Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_061

gambar

The Beginning After The End


BAE_061

Chapter 61: Kelompokku

 

 #PoV: Tessia Eralith

 

Sesampainya di kamarku, aku melompat ke tempat tidur. Tanganku menutupi wajahku yang merah.

Aku hanya bisa mengeluarkan jeritan lembut kegembiraan, saat aku berguling-guling di atas kasur.

“Hehehehehe…”

Oh tidak. Aku tertawa seperti orang ‘nakal’.

Tapi… tapi, Art akhirnya menciumku. Dia menciumku!

“Heehee…”

Tidak bisa tenang, aku membungkus diriku dengan selimut, ketika aku berguling. Kemudian, bayangan saat dia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menciumku, memenuhi kepalaku.

Itu memaksa bibirku untuk melengkung ke atas.

Rasanya berbeda, dari ketika aku menciumnya. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi itu pastinya lebih baik.

“Aku harus terbiasa dengan ini…”

Aku tanpa sengaja bergumam keras, ketika aku dengan lembut menggosok bibirku. Aku kemudian berguling di tempat tidurku lagi, dan merasa malu ketika aku mengingat kembali kejadian itu.

Aku bahkan mulai membayangkan, seperti apa pernikahan kami nantinya. Aku ingin itu menjadi sangat cantik. Lalu, akan seperti apa penampilan anak-anak kami?

Arthur tampan dan aku juga tidak jelek.

Seharusnya, itu akan baik-baik saja, bukan?

Tapi untuk mendapatkan anak-anak, kami perlu…

Aku hampir bisa merasakan uap keluar dari telingaku, saat aku membayangkan hal-hal ‘dewasa’. Maksudku, aku juga sudah belajar tentang bagaimana bayi dilahirkan dari guru rumahku. Tapi…

Tidak, tidak, tidak, tidak. Ini masih terlalu dini!

Dan selain itu… Arthur ingin aku memberinya waktu.

Apa yang ia maksud dengan itu?

Apakah itu maksudnya, tindakkan kita seperti malam ini tidak pernah terjadi?

Aku tidak mau itu!

Tapi, apa aku diizinkan marah padanya, karena itu?

Apakah aku terlalu keras padanya?

Aku tahu, dia memiliki kesan terbaik di hatiku. Tapi, aku tidak bisa begitu plin-plan tentang ini, kan?

Bagaimana jika gadis lain benar-benar menyukainya, dan dia memilihnya?

Bagaimanapun juga, aku hanyalah gadis yang kejam dan manja. Mengapa dia harus memilihku?

Semakin aku memikirkannya, semakin aku menjadi berkecil hati.

Tidak apa-apa, Tess. Kita berdua masih sangat muda. Bahkan jika itu butuh waktu, aku yakin, semuanya akan indah pada akhirnya, kan?

Gah! Berhenti berkecil hati dan mari kita tidur, Tess!

***

 

#PoV: Arthur Leywin

 

Aku sudah terbiasa membuat Sylvie membangunkanku. Biasanya, teriakan mental yang keras, sudah cukup untuk membangunkanku. Tapi hari ini, aku harus terbangun oleh gigitan tajam di hidungku.

“Kyu!”

Aku mengerang, ketika aku bangun dan menggosok hidungku yang berdenyut, saat Sylvie kembali tidur setelah melakukan pekerjaannya.

Sylvie tampak jauh lebih aktif di malam hari. Jadi, dia akan tidur di sepanjang hari.

Setelah mandi, aku melihat Elijah yang masih bernapas dengan nyaring dalam tidurnya, sementara aku harus bangun sepagi ini. Aku tidak bisa membiarkannya, bukan?

“Selamat pagi!”

Aku segera menampar punggung teman sekamarku.

“Ah! Apa? Hah?! Apa yang terjadi?”

Rupanya, dampak tiba-tiba itu membuatnya panik. Bahkan, membuatnya masuk ke posisi defensif dengan tangan kanannya lurus keluar, siap menembakkan sihirnya.

“Tidak apa-apa! Hanya mengucapkan selamat pagi.”

Aku mengangkat bahu, lalu mengikatkan pisau ke seragam komite disiplinku.

“Ugh… aku punya dua jam lagi, sebelum kelas dimulai. Dan kamu membangunkanku hanya untuk mengucapkan selamat pagi?”

Elijah mengerang, ketika dia membungkus dirinya dengan selimut menjadi kepompong lagi.

“Yup! Aku akan pergi ke rapat komite disipliner pertamaku!”

Aku memandang untuk terakhir kalinya untuk memastikan jika aku tidak melupakan apa pun, ketika Elijah mengeluarkan kepalanya dari balik selimutnya.

“Apakah sesuatu yang baik terjadi? Kamu terlihat sedikit terlalu bahagia. Ini meresahkan.”

Entah itu karena dia mengamatiku atau hanya mencoba memfokuskan tatapannya kepadaku, karena dia tak mengenakan kacamatanya. Elijah menyipitkan matanya yang sedikit sembab.

“Itu hanya bayanganmu, Elijah,” kataku dengan tertawa kecil.

Lalu dengan cepat, aku mengikat sepatuku, sebelum menuju ke pintu.

“Mencurigakan…” gumamnya, sebelum menyerah pada tuntutan tubuhnya untuk kembali tidur.

Memastikan tidak ada orang di sekitar, aku melompat dari gedung dan menggunakan augmentasi angin untuk meredam pendaratanku. Sylvie hanya melayang turun, yang mana itu tampak sangat konyol bagiku. Apalagi, saat melihat telinganya yang kebesaran, terhempas oleh angin.

Mendarat di atas kepalaku dengan lembut, aku meluangkan sedikit waktu untuk melakukan beberapa peregangan. Aku tidak bisa mengatakan, jika aku dalam kondisi bagus. Tapi, peningkatan sejak kemarin, membuatku mengangguk puas.

Pada saat-saat seperti inilah, aku akan benar-benar merasakan efek dari asimilasi dragon Sylvia.

Yang mana, itu juga mengingatkanku akan suatu hal…

Aku harus membantu Tess dengan asimilasinya. Tapi, bagaimana caraku berperilaku nanti?

Aku tidak percaya, aku menciumnya kemarin.

Memikirkan kembali semua itu, aku menyadari jika bahkan dalam kehidupan masa laluku. Aku tidak pernah melewati titik menicum seseorang, selalu pihak lain yang memulainya.

Saat itu, aku tidak pernah tertarik untuk jatuh cinta. Dan sebaliknya, aku takut cinta.

Aku bahkan menghindari aspek hubungan dewasa yang tidak terikat, karena aku takut jika dimulainya hubungan fisik dapat menyebabkan keterikatan emosional.

Aku selalu mengasingkan diri dalam pelatihan, selain dari penampilan dan perkelahian di depan umum. Memastikan, jika aku tidak akan memiliki siapa pun yang akan kuanggap penting.

Siapa pun yang dapat digunakan sebagai alat untuk melawanku.

Jadi, apa yang paling aku pelajari dari dunia ini, bukanlah sihir atau pertempuran. Tidak, apa yang aku sadari adalah jika dunia ini telah memaksaku untuk membuka hatiku yang tidak berperasaan, dan membiarkan orang-orang menganggap diriku penting.

Apa ini juga berarti, jika aku harus menjadi lebih kuat daripada diriku di masa lalu, karena aku yang saat ini memiliki orang untuk dilindungi.

Sambil tersesat dalam pikiranku, aku hampir saja melewati Ruang Komite Disipliner/DC.

DC memiliki akses ke salah satu ruangan yang lebih besar di akademi. Jadi, itu juga bisa berfungsi sebagai ruang pelatihan. Aku agak terlambat, karena aku bangun sedikit lebih lambat dari yang diharapkan.

Tapi karena suara dari dalam ruangan tidak terlalu keras, aku hanya berharap, jika aku bukan yang terakhir di sana.

Ketika aku membuka pintu, Curtis terbang dan menabrak dinding di sebelahku, dengan bunyi gedebuk!

“Masih terlalu lemah!”

Aku lihat wajah kecewa Theodore Maxwell, tangan kanannya terangkat.

“Ah, Arthur! Kamu akhirnya datang!”

Claire Bladeheart yang menyaksikan duel dari samping, melambaikan tangannya.

“Ugh… aku tidak percaya, aku masih tidak bisa mendaratkan satu pun serangan padamu, Theodore. Oh, hei, Arthur.”

Curtis menoleh ke arahku, sambil mengusap punggungnya.

“Apa kamu memerlukan bantuan?”

Aku mengulurkan tanganku, sementara Sylvie mengibaskan ekornya. Tapi, Curtis hanya menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku baik-baik saja. Lagipula, duel belum berakhir.”

Curtis meringis, ketika dia bangkit kembali dan mengambil pedangnya.

Aku duduk di sebelah Claire, di salah satu sofa. Aku menyaksikan duel antara Curtis dan Theodore dilanjutkan.

“HAH!”

Curtis maju ke depan, setelah menambah api pada pedangnya. Tapi, tepat ketika dia akan memasuki jangkauan serang Theodore, Curtis menyingkir seketika. Dia meninggalkan langkah kaki hangus di belakangnya, sebelum muncul di sebelah kanan Theodore.

Reaksi Theodore sangat gila, ketika dia mengangkat lengan kanannya yang berotot, dengan kecepatan yang luar biasa.

“Jatuhlah!”

Serangan Curtis gagal, ketika dia jatuh berlutut, pedangnya mendarat keras di tanah di depan Theodore.

Theodore memiliki seringai di wajahnya. Tapi, itu segera berubah menjadi serius, ketika dia menyadari rencana Curtis.

“Explode!”

Curtis berteriak dengan suara keras.

Pedangnya tidak terbakar, tapi itu memancarkan cahaya redup yang terus bersinar menjadi lebih terang, sampai apinya meledak ke segala arah.

Claire fokus pada asap, dengan asumsi pedang dan Theodore bersembunyi di dalamnya. Tapi, aku menepuk pundaknya, dan memberi isyarat padanya untuk melihat ke atas.

Theodore ada di udara dengan kedua tangannya yang agak terbakar dan mengepul. Tapi, dia tidak terluka. Menggunakan sihir gravitasi pada dirinya sendiri, Theodore kemudian perlahan melayang turun, saat dia berkonsentrasi pada mantra berikutnya.

Curtis kembali berdiri dengan pedangnya di tangan, sudah menyiapkan mantra lain. Aku perhatikan, jika Grawder dengan gelisah mengayunkan ekornya dari sisi lain ruangan.

“Baiklah! Kurasa sudah waktunya untuk berhenti!”

Claire berdiri dan bertepuk tangan. Tapi sepertinya, tidak satu pun dari mereka yang mendengarnya berbicara. Dia kemudian menghela nafas putus asa.

“Kai mau bantu aku?”

Claire melirik ke belakang, kepada pria yang tersenyum kecil.

“Mengerti, Boss.”

Lengan baju Kai menutupi lengannya. Jadi, aku tidak tahu apa yang ia sembunyikan. Tapi dengan ayunan lengannya, senar logam tipis melesat ke arah Theodore dan Curtis, membentuk pagar logam seadanya.

Bahkan, setelah menambah mana ke mataku, aku tidak bisa melihat atribut elemen tertentu dalam keahliannya. Itu membuatku bertanya-tanya, tentang apa yang bisa ia lakukan.

Curtis dan Theodore menghentikan mantera mereka, dan menoleh ke arah Kai dengan bingung.

“Perintah bos. Mari kita hentikan duel sekarang, bisakah kita melakukan itu tuan-tuan?”

Wajah tersenyum Kai santai dan tidak berubah, saat dia menarik kembali banyak tali ke lengan bajunya.

“Apa yang dilakukan Kai tadi?”

Aku bertanya pada Claire, yang menggelengkan kepalanya pada Curtis dan Theodore.

“Tidak ada yang benar-benar tahu. Dia merahasiakannya. Dan dari apa yang bisa aku katakan, tidak ada atribut elemen tertentu ,setiap kali dia menggunakan skill-nya,” jawabnya sambil mengangkat bahu.

“Apa kamu tertarik padaku, Arthur?”

Kai mendekat di belakangku, menyandarkan kepalanya ke depan melewati bahuku, hingga wajahnya yang tersenyum tepat berada di sebelahku.

“Hampir tidak. Hanya sedikit penasaran dengan apa yang baru saja kamu lakukan di sana. Sepertinya, kamu tidak memanipulasi logam, atau menggunakan suara untuk mengendalikan senar logam,” jawabku, sambil mendorong wajahnya menjauh dari bahuku.

“Sangat dingin. Aku mau memberi-tahumu. Tapi sayang, jika aku melakukannya, aku harus membunuhmu,” jawabnya acuh tak acuh, membuatku mengangkat alis.

“Oh? Apakah itu ancaman?”

Aku menantang.

Menyadari jika percakapan menjadi semakin memburuk, Claire menyela.

“Sepertinya, kita masih kekurangan beberapa orang! Feyrith, Kathyln, dan Doradrea masih belum datang… ah, ini dia mereka!” katanya, sambil mendorong kami berdua ke pintu.

Feyrith sedang bertengkar dengan Doradrea tentang sesuatu, sementara Kathyln masuk di belakang mereka. Aku mengangkat tangan untuk melambai pada Kathyln. Tapi segera setelah mata kami betemu, dia segera memalingkan kepalanya, sebelum berjalan pergi ke arah lain.

“Ah Arthur, sainganku! Sudahkah kamu sembuh? Aku yakin kita masih perlu berduel. Tapi aku pikir akan lebih baik untuk menahannya, sampai setelah aku selesai mengerjakan mantra yang aku latih! Itu bukan karena aku takut untuk kalah atau apa pun. Hanya memberimu lebih banyak waktu untuk pulih.”

Feyrith muncul di sampingku, meletakkan lengannya di pundakku, ketika dia tertawa lebar.

“Sekarang semua orang sudah tiba, aku ingin kalian semua duduk agar kita bisa memulai pertemuan.”

Claire memandu kami duduk di meja bundar di lantai dua.

Ruangan itu terdiri dari dua tingkat.

Lantai bawah hanyalah area yang luas dengan segala macam peralatan, dan juga arena untuk pertandingan latihan. Ke sisi di samping peralatan, tangga menuju balkon lantai dua yang menghadap ke lantai bawah.

Lantai kedua dilengkapi dengan papan tulis, beberapa lemari, dan meja besar berbentuk oval dengan delapan kursi.

Claire duduk di ujung meja dengan papan tulis di belakangnya, sementara Kai dan Theodore duduk di sebelah kanan dan kiri. Aku tidak benar-benar tahu, apakah ada pengaturan tempat duduk yang ditugaskan.

Jadi, aku tetap berdiri,menunggu semua orang duduk terlebih dahulu.

Di sisi Kai, duduk Curtis dan Feyrith. Sementara di sisi Theodore duduk Doradrea dan Kathyln.

Satu-satunya kursi yang tersedia adalah berhadapan langsung dengan kursi Claire. Jadi, aku hanya duduk di sana dan menunggu pertemuan dimulai. Rasa kantuk karena bangun pagi-pagi sekali, perlahan menyalip tubuhku.

Aku melirik Sylvie yang melompat dari kepalaku, dan mulai bermain dengan Grawder sampai pemimpin kami mulai berbicara.

“Ini adalah pertemuan pertama, dengan semua orang yang hadir. Serta, hari pertama kita akan secara aktif memulai tugas,”

Claire mengumumkan dengan suara serius.

“Meskipun ini adalah tahun pertama komite ini ada, aku telah berdiskusi dengan Direktur Goodsky dan ketua Dewan Siswa, tentang bagaimana kita harus secara efisien menyusun dan menjalankan komite disipliner, untuk menciptakan lingkungan yang tidak akan mentolerir penindasan, duel yang berbeda pendapat, dan juga pengganggu.

Untuk itu, kita memutuskan untuk membagi komite disiplin menjadi dua tim. Kedua tim ini dipisahkan oleh adik kelas dan kakak kelas.

Di pagi hari karena kita tidak memiliki kelas, para kakak kelas yang akan berjaga. Sedangkan para adik kelas; Kathyln, Feyrith, Doradrea, dan Arthur juga akan dibagi menjadi dua tim dan berkeliling kampus pada sore hari.”

Claire mulai menulis semua nama kami di papan tulis, dibagi menjadi beberapa tim yang telah ia putuskan.

Dan sebelum aku memiliki kesempatan untuk mengangkat tangan, Claire sudah tahu apa yang akan aku katakan dan menyela.

“Karena Arthur mengambil kelas divisi atas dan bawah, dia akan dibebaskan dari tugas itu. Namun, dia harus bersiaga setiap saat, jika diperlukan bantuan. Juga, aku mendapat izin dari Direktur Goodsky untuk mengizinkanmu terlambat 10 menit ke kelas. Jadi, luangkan waktu di antara kelas, dan waspadailah masalah apa pun.”

Dia tersenyum puas, ketika aku meletakkan lenganku kembali.

“Karena itu, aku sudah membahas masalah siapa yang akan menjelajahi kampus sendirian antara adik kelas. Dan Kathyln telah mengajukan diri untuk melakukan tugas ini. Kathyln, ingatlah jika meskipun kakak kelas ada di kelas, kami akan tetap membantumu untuk melakukan tugas komite disipliner.

Jadi, jika kamu terjebak dalam situasi di mana kamu tidak percaya diri untuk menanganinya sendiri, mintalah bantuan.”

Dia mengalihkan pandangannya ke Kathyln, sambil mengatakan ini. Sang putri hanya mengangguk, sementara Curtis sedikit menunjukkan kekhawatiran di wajahnya.

Feyrith kemudian mengangkat tangannya.

“Bagaimana cara kita berkomunikasi satu sama lain?”

Feyrith mengangkat tangannya.

“Kami belum memberi tahu kalian, tapi jika kalian membayangkan salah satu anggota dalam komite disipliner sambil meletakkan tangan kalian di lencana di sarung pisau, pisau penerima akan memancarkan cahaya terang dan kejutan lembut. Itu memberi tahu mereka yang dalam kesulitan. Setiap pisau anggota memiliki warna yang berbeda. Jadi, ingatlah dengan baik.”

Sementara Claire mengumumkan ini, dia mulai menulis warna-warna yang berbeda dengan pisau DC kami.

Claire - Pink

Kai - Perak

Theodore - Kuning

Feyrith - Hijau

Doradrea - Merah Tua

Curtis - Merah

Kathyln - Biru

Arthur - Hitam

Aku penasaran, dengan bagaimana warna hitam akan terlihat. Warna orang lain cukup jelas dan sesuai dengan elemen mereka. Dan sepertinya, Feyrith mendapat warna hijau, karena dia seorang Elf.

“Masalah terakhir dari diskusi hari ini, adalah pengawasan di malam hari. Aku tahu ini mungkin terlalu banyak untuk satu orang. Jadi, kita akan bergiliran berpasangan dengan tugas ini.”

Pemimpin kami melihat sekeliling, kalau-kalau ada perselisihan.

“Bolehkah aku secara sukarela mengambil alih shift adikku? Tak apa memanggilku terlalu protektif. Tapi, aku tidak nyaman mengetahui, jika Kathyln mungkin dalam bahaya, sementara aku tertidur pulas.”

Curtis berbicara sambil menggaruk kepalanya, tapi menatapku secara khusus.

“Apa kamu yakin bisa mengatasinya, Curtis? Akan sulit melakukan shift dua orang di malam hari,” tanya Claire.

Aku memandang Kathyln, memperhatikan jika dia ingin menyela. Tapi, dia menyimpan pikirannya sendiri.

“Kathyln adalah rekanku untuk tugas malam hari, kan? Aku bisa melakukannya sendiri,” kataku, mengetahui alasan sebenarnya Curtis ingin mengambil alih shiftnya.

Aku bisa mengerti dari sudut pandangnya, itulah peran sebagai seorang kakak.

“Kamu tidak harus…”

Kathyln berbicara ketika dia berdiri. Tapi aku bisa tahu, dia bertentangan dan tidak bisa menemukan kata-kata untuk diucapkan sesudahnya.

“Hmm… yah, karena Kathyln berjaga seorang diri pada siang hari, aku pikir ini akan adil. Oke, aku akan mengizinkannya. Tapi Arthur, Kathyln, aku tahu… jika kalian berdua adalah tipe untuk mencoba dan menangani hal-hal sendirian.

Jadi, aku akan memerintahkan kalian berdua sebagai pemimpin untuk meminta bantuan, segera setelah kalian berpikir kalian membutuhkannya.”

Dia membungkuk ke depan di atas meja, menyatakan kondisinya dengan suara tegas.

“Dimengerti,”

Aku berjanji ketika Kathyln mengangguk.

“Oke, karena semua masalah teknis telah diselesaikan, kalian bebas untuk pergi atau tinggal di sini dan berlatih sampai kelas dimulai. Ruangan ini akan selalu terbuka untuk anggota DC. Jadi, anggap ini sebagai rumah kedua! Aku bahkan sudah berkemah di sini selama beberapa malam, haha!”

Claire menggaruk bagian belakang kepalanya, karena malu.

Aku menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya, aku bisa tidur kurang dari satu jam sebelum kelas pertamaku dimulai. Ada beberapa sofa yang tampak sempurna, untuk tidur siang yang nyenyak di lantai bawah.

Curtis lalu memberiku tepukan yang berarti di punggungku, sebelum dia menuju ke bawah. Tapi ketika aku mengikuti di belakangnya, aku merasakan tarikan di pinggang celanaku dari belakang.

“Ayo kita bertarung sebentar, Nak! Aku sudah bertarung dengan semua orang di sini, kecuali kamu.”

Doradrea menyeringai bersemangat padaku, saat dia menyeretku dari belakang ke arena sparring yang ditunjuk.

“Aku masih belum sepenuhnya pulih, Doradrea. Aku rasa, ini bukan ide terbaik,” erangku, ketika aku diseret tanpa daya.

“Berhentilah menjadi seperti bayi! Cara terbaik untuk menghilangkan rasa sakit, itu adalah dengan bergerak, kamu tidak tahu itu?”

Dia membiarkanku pergi dan berjalan ke sisi lain arena.

Claire berjalan ke arah kami, menatapku dengan tatapan minta maaf. Dia akan menghentikan sparing tepat ketika Theodore berjalan melewatinya, dan mendekati Doradrea ketika dia sedang melakukan peregangan.

“Menyingkirlah,” geramnya.

“Aww… tidak adil.”

Doradrea menggerutu, ketika dia merosotkan bahunya, kecewa.

Bagus. Seorang laki-laki berotot menggantikan lawan perempuan berototku.

Claire hanya menghela nafas dalam kekalahan.

“Baiklah, tapi karena Arthur masih belum pulih. Ini hanya akan berlangsung sebentar. Biarkan aku mengaktifkan penghalang kali ini, agar kita tidak berakhir memiliki dinding yang retak lagi.”

Sylvie yang naik di atas Grawder, bertanya. Apakah aku akan baik-baik saja. Jadi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aku mungkin terluka, tapi Aku senang karena Aku ingin berduel melawan Theodore juga. Aku pikir, sparing melawan para irregular mungkin membantuku belajar satu atau dua hal dari mereka.

“Ada yang ingin kamu katakan, sebelum kita mulai?”

Theodore bertanya, sambil meregangkan lehernya.

“Tentu. Bisakah aku memanggilmu Theo, jika aku menang? Cukup adil bagiku untuk memberikan julukan, karena kamu sudah memberiku nama, kan?”

Aku menyeringai padanya, sementara aku meregangkan tubuhku yang masih sakit.

Aku benar-benar bisa melihat pembuluh darah muncul di kepalanya, ketika wajah semua orang berubah menjadi ekspresi ngeri.

“Kamu benar-benar terlalu percaya diri. Baiklah, tapi jika aku menang,kamu akan menjadi bawahan kecil-ku, selama sisa masa sekolahmu.”

Dia memiliki senyum percaya diri di wajahnya, ketika anggota DC lainnya semuanya sudah mengelilingi di sekitar arena.

“Ingat, duel ini akan berlangsung satu menit, atau sampai seseorang mendaratkan pukulan pertama. Itu akhirnya!”

Claire berteriak, saat dia menghunuskan pedangnya dan menikamkannya di tanah.

Kami berdua mengangguk setuju, sebelum Claire memberi tanda agar duel dimulai.

Theodore segera bergerak, menyerangku seperti banteng yang bersemangat. Aku menempa badanku menggunakan Mana Atribut Wind di sekitar arena, menjaga jarak.

Sihir gravitasi Theodore bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng, karena kekuatannya memiliki kekuatan ofensif dan defensif secara bersamaan.

Meskipun biasanya butuh sedikit lebih lama untuk menggunakan sihir earth saat menggunakan sihir wind, aku bisa mengumpulkan pecahan bumi seukuran kakiku tepat pada waktunya, untuk menendang mereka ke arah Theodore.

Aku menembakkan pecahan-pecahan tanah pada jarak yang berbeda, untuk mengukur seberapa jauh ia dapat menggunakan manipulasi gravitasinya.

Theodore tidak benar-benar mengerti apa yang aku lakukan, saat dia terus menyerangku. Dan dia menjadi semakin frustrasi, ketika aku melarikan diri, sambil terus menendang batu ke arahnya.

“Apa kamu pikir, aku akan membiarkanmu terus melarikan diri?”

Dia meraung, ketika batu-batu yang aku tendang ke arahnya mulai mengambang.

Theodore mendorong dirinya ke arahku dengan cepat, saat dia mengurangi gravitasi di sekitarnya. Itu meningkatkan kecepatannya hingga tahap yang gila.

Sambil tersenyum, aku mulai memainkan rencanaku. Memanipulasi tanah di sekitarku untuk yang terakhir kalinya. Aku kemudian meluncurkan batu sebesar tubuhku, ketika aku melompat menjauh dari lawanku.

Dengan berkurangnya gravitasi di sekitarnya, Theodore dapat dengan mudah menampar batu itu. Tapi pada saat singkat di mana penglihatannya terhalang oleh batu, aku berlari ke arahnya.

Membungkus angin untuk menumpuk di bawah kakiku, aku bergerak ke arahnya dengan kecepatan yang mengejutkan.

‘Draft Step.’

Menggunakan teknik yang aku pikirkan dengan menggambar inspirasi dari teknik langkah flicker, aku mempercepat pergerakanku ke arahnya, dengan bantuan angin kencang di belakangku.

Ekspresi terkejut Theodore berubah menjadi seringai sombong, ketika dia mengepalkan tinjunya.

“Fall,” geramnya.

Perubahan gravitasi yang tiba-tiba kemudian menghempaskan angin, dan aku harus berjuang agar tubuhku tidak terbanting ke tanah.

Dengan seringai kemenangan di wajahnya yang liar dan tidak diurus, dia mengambil satu langkah terakhir untuk mencapai jangkauan di sekitarku, untuk melakukan pukulan terakhir.

Dan di sisi lain, aku bergerak ke arahnya dengan seringai, dan menunjuk ke atas dengan jariku, sebagai tanggapan.

Batu besar yang Theodore serang jatuh tepat di atasnya, karena perubahan gravitasi yang tiba-tiba. Berat batu karena efek peningkatan gravitasi, kemudian menimpa Theodore tepat di atas perutnya, dalam posisi yang sangat lucu.

“BERHENTI!”

Claire muncul di antara kami berdua, saat dia memastikan Theodore yang sudah sadar kembali, baik-baik saja.

Pada saat itu, Theodore sudah mendorong batu itu dari dirinya sambil diam-diam membersihkan seragamnya. Dia mungkin akan mendapatkan memar buruk di punggungnya. Tapi, badannya yang sudah ditingkatkan oleh mana, memungkinkannya untuk menghindari cedera serius.

Lagipula, batu itu tidak terlalu besar.

“Duel yang bagus, Theo.”

Aku berjalan ke arahnya dan menepuk pundaknya, sebelum melompat keluar dari ruangan, dengan Sylvie berlari di belakangku.

Ayo cari sofa untuk tidur siang, aku berkata kepada Sylvie.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_061"