Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_105

gambar

The Beginning After The End


BAE_105

Chapter 105: Ketika Ketidak-tahuan Dianggap Sebagai Berkah

 

Ada keheningan setelah ucapanku, saat orang tuaku sedang mencoba untuk memproses apa yang baru saja kukatakan.

“Datang ke dunia ini? Apa maksudmu sayang? Kamu lahir di sini… A-aku tidak mengerti,” jawab ibuku, saat dia mengulurkan tangan kearahku. Dia memegang tanganku erat-erat. Seolah-olah, dia takut aku akan menghilang begitu saja.

Di sisi lain, Ayahku menatapku diam-diam, menungguku untuk melanjutkan.

Mengambil napas dalam-dalam, aku kemudian meremas tangan ibuku dan berbicara dengan senyum menghibur.

“Tentu saja aku lahir di sini, Ibu. Aku milikmu dan juga darah daging Ayah juga. Percayalah, aku mengingat lebih baik apa yang terjadi, ketika aku lahir daripada orang lain,”

Aku tertawa, dan membangkitkan tampilan bingung lagi, dari kedua orang tuaku.

“Aku dipindahkan, terlahir kembali… Aku tidak yakin kenapa. Tapi sesuatu terjadi, dan aku akhirnya dibawa dari duniaku ke dunia ini.”

“Tu-tunggu sebentar, Nak… kamu harus pelan…”

“Art, apa yang kamu bicarakan? Dunia lain? A-pa kamu baik-baik saja? Apakah Mastermu yang mengatakan ini? Dari mana semua omong kosong ini berasal?”

Potong ibuku, saat ia berlari mendekat, memeriksa kepalaku… mungkin mencari tanda-tanda gegar otak.

“Tidak, Bu. Masterku tidak tahu ini. Tak ada siapapun yang tahu, kecuali kalian. Dan aku tidak tahu istilah yang benar untuk ‘fenomena’ ini. Aku sudah memikirkannya untuk sementara waktu. Tapi aku kira, yang terbaik adalah untuk mengatakan ini, seperti sesuatu yang mirip dengan reinkarnasi,”

Aku menjelaskan.

“Arthur, apakah sesuatu terjadi padamu, setelah mereka membawamu pergi? Apakah mereka menyakitimu dalam beberapa cara? Kemarilah, aku akan mencoba menyem…”

“Sayang, Anak kita baik-baik saja. Arthur, lanjutkan,”

Ayahku menariknya, tapi ibu tetap bertahan.

“Tidak, Rey, anak kita tidak baik-baik saja. Dia menyemburkan omong kosong tentang dunia lain dan reinkarnasi. Art, biarkan aku...”

“Alice! Biarkan anak kita berbicara.”

Ayahku membentak dengan suara tidak pernah aku dengar sebelumnya, membuat ibuku dan aku terkejut.

Jadi, aku menjelaskan…

Aku menggambarkan dunia tempat asalku, peranku di sana, dan hubungan yang aku miliki dengan jumlah rincian yang gila, untuk memastikan jika mereka tahu kalau aku tidak berbicara omong kosong.

Sepanjang itu semua, orang tuaku tetap diam untuk sebagian besar waktu. Ayahku akan mengajukan pertanyaan di sana-sini. Tapi, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Ibuku, bagaimanapun, jelas terguncang. Dia pucat, gemetar tangannya juga meningkat, saat ceritaku terus berkembang.

Aku tidak tahu berapa banyak waktu telah berlalu. Tapi dengan fakta jika aku merasa perutku sudah mulai meronta. Sepertinya, aku sudah berbicara selama beberapa jam.

“Raja Gray …”

Ayahku bergumam, menjalankan jari-jarinya ke rambutnya sambil bersandar di kursinya.

“Jadi pertempuran, bakatmu di sihir…”

“Ya, sistem Qi di dunia lamaku, bekerja dengan cara yang sama dengan aspek-aspek tertentu dari mana di dunia ini,” ucapku.

“Dan untuk pertempuran… sepertinya, kamu sudah mengerti darimana itu datang.”

“Kemudian sejak kamu lahir, Apa kamu mampu memahami apa yang kami katakan? Kamu ingat semuanya?” tanya ayahku, sambil menarik nafas dalam-dalam.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Hehe…” membuatku ibuku tertawa.

Ayahku dan aku kemudian berbalik memandangnya. Secara mengejutkan, ibuku mulai tertawa. Ayahku membungkus lengannya di sekelilingnya. Tapi, dia hanya melirik kami tak percaya.

“A-aku mengerti. Ini semua lelucon, kan? Hehe… Oh, anakku. Art, kamu hampir mengenaiku, kan Rey?” katanya, tersenyum.

Namun, tak satu pun dari kami merespon yang mana membuat senyumnya memudar. Matanya mencari setiap petunjuk, yang akan mengkonfirmasi keyakinannya. Tapi ketika dia tidak bisa, dia meraih tanganku dan menatapku dengan tatapan putus asa.

“Ini adalah lelucon… benar, kan? Arthur Leywin, katakan ini adalah lelucon. Kamu tidak benar-benar… seorang mantan raja yang mati, dan dibawa ke dalam pikiran anakku sebelum lahir, kan? KAN?”

“Aku… tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi aku tidak bercanda,” jawabku, tanpa melihat dia di matanya.

“Tidak, tidak, tidak, tidak. Ini… Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Rey, jangan bilang kamu percaya semua ini? Anak kita sakit. Sesuatu pasti terjadi padanya ketika ia pergi… tidak, sesuatu pasti terjadi. Rey, katakan sesuatu! Katakanlah, jika anak kita sakit!”

Ibuku meraih lengan ayahku, menarik lengannya, saat air matanya mulai bergulir di wajah pucatnya.

“Sayang…”

Membungkus lengannya di bahunya, ayahku memegang ibu ke dadanya. Dia menatapku, lalu memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua saja.

Aku ingin memeluk ibu, mengatakan padanya jika aku masih anaknya. Tapi, aku tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk melakukan itu. Membuka tenda, aku berjalan keluar tanpa berkata apa-apa, meninggalkan orang tuaku sendiri.

Elder Rinia, Windsom, dan adikku menatapku saat aku berjalan ke arah mereka. tapi, raut wajahku mungkin menghentikan mereka dari bertanya. Bahkan, adik cemberutku menahan ucapannya, saat aku duduk di sampingnya dan Sylvie yang tertidur di depan perapian.

Waktu berlalu perlahan-lahan, dengan pikiranku, yang terasa seperti seseorang yang sedang mencoba untuk berenang melalui sirup yang sangat kental.

Apa mengatakan kepada mereka adalah keputusan yang tepat?

Apa yang mereka pikirkan tentang diriku sekarang?

Apakah mereka masih menganggapku sebagai anak mereka, atau akan ada keraguan yang tumbuh…

Suara yang bercampur bersama-sama secara tak jelas, dan segala sesuatu yang ada disekitarku tidak mengusikku dari pemikiranku. Namun, kepalaku langsung tersentak kembali, ketika suara penutup tenda yang dibuka terdengar.

Ayahku keluar dari tenda, tiba-tiba tampak jauh lebih tua dari sebelumnya. Aku mengharapkan ibuku untuk keluar tepat setelahnya. Tapi, ayah hanya menggeleng.

“Ellie, bisakah kamu temani ibumu di dalam tenda?”

Dia bertanya, lalu memberi isyarat bagiku untuk mengikutinya.

“Ini dia. Apa kamu merasa lebih baik, kamu kotoran.”

Adikku menjulurkan lidahnya, saat dia dengan hati-hati menyerahkan ikatanku. Aku tidak bisa mengerti dan merasa senyum terbentuk kembali di bibirku, ketika aku melihat dia melompat ke arah tenda.

Menempatkan Sylvie di atas kepala, aku mengikuti ayahku ke dalam terowongan, di mana Windsom dan aku gunakan untuk datang. Aku berkonsentrasi pada suara gema langkah kaki kami, hingga sampai ayahku akhirnya memutuskan untuk berbicara.

“Ibumu… dia tidur sekarang,”

Dia berkata dengan mendesah.

“Apakah dia baik-baik saja?”

Aku menjaga beberapa jarak dari ayahku, melihatnya sambil iseng menendang kerikil sambil berjalan.

“Dia… dalam keadaan cukup terkejut, atau begitulah.”

“Jadi, kalian percaya padaku?”

“Kecuali kamu telah tiba-tiba mengembangkan ketertarikan untuk beberapa lelucon gila, kamu tidak punya alasan untuk berbohong kepada kami, tentang hal ini. Selain itu, semua yang kami lewati sampai sekarang: awakening terlalu awal, kecemerlanganmu sebagai prajurit dan mage… semuanya masuk akal,” jawabnya.

“Apakah kamu baik-baik saja?”

Mataku tetap tinggal terpaku pada kerikil di tanah yang tidak rata.

“Tentu saja aku tidak!”

Ayahku berseru, lalu berbalik.

“Ini bukan berita yang mudah untuk dicerna, Arthur. Semua kenangan yang kita miliki sebagai sebuah keluarga di masa lalu… semua itu terlihat aneh, setelah kamu memberi-tahukan berita ini kan? Bagaimana aku bisa bertindak di sekitarmu sekarang?

Kamu secara teknis lebih tua dariku. Namun, kamu di sini sekarang sebagai anakku yang berusia tiga belas tahun!”

Lanjutnya, menatapku putus asa untuk responku.

“D-Dan ibumu… ibumu merawatmu sejak bayi! Dia mengasuh manusia setengah baya, seperti anaknya sendiri!”

Aku berdiri diam, tidak menjawab.

Lagipula, semua yang ia katakan itu benar. Tinju ayahku terkepal begitu erat, hingga darah menetes di antara jari-jarinya. Ekspresinya mengerikan; kerutan gemetar di wajahnya hingga ke alisnya yang berkerut, emosinya terlihat jelas di wajahnya.

Takut, kecemasan, frustrasi, dan kebingungan… itu semua ada di sana.

“Maaf, tapi kamu benar-benar anak kami kan, Arthur? Atau apakah kamu mengambil alih bayi yang belum lahir, yang akan menjadi anak kami selama reinkarnasimu. Atau, apa pun yang terjadi padamu!”

Dia berseru. Matanya melebar segera, karena dia menutupi mulutnya dengan tangannya.

“A-aku tidak bermaksud,”

Dia tergagap.Membiarkan keluar napasnya yang terengah-engah, dia lalu berbisik,

“Maaf, Arthur… Aku hanya sangat bingung sekarang.”

“Seperti yang aku katakan sebelumnya… sebenarnya, aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak tahu, siapa atau apa yang membawaku ke dunia ini, dan mengapa hal itu terjadi. Kamu benar, Ay… Reynolds. Aku mungkin membunuhnya, ketika dia masih seorang janin…

Aku tidak tahu bagaimana ‘proses’ ini membawaku kemari,”

Aku menyatakan dengan tenang, menelan kembali sesuatu yang sangat sulit diucapkan di tenggorokan.

Dia meringis ketika aku memanggilnya Reynolds, dan dia juga hendak mengatakan sesuatu. Tapi kemudian, dia hanya bisa menutup mulutnya.

“Aku tidak ingin terus menyembunyikan ini dari kalian. Tapi sekarang, aku juga mempertanyakan apakah aku sudah membuat pilihan yang tepat atau tidak,” gumamku, membiarkan keluar tawa hambar.

“Ini adalah apa yang aku ingin beri-tahukan kepada kalian sejak lama. tapi, aku tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya. Aku ingin mengatakan ini sebelum aku pergi.”

“Pergi? Kamu mau pergi?”

Ayahku merespon cepat.

“Ya. Dan dalam situasi saat ini, aku pikir, akan baik untuk menghabiskan beberapa waktu terpisah,”

Aku melanjutkan, nada kesepian mengisi suaraku tanpa sadar.

“… Berapa lama kamu akan pergi?” tanya Ayahku. “

Setidaknya beberapa tahun.”

“Itu lama, ya?” jawabnya sambil menatap ke bawah. Ada tanda-tanda dia ingin menghentikanku atau melarangku untuk pergi.

Berbalik, dadaku terasa sakit dan kepalaku berdenyut-denyut, dengan intensitas tidak pernah aku alami sebelumnya.

Manusia… tidak peduli seberapa kuat kami bisa menjadi, kami tetap saja begitu rapuh.

“Kamu tahu, aku tidak pernah punya kenangan akan keluarga di dunia lamaku. Tumbuh dalam lingkungan di mana tidak ada yang benar-benar mencintaiku. Dan pada akhirnya, dilupakan dan dijauhi semua orang…

Itu membuatku berubah menjadi seorang pejuang yang tak tertandingi. Tapi, orang yang sangat buruk juga.

Sejak datang ke dunia ini, kalian berdua, dan kemudian Ellie, mengajariku sesuatu yang belum pernah aku dapatkan. Aku mungkin bukan pejuang terkuat atau mage di dunia ini. Tapi, aku pernah mengalami neraka yang orang lain belum pernah rasakan di kehidupanku sebelumnya.

Aku minta maaf untuk semua hal yang telah aku lakukan. Terima kasih untuk membuatku menjadi orang yang lebih baik… dan terima kasih untuk mencintaiku sebagai anakmu.”

Masih dengan punggungku yang menghadap ayah, aku berjalan kembali menuju tempat Windsom berada. Aku terus berjalan, walau mendengar isak tangis teredam ayahku yang tinggal di belakang.

Aku juga berjuang untuk menahan air mataku.

Aku kembali ke gua utama untuk melihat Windsom dan Rinia membahas sesuatu. Elder Rinia memegang sesuatu yang terbungkus selimut, dan aku bisa bersumpah jika itu bergerak.

Tapi, aku memilih untuk mengabaikannya. Dan Windsom kemudian melepaskan tangannya dari apa pun yang terbungkus dalam selimut, saat melihatku mendekat.

“Sepertinya, kamu sudah menyelasaikan semuanya. Apakah kamu siap?”

Mata berkilauan Windsom mempelajari ekspresi dengan hati-hati, saat dia bangkit.

“Ya, mari kita pergi”

“Tunggu, kamu tidak akan mengatakan selamat tinggal kepada keluargamu?”

Rinia bertanya, melepaskan selimut dengan hati-hati ke tempat duduknya.

“Tidak dibutuhkan. Aku sudah membereskan semua yang aku butuhkan di sini. Aku meninggalkan mereka dalam perlindunganmu.”

Aku memberinya bungkukkan singkat dan hendak mengikuti Windsom, ketika Rinia menarikku. Matanya bersinar dengan warna misterius dan menatapku, saat ia meletakkan tangannya di pipiku.

“Arthur, tolong. Ekspresimu menakutkan, itu tidak layak bagi seseorang dengan hati baik sepertimu. Aku hanya bisa sedikit memahami tekanan dari pertempuran mendatang, yang akan kamu hadapi. Tapi, jangan jatuh kembali ke kesalahan lamamu.

Kamu sangat tahu, jika kamu kamu pergi ke dalam lubang itu, akan semakin sulit untuk naik kembali keluar,” katanya, saat matanya memudar kembali normal.

Setelah menampar pipiku dengan lembut, dia lalu berbalik dan mendorongku ke arah Windsom.

“Pergilah. Aku akan mengurus hal-hal di sini,” katanya dengan senyum lembut.

Windsom kemudian mengambil objek seperti piringan yang mana terlalu besar untuk muat di sakunya, dan lalu menjatuhkannya di tanah. Kemudian, asura ini menusuk jarinya dan membiarkan setetes darah jatuh pada artefak.

Segera, itu membesar dan mengeluarkan kolom cahaya yang mencapai langit-langit.

Pikiranku masih terfokus pada apa yang Rinia baru saja katakan. Jadi, ketika aku berbalik ke arah Windsom aku bertanya,

“Apakah ada sesuatu yang salah dengan ekspresiku?”

“Ekspresimu mengingatkanku pada Pantheon Asura dari Epheotus. Mereka adalah ras prajurit halus yang telah belajar untuk menutup emosi mereka, dalam rangka untuk bertarung dengan efisiensi tinggi. Sebuah teknik yang sangat berguna memang,”

Windsom mengangguk persetujuan.

“Sekarang, mari kita pergi. Apakah kamu yakin, telah menyelesaikannya? Aku perlu kamu berkonsentrasi secara penuh, setelah kita tiba di Epheotus.”

Aku melirik gua untuk terakhir kalinya, sebelum mengambil napas dalam-dalam dan menjawab.

“Aku siap.”

Memeluk Sylvie dengan ketat dalam pelukanku, aku menerima tangan Windsom dan melangkah ke dalam kolom cahaya yang berwarna keemasan.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_105"