Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_031

gambar


BAE_031

Chapter 31: Dire Tombs I

 

Melangkah ke Dungeon, aku merasakan perubahan suhu yang tiba-tiba saat kami menuruni lereng. Aku berdiri di sisi kanan Brald, yang membawa perisai dan pedang.

Jasmine dan diriku sudah melakukan riset di Dungeon Dire Tombs, yang kita masuki sekarang. Ini adalah tempat yang unik, bahkan di antara Dungeon lain yang misterius. Mana Beast yang tinggal di sini telah digambarkan dalam catatan sebagai mahluk Undead.

Aku belum pernah mendengar tentang Mana Beast yang bisa hidup kembali. Karena hal ini, salah satu aspek tersulit dari membersihkan Dungeon ini, tampaknya karena jumlah tak terbatas dari Mana Beast-nya.

Masuk lebih dalam, beberapa Adventurer dan mage guild bahkan berspekulasi, jika di dalam dasar Dungeon ini mungkin ada artefak khusus, yang dapat menghidupkan kembali Mana Beast yang mati. Tapi, dia tidak ada yang bisa membuktikannya.

Membersihkan dungeon, berarti menjelajahi seluruh areanya. Ini berbeda dari menaklukkan Dungeon, kami harus menaklukkan Mana Beast di dalamnya, dan menjarah semua harta karunnya.

Dungeon ini telah dibersihkan, atau setidaknya sampai Brald menemukan pesan tersembunyi. Tapi, tidak pernah dikalahkan.

“Kita mendekati lantai pertama, tetap waspada. Mana Beast di sini tidak kuat. Tapi, akan ada banyak dari mereka. Jangan buang waktu kalian dengan mencoba untuk mengumpulkan inti mana dari Mana Beast… mereka tidak memilikinya.”

Brald menyatakan itu.

Aku lalu mendengar gumaman samar dari Oliver, Healer kami yang mengeluh tentang kurangnya hadiah dari Dungeon ini.

Sementara tujuan menaklukkan Dungeon adalah untuk menjarah harta karun seperti mana tingkat tinggi, yang muncul. Sebagian besar keuntungan lain. Biasanya, itu berasal dari mengumpulkan inti Mana saat terus menjelajah.

Dalam kebanyakan kasus, bahkan jika pihak tidak dapat mengalahkan atau bahkan membersihkan Dungeon. Mereka masih bisa keluar dengan sejumlah besar inti mana, yang mana bisa dijual dengan harga tinggi. Dan salah satu alasan Dungeon ini sangat tidak populer, dan mengapa party kita adalah satu-satunya yang ada di dalam Dungeon ini.

Itu adalah karena fakta, jika Mana Beast di sini tidak memiliki inti. Dan ini berarti sebagian besar pendapatan dari upaya membersihkan Dungeon, akan hilang juga.

“GRRRRRRRRR.”

Aku menyipitkan mata dan berfokus. Kami baru saja mencapai ujung gua yang turun bawah dengan diameter sekitar 50 meter. Melihat sekeliling, seluruh gua bersinar dalam warna biru redup.

Di atas kami, gua dipenuhi oleh stalaktit yang seakan mengancam dengan ujung-ujung tajamnya yang berkilauan. Ada sekitar 20 Mana Beast yang tampak seperti kelelawar besar, dan ada yang tanpa sayap, tapi digantikan dengan empat anggota tubuh.

Tubuh berongga dari Mana Beast, yang seperti kelelawar menunjukkan dengan tulang rusuknya yang didalamnya, di mana inti Mana Beast seharusnya ada sudah digantikan oleh batu yang rusak.

Aku kira, semua informasi itu benar.

“Batrunners! Mereka tidak kuat, tapi mereka menyerang dalam kelompok. Minimalkan penggunaan mana kita akan menjadi kunci di dalam Dungeon ini! Bersiaplah!”

Brald meraung sebagai respon geraman Batrunners, mereka semua sudah siap untuk menerkam, dengan tambalan bulu mereka berdiri dan mulut yang terbuka.

“Bentuk dan bunuh musuh di sekitar! Fire Cyclone!”

Aku mendengar teriakan dari belakangku, dan aku menyadari jika Lucas lah yang merapalkan mantra itu.

Tiba-tiba, empat putaran api setinggi 3 meter berputar di sekitar kelompok kami, dan menyebar.

*YELP* *YELP*

Banyak Batrunners dimakan oleh tornado api dan dibakar. Yang cukup beruntung bisa melarikan diri dari tornado, dan berusaha mengelilingi dan menyerang kami.

Aku bisa mendengar Brald mendecakkan lidahnya. Dia tidak puas, karena Lucas mengabaikan perintahnya, dan mengucapkan mantra yang tidak diperlukan.

Tornado api menewaskan sebagian besar Batrunners, dan yang tersisa dibakar habis hingga mengalahkan sisanya, bisa dilakukan dengan cepat.

“Lain kali, ikuti perintah dan jangan buang mana seperti itu. Mantramu berlebihan.”

Brald marah.

Lucas hanya memutar matanya,

“Aku tidak melihat ada masalah. Kita membunuh mereka dengan cukup cepat, jadi semua orang bisa menyimpan mana mereka.”

Sambil menggelengkan kepalanya, Brald terus memimpin kami ke depan, ke ujung lain gua. Sebelum pergi ke ruang sebelah, aku mendengar suara-suara berderak di belakangku dan yang mengejutkanku. Batrunner yang baru saja terbunuh mulai bergerak, mereka seakan tidak terluka, selain kenyataan jika tulang rusuk mereka mencuat keluar.

Dire Tombs…

Sayangnya, nama itu terlalu pas untuk Dungeon ini.

Kami hanya mengabaikan mereka dan pergi ke ruangan lain, sementara Elia diam-diam melemparkan dinding batu ke pintu masuk. Itu agar, Batrunners tidak bisa mengikuti kami.

Melewati pintu, kami dibawa ke koridor gelap lain yang luasnya sekitar 4 orang, jika berjajar bersama.

Bisa aku katakan semua orang sedikit lebih santai saat meninggalkan gua pertama. Tapi, aku tidak bisa menghilangkan perasaan gelisahku.

“Fwishshshsh!”

“Clang Clang Clang!”

Pedang pendekku bersinar, saat aku secara naluriah menangkis serangan yang diarahkan ke Samantha.

“T-terima kasih…”

Bahkan di bawah cahaya biru redup, aku bisa mengatakan… jika wajah Samantha memucat, ketika duri tanah yang hampir membunuhnya, mendarat di tanah di samping kakinya.

“Ada yang salah… tidak ada perangkap, terakhir kali aku ke sini.”

Brald mengambil salah satu batu runcing untuk mempelajarinya, tapi dia bingung setelahnya.

Kehadiran jebakan, berarti jika ada Mana Beast tingkat tinggi, yang mampu menyihir mantra dengan persyaratan aktivasi.

“Tetap waspada semuanya.” kata Jasmine, yang sudah memegang belati kembarnya untuk menjaga organ vitalnya. Tapi, Reginald dan Kriol baru menyiapkan senjata mereka, ketika Samantha beringsut sedikit lebih dekat denganku. Tangannya mencubit lengan bajuku, dan tangannya yang lain mencengkeram tongkatnya.

Untungnya, kami mencapai ujung aula tanpa jebakan lain. Gua berikutnya yang kami datangi mirip dengan gua sebelumnya. Tapi, dua kali ukurannya, dan ada lubang mencurigakan yang tersebar di tanah.

“Jangan dekati lubang. Mereka geyser yang menembakkan aliran gas yang sangat panas. Seharusnya tidak apa-apa, asalkan kamu tidak berada di dekat ledakan itu.”

Brald mengumumkan, dan dia terus mencari tanda-tanda kehadiran Mana Beast.

*RUMBLE*

Seolah-olah diberi petunjuk, gua bergetar dan dari tanah muncul sesuatu yang anehnya menyerupai cacing. Kecuali itu berwarna merah menyala, tebalnya sekitar beberapa meter, dan panjang yang tak terduga. Itu tak terhitung banyaknya, gigi yang melingkar di lubang mulutnya.

“Apa itu ada di sini terakhir kali, Brald?”

Kriol memandangi pemimpin kita ini.

“T-tidak… aku tidak mengerti, apa yang terjadi. Tidak masuk akal bagi spesies Mana Beast yang baru, untuk memasuki Dungeon seperti ini.”

Knight tampan itu sedikit goyah, kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

“Cheh. Itu bukan masalah besar, selama aku di sini.”

Lucas hanya mengibaskan rambut pirangnya.

Namun, cacing merah raksasa tidak menyerang kami. Tapi itu menggali, dan menciptakan lubang lain.

“Sepertinya, itu tidak mengejar kita.”

Gumam Elijah, sementara matanya dengan tajam mengamati cacing raksasa itu.

Cacing merah itu sekarang membenamkan dirinya ke dinding gua, menciptakan lebih banyak lubang dari semua sudut yang berbeda, dan tidak pernah berhadapan dengan kami.

“Apa kita hanya akan berdiri di sekitar, dan menonton cacing itu menggali atau kita akan pergi?”

Oliver, Emitter kurus kami, berjalan melewati Brald dan diriku. Dengan percaya diri, dia melangkah ke ujung gua.

Dia ingin menunjukkan keberaniannya di depan Samantha, adalah apa yang bisa aku lihat dari tindakannya.

“Kembali ke sini! Kita perlu mencari tahu apa yang terjadi, sebelum kita menyeberang!”

Brald semakin frustrasi pada kesombongan yang ditunjukkan oleh para Conjurers, ketika dia melangkah maju untuk mengejarnya.

Tiba-tiba, seluruh gua bergetar dan kami mendengar suara mendesis ringan.

“LUCAS! PELINDUNG! SEKARANG!”

Aku berteriak pada bangsawan yang berambut pirang itu.

“FWWOOOOOOOOM!”

Lubang-lubangnya.

Lubang-lubang yang ada pada awalnya kosong, yang berada di atap, dinding, dan tanah yang dibuat oleh cacing raksasa itu…

Semuanya bergetar, dan melepaskan semburan gas.

Cacing raksasa itu membuat lubang, untuk membunuh kita.

Aku berhasil menarik Brald, sebelum dia sempat mengejar Oliver.

Perisai muncul tepat pada waktunya untuk melindungi kami dari gas, tapi Oliver menghilang dari pandangan.

Letusan gas berlangsung selama beberapa menit, sampai akhirnya perlahan menghilang.

Lucas melepaskan penghalang yang lemah, dan kami berdiri diam di tempat kami.

Satu-satunya yang tersisa dari Oliver, adalah permata di atas tongkatnya.

“Sial!”

Brald berteriak, dia menggertakkan giginya, karena merasa bersalah.

Oliver tidak berarti banyak bagi kami sebagai manusia, tapi dia Healer kami. Dan si idiot itu berjalan, dengan tanpa menggunakan mantra penghalang pada dirinya sendiri.

Wajah Samantha tampak menyedihkan, saat dia menutup mulutnya dengan tangannya.

Sebelum kami sempat melangkah keluar, Lucas maju dan mengambil permata yang beberapa meter di depan kami.

“Cih… permata nya bahkan tidak bagus.”

Dia lalu melemparkannya kembali ke arah kita, dan Brald mengambilnya yang mana diserahkan kepada Samantha setelahnya. Setelah mempelajarinya, dia mengganti permata di tongkatnya dengan yang dimiliki Oliver. Tangannya gemetar sepanjang waktu, saat melakukan itu.

“Kita perlu bergerak, sebelum erupsi lain terjadi. Cacing raksasa itu membuat lebih banyak lubang. Aku rasa, Barrier Lucas tidak akan bertahan untuk gelombang lain.”

Pemimpin kami menyatakan itu, saat dia bergerak maju.

Aku melihat kembali pada Jasmine, dan dia hanya mengangguk padaku. Saat ini, kami semua frustrasi dengan pergantian peristiwa yang tiba-tiba.

Kami setengah jalan melalui gua, ketika Elijahyang berada tepat di sebelahku bertanya,

”Bagaimana kamu tahu Barrier Lucas akan sangat efektif melawan gas itu?”

Aku bisa melihat Lucas dan Samantha mengalihkan pandangan mereka ke arahku, menunggu untuk sebuah jawaban.

“Aku pernah mengalami pengalaman serupa sebelumnya, dan penghalang panas sepertinya akan meniadakan serangan gas. Itu perlindungan terbaik,”

Aku hanya mengangkat bahu, saat menjawab.

Di sekitar kami, cacing raksasa yang menciptakan lebih banyak lubang tiba-tiba, berhenti di depan kami.

Tanpa peringatan, dia lalu mencambukkan kepalanya dan menabrak tanah tempat kami berada sebelumnya.

Kriol yang berada di belakang, melangkah maju dan bersama Samantha. Dia menciptakan penghalang air yang meredam pukulan itu. Sementara Elijah membangun perisai bumi yang datar, untuk menghentikan serangan cacing yang melemah.

“Impact Blast!”

Palu raksasa Reginald memancarkan warna light yellow, saat dia mengayunkannya ke arah cacing itu.

“BOOM!”

Seluruh tubuh cacing bergetar, ketika skill Reginald mengirim riak mana ke dalam tubuhnya.

Aku menindak-lanjuti, menarik pedang pendekku dan api lalu mengelilingi bilah, ketika aku mengaktifkan rotasi mana.

“Flame Blade.”

Aku merobek bagian bawah cacing itu, merobek lukanya saat pedangku membakar dagingnya.

Cacing itu menjerit melengking, sebelum roboh di sebelah kami. Sebagian tubuhnya masih di bawah tanah.

“Cacing besar itu bahkan tidak kuat.”

Lucas hanya menggelengkan kepalanya, kecewa. Dan tiba-tiba, kami mendengar gemuruh lain.

Cacing itu tidak berusaha membunuh kami. Monster itu mencoba untuk menunda waktu kami untuk letusan lain dari lubang.

“FWOOOOOOOOOOMMMM!”

Lucas tidak bisa membangun penghalang tepat pada waktunya, karena matanya melebar terkejut.

“Phoenix’s Cape.”

Lonjakan api mengelilingi tubuhku, melindungiku dari gas. Aku lalu menoleh ke belakang dengan lega melihat jika Jasmine telah membangun aura angin yang berputar-putar di sekitarnya, yang mana itu bisa menghilangkan uap.

“GAAH!”

“UGGH!”

Gas menghilang dan menunjukkan Brald yang terluka. Kriold berhasil melindungi Lucas dan Elijah di bawah perisai besarnya yang ditambah dengan air. Tapi, lengan Brald dilukai dari siku ke bawah, ketika ia mencoba untuk melindungi Samantha.

Sepertinya, Brald hanya memperkuat perisainya, alih-alih seluruh tubuhnya untuk melindungi Samantha. Reginald memiliki beberapa luka bakar di tubuhnya, tapi dia baik-baik saja.

Dia mungkin hampir tidak tepat waktu untuk mengelilingi dirinya, dengan mana atribut earth.

Pedang pemimpin kami ada di tanah, karena tangannya terbakar hingga hitam.

Sambil menggertakkan giginya, dia menjatuhkan perisainya, dan mengambil pedangnya dengan lengan kirinya.

“BERGERAK!”

Kami tiba di ruangan berikutnya, yang mana itu jauh lebih luas.

Beristirahat sejenak, semua kelompok duduk sementara Samantha menggunakan sebagian jubahnya untuk membuat perban darurat, untuk apa yang tersisa dari lengan kanan Brald.

Bahkan, para Adventurer Kelas AA yang memiliki tubuh kuat, tidak dapat sepenuhnya menangani serangan gas tiba-tiba dari lubang itu.

Melihat sekeliling, semua orang telah berkecil hati. Ini bahkan belum setengah jalan melalui Dungeon, tapi kami sudah dalam kondisi yang buruk, dan pemimpin kami terluka parah.

“Inilah sebabnya, aku berkata untuk tetap waspada, Lucas! Jika kamu tetap fokus dan bereaksi tepat waktu untuk membangun penghalang, aku tidak akan berada dalam kondisi ini!”

Wajah tampan Brald tidak terlihat lagi, ketika dia menampar bocah lelaki bangsawan. Itu karena, karirnya sebagai Adventurer mungkin akan hilang setelah ini. Dia juga mungkin akan diturunkan pangkatnya.

Setelah Guild mengetahui cederanya.

“Jangan salahkan aku! Itu salahmu, kamu tidak bisa melindungi dirimu tepat waktu!”

Dia membantah.

“Apakah kamu bercanda? Kriol harus menyelamatkan pantatmu! Dan kamu tidak melakukan apapun, tapi masih berani mengatakan itu salahku?”

Brald berteriak, ketika dia bersiap untuk mengayunkan pedangnya pada bocah itu.

“CUKUP!”

Aku mengaum.

Seluruh party menjadi sunyi, karena kekuatan suaraku.

“Ada beberapa pilihan yang perlu kita buat. Tubuh Reginald agak terbakar, tapi aku tidak berpikir itu buruk. Tapi Brald, kamu harus membuat pilihan, apakah kamu ingin melanjutkan atau tidak. Kita hanya sedikit lebih dari satu jam dari permukaan. Jadi, kamu mungkin dapat kembali sendiri.”

Aku menyatakan, dan menatap pemimpin kami melalui celah topengku.

“Aku akan terus berjalan. Ini mungkin akan menjadi Raid dungeon terakhirku. Jadi, aku mungkin bisa bertahan sedikit lebih lama lagi.”

Dia hanya membalikkan tubuhnya dan duduk beberapa kaki darinya, menggendong penopang kanannya.

Aku mengalihkan tatapanku ke bocah lelaki yang mungkin memiliki wajah yang mengatakan, dia tidak melakukan kesalahan.

“Lucas. Kamu harus bekerja bersama. Tidak masalah apa kamu seorang inti light yellow atau Tuan itu sendiri. Saat ini ,satu-satunya hal yang harus kamu lakukan adalah memenuhi kewajibanmu. Jika kamu terus berakting sendiri, kamu mungkin bisa melanjutkannya sendiri.”

Dia melotot ke arahku tapi menggigit bibirnya, tidak tahu bagaimana harus membantah.

“Samantha dan Elia. Kita membutuhkan kalian, untuk tetap fokus membuat penghalang setiap saat.”

“Mari kita istirahat beberapa jam, sebelum kita pergi.”

Aku duduk di sebelah Jasmine dan mengambil sekarung air dari tasku.

Kelompok itu tetap diam saat aku mendekati Barld. Dalam beberapa menit, dia sudah kehilangan lengannya.

Wajah percaya diri dan karismatiknya juga tidak lagi terlihat, itu digantikan oleh tampilan gila.

“Aku pikir, baik Jasmine atau aku yang harus memimpin party ini. Kamu tidak dalam kondisi mampu saat ini.”

Mata Brald yang kusam dan lelah, menatapku… sebelum dia mulai menatap semua orang dalam kelompok, yang mana hanya memalingkan muka mereka.

“Cih. Oke.”

Aku tidak suka kondisi mentalnya. Itu tidak stabil.

Setelah satu jam berlalu, kami bangkit dengan mana yang sudah diisi ulang dan terus berjalan. Lorong ini tidak sepanjang yang sebelumnya. Tapi di ujungnya, ada pintu ganda besar dengan rantai yang mengunci mereka.

“A-aku tidak mengerti. Bahkan bagian ini berbeda. Pintu ini tidak dikunci dan pasti tidak sebesar ini sebelumnya.”

Brald menggelengkan kepalanya.

“Satu-satunya hal yang sama adalah gua pertama, di mana Batrunners berada.”

Dia melanjutkan, melihat pintu. Dia mencoba menyentuhnya, tapi dengan tangannya yang dominan hilang. Dia hanya mengeluarkan rintihannya ke udara. Setelah sadar, dia hanya menggerutu dan pergi ke belakang.

“Yah, tidak ada gunanya mengeluh tentang itu sekarang.”

Reginald mengangkat palu dan membantingnya ke pintu.

“BOOM!”

Aku bisa melihat Reginald nampak kaget oleh kekuatan pintu itu.

“Impact Blast!”

Pintu bergetar, tapi tetap kokoh.

“Impact Blast!”

Pukulan kali ini lebih kuat dan kuncinya hancur. Melangkah ke depan, dia menarik gagang pintu dan membukanya.

“Ap…”




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_031"