Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Traktir Ngopi gan...!

SCG_141

gambar

SCG_141


Bab 141. Choice of Destiny (1)


Seol Jihu merasakan lehernya tegang.
White Rose akhirnya mengungkapkan kartu mereka. Banyak hal yang agak membingungkan dengan penampilan Phi Sora. Tapi, ada kemungkinan jika gangguannya merupakan bagian dari tindakan besar.
Yang penting adalah kecurigaan Jang Maldong benar.
Seol Jihu memutuskan untuk fokus pada fakta ini, dan bertanya balik.
"Pekerjaan?"
"Aku mungkin membuatnya terdengar seperti sesuatu yang besar. Tapi itu tak banyak, jujur."
Phi Sora menyandarkan tubuhnya ke depan, dengan tangan masih di atas meja.
“Kami telah menyusun rencana yang sangat rumit. Tapi akhirnya, itu menjadi lebih besar dari yang kami kira. Jadi, kami ingin Kamu membantu kami. ”
"Kemudian…"
"Apakah kamu berpikir kami meminta uang? Atau peralatan? Bisa aja! White Rose kami bukan sekelompok pengemis. "
Phi Sora mengangkat dagunya dan dengan elegan menunjuk Bok Jungsik.
“Selama kamu mengatakan baik-baik saja, kamu harus membawa saudara Yi tercinta bersamamu. Pria itu akan mengambil tanggung jawab, untuk memindahkan mereka tanpa hambatan. ”
Dengan kata lain, dalang di balik proposal ini adalah Bok Jungsik, bukan Phi Sora.
Saat tatapan beralih kepadanya, Bok Jungsik tertawa canggung.
“Aku tak sengaja mendorong pembicaraan dalam lingkaran. Aku hanya berusaha terlihat rumit di depan Pak… meskipun semuanya hancur berkat seseorang. "
Bok Jungsik mengatakan hal ini tanpa basa-basi, tapi seolah-olah itu terlalu tak tahu malu untuk dirinya sendiri. Dia mengeluarkan batuk kering.
"Hmm. Nah sekarang semuanya sudah seperti ini, Aku hanya akan memberi tahumu segalanya. Beberapa waktu yang lalu, Aku membeli sepotong informasi, mengenai kehancuran dari guild informasi. Itu adalah pertukaran yang cukup berat, mengingat kami membayar 10 koin Gold untuk informasi itu.”
Mata Seol Jihu melebar. Perdagangan informasi bukanlah hal yang aneh, tapi 10 koin Gold terlalu mahal.
Konversi ke Won Korea, informasi itu bernilai 50,05 miliar Won.
"Kamu mungkin mengatakan kami gila, tapi bukti yang disiapkan broker itu tak perlu dipertanyakan lagi. Selain itu, kami menugaskan Mage berwibawa untuk memverifikasi informasi, referensi silang dengan dokumen sejarah di perpustakaan, dan menempatkan tim survei ke situs itu di bawah persetujuan broker. Dengan fakta-fakta yang dikemukakan, Aku menjadi yakin akan validitas informasi ini. ”
Bok Jungsik menyesuaikan kacamatanya.
"Kerusakan itu pasti ada dan jika ekspedisi berhasil, maka kami akan dengan mudah mendapatkan harta yang jauh melebihi investasi awal kita 10 koin Gold. Menurut laporan itu… jangan heran, itu seharusnya merupakan villa rahasia milik seorang kaisar kuno, yang dibangun untuk tujuan tertentu. "
"Berapa banyak lagi yang kamu rencanakan untuk memberitahu mereka !?"
Phi Sora dengan marah menghentikan pembicaraan.
"Mengapa kamu menumpahkan semuanya, padahal kamu bahkan tak tahu, apakah mereka bisa dipercaya?"
"Baiklah baiklah."
Bok Jungsik melambaikan tangannya sebelum melipatnya di depannya.
"Ngomong-ngomong, itulah situasinya… Aku tahu ini kondisi transfer yang belum pernah terjadi sebelumnya dan unik. Tapi, karena nasib guild dipertaruhkan, Aku meminta pengertianmu. "
Bok Jungsik tersenyum.
"Tapi dengan kepribadian Tuan, Aku ragu Kamu akan setuju. Jadi kami menyiapkan persyaratan tambahan. "
“Ketentuan tambahan? Mengapa Aku belum pernah mendengar tentang ini? "
Phi Sora dengan keras mengangkat suaranya, tapi Bok Jungsik bahkan tak berpura-pura mendengar.
"Kami akan menepati janji untuk mentransfer, bahkan jika ekspedisi gagal."
Dengan kata lain, mereka akan memindahkan saudara Yi, selama mereka hanya setuju untuk berpartisipasi.
“Tapi, itu adalah peristiwa yang sangat tak mungkin. Kami akan bermasalah, jika Kamu berharap itu gagal, Kamu tahu. "
Bok Jungsik tertawa kecil. Seolah-olah dia sangat percaya diri dalam rencananya.
"Selain itu… kamu pasti khawatir, jika kami mungkin akan mencoba menggunakanmu sebagai perisai atau umpan daging, bukan?"
Dia tersenyum lebar.
Itu tak salah untuk mengatakan, jika itu adalah keraguan pertama yang terlintas di benak Seol Jihu, ketika dia mendengar proposal mereka.
"Sora akan bertanggung jawab atas ekspedisi, dan Tuan tahu, jika dia adalah seorang profesional yang cakap, ketika datang untuk bekerja."
Saat Jang Maldong mengangguk setuju, hidung Phi Sora melonjak lebih tinggi dari Menara Eiffel.
"Tapi karena aku percaya reputasi Carpe Diem dan Tuan Seol Jihu, aku ingin memberimu wewenang untuk memveto keputusan apa pun, selama ekspedisi."
"Apa katamu?"
Mata Phi Sora menyala dengan api.
"Apakah di mana pikiranmu? Atas otoritas siapa Kamu mendasarkan itu? ”
"Milikku. Bisakah aku tak melakukan ini sebagai pemimpin? ”
“Lihat, orang tua! Kapten ekspedisi adalah aku! "
"Siapa yang kamu panggil orang tua, aku pemimpinmu! Dan apakah Kamu mengatakan, jika Kamu tak bisa mempercayai tim yang dipimpin oleh Tuan Jang Maldong? "
“Aku percaya Kakek! Tapi…"
"Harap tenang. Diskusi belum selesai. "
Bok Jungsik dengan keras mendorong, seolah-olah dia tak akan pernah mengambil kembali keputusannya.
“Aku minta maaf karena meninggikan suaraku. Aku akan melanjutkan. Kami akan memberimu kekuatan veto. Tapi sepertinya Sora khawatir, ada kemungkinan jika ini mungkin menabur ketidak-sepakatan dalam tim ekspedisi. Karena itu, jika Kamu menggunakan hak ini, perjanjian transfer mungkin harus dipertimbangkan kembali. "
Itu berarti, mereka menempatkan batasan untuk mencegah pihak sekutu menyalah-gunakan kekuasaan.
Sebenarnya, itu adalah pembatasan yang jelas, kecuali White Rose adalah kelompok penurut yang ekstrem.
"Jadi, sebelum Kamu melakukan ini dengan benar, kami ingin Kamu menghubungiku atau Tuan Jang Maldong lebih dulu. Dengan cara ini, Aku dapat mengukur kontribusimu untuk ekspedisi, dan menilai situasi dengan benar. "
Pada dasarnya, dia mengatakan jika tak akan ada situasi, di mana mereka akan dipaksa untuk memasuki zona kematian di luar kehendak mereka.
"Akhirnya."
Bok Jungsik melanjutkan.
"Karena kami meminta kerjasamamu dengan syarat mentransfer saudara Yi, akan sulit untuk membagi rampasan ekspedisi. Tapi…"
"Tapi?"
Phi Sora menatap Bok Jungsik dengan tak percaya.
“Kami akan memberimu biaya komisi yang sesuai dengan standar Carpe Diem, jika ekspedisi berhasil. Dari dana pribadiku, tentu saja. "
Asupan napas yang tajam bisa terdengar dari Phi Sora. Tapi ketika Bok Jungsik menekankan, jika uang itu akan datang dari dana sendiri, tak ada kata-kata yang diikuti.
Seol Jihu dan Jang Maldong, keduanya memakai ekspresi bingung.
"Uh… aku tak berusaha berbohong."
Bok Jungsik sedikit menurunkan kepalanya dan menggerakkan tangannya.
"Aku mungkin mengenakan gelar mencolok, sebagai Ketua White Rose Guild. Tapi… yah, aku tak seperti ini sejak awal. Aku juga memiliki waktu yang sangat sulit di masa lalu. "
Jang Maldong tersipu.
"Mengapa kamu menceritakan kisah masa lalu?"
"Kamulah yang membantuku saat itu."
Bok Jungsik berbicara dengan serius tanpa mengedipkan matanya.
"Dengan percaya diri aku bisa menyatakan, jika aku lebih sedih daripada orang lain, ketika aku dengar Kamu pension. Dan lebih bahagia daripada orang lain, ketika aku dengarmu akan kembali."
Setelah keheningan singkat, dia berbicara.
"Bagaimanapun juga, Aku akan menghargai itu, jika Kamu tak terlalu memikirkan kondisi ketiga, dan hanya melihatnya sebagai keinginan pribadiku untuk membayar kembali hutangku."
"…."
 “Sora, kamu harus menerimanya juga. Bukankah Tuan yang mengubahmu menjadi orang normal dari definisi kecerobohan? "
"Apa katamu? Ceroboh?"
Phi Sora menyuarakan keluhan yang tajam,etapi melirik Jang Maldong dari sudut matanya, dia mengayunkan kepalanya ke sisi lain.
"Aku mungkin telah membuatnya terlalu rumit, tapi pada dasarnya, itu suap."
Bok Jungsik menyipitkan matanya.
"Yi Seol-Ah dan Yi Sungjin kami… Mereka memasuki guild kami karena mereka memercayaiku. Tapi, aku merasa kami belum bisa melihat mereka dengan baik…"
Saat Bok Jungsik berbicara sambil melotot, Phi Sora meletus.
"Hei! Untuk apa kamu menatapku? ”
Bok Jungsik menghela nafas panjang dan tertawa kering.
"Ngomong-ngomong, kami akan mentransfer saudara Yi begitu kita berhasil dengan ekspedisi. Jadi, uang itu juga untukmu, untuk mencari mereka sebagai gantinya."
'Benarkah?'
Itu adalah kondisi yang dapat diterima.
Mereka pasti cukup untuk menghibur telinganya. Meskipun mereka agak terlalu bagus, penjelasan yang agak dapat diterima mampu mengurangi keraguan.
Mungkin…
‘Apakah Aku melihat ini melalui lensa berwarna?’
Ke titik di mana pikiran ini muncul dalam pikiran.
Seol Jihu mengatur kondisi satu per satu.
White Rose mengusulkan untuk bekerja sama.
Selama mereka bekerja sama, White Rose akan mentransfer saudara Yi secara gratis.
Mereka akan memberikan hak veto, untuk mencegah dirinya menjadi tameng atau umpan daging.
Meskipun membagi hadiah akan sulit, mereka akan diberi biaya komisi yang masuk akal.
‘….’
Apakah ada lebih banyak hal untuk diteliti?
Dari pandangan sepintas, tidak ada. Tapi dia memutuskan untuk memeriksa kembali kondisi dengan sudut pandang skeptis, seperti filsuf Perancis, René Descartes.
Begitu dia melakukannya, kecurigaan baru terbentuk.
Meskipun mereka menutupinya dengan segala macam basa-basi, bukankah mereka berusaha melibatkan Carpe Diem dengan cara apa pun?
Dengan kata lain, ada skema di balik ekspedisi ini. Dan mereka ingin Carpe Diem terjebak di dalamnya bersama mereka.
Tentu saja, ada juga kemungkinan hanya kesalah-pahaman tentang kemurahan hati Bok Jungsik yang terlalu tulus.
"Astaga! Aku menyaksikan definisi dari hari pa as ini… Sigh… Yah sayang? Apa yang akan kamu lakukan?"
Lalu…
"Apakah kamu ikut atau tidak?"
Saat kebenaran tiba.
Segera setelah dia mengaktifkan Nine Eyes, seluruh ruangan diwarnai dengan berbagai warna.
Jang Maldong masih bersinar keemasan seperti biasa. Bok Jungsik adalah…
'Kuning?'
Diperlukan perhatian.
'Mengapa?'
Tak peduli berapa kali dia melirik, Bok Jungsik yang terlihat baik, dicat dengan warna kuning gelap.
"Apakah Kamu ikut atau tidak? Kenapa kamu tak bicara? "
Secara tak sengaja memutar matanya, Seol Jihu merasakan jantungnya berdetak kencang.
Wajah frustasi Phi Sora diwarnai dengan warna biru laut yang jernih.
'Biru!'
Choice of Destiny.
Tiba-tiba dia teringat suara Gula dan Ira.
[Aku tak mengatakan, jika aku akan membuka ketiga arah juga. Benar. Aku akan membuka hanya arah ini.]
[Mirip dengan sisi kiri, sisi kanan harus membuka ketiga arah secara bersamaan.]
[Aku tahu. Tapi aku akan menanggung akibatnya.]
Apa-apaan 'Choice of Destiny' ini?
Seol Jihu tak bisa mengerti apa yang dimaksud Ira, ketika dia mengatakan dia harus 'menanggung konsekuensinya', atau mengapa Gula dengan putus asa berusaha menghentikan kebangkitan sisi ini.
Tapi sekarang, dia merasa bisa mengerti.
Pzzt!
Layar tiba-tiba diproyeksikan di depannya, seperti ketika itu terjadi di Tahap 3.
Itu adalah tempat yang tak dikenal. Dalam apa yang tampak seperti kamar kumuh, seorang wanita terlihat di tanah dengan wajahnya berlutut.
‘Hic, hic…’
Suara sedih tangisan memilukan.
Ketika wanita itu perlahan berdiri setelah beberapa saat, Seol Jihu meragukan matanya.
"Phi Sora?"
Identitas wanita yang terhuyung ke depan adalah Phi Sora.
Dia terus memanjat di atas kursi tua, dan memegang tali yang diikat ke langit-langit.
Tanpa ragu-ragu, dia meletakkan tali di lehernya dan membuat senyum aneh, dia menendang kursi di bawahnya.
Saat dia menahan napas, layar menghilang seperti kebohongan, setelah suara berderit yang tak salah lagi.
Seol Jihu dibiarkan linglung. Dia telah menyaksikan pemandangan yang mengejutkan, sehingga jiwanya meninggalkannya.
"Halo? Ada apa dengan pria ini tiba-tiba? "
Seol Jihu kembali sadar, mendengar suara yang jernih itu. Entah itu karena Choice of Destiny, tapi kepalanya terasa pusing dan linglung.
"Sekarang, sekarang, jangan terburu-buru. Tuan Seol Jihu? Kamu tak perlu memberikan balasan segera, Jadi, silakan bicarakan dengan rekan timmu. "
"Itu tak perlu."
Seol Jihu menjawab dengan refleks.
"Aku harus menolak."
Seol Jihu menolak mereka dengan suara lelah.
"Hah.? Apa?"
"Kamu tak akan berpartisipasi?"
Bok Jungsik dan Phi Sora berteriak pada saat yang sama. Mereka tercengang, seolah-olah mereka tak pernah berpikir jika dia akan menolak.
"Apakah ada kondisi yang kamu tak puas dengan… Tuan?"
Bok Jungsik buru-buru bertanya, tapi Jang Maldong diam-diam menutup matanya.
"Tapi kenapa? Mengapa Kamu tak ingin berpartisipasi? "
Ada dua alasan mengapa.
Alasan pertama adalah Bok Jungsik bersinar kuning. Alasan kedua adalah…
"Aku pikir, ini bukan tempat yang harus kita kunjungi."
"Apa?"
Alis Phi Sora terangkat.
"Tak boleh dikunjungi? Omong kosong apa yang kamu katakan? ”
"Itu berbahaya."
Seol Jihu yang sedang mengatur nafasnya dengan tenang, dan menggelengkan kepalanya.
"Jika… Jika kita pergi, kita mungkin mati. Tidak, kita semua akan mati."
"Apa… Apa yang kamu katakan?"
Wajah Phi Sora mengerut.
"Kita akan mati, jika kita pergi? Pria tua! Apa yang orang ini katakan? Kakek! Siapa lelaki ini?"
Phi Sora jelas kesal.
"Ada apa dengannya!"
Mempersiapkan diri untuk ekspedisi itu cukup sulit, belum lagi dia sudah kesal dengan kondisi Bok Jungsik yang hampir filantropis. Jadi, mendengar apa yang pada dasarnya kutukan, membuatnya marah.
"Wow! Sangat lucu! Baik! Jika Kamu tak mau, maka jangan. Apakah Kamu pikir, kami akan turun ke tanah, memohon ‘Tolong ubahlah pikiranmu!’ Atau sesuatu? ”
"S-Sora!"
"Diam!"
Drrrk.
Suara kursi yang menggesek lantai terdengar.
"Lalu lagi. Bodoh bagiku untuk mengharapkan sesuatu dari seseorang yang bergaul dengan dua orang idiot itu sejak awal. Aku pikir, Kamu akan berbeda berdasarkan rumormu. Tapi sepertinya, Aku membuang-buang waktu. Baiklah kalau begitu. Jangan repot-repot. Kami tak akan pernah bertanya lagi kepadamu, sehingga Kamu tak berani kembali meludahkan omong kosong, tentang bagaimana Kamu tiba-tiba berubah pikiran atau sesuatu! "
Phi Sora melepaskan tembakan seperti senapan mesin, setelah berdiri.
“Pilih siapa yang harus dihubungi dengan hati-hati, sebelum mengatur pertemuan lain kali! Sebenarnya apa ini omong kosong?”
Memuntahkan segala macam untuk kata-kata kotor, Phi Sora menendang pintu terbuka dan bergegas keluar.
Bok Jungsik menangkupkan tangannya di wajahnya, dan Jang Maldong menurunkan ujung fedora/topi-nya.
***

Setelah menerima permintaan maaf sopan Bok Jungsik, Seol Jihu dan Jang Maldong meninggalkan White Rose.
Dia telah mengatakan kepada mereka, untuk menghubungi dia begitu mereka memiliki uang atau barang untuk ditukar. Dan jika dia masih akan menyambut mereka, jika mereka memutuskan untuk berubah pikiran. Kesimpulannya, pertemuan itu tak membuahkan hasil.
"Kamu melakukannya dengan baik."
Jang Maldong berbicara, setelah naik ke kereta.
"Aku pikir, kamu akan memarahiku."
“Kamu memang membuat beberapa kesalahan. Apa yang membuatmu mengatakan itu, jika mereka akan mati, jika pergi? "
Seol Jihu menggaruk pipinya dengan ibu jarinya. Jang Maldong melanjutkan.
“Akan lebih baik, jika kamu menolak mereka dengan lebih lembut… Tapi itu pilihanmu, bukan? "
Mendengar kata 'pilihan' memberinya perasaan aneh.
"Aku mungkin memberimu nasihat. Tapi, Aku tak berencana untuk menentang keputusanmu. Kamu menolak mereka, dan itu saja. "
Intensitas goresan meningkat.
"Kamu akan kehabisan darah pada tingkat itu, Kamu bajingan kecil."
Menyeringai, Jang Maldong menggelengkan kepalanya.
“Ngomong-ngomong, Kamu bertahan dengan baik. Jika Aku menjadikan Chohong, bukankah Kamu… "
Jang Maldong menggigil memikirkan hal itu.
"Apa yang akan terjadi, jika aku tak tahan?"
“Kamu akan dipukuli hitam dan biru. Satu sisi. "
Tentu saja! Seol Jihu tersenyum pahit.
"Dia seharusnya kuat."
"Dia. Dia terampil dan memiliki bakat yang hebat, tapi kepribadiannya… tsk. "
"Tapi sepertinya, dia tak memperlakukanmu seperti itu."
"Hmm… masih tak berubah, kalau dia memiliki kepribadian yang buruk… Yah, Kamu benar. Dia memiliki kepribadian yang eksentrik. Dia membagi orang menjadi teman atau musuh, dan dia menilai berdasarkan dua kriteria ini saja. ”
"Logika hitam dan putih?"
"Ya. Tepat seperti itu. Aku terus berusaha memperbaikinya, tapi dia tetap seperti itu. "
Mereka tiba-tiba merasakan sentakan. Kereta mulai bergerak mengikuti bunyi cambuk.
Jang Maldong mendecakkan lidahnya dan menarik napas dalam-dalam.
“Mari kita tutup mata. Aku sedikit mengantuk, setelah melalui semua itu. "
"Tolong istirahat dulu."
"Baik."
Jang Maldong menutup matanya.
Seol Jihu diam-diam melihat ke luar jendela dan tersesat dalam pikiran. Adegan yang dilihatnya di White Rose masih jelas di benaknya.
"Mengapa dia tersenyum, ketika dia gantung diri?"
Ian telah membandingkan takdir dengan sesuatu yang alami seperti bernafas. Dan sesuatu yang tak terhindarkan yang akhirnya harus diterima orang, seperti kematian.
Lalu apakah benar, memandang Phi Sora terlahir dengan nasib gantung diri?
‘Aku tak tahu."
Dia juga tak ingin terlibat.
Satu hal yang membuatnya khawatir saat ini adalah saudara Yi. Fakta jika dia datang dengan harapan besar, hanya meninggalkan tangan kosong meninggalkan rasa pahit di mulutnya.
Seperti biasa, dia merasa jika tak ada yang mudah dalam hidup. Dan ketika dia memikirkan ini, kepala dan bahunya tampak semakin berat.
'Berat mahkota…'
Saat dia merenungkan kata-kata Ian, Seol Jihu tiba-tiba merasakan sesuatu yang menggelitiknya. Itu adalah asap hitam.
Mengkonfirmasi jika Jang Maldong sedang tertidur lelap melalui sisi visinya, dia berbisik.
"Flone. Kamu kembali?"
‘Tiba-tiba, aku merasakan kehadiranmu menjauh saat aku terbang.’
"Maafkan Aku. Aku akan membiarkanmu jalan-jalan, saat kunjungan kami berikutnya. "
‘Tentu. Aku akan mengeluh, tapi Aku rasa Aku tak bisa.’
"Kenapa tidak?"
‘Kamu terlihat kelelahan.’
Seol Jihu menggosok wajahnya.
‘Apakah terjadi sesuatu?’
"…."
‘Ingin aku mengalahkan mereka?’
"T-Tidak."
Seol Jihu buru-buru menggelengkan kepalanya.
‘Tidak apa-apa, jadi beri tahu aku.’
"Bukan masalah besar."
‘Kenapa? Apa yang terjadi. Aku penasaran. Katakan padaku.’
Seol Jihu mengerutkan bibirnya, saat Flone menempel erat padanya.
“Ini tentang pekerjaan. Tentang ekspedisi. "
‘Ekspedisi? Ke mana?’
"Aku tak tahu pasti. Mereka mengatakan itu adalah beberapa vila kaisar kuno…"
‘Seorang kaisar kuno? Sebuah villa?’
Asap hitam itu berayun sebelum berubah menjadi tanda tanya. Saat Seol Jihu menatapnya dengan takjub…
‘Ah!’
…itu berubah menjadi tanda seru.
‘Tak mungkin… Apakah itu Sacrificium?’
“Sacrificium? Apa itu?"
‘Nama vila.’
Flone menjawab dengan cepat.
‘Kamu mengatakan itu adalah seorang kaisar?’
"Ya."
‘Gelar seorang kaisar hanya diberikan, kepada orang yang memerintah atas suatu kekaisaran.’
"Dan?"
Seol Jihu memiringkan kepalanya dengan bingung, karena dia tak bisa mengikuti percakapan ini.
"Flone. Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan nama villa? ”
Tak ada hanya satu atau dua kaisar di masa lalu. Juga, tak aneh bagi seorang kaisar untuk memiliki sebuah vila di area resor.
Mengapa Flone segera merespons, setelah mendengar apa yang dia katakan?
‘Itu karena, kisah villa kaisar adalah kisah yang sangat terkenal. Aku memikirkannya, begitu aku mendengarnya.’
"Lalu?"
‘Ngomong-ngomong, bagaimana kamu tahu? Aku mendengar cerita itu, sejak aku masih kecil.’
Baru sekarang Seol Jihu ingat, jika Flone adalah seseorang dari ratusan tahun yang lalu, dan dia berasal dari kerajaan.
"Flone, bisakah kamu ceritakan dongeng ini secara mendetail?"
‘Hmm… Hanya jika kamu membuat janji.’
Flone membuat kondisi setelah merenung sebentar.
"Sebuah janji?"
‘Yap. Tak sulit untuk memberi tahumu, tetapi Aku tak ingin kamu pergi ke Sacrificium.’
Dan apa ini sekarang?
"Kenapa tidak?"
‘Karena, itu adalah tempat yang tak boleh kamu kunjungi.’
Flone berulang kali menekankan dengan nada peringatan.
‘Itu adalah tempat yang tak boleh kamu kunjungi. Terutama orang yang masih hidup.’



< Prev  I  Index  I  Next >

Follow Us