evaline.

Dan ternyata, takdir memilihkan opsi kedua.

‘Edzaw Zrecte.’

Dari sekian banyak musuh, harus bertemu salah satu keturunan langsung dari Demon Lord pertama, Zrecte, sungguh nasib yang sial.

‘Duke Demon.’

Sebagai seorang bangsawan, tentu saja Edzaw punya banyak hal mencolok, yang mudah diketahui jika dia adalah seorang Duke. Mulai dari armor full body-nya yang memancarkan aura kuat, dan juga darkness aura yang ia tekan, yang masih banyak merembes keluar dari tubuhnya.

Sehingga mudah untuk dikatakan, lelaki berkulit putih pucat rambut putih panjang, dan wajah tampan yang mirip dengan manusia itu adalah seorang Duke.

Di atas spectral horse yang bermata dan beraura merah gelap, bangsawan demon yang sedang mengamati dari bukit itu melihat medan perang dengan seksama.

Anehnya, pasukan intinya yang memakai armor dan menungganggi beast berbentuk serigala, tak bergerak sedikit pun. Seperti, dia sedang menunggu sesuatu. Atau pun dia percaya diri, jika pasukannya, pasukan demon dan demon beast level bawah ini bisa memenangkan pertempuran ini.

‘Ada 300 lebih demon, dan 500 lebih demon beast. Ditambah dengan 100 elit Edzaw…’

Di sisi lain, Albert yang sedang mengawasi keadaan, menjadi panik.

Karena dari informasi yang ia dapatkan dari priest yang datang ke pub-nya. Hanya ada 3 bishop dan 10 high priest yang datang ke reruntuhan ini. Sisanya hanya priest, paladin, knight, archer, mage, dan prajurit kerajaan. Dengan total 300 pasukan, dengan 20 orang adalah player.

Pasukan tingkat itu tak akan bisa mengalahkan Edzaw Zrecte, yang menjadi Duke Demon. Demon yang memiliki tingkat di bawah King Demon. Dan dua tingkat di atas Count Demon.

‘Sial… kenapa harus di waktu seperti ini…’

Walau pun sekarang dia bertempur dengan Edzaw, dia pasti akan kalah. Karena, kekuatannya yang telah menurun drastis.

Berarti, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Evaline.

‘Aku harus menyusup dari arah lain.’

***

 

Setelah menghindari kontak dari Count Demon yang menjadi bawahan Edzaw, dia berhasil masuk ke dalam reruntuhan. Naasnya, di dalam tengah terjadi pertempuran ganas.

Memang kondisi benteng yang belum sepenuhnya dipulihkan, sehingga ada banyak celah yang muncul lubang di dinding. Lalu, sesaat dia melihat pasukan gereja, Albert mulai mengeluarkan pedangnya.

Dia mulai membantu pasukan gereja, dan mulai memperkokoh kekuatan pasukan yang sudah hampir dimusnahkan itu. Hingga, mereka bisa mengokohkan posisi mereka di tengah benteng, di reruntuhan gereja, pusat operasi mereka.

Kemudian, dia menghampiri bishop yang sepenuhnya kelelahan.

“Di mana Evaline?”

“Dia di dalam Sir Albert. Dia sedang berdoa bersama dengan Sir Vestri.”

Setelah mendengar info itu, Albert segera bergegas masuk.

Dari celah reruntuhan, dia melihat Evaline, Bishop Vestri, dan priest lain yang sedang mengitari Pandora of God yang berbentuk pandora segi lima.

“Evaline!”

Albert langsung berteriak dan merangsek maju.

Di sana, ketua pasukan ini, Bishop Vestri mulai mendekatinya dengan tersenyum jengkel.

Lelaki kurus yang memiliki jubah mengkilat dan staff yang terbuat dari emas, menyapanya.

“Salamku, Sir Albert.”

“Hey… hentikan ritual ini. Dan segera pergi, sebelum pasukan ini dibantai,” pinta Albert yang langsung menatap tajam pada Vestri.

“Kami tak bisa, Sir. Tinggal beberapa menit lagi. Dan Pandora of God akan aktif,” jawab Vestri yang masih kekeh dengan pendiriannya.

“Hey Vestri! Aku tak peduli dengan kalian semua. Tapi, di luar sana ada Duke Demon. Yang bisa membantai kalian dengan mudah!”

“Apa?!”

“Hah?!”

Seluruh orang di ruangan itu terkejut dengan kejadian ini.

Karena mereka juga menyadari, jika lokasi benteng ini terlalu dalam untuk ditakhlukan. Sehingga, sangat bahaya, jika mereka dikepung dari segala arah.

Andai kata mereka dikepung, untuk menembus jalur mundur yang telah dikuasai oleh demon, maka itu akan membutuhkan banyak pengorbanan. Terlebih lagi, kondisi itu diperburuk dengan kemunculan Duke Demon.

Pelarian mundur mereka terasa hampir mustahil.

“Ja-jangan berbohong padaku. Andai kata kamu benar pun, gereja sedang mengirim bala bantuannya kemari.”

Walaupun sedikit goyah, Vestri tetap bersikeras.

‘Kamu maniak jabatan, sialan.’

“Baiklah. Itu terserah dirimu. Tapi, aku akan membawa Evaline pulang. Dan juga…”

Boooommmm…

Sebelum Albert bisa berkata, ‘aku tak menemukan tanda-tanda bantuan gereja’, suara ledakan keras dari arah Duke Demon itu terdengar.

“Sialan…”

Albert merasa, jika sudah terlambat untuk mundur sekarang.

Tanpa memperdulikan apapun, dia langsung menuju Evaline yang sudah menatapnya dari tadi.

“Ayo pergi!”

“Tapi paman…”

“Tak ada tapi, tapi-an…”

‘….!’

Sebelum dia sempat memegang tangan Evaline untuk menariknya dengan paksa, dia merasakan aura kuat di belakangnya.

Saat dia menatap ke sumber aura itu, ada seseorang dengan armor full body yang serba hitam, dengan great sword hitam legam yang memiliki dua bilah yang berbeda. Satu bilah tajam, sementara yang lain bilah bergerigi. Yang baru saja membelah seorang knight.

Senjata itu tampak familiar…

‘Bukankah itu, demon sword Sharmez?’

Melihat jika tebakannya itu benar, Albert menjadi waspada.

“Tetap di belakangku.”

Albert melindungi Evaline yang mencoba mengintip dari tubuh besar pamannya ini.

“Siapa kamu?!”

Teriak Vestri dengan sekuat tenaga, seolah tak mempercayai jika misi yang telah ia paksakan pada Pastor, akan berakhir dengan mengenaskan seperti ini.

Black Demon.”

Jawab pria ber-armor hitam itu, seraya melangkah maju untuk menyerang.

“Semuanya, serang!”

Ada 18 pasukan di ruangan besar itu. dengan 3 high priest dan 6 priest yang sedang melakukan ritual, ditambah 1 bishop, Vestri.

18 orang itu segera menerjang Black Demon itu, dengan sekuat tenaga.

Tapi, Black Demon itu menghindari setiap serangan pedang dari para prajurit dan knight dengan indahnya. Seolah, dia telah mahir melakukannya.

Tak hanya diam saja, Black Demon itu memberikan serangan balasan kepada para prajurit.

Room of Death.”

Seolah waktu di sekitarnya melambat, atau waktu di sekitar para prajurit itu dipercepat, Black Demon itu bergerak dengan lincahnya, sambil menebas musuh-musuhnya.

Melihat bawahannya yang diserang membabi buta, walau pun hanya diserang satu orang, Vestri menjadi panik.

“Gunakan healing magic kalian!”

Para priest dan high priest mulai merapalkan mantra.

“Healing Hand.”

“Divine Recovery.”

“Light of Mercy.”

Seluruh pasukan itu mendapatkan kembali HP-nya, dan mulai bisa bergerak di ruang yang terasa dipercepat itu. Tapi, Black Demon itu tak hanya tinggal diam.

Absorb of the Light.”

Skill itu adalah skill area yang seluas Room of Death, yang menempatkan satu meter seluruh area di sekitarnya menjadi lambat.

Dengan yang bisa merubah healing menjadi kutukan, di mana setiap beberapa kali regen HP perdetiknya akan menjadi damage pada targetnya. Meskipun target telah di luar area skill, skill itu akan tetap aktif, hingga efek skill healing yang dijangkiti dinon-aktifkan atau berakhir.

Skill itu adalah salah satu skill penghancur bagi para priest.

Para prajurit yang sedang mengepung Black Demon itu mulai merasakan tubuh mereka keracunan, dan mulai muntah darah. Dan untuk memperluas efek skill-nya, Black Demon itu terus menari dengan gesitnya di antara serangan para prajurit.

“Dasar bodoh! Gunakan serangan jarak jauh!”

Albert yang tak bisa diam saat pasukan gereja dibantai, mulai berteriak. Alhasil, para mage dan archer yang sedari tadi masih terpaku dengan kehebatan lawan, mulai merapal mantra serangan.

“Lightning Arrow.”

“Cannon Fire.”

“Wind Blash.”

Bahkan, Vestri juga mulai tersadar dan melemparkan skill lock target.

“…berikan kekuatanmu dengan perantara hambamu ini, Holy Spear!”

Puluhan serangan panah dan sihir mulai menghantamnya. Dan Black Demon mulai mengambil sikap defensive, sambil menarik dua warrior yang terlambat mundur, sebagai perisai.

Bamm…

Bam…

Bam…

Asap dan debu mulai naik, menghalangi target yang terlah dibombardir.

Semua nafas orang tertahan, melihat kepulan asap yang tebal itu. Semua orang berharap, jika demon itu bisa segera mati.

Tapi, harapan mereka sia-sia…

Tiba-tiba…

Dark Flash.”

Sinar laser hitam muncul dari kabut itu dan menghantam jantung Vestri. Dan seketika, bishop itu jatuh tersungkur ke belakang, sambil mengeluarkan darah di mulutnya.

Para high priest di belakangnya segera mendekat untuk menghampirinya. Tapi, laser hitam lain segera mencari target yang lain.

“Argh…”

Kali ini, mage yang masih terkejut itu tak sempat mengangkat pelindung sihirnya.

“Semuanya, awas!”

Raungan Albert mengema di ruangan utama gereja ini, dan mata semua orang terfokus pada kabut yang telah mulai menghilang.

Di sana, ada seseorang yang sedang duduk seperti saat bertemu raja, dengan tangan kiri yang memegang great sword itu menahan dua mayat yang terbakar hingga hangus, yang kemudian menjadi debu.

Sementara itu, tangan kanannya sedang menggunakan pose pistol untuk menembakkan Dark Flash.

Albert takjub dengan seorang demon yang berhasil menahan gempuran sihir itu dengan cerdasnya. Matanya terfokus pada sosok yang sedang berusaha berdiri itu, tangan kanannya mengacungkan longsword-nya, dan tangan kirinya berusaha menyembunyikan Evaline yang ketakutan.

‘Dia kuat…’

***

 

Setelah berdiri tegak, dan menancapkan great sword-nya ke tanah, Black Demon berkata.

“Aku hanya ditugaskan untuk menghancurkan pandora itu.”

Semua orang tahu, jika yang dimaksud demon itu adalah Pandora of God. Tapi, semua orang juga tahu, jika pandora itu hancur, para demon yang ada di luar tak akan lagi terkena debuff, dan mereka akan binasa.

“Aku akan beri kalian waktu 10 detik untuk pergi meninggalkan itu.”

“Omong kosong!”

Di papah oleh kedua high priest, Vestri yang sedang sekarat itu sedang mencoba mempertahankan ego terakhirnya. Tapi, semua orang yang ada di sana juga sadar, jika kondisi mereka benar-benar dikalahkan. Suara pertempuran di luar sudah hilang, dan mereka juga tengah dalam kondisi sulit.

Andai kata Pandora of God benar-benar aktif, mereka semua akan dibantai lebih dulu oleh Black Demon itu.

Tapi, jika mereka menyerahkan Pandora of God, ada peluang untuk menjauh dari monster itu. Yang mana, akan memperbesar peluang mereka untuk selamat.

“Baiklah… hitungannya akan aku mulai.”

Dari sikapnya, dia memang benar tak berniat untuk negosisasi. Dan juga, para demon dan demon beast yang ada di luar, juga sudah mulai bersiap-siap untuk masuk ke reruntuhan gereja ini.

“Jangan bercanda!”

Teriak Vestri yang tak ingin cita-citanya sebagi seorang paus hancur, hanya karena satu demon di depannya ini.

Tapi, Black Demon itu sedari tadi tak menatapnya, melainkan menatap Albert yang ada di belakangnya.

Mengerti akan itu, Albert yang sedari tadi berfikir keras, segera berteriak.

“Tinggalkan Pandora of God!”

12 orang yang masih hidup di sana terkejut seluruhnya, kecuali Evaline yang gemetar ketakutan. Ya, traumanya tentang pembantian di masa depan, tengah ia bayangkan.

‘Bertahanlah Evaline.’

Albert hanya mengertakkan gigi dan melangkah mundur, melihat celah di antara dinding.

“Apa yang kamu bicarakan, Albert?!” teriakan serak Vestri terdengar di seluruh ruangan.

“Aku ingin hidup. Jika kamu ingin mati, mati saja sendiri!”

Dengan kalimat Albert itu, semua orang menjadi tersadar, jika mereka akan dibantai, kalau tetap bertahan di bangunan yang sudah terkepung ini.

Albert menatap ke arah demon berarmor hitam yang masih berdiri di tempatnya. Tapi, saat dia melihat ke dalam helm hitam itu, dia merasakan jika demon itu tersenyum.

“10…”

Saat hitungan mundur kematian dimulai, dia beserta semua pasukan yang tersisa, telah mulai mundur, mencari celah terjauh dari Black Demon. Memperlebar jarak antara para demon di luar, mereka, Pandora of God, Black Demon, dan juga Duke Demon yang mengawasi di bukit sana.

“Serang!”

Dengan sekuat tenaga berlari keluar dan menebas musuh yang menghalangi rute pelarian, mereka mulai berlari dari takdir kematian mereka.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "UG_010"