Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Dukung kami: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

LMS_V06E03P01 Pertama Kalinya ke Bioskop

gambar


3. Pertama Kalinya ke Bioskop (1)



Awalnya, Lee Hyun ingin langsung pulang dengan adiknya. Seperti biasanya, tujuannya adalah pulang dan melakukan beberapa hal di rumah dan masuk ke Royal Road. Waktu untuk questnya sangat mepet, kurangnya waktu persiapan membuatnya lebih buruk. Namun, bukan itu yang muncul dalam pikirannya.
҅Interview Universitas Korea! Bukan hal bagus untuk menghabiskan hari yang penting seperti ini dengan cara yang biasanya.҆
Lee Hyun mencoba berbesar hati dan melihat dompetnya.
Lembaran-lembaran uang yang kaku.
Jika saja mereka tahu apa yang terjadi pada uang tunai setelah ditarik keluar.
"Hayan."
"Huh?"
"Ayo nonton bioskop."
Sampai sekarang, sama sekali tak pernah Lee Hyun pergi ke bioskop. Tapi selalu ada yang pertama kalinya untuk semuanya.
"Sungguh?"
Bagi Hayan, hal ini sangat tak masuk akal.
Yang mengajak tak lain tak bukan adalah kakaknya! Orang pelit yang tak akan pernah membuang-buang uang atau bahkan menggunakannya untuk naik bis. Seseorang yang tak mau membeli peralatan sekolah, kecuali benar-benar terpaksa. Dan sekarang mengajak nonton bioskop.
"Ya. Nonton biskop akan menyenangkan."
Dengan tekad Lee Hyun yang kuat, mereka berdua menuju ke gedung bioskop.
Bioskop yang banyak film.
Terletak di mall yang besar, sebuah tempat yang pengunjungnya tak pernah habis.
Saat dia memasuki gedung, dia terus-menerus merasa kagum.
"Menakjubkan."
Bagaimana bisa ada suatu tempat yang mengumpulkan begitu banyak orang. Ini tampak seperti sesuatu dari dunia yang berbeda.
"Lihat kak, film ini tampak benar-benar menarik."
"Tentu. Ayo pergi dan melihat-lihat."
Dalam kenyataannya, ini juga adalah yang pertama kalinya bagi Lee Hayan nonton bioskop. Meskipun dia memiliki uang saku yang cukup banyak, dan akan mendapatkan uang sendiri, dia tak akan pernah menghabiskannya secara sembarangan. Ini adalah pertama kalinya baginya untuk pergi ke bioskop, standart tinggi untuk nonton film.
"Begitu banyak film."
"Yang mana, yang paling populer belakangan ini?"
"Ada banyak poster di mana-mana."
"Ayo ke sana, kedengarannya menyenangkan."
Lee Hyun dan Lee Hayan membeli tiket setelah beberapa saat mengantri. Awalnya, dia hanya tahu jika kamu harus membayar uang sebelum memasuki bioskop. Namun, dia juga harus membeli tiket secara spesifik pada box office.
"Jadi begini cara kerjanya. Aku tahu ini akan terjadi. Ini normal."
Lee Hyun mendadak tersenyum lebar. Senyum kepercayaan diri. Namun dia menyerahkan 10.000 won untuk membeli 2 tiket.
"Dua tiket."
Kebanggan karena datang ke gedung bioskop!
Puas karena menjadi seorang pria berpendidikan!
Baru sekarang ini, dia merasa layak mengeluarkan sedikit uangnya. Meskipun berharga, menghabiskan uangnya masih terasa layak.
Tersenyum manis, karyawan tersebut berkata:
"Acara jam 3:30 untuk 2 tiket dewasa. Benar?"
"Ya."
"Apa anda punya kartu debit atau kartu kredit?"
"Huh?"
Lee Hyun bingung.
Kartu kredit dan kartu debit!
Nama yang terdengar cukup signifikan, penyebutan dari kata-kata itu. "Apa maksudnya itu?"
"Oh. Ya. MK capital, atau kartu kredit, kartu debit untuk mendapatkan diskon."
"Lalu, jika demikian, berapa banyak diskonnya..."
Lee Hyun bertanya dengan ragu-ragu.
Si pegawai tersenyum riang. Itu adalah sebuah yang cerah yang bisa mendorong semangat.
"2000 won per orang."
"....."
Pada saat ini, Lee Hyun menunjukkan senyum busuknya!
Diskon 2000 won, sebuah diskon yang tak boleh diabaikan.
Diskon 2000 won per orang, total diskonnya 4000 won!
Tetapi Lee Hyun tak memiliki kartu apapun.
Kartu kredit biasanya digunakan untuk belanja di mall, dan dia tak memilikinya, karena dia tak memenuhi syarat untuk mengajukan kartu kredit.
Hutangnya memang sudah lunas, tapi catatan masih ada, dan tak ada kredit, artinya tak ada kartu yang dikeluarkan.
Dia bahkan tak punya ponsel. "Hayan."
Dia menatap adiknya untuk mencari bantuan. Tapi adiknya mengelengkan kepala, situasinya sama untuk Hayan.
Seorang anak SMA tanpa ponsel, atau sebuah kartu.
Pada akhirnya, Lee Hayan merangkul tangan Lee Hyun untuk mendapatkan perhatiannya. "Kakak. Itu hanya sebuah film, kita tak harus menontonnya."
Pada saat itu, Lee Hyun sudah yakin jika dia ingin menonton bioskop.
Menengok ke belakang, dia tak ingat keluarganya pernah nonton bioskop bersama-sama.
҅Sebagai kakak, aku hidup demi adikku, Lee Hayan.҆
Merasakan penyesalan, dia menyerahkan 20.000 tanpa ragu-ragu pada pegawai tersebut.
Sebuah tindakan besar!
"Tanpa diskon ataupun kredit, aku beli 2 tiket."
"Semoga anda mendapatkan tempat yang bagus, tuan."
Si pegawai loker mendapatinya menarik, saat kedua bersaudara itu mencari tempat duduk yang bagus selama waktu yang tersisa. Filmnya dimulai jam 3:30 pm, masih ada 1 jam 20 menit yang tersisa. Lee Hyun menemani adiknya saat mereka masuk ke dalam gedung bioskop. Ada ruangan game besar dan sebuah tempat dimana kamu bisa membeli popcorn dan cumi-cumi.
҅Harga cumi itu hampir setengah dari tiket bioskop. Popcornnya juga begitu mahal.҆
Tempat ini, tak ada kata wajar di sini.
Harga popcorn dan minuman cola di gedung bioskop lebih mahal daripada tiketnya!
Lee Hyun melihat sekeliling dan melihat ruangan permainan, mengajak adiknya ke sana.
"Sampai waktunya pemutaran, ayo berkeliling."
"Ya, ya."
Keduanya masuk ke ruangan permainan.
Lagi, Lee Hyun terkagum.
҅Lebih dari1000 won per ronde untuk masing -masing game...҆
Royal Road jauh lebih baik daripada semua ini!
Di virtual reality, kamu bisa melakukan apapun. Untuk hiburan sederhana dari sebuah mesin lama, sebuah layar sederhana akan muncul dengan kedali tangan, yang seharga 1000 won untuk setiap penggunaan. Kamu membayarnya secara langsung dan juga jumlah yang diambil tak akan kembali. Ini adalah sebuah tempat yang membuang-buang uang hanya dalam sekejap.
҅Dasar penjahat!҆
Lee Hyun mendesah sedih.
Dunia hiburan tak bisa memberi pemikiran yang damai.
Harga-harganya keterlaluan tingginya!
Uang yang diperoleh dari tetesan keringat dan darah akan menghilang dalam sekejap dan tak menghasilkan apa-apa.
"Kakak, game mana yang mau dimainkan?"
"Yah, ayo coba yang itu."
Permainan yang terbaik bagi Lee Hyun saat ini adalah permainan yang paling murah. Semacam permaninan tenis untuk dua orang saling bersaing untuk menang. Di game itu, tangan Lee Hyun gemetar. Memainkannya dengan mengeluarkan uang.
Ini adalah ketakutan terbesar.
Sakit, rasa sakit yang mengerikan, saat uang meninggalkan sakunya!
Mungkin melihat film horor yang paling menakutkan, dia masih tak akan setakut ini. Lee Hyun dan adiknya membayar untuk bermain. Game yang paling murah adalah 500 won. Kehendak haruslah sangat kuat untuk bertahan selama 1 jam pada sebuah game yang biasanya selesai dalam 2 menit. Jika menang 2 kali lagi melawan adiknya, maka semuanya akan selesai! Uangnya akan lenyap.
Wajah Lee Hyun tampak kaku saat tersenyum.
"Ini membosankan, ayo kita lihat game yang lain."
"Ya, kak."
Lee Hyun sekarang menemukan sebuah game yang bukan tipe kompetisi.
҅Game ini jauh lebih baik, selama aku bisa menang ... semuanya gratis!҆
Dia menemukan game pesawat.
Tujuan dari game ini adalah untuk menerbangkan sebuah pesawat dan menghancurkan pesawat musuh dengan menembakkan misil. Ini sangat populer di abad 20, bahkan sekarang orang- orang masih menikmati game-game klasik dengan pengoperasian sederhana.
"Ayo coba yang ini."
Lee Hyun dengan senang saat dia duduk di depan game itu.
Dua orang bisa memainkan game ini bersama-sama dengan memasukkan 1000 won.
҅Aku bisa bertahan1 jam dengan game ini !҆



< Prev  I  Index  I  Next >