Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_069

gambar

The Beginning After The End


BAE_069

Chapter 69: Kebiasaan yang Tidak Biasa

 

Gigiku terkatup sepanjang waktu, karena aku memaksakan diri untuk menggali tanah dibawahku. Kemudian dengan hati-hati menempatkan tubuh dingin dan tak bernyawa Alea ke dalamnya.

Aku lalu perlahan-lahan menutupi tubuhnya. Dan diakhiri dengan menggunakan senjatanya, sebagai batu nisan darurat.

Aku bahkan tidak bisa menertawakan ironi gila dari Dungeon yang kebetulan bernama Widow Crypt ini, dengan nasibnya…

Tanpa banyak bicara, aku menghabiskan beberapa waktu lain untuk mengubur setiap rekan Alea yang gugur. Gua indah yang berlapis dengan hamparan rumput mengkilap dan kolam yang berkilauan seperti kaca telah hancur, dan tampak seperti tanah yang telah ditelan oleh perang.

Gundukan mentah dari kotoran dan senjata untuk penanda kuburan, bahkan memberikan kesan yang menakutkan ke tempat ini.

Setelah selesai membuat kuburan darurat, aku menyeret kakiku yang tidak begitu bersedia bergerak, kembali ke tempatku mengubur Alea. Berlutut, aku kemudian meletakkan tanganku di gundukan tanah yang mengubur seorang anggota Lance yang terkenal.

Dia dianggap sebagai puncak kekuasaan di negeri ini.

Tidak diragukan lagi, dia dihormati dan ditakuti oleh banyak orang. Namun, bagiku, dia hanyalah seorang gadis yang kesepian, yang menyesal karena tidak pernah memiliki seseorang untuk dicinta dan seseorang yang menunggunya untuk kembali.

Saat aku menatapnya di saat-saat terakhirnya, rasa takut membuatku sadar. Dia hampir sama denganku dari kehidupan masa laluku. Kecuali, dia tidak akan dilahirkan kembali ke dunia yang berbeda.

Dengan reinkarnasi segera setelah hidupku yang sebelumnya berakhir, aku tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan bagaimana aku hidup sebelumnya. Tapi, dalam napas terakhir Alea, dia menjadi sedih, menangis karena dia tidak ingin mati seperti itu.

“Sial…”

Aku mengusap mataku, saat air mata tanpa sadar mulai mengalir di wajahku. Kemarahan dalam dirinya digantikan dengan bagaimana hidupnya berakhir.

Mengirimkan transmisi mental yang lain untuk Sylvie, aku mendesah dengan lelah. Karena, aku tidak mendengar balasannya. Merosot kembali ke dinding bergerigi di mana Alea dan aku telah bersandar sebelumnya, aku teringat semua hal yang telah Lance itu beri-tahukan kepadaku. Dan dari informasi yang ia katakan, ada beberapa spekulasi yang bisa aku buat.

Satu, ada lebih dari satu iblis hitam bertanduk. Untuk berapa banyak, aku tidak terlalu yakin.

Aku hanya berharap, jika mereka tidak terlalu banyak. Jika salah satu dari mereka bisa dengan mudah membunuh anggota Lance atau dengan serius melukai seekor dragon seperti Sylvia. Maka, aku sudah tidak bisa dibandigkan dengan mereka.

Dua, mereka pasti mencari sesuatu. Aku tidak yakin kenapa, tapi pikiranku terus mengembara kembali ke telur Sylvie yang para iblis itu sebut ‘permata’.

Jika mereka benar-benar mencari Sylvie, menghindari mereka selamanya, sangatlah tidak mungkin untukku.

Tiga, akan ada perang di Dicathen. Benua ini akan berada dalam bahaya, dan kami pasti tidak siap untuk itu. Ketika iblis mengatakan kepada Alea jika akan ada perang, aku rasa itu bukan untuk benua ini.

Apakah benua baru yang baru saja ditemukan adalah asal iblis itu?

Memikirkannya saja sudah membuatku bergidik ketakutan. Semoga saja, itu hanya skenario yang tidak akan terwujud.

Namun, semakin aku merenungkannya, aku semakin menjadi lebih yakin, akan kemungkinan ada sedikit dari jumlah iblis bertanduk itu.

Jika benar-benar ada ras yang penuh dengan iblis super kuat itu. maka, mereka pasti sudah memusnahkan benua ini dengan mudah. Bukan menyelinap di sekitar Dungeon yang berbeda dan menginfeksi binatang di dalamnya.

Tindakan mereka jelas mengatakan jika mereka sendiri tidak yakin, apakah mereka bisa mengambil seluruh benua ini atau tidak tanpa melakukan siasat itu. Setidaknya, untuk saat ini.

Apa yang sedang aku pikirkan lagi adalah cara untuk mengatasi perang. Tidak ada kalender yang bisa ditandai dan tidak ada cara untuk menebaknya. Apakah menunggu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan…

Apa yang bisa kulakukan?

Rasa nyeri di tanganku, kemudian membuatku menyadari, betapa keras aku mengepalkan tanganku, yang juga membuatku menatap kosong ke darah yang mengalir di lenganku.

Apa yang telah perlahan-lahan aku pelajari dari kematian Alea ini adalah, tersadarnya aku akan sangat berharganya hubunganku dengan keluargaku, dengan Tess, dan dengan teman-temanku.

Apa yang aku tidak miliki dalam kehidupan masa laluku adalah, orang-orang terkasih yang bisa membuatku berani memberikan hidup, untuk melindungi mereka. Tapi aku punya sekarang, walau aku belum punya kekuatan untuk melindungi mereka.

Untuk jumlah potensi yang aku miliki, aku sudah puas. Apa yang dibutuhkan adalah perubahan.

Aku mulai teringat pesan Sylvia untukku, setelah dia menteleport-ku ke Elshire Forest. Pesannya masih berdering dengan jelas di kepalaku. Dia mengatakan, jika aku bisa bertemu dengannya sekali lagi, setelah intiku melewati tahap white.

Itu adalah metode yang paling penting untukku, agar bisa mendapatkan jawaban yang dapat diandalkan tentang apa yang sedang terjadi. Aku belum boleh beristirahat, walau sudah mencapai tahap dark yellow sekalipun. Setelah light yellow, maka itu white.

Aku masih harus sedikit berjuang.

Raungan ganas tiba-tiba terdengar, bergema dari dinding gua.

‘Papa!’

Kepalaku tersentak, ketika aku mendengar suara keras, dari arah aku terjatuh ini. Memaksa diriku, aku berlari menuju suara Sylvie. Berhenti di depan awan debu, dan kemudian memanggilnya.

‘Aku di sini, Sylv, kamu baik-baik saja?’

Aku menutupi wajahku dengan tangan, untuk menghindari debu yang beterbangan di sekitar.

Jantungku kemudian berdegup dalam kegembiraan, setelah aku bisa kembali melihat nagaku.

Sylvie menjadi lebih menakutkan dari terakhir kali aku melihatnya di Dire Tombs. Sisik-nya tidak mengkilap lagi seperti sebelumnya, sekarang mereka berwarna matte hitam dan bermartabat.

Dua tanduknya semakin tumbuh, hampir sama dengan mulutnya, yang saat ini sepasang tanduk lain menonjol di bawahnya.

Jika dia sebelumnya terlihat lucu dan agresif, sekarang dia membuatku berdecak kagum. Dia terlihat megah, namun juga mematikan.

Duri yang mengalir di punggungnya tidak lagi ada atau lebih tepatnya, itu tampak menjadi lebih halus. Mata kuningnya yang seperti permata menusuk melaluiku. Itu membuatku meragukan, jika dia adalah orang yang baru saja memanggilku Papa.

‘Papa! Kamu baik-baik saja!’

Semua kebingunganku menghilang saat ikatanku mendekat. dan sekali lagi, dia mengangkatku dari tanah dengan kekuatan jilatannya.

“Ha ha! Kamu menjadi lebih besar lagi, Sylv!”

Aku tersenyum. Memeluk moncong dragon-nya, Sylvie kemudian mengeluarkan suara dengkuran saat dia menggosokkan dirinya kepadaku. Yang walau sesaat, itu bisa membuatku melupakan semua yang baru saja kulalui.

Mengangkatku dari tanah dengan moncongnya, dia kemudian menempatkanku pada otot punggungnya yang lebar.

‘Tunggu, Papa! Mari kita pergi dari sini dulu.’

Dengan sayapnya yang kuat, hembusan angin mengamuk di bawah kami. Dan kami langsung didorong ke udara. Untuk beberapa alasan, kekuatan dorongan tidak mempengaruhi tubuhku, karena aku malah merasa nyaman naik di punggung dragon sepanjang sepuluh meter ini.

Selama penerbangan kembali ke atas, ikatanku dan aku terjebak pada cerita, tentang segala sesuatu yang terjadi ketika kami dipisahkan. Dia tidak benar-benar memahami segala sesuatu tentang iblis dan perang yang akan datang. Tapi dia mengerti, jika apa pun yang akan terjadi adalah hal yang tidak baik.

‘Jangan khawatir. Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu bersamamu!’

Respon Sylvie ini membuatku tertawa.

Dan seperti narasi dari buku anak-anak, dia juga menceritakan sedikit tentang apa yang ia telah lalui. Yang mana tidak terlalu mengherankan, dia hanya bertarung dengan Mana Beast, dan kemudian memakan intinya.

Aku benar-benar perlu bersama Sylvie di waktu berikutnya. Aku ingin tahu apa yang ia mampu lakukan. Sylvie tidak benar-benar tahu perbedaan antara tingkatan Mana Beast. Jadi, aku harus merenungkan, seberapa kuat dia itu saat ini.

‘Hmph! Aku benar-benar kuat!’

“Haha, aku tahu, aku tahu.”

Menepuk sisik keras pada leher Sylvie, kami segera tiba di pintu masuk Dungeon.

Saat kami mendarat di depan tangga yang hancur dan mengarah ke permukaan, aku melirik kembali untuk melihat ratusan mayat Snarler. Sylvie kemudian berubah ke bentuk rubahnya dan melompat ke atas kepalaku. Lalu, melakukan beberapa putaran, sebelum akhirnya duduk dengan nyaman di rambutku.

Setelah menambah mana ke dalam tubuhku, aku dengan ringan melompat dari satu tangga yang rusak ke tangga rusak lainnya, berhati-hati untuk tidak meruntuhkan sisa-sisa tangga yang pernah dipakai ini.

Bulan purnama segera menyambutku, setelah aku mencapai permukaan. Dan seperti yang diharapkan, tidak siapapun di sini. Aku menarik napas lega secara refleks saat ini, menyimpulkan jika orang lain berhasil kembali dengan selamat ke Xyrus.

Akan membutuhkan waktu beberapa jam untuk pergi ke gerbang teleportasi terdekat. Jadi, aku memutuskan untuk cepat bergerak. Namun, setelah memastikan jika tidak ada orang yang bersembunyi di sekitarku, aku merilis tiupan angin di sekitarku.

Setelah membuka segel dari cincin dimensiku, aku dengan hati-hati memeriksa apa yang ada di dalamnya. Saat aku memeriksanya, gambaran Alea melintas dalam pikiranku.

Aku kemudian mengambil fragmen hitam dari iblis bertanduk yang membunuhnya.

Alih-alih terus memegannya, aku mengambil napas dalam-dalam dan meletakkan kembali fragmen hitam itu ke dalam cincin dimensiku.

Perutku menegang dan mataku menyipit, saat sensasi berputar diaduk dalam diriku. Tidak ada lagi bersembunyi. Aku punya hal-hal yang lebih besar untuk dikhawatirkan saat ini.

Aku tidak bisa terganggu dengan sesuatu seperti itu. Dan tanduk iblis ini akan menjadi pengingatku tentangnya.

‘Apa itu, Papa?’

Kepala Sylvie muncul, saat cakarnya mencoba meraih tanduk hitam.

“Ini tujuanku, Sylvie,”

Aku menjawab sambil meringis, saat perutku menjadi semakin sakit. Dan setelah menepuk kepala ikatanku, aku memulai perjalananku kembali.

***

 

Tentu saja, penjaga yang bertugas di gerbang teleportasi tampak cukup terkejut, ketika dia melihatku. Dia juga pasti menerima perintah untuk mencariku. Karena, segera setelah dia memverifikasi siapa diriku, dia buru-buru membuat beberapa panggilan menggunakan artefak di tangannya.

Setelah dengan cepat melewati pintu gerbang, aku tiba kembali di Xyrus sambil merasa sedikit mual dengan Sylvie yang masih terlelap di kepalaku. Di sisi lain, secara mengejutkan, ada seorang kusir yang sedang menungguku.

Setelah memberi senyum simpatik padaku, dia memakai topinya sebelum membukakan pintu bagiku.

Pikiranku tidak benar-benar mengerti, karena aku terus memikirkan masa depan. Dan untuk pertama kalinya di kedua kehidupanku, aku merasa beban berat telah membebaniku saat ini.

Tekanan untuk menjaga orang yang aku cintai. Aku belum pernah mendapatkan beban itu bahkan saat aku menjadi seorang raja. Beban berat dari suatu negara dalam kehidupanku sebelumnya, tidak bisa dibandingkan dengan beban kehidupanku saat ini.

Ketika aku mencapai Helstea Manor, aku berhenti di depan pintu ganda raksasa. Entah bagaimana, aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengetuk pintu rumahku sendiri sekarang.

Ekspresi apa yang akan keluargaku tunjukkan?

Sepertinya, setiap kali aku pergi keluar, semua yang aku lakukan hanyalah membuat mereka khawatir saja.

Memilih duduk di atas tangga, aku hanya menghela tajam. Sambil menatap langit malam, aku bisa melihat warna samar yang konon menandakan datangnya festival. Langit kemudian berubah menjadi biru, kuning, merah, dan hijau ketika Aurora Constellate akan dimulai.

Mataku lalu terfokus pada awan, yang dengan lambat-menari di atasku tanpa peduli akan dunia. Sebuah posisi yang membuatku sangat iri.

“Nak?”

Larut dalam pikiranku, membuatku bahkan tidak mendengar suara pintu yang terbuka di belakangku.

“Hai Ayah, aku kembali.” Aku tersenyum lemah.

“Kenapa kamu tidak masuk? Kami mendengar dari penjaga gerbang teleportasi, jika kamu tiba di Xyrus.”

Ayahku duduk di sampingku, ketika aku tidak merespon dengan baik.

“Ibumu akan baik-baik saja, Art,” katanya hangat, sambil lembut menepuk punggungku.

“Aku membuat kalian khawatir lagi, kan? Rasanya, hanya itu yang bisa aku lakukan hari ini,”

Aku terkekeh, tekanan berputar di dadaku, saat aku mengatakan ini.

Aku menoleh ke ayahku dan melihat dia menatap langit, seperti aku beberapa saat yang lalu.

“Dia benar-benar mencintai Aurora Constellate. Ibumu mungkin tidak tampak seperti itu, tapi dia kuat, Arthur. Bahkan, lebih dariku. Jika kamu berpikir, jika semua yang telah kamu lakukan hanya membuat kekhawatiran, maka kamu sangat salah.

Baik kamu dan adikmu telah memberikan ibumu dan diriku, jauh lebih banyak kebahagiaan yang lebih besar daripada yang kami harapkan.”

“Aku tahu, jika kamu tidak seperti anak normal seusiamu. Sial, aku sudah tahu itu, sejak kamu lahir. Aku tidak tahu seperti apa takdir yang menjebakmu. Tapi, aku tidak berpikir, itu akan menjadi sesuatu yang tidak bisa kamu tangani.”

Kulit di sekitar matanya berkerut, saat dia memberiku senyum meyakinkan.

Aku hanya diam, tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat.

“Apa yang aku tidak ingin kamu lakukan adalah, merasa seperti kamu sedang menjadi beban kami. Semua rasa bersalah yang kamu rasakan saat ini, beban berat yang kamu mungkin rasakan…

Aku ingin kamu menyebarkan kepada kami, agar kami selalu bisa berada bersamamu. Aku tidak pernah ingin kamu merasa, seperti kamu tidak bisa pulang.

Sesuatu tentang kami yang tidak akan menerimamu. Selama kamu masih bisa pulang, aku berharap kamu datang ke rumah setiap kali kamu bisa, dan biarkan kami mengatakan jika kami mencintaimu. Itu adalah hak kita sebagai orang tuamu. Oke?”

Ayahku mengusap rambut pirangku, dalam sebuah gerakan yang mengungkapkan, bagaimana dia kesulitan untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Dan hanya seperti itu, beban beratku terasa terakumulasi dan perlahan-lahan tersebar.

“Aku mengerti, Ayah.”

Aku berhasil tersenyum lebih tulus saat ini, yang membuat Ayah menjawab dengan tanda senyum bodohnya.

“Ayo, mari kita pulang. Di dalam, binatang yang lebih ganas dari apa pun yang pernah kamu hadapi, telah menanti,” bisik ayahku menyeramkan, sebelum kami berdua tiba-tiba tawa.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_069"