Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_095

gambar

The Beginning After The End


BAE_095

Chapter 95: Ketenangan Sebelum...

 

#PoV: Lucas Wykes:

 

Menatap profesor yang sebelumnya menjadi impianku, berjuang untuk berdiri kembali. Itu membuatku jelas mengerti jika hidup mereka berada di tanganku. Dengan kekuatan baruku, mereka yang disebut ‘elit’, tidak lebih dari semut dihadapanku.

Peningkatan kemampuan pemrosesan kognitif untuk meningkatkan kemampuan merapal mantra. Sebuah kolam mana yang hampir tak terbatas, dan bisa aku akses dan manfaatkan. Membuat refleksku meningkat bersama, dengan diperkuatnya kecakapan fisik dan ketangkasanku.

Elixir yang Draneeve berikan padaku, benar-benar memenuhi tujuannya. Sama seperti yang ia janjikan, itu benar-benar menegluarkan potensi penuhku.

Sangat jelas, jika sejak awal aku adalah seorang mage berbakat. Namun, aku kalah bersinar, bila dibandingkan dengan kakakku, Bairon.

Prestasiku tidak pernah mampu memenuhi harapan keluarga. Aku hanya hidup dengan mengejar bayangannya. Tapi tidak lagi…

Aku merasa, seperti aku akhirnya melampaui dia saat ini.

Mudah memusnahkan para profesor dari akademi ini. rasanya, seperti aku benar-benar melampaui ranah manusia, tak tertandingi bahkan oleh mage manusia, elf, dan dwarf.

…jadi, mengapa aku merasa seperti ini?

Aku merasa ada es yang mencengkeram bagian dalam tubuhku, perlahan-lahan berputar, dan secara lambat membekukan perutku.

Tekanan di udara bahkan membuat gaya gravitasi di sekitarnya menjadi kuat, saat ia mendekat.

Butir-butir keringat dingin mulai membentuk, membasahi pakaianku. Tanpa sadar, aku bahkan mengambil langkah mundur. Apakah aku takut?

Itu tidak mungkin.

Dengan kekuatan baruku, aku tak terkalahkan. Aku kuat. Aku sempurna.

“Selamat datang di pesta, Arthur. Kamu cukup terlambat,”

Aku mencemooh, dan merasa puas dengan nada tenang suaraku.

Dia tidak mengatakan apa-apa, saat sia melanjutkan perjalanannya ke arahku dengan kecepatan cepat, namun terlihat lambat.

Tatapanku lalu bergeser dari Arthur ke dragon di belakangnya. Aku sudah membaca dalam sebuah buku, jika ras dragon sudah punah karena perburuan. Aku biasanya akan terkejut melihatnya. Tapi pada saat ini, dibandingkan dengan intensitas menakutkan yang berasal dari Arthur, dragon-nya tampak tidak lebih mengancam daripada kadal biasa.

Langkah-langkahnya tidak pernah goyah, tidak pernah terhuyung, saat ia mendekati menara lonceng. Aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresinya, matanya tertutup penuh oleh poninya.

Atmosfer di sekitarnya sangat berat, bahkan Mana beast yang tidak masuk akal, yang Draneeve kendalikan. Itu secara naluriah bersujud dalam ketakutan.

“Hewan peliharaan yang mengesankan. Apakah kamu pikir, itu bisa membantumu sekarang? Lihatlah di sekitarmu! Semua ini, hal itu dilakukan olehku! Para profesor yang begitu sangat dihormati? Aku melangkahi mereka seperti hama penyakit,”

Aku tertawa, dan mengambil beberapa langkah ke arah anak yang pernah dianggap sama denganku.

Dragon di belakangnya mengeluarkan suara gemuruh yang memekakkan telinga, yang membuat penonton di sekitarnya meringis dalam ketakutan. Tapi, aku tidak.

Aku benci mengakuinya, tapi bukan dragon itu yang memberiku perasaan kegelisahan…

Itu Arthur.

Terpengaruh oleh ejekanku, dia tanpa kata berjalan ke arahku.

Beberapa siswa sudah mengalahkan anak buah Draneeve, hanya tersisa beberapa Mana beast di sisiku. Namun, mereka membatu dalam ketakutan. Entah itu karena Arthur atau dragon-nya, aku tidak tahu.

Dan saat ia mendekat, aku sadar…

Dia bahkan tidak menatapku. Tatapannya tidak pernah diarahkan padaku sejak awal!

Kakiku tetap terpaku ke tanah, tertegun. Karena dia hanya berjalan melewatiku, mengabaikanku dan orang lain di sini.

Beraninya dia!

Aku bisa dengan mudah menghancurkan dia sekarang. Dia harus memohon, memohon padaku untuk menyelematkanya dan teman-temannya.

Tapi sebaliknya, dia malah memiliki keberanian, untuk memperlakukanku seperti udara?

Tinjuku mulai gemetar, karena seberapa keras mereka terkatup.

Setelah melewatiku, mengabaikan rekan dan temannya yang sekarat atau mati. Arthur berlutut di depan putri elf. Dragon-nya menjulurkan lehernya ke bawah ke arahnya juga. Dan untuk itu sejenak, hanya ada keheningan saja.

Mengetahui apa yang harus dilakukan, bibirku meringkuk ke dalam seringai. Mari kita lihat, apakah dia bisa mengabaikanku atau tidak sekarang.

“Dia menangis untukmu, kamu tahu,”

Aku ejek. Tapi, tetap tidak ada reaksi.

“Oh, tentu, dia bertingkah kuat pada awalnya.Tapi, itu membuat semuanya menjadi lebih memuaskan,”

Aku tertawa.

Bahunya sedikit bergerak.

Dragon-nya menatapku, matanya menusukku dengan keganasan, yang mungkin akan membuatku yang sebelumnya, ketakutan.

“Kamu tahu, aku ingin bermain lebih banyak dengan putri elf kecilmu. Tapi, Draneeve mengatakan kepadaku, untuk tidak meletakkan tangan pada dirinya. Aku setuju pada awalnya, tapi sebuah ide memukulku.

Apa ada cara yang lebih baik untuk merusakmu, daripada membuatmu berbaring tak berdaya di tanah, saat kamu menontonku memperkosa gadis yang sangat kamu cintai?”

Tawaku menggema di seluruh akademi, saat orang lain erus menyaksikan, tidak mampu bahkan mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan satu katapun.

Dragon itu mengeluarkan dengusan dan tampak, seperti ia bisa menyerangku kapan saja. Tapi, dia tiba-tiba berhenti.

Dan wajahku mengejang marah, saat Arthur terus tanpa kata melekat ke kekasih elf-nya. Dia masih memilih untuk mengabaikanku?

“ARTHUR LEYWIN! BERANINYA KAMU MENGABAIKANKU?”

Aku meraung.

“Kamu pikir, kamu jauh lebih baik dariku? Biarkan aku melihat, seberapa kuat kamu saat ini! Aku akan mematahkan setiap tulang dalam tubuhmu. Sehingga, kamu hanya bisa menangis tak berdaya, saat aku menodai Tessia tepat…”

Kata-kataku terjebak di tenggorokanku, saat tanah di bawah Arthur tiba-tiba hancur seperti selembar kertas, membuatku tersandung.

Aku berusaha mendapatkan kembali keseimbangan dan melihat pada Arthur, yang masih mengabaikanku, saat dia dengan lembut meletakkan elf kecilnya ke atas tanah. Tiba-tiba, aku dipukul dengan sensasi yang sama seperti sebelumnya…

Emosi dingin, bayangan cengkeraman iblis yang memutar bagian dalam tubuhku, dan meremas-remas udara keluar dari paru-paruku.

Seolah-olah angin menyingkir dariku, udara pergi dari tenggorokanku secara cepat dan membuatku terengah-engah.

Tidak dapat menenangkan diri, aku menatap tanganku, hanya untuk melihat jika mereka gemetar.

Aku sadar, jika bukan hanya tanganku saja. Tapi, seluruh tubuhku gemetar tak terkendali, hingga ke intinya.

Apa yang terjadi pada tubuhku?

Mengapa aku bereaksi seperti ini, terhadap anak laki-laki seusiaku?

Seharusnya, tidak mungkin baginya untuk menjadi lebih kuat dariku. Namun, apa maksud dari semua ini…

Dia berbalik.

Aku tidak pernah berpikir, jika sesuatu yang begitu sederhana seperti kontak mata, bisa begitu menakutkan. Ketika mata pucat birunya, yang setajam pisau bertemu mataku, aku merasa semua udara yang tersisa di paru-paruku keluar.

Dan tiba-tiba, aku menyadari apa yang telah aku rasakan selama ini, kata untuk menggambarkan emosi yang tidak bisa aku pahami…

Tidak! Aku menolak untuk mengakuinya!

Aku mengabaikan jeritan protes dari dalam pikiranku, yang memohon padaku untuk melarikan diri. Untuk melarikan diri ke arah yang berlawanan dari Arthur.

“Oh, aku akhirnya mendapatkan perhatianmu?”

Aku meludahkan ejekkan, berjuang untuk menjaga tubuhku dari gemetar.

“Lucas.”

Arthur adalah seorang petani yang punya latar belakang dangkal, yang keberadaannya bisa disandingkan dengan keledai pensiunan. Sementara, aku dilahirkan di dalam keluarga Wykes, yang melahirkan mage paling berbakat di benua ini.

Namun, suaranya Arthur terisi oleh otoritas mencolok, hingga membuatku hampir berlutut pada dorongannya.

“Aku mengganggapmu tidak lebih dari sekedar lebah yang tidak perlu aku bunuh,” A

rthur melanjutkan dengan nada dinginnya, saat dia sekali lagi mulai berjalan ke arahku.

“Tapi, bahkan orang yang paling suci dari orang-orang suci akan marah, jika kamu melewati garisnya. Dan tanpa ragu-ragu, mereka akan mengatasi lebah, yang telah begitu banyak berani menyengatnya.”

Dinginnya… dengan mata penuh emosi, auranya membuatku terasa terperangkap, dalam rantai yang dipaku ke tanah dibawahku.

Dia membandingkanku dengan serangga. Tidak, dia benar-benar melihatku sebagai serangga. Namun, kata-kata sanggahan atau protes menolak untuk meninggalkan mulutku.

Mengapa…?

Seharusnya tidak seperti ini. Kekuatanku sekarang seharusnya lebih besar darinya. Jadi, mengapa ini terjadi?

Bagaimana bisa anak laki-laki yang satu tahun lebih muda, menakut-nakutiku… lebih daripada yang Draneeve lakukan?

Berapa banyak legiun dan binatang yang harus seseorang bunuh, dalam rangka untuk memiliki aura penindasan yang menyesakkan sepertinya?

Bahkan, bumi tampak ketakutan pada Arthur, saat tanah di bawah kakinya terus tenggelam dalam setiap langkah yang ia ambil.

Jantungku berdebar lebih keras dan lebih keras, hingga tulang rusukku terasa akan patah. Karena, keninginan jantungku untuk melompat keluar dan melarikan diri. Pandangaku menjadi kabur, dan keringat dingin mengalir turun dari dahi ke mataku.

Mengalihkan tatapanku jauh dari Arthur, aku berfokus pada Tessia. Dragonnya telah meringkuk secara protektif di sekitar putri elf, tidak memberiku kesempatan untuk memafaatkannya.

Diam-diam, saat Arthur maju lebih dekat, aku melihatnya. Di matanya adalah emosi yang sangat mengamuk, begitu lapar untuk membuat kekacauan, dan nyaris tak terbendung.

Aku Lucas Wykes, anak kedua yang lahir dari Otis Vayhur Wykes!

Mage elit Xyrus Academy, selalu memaksa orang berlutut dengan kekuatan yang luar biasaku. Arthur hanyalah seorang petani rendah, hanya beruntung bisa lahir dengan bakat yang layak untuk sihir!

Pikiranku tersentak ke dalam keadaan putus asa dan hiruk-pikuk, saat aku berjuang untuk tetap tenang. Dia, hanya menakut-nakutiku kan?

Tidak. Aku lebih suka mati, daripada memohon untuk hidupku padanya.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_095"

Pemberitahuan Update via Email