Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_104

gambar

The Beginning After The End


BAE_104

Chapter 104: The Great Eight

 

“Apa tak masalah, untukku mengetahui semua ini?”

Aku bertanya, sambil menjauhkan ranting dari atas kepalaku.

Saat ini kami sedang mendaki tempat yang bernama Elshire Forest, tepat setelah Windsom teleport ke daerah di dekatnya. Dan butuh beberapa saat untukku, menyadari jika ini adalah bagian dari hutan milik keluarga Eralith.

Sepertinya, kami sedang menuju ke tempat persembunyian Elder Rinia.

“Kamu telah diberi izin untuk tinggal di Epheotus. Jadi, kamu pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat. Walau menghafal informasi yang sudah aku katakan tidak perlu, akan selalu bermanfaat bagi seseorang untuk mengetahui budaya, tingkah laku, dan politik wilayah asing yang akan kamu datangi.

Terutama, jika kamu harus berinteraksi dengan tokoh-tokoh penting dari tempat tersebut.”

Windsom menyarankan, tidak berusaha berbalik menatapku, ia terus berbicara sambil mendorong cabang dan tanaman merambat, yang menghalangi jalur pendakian.

“Tapi aku punya merasa, jika kamu sepertinya sudah tahu pentingnya itu.”

“Tentu saja,”

Aku menyeringai.

“Tapi, pengetahuan tanpa pemahaman, sama dengan pedang yang terjebak dalam sarungnya. Walau kamu sudah mengatakan kepadaku tentang ini, Windsom. Tapi, kamu bahkan belum pernah memberi-tahuku alasannya.”

“Benar sekali,” ungkapnya.

“Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan itu segera.”

Aku melanjutkan.

“Oke, jadi ada tuj… tidak, delapan ras dari asura di Epheotus. Setiap ras terdiri dari beberapa klan. Tapi, hanya ada satu marga dalam ras masing-masing, yang memiliki tittle sebagai salah satu High Eight?”

“The Great Eight,”

Asura itu mengkoreksi.

“Dari ras mana Clan Vritra?”

Aku mencoba membayangkan beberapa kali di masa lalu, seperti apa ras Clan Vritra itu, dengan tanduk dan kulit abu-abunya. Tapi, tidak ada yang bisa aku dapatkan sama sekali.

“Wujud sebenarnya dari Clan Vritra adalah Asura ular menakutkan, yang disebut Basilisk. Akan baik bagimu, untuk mengingat ras dan nama klan Great Eight.”

“Apa yang terjadi pada ras Basilisk, setelah Clan Vritra dan klan Basilisk lainnya melakukan pengkhianatan?”

Aku bertanya, sambil mengusir serangga yang sangat mengganggu, yang mungkin mengira jika telingaku akan menjadi tempat yang bagus untuknya beristirahat.

“Selain fakta jika Clan Vritra digantikan oleh klan yang lebih rendah sebagai bagian dari Great Eight., beberapa ras yang lebih radikal sudah mendorong untuk memusnahkan apapun yang tersisa dari ras Basilisk.

Untungnya, hubungan antara setiap ras sangat kuat sejak lama. Teman dari klan Basilisk yang tersisa, berdiri untuk mereka. Pada akhirnya, langkah-langkah drastis seperti genosida tidak pernah diambil. Lagipula, akan bodoh untuk seluruh ras, menanggung kejahatan dari beberapa anggotanya.”

Aku tidak tahu apa yang Windsom pikirkan, saat ia mengatakan kepadaku semua ini. Nada suaranya tidak sesuai dengan apa yang ia katakan, kata-katanya bahkan terdengar hampir sinis.

“Aku mengerti…”

Aku terus berjalan, melihat sepatu kotor berderak pada daun jatuh dan cabang rusak.

“Bagaimana cara Great Eight dipilih?”

“The Great Eight hampir tidak pernah berubah. Sebagai contoh, meskipun ras Dragon memiliki jumlah anggota yang paling sedikit, Clan Indrath, klan tuanku dan Lady Sylvia, telah menjadi bagian dari Great Eight sejak awal sejarah kami.

Namun, bahkan sampai hari ini, kekuatan besar Clan ini adalah nilai atas sisa yang lain. Hanya ini cara yang mungkin bagiku untuk menjawab pertanyaanmu.”

Kami terus bergerak kesana-kemari, saat berusaha mencapai pondok tersembunyi Elder Rinia. Selama itu, Windsom terus menanyaiku tentang nama-nama yang perlu aku ketahui.

Aku bisa memproses sebagian besar informasi cukup cepat. Tapi karena aku kurang tidur dan dalam kondisi kelaparan. Maka, kemampuanku untuk menyimpan informasi sedikit berkurang.

“Ngomong-ngomong, tidak bisakah kamu membawa kita lebih dekat? Jika kamu bisa teleport dari kastil di tengah Beast Glades ke Elshire Forest. Aku yakin, kamu juga bisa saja teleport kita ke beberapa mil sedikit lebih dekat…”

“Rumah dari Diviner Elf di mana keluargamu saat ini berlindung, di dikelilingi oleh penghalang yang cukup besar, yang tidak ingin aku rusak. Teleport melalui itu, mungkin telah menyebabkan riak di penghalang, yang mungkin memberikan lokasi semua orang di dalam.”

“Ah… maaf. Aku terlalu gelisah,” jawabku, sambil menggaruk-garuk kepala.

Saat ini, kami sudah melewati air terjun yang menyembunyikan pintu masuk ke rumah Elder Rinia.

“Jadi, jika aku luruskan. Agrona, ketua Clan Vritra saat ini, memimpin ras-nya keluar dari Epheotus menuju Alacrya. Di mana dia bereksperimen menggunakan ras yang lebih rendah, dan menyatakan dirinya sebagai Eternal Ruler?”

“Walau title terlalu hambar, karena dia memberikan itu pada dirinya sendiri. Tapi pada dasarnya, ya,”

Asura itu mengkonfirmasi.

“Kemudian, menurut perjanjian yang kalian bicarakan sebelumnya; jika Clan Vritra, bersama dengan klan lain dari ras Basilisk, juga seorang Asura… bukankah ini berarti, jika mereka juga dilarang untuk langsung bertindak dalam perang yang akan datang?” tanyaku, sambil berusaha melacak berapa banyak perubahan jalur yang telah kami ambil, dalam labirin ini.

“Ya, tapi bukan itu masalahnya.”

Windsom berhenti berjalan dan berbalik menghadapku.

“Arthur, apa kamu tidak pernah merasa heran, mengapa ras Asura tidak membunuh Clan Vritra Clan dan klan yang mengikuti mereka, begitu saja? Lagipula, ada tujuh ras lainnya, selain mereka.”

“Tentu saja aku penasaran. Tapi, kamu tidak pernah mengatakan sesuatu, tentang konsekuensi yang akan mempengaruhi ras yang lebih rendah, yang tinggal di Alacrya bukan?”

“Aku pernah. Tapi, apa yang aku tak beri-tahu padamu adalah, tentang fakta jika perjanjian itu bukan tindakan pertama kami. Setelah Agrona dan pengikutnya melarikan diri, Great Clans yang tidak termasuk ras Basilisk, memiliki pemikirang yang sama untuk pertama kalinya, terlepas dari faksi.

Dan mereka kemudian membentuk majelis pemimpin masing-masing Great Clan.

Para pemimpin ini lalu memutuskan untuk mengirim sebuah divisi kecil yang berisi asura elit, dengan tujuan membuang Agrona dan para pengikutnya segera.”

Windsom berhenti sejenak, dan bahkan dengan ekspresi dinginnya, cukup jelas jika dia sedang berpikir tentang, apakah tak masalah untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini atau tidak.

Asura itu akhirnya mendesah kecil, dan menyihir penghalang kecil di sekitar kami.

“Arthur, apa yang akan aku katakan kepadamu, harus tetap menjadi rahasia. Informasi ini hanya diketahui oleh beberapa anggota Clan Indrath.”

Aku mengangguk, mengunci mata ke arah Windsom, karena aku menunggu dia untuk melanjutkan.

“Semua orang di Epheotus percaya, jika Lady Sylvia entah bagaimana ditangkap dan ditahan di suatu tempat. Tapi itu sebenarnya, Lady Sylvia yang secara sukarela pergi bersama divisi elit, yang bertugas membunuh Agrona dan klan yang mengikutinya.”

“Apa?”

Aku berseru, suaraku keluar lebih keras daripada yang aku inginkan.

“Bagaimana bisa begitu? Dia melakukan misi ke wilayah musuh, tanpa mengetahui apa yang dihadapi? Misi ini pada dasarnya bunuh diri. Jadi tidak ada cara tuanmu, ayah Sylvia, akan membiarkan dia pergi bukan?”

“Tentu saja Tuan Indrath tidak mengizinkan dia untuk pergi,”

Windsom geram.

“Apa yang ingin aku katakan adalah tentang Lady Sylvia yang berrsembunyi dan menyelinap kedalam grup elit. Pada saat mereka menyadari kehadiran Lady Sylvia, itu sudah terlambat untuk mundur.”

Ada jeda panjang sebelum, salah satu dari kami berbicara lagi.

“Jadi, apa yang akhirnya terjadi, pada asura yang dikirim oleh para pemimpin Epheotus?”

“Apa yang para pemimpin tidak diharapkan.”

Wajah Windsom berkerut jijik, saat tangannya mengepal keras.

“Agrona, adalah ular yang licik. Jadi, dia menunggu dengan pasukan yang lebih besar dari ras Basilisks, dan ras yang lebih rendah yang memiliki kemampuan sihir bawaan yang sama seperti mereka.”

Hanya butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari, apa maksud kata-katanya.

“Clan Vritra itu membuat keturunan dengan ras yang lebih rendah dari Alacrya,” bisikku.

Asura hanya mengangguk kembali, sebelum melanjutkan.

“Ternyata, Agrona dan para pengikutnya telah kawin silang untuk beberapa waktu. Ada lebih dari puluhan ribu pasukan, yang menunggu batalion kami saat itu.”

“Jadi, grup dari asura elit yang kalian kirim kalah jumlah…”

“Bukan hanya kalah jumlah,” tegasnya.

“Ada unsur kejutan lain, yang kami pikir dihadapi prajurit kami saat itu. Dan, ini masih diperdebatkan.”

“Apa yang menimpa mereka pada akhirnya?” gumamku, lebih seperti bertanya pada diriku sendiri, daripada mengharapkan jawaban darinya.

Asura menggelengkan kepalanya dalam menanggapi.

“Komunikasi hilang, segera setelah pertempuran dimulai. Sementara kami yakin jika pihak mereka mengambil kerugian yang cukup besar dalam jumlah, kami hanya bisa berspekulasi, jika pasukan asura elit kami, kebanggaan klan masing-masing dan ras, bisa dibunuh atau ditangkap.”

Aku terdiam, saat pemikiran tentang bagaimana Sylvia yang berhasil melarikan diri, memenuhi pikiranku.

Tapi, kata-kata Windsom berikutnya menyadarkanku.

“Tuan Indrath sangat marah, setelah diberi-tahu oleh Agrona sendiri, jika putrinya telah tewas dalam pertempuran. Jika keputusan terserah padanya, tuanku pasti sudah memiliki perang yang dengan mereka, mengabaikan semua konsekuensi. Namun, sisa Great Klan menentangnya dan mendorong ia untuk sebuah perjanjian.”

Windsom berbalik dan kembali berjalan lagi.

“Perjanjian itu akhirnya terbentuk antara kedua belah pihak. Yang mana, itu melarang asura untuk bertindak secara langsung, karena kerusakan yang besar pasti akan dijamin terjadi… jika perang skala penuh yang terjadi antara tujuh ras asura dari Epheotus dan tentara Clan Vritra dari basilisk dengan ras yang lebih rendah, mutan setengah Asura itu.”

Meskipun suaranya tidak seperti biasa, tapi ekspresinya telah berubah kembali normal.

Ketika aku mulai berpikir lagi, aku menyadari betapa banyak kerugian yang diderita Dicathen. Perjanjian ini telah ada sejak generasi yang lalu. Dan meskipun itu melarang asura dan setengah-keturunan langsung dari berpartisipasi dalam pertempuran…

Siapa yang tahu, berapa banyak yang disebut ‘ras lebih rendah’ ​​dari Alacrya, memiliki darah campuran asura.

Aku ingin bertanya, mengapa ras asura lain tidak melakukan hal yang sama dan kawin silang dengan ras yang lebih rendah. Tapi, jika butuh berabad-abad untuk jenius gila Agrona memikirkan tentang kawin silang asura dengan ras yang lebih rendah. Maka, ras lain mungkin belum menemukan cara tentang itu.

Dan juga, aku ragu. Bahkan jika mereka bisa, mereka akan melawan berkembang biak dengan ras yang lebih rendah, karena moral dan kebanggaan mereka sendiri.

“Tunggu. Jadi, enam artefak kuno yang kalian berikan kepada penduduk Dicathen…”

“Ya. Itu cara kami memberikan orang-orang dari benua ini pedang dan perisai. Kami tahu, jika kekuatan dan pengetahuan yang terkandung dalam artefak akan memicu revolusi bagi orang-orangmu. Dan kami benar.

Tapi kami kemudian sadar, melalui peristiwa baru-baru ini jika itu belum cukup. Setelah Tuan Indrath dan pemimpin lainnya dari Great Clan, memberi kami perintah intervensi langsung, kami dapat membantu mage dari benua ini, dengan kekuatan yang cukup untuk mempertahankan benua ini dari Agrona.

Kami takut jika Agrona mendapat akses ke penduduk benua ini, Clan Vritra akan mendapatkan cukup kekuatan untuk melawan dan bahkan menggulingkan Epheotus.”

“Dan ini adalah di mana aku berperan. Sebuah potongan catur dari klan besar, yang bisa dimanfaatkan dalam perang yang akan datang,” ejekku, sambil menyilangkan tangan.

“Yah, tapi aku lebih memilih berpikir, jika kami melatihmu, hanya agar kamu membela keluarga dan tanah airmu,” balas Windsom, bibirnya melengkung ke atas.

“Meh, aku lebih memilih hubungan saling menguntungkan bagaimanapun,”

Aku mengangkat bahu.

“Sepertinya, kamu masih tidak percaya kami sepenuhnya,” kata Windsom.

Dia menatapku dengan mata penasaran sebelum bertanya,

“Daripada itu, bagaimana caramu untuk memberi-tahu keluargamu tentang kami… apa rencanamu?”

“Jangan khawatir, Windsom. Aku sudah berpikir banyak hal, tentang saat aku terpaksa beristirahat di sel penjara sebelumnya,”

Aku mengedipkan mata, berjalan melewati asura dan menuju cahaya yang berkedip-kedip yang datang dari ujung terowongan.

***

 

Ketika kami mendekati ujung terowongan, aku bisa melihat bayangan beberapa orang sedang mengitari perapian. Aku tidak bisa menahan senyum, saat melihat sosok besar ayahku yang sedang menggosok piring di dekat sungai bawah tanah… saat Elder Rinia, adikku, dan ibuku berkonsentrasi pada panci mendidih di atas api.

“Bau yang lezat! Apa kalian membuatnya cukup bagiku juga?”

Aku berteriak, menyebabkan semua orang segera memalingkan kepala mereka ke arahku.

Masing-masing dari mereka memiliki reaksi yang berbeda, karena mereka menyadari siapa orang yang berbicara.

Ayahku menjatuhkan panci penyok yang ia gosok. Ibu dan adikku secara bersamaan melesat berdiri dari kursi darurat yang sedang mereka dudukki. Sementara, Elder Rinia hanya memberiku senyum penuh arti, sambil terus mengupas kentang di tangannya.

Satu-satunya yang aku tidak lihat adalah Tessia. Tapi aku sendiri bahkan tidak yakin, apakah dia ada di sini atau tidak.

Dalam hitungan detik, aku dibungkus dalam pelukan keluargaku, saat ibu dan ayahku memeriksa tubuhku untuk mencari, apakah ada tanda-tanda cedera. Sementara, tatapan adikku langsung pergi menuju Sylvie yang tidur dalam pelukanku.

“Apa Sylvie baik-baik saja?”

Dia bertanya, kekhawatiran bercampur dalam suaranya, saat dia memegang ikatanku dalam pelukannya.

“Kakakmu baru saja melarikan diri dari penjara, dan kamu bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja?”

Kataku sambil mengeluarkan suara serak, berpura-pura menjadi sakit.

“Mm… kamu selalu bisa datang kembali dalam keadaan hidup,”

Dia mengangkat bahu, dengan fokus perhatiannya kembali ke Sylvie. Ucapannya menyebabkan tawa dari ayahku, sementara ibuku melakukan yang terbaik untuk menghukum adikku, sambil terus mencoba menyembunyikan senyumnya.

Ucapan adikku menusuk tajam ke dalam dadaku. Di mana anak manis yang menempel padaku seperti lem, dan meneteskan air mata setiap kali dia tidak bisa melihatku?

Apakah dia sudah pada tahap memberontak?

Melihat ini, aku merasa, jika ada seseorang yang telah memberi-tahu keluargaku, jika aku akan mengunjungi mereka segera. Karena itulah, semua orang memiliki ekspresi ceria, dan aku bertaruh jika itu Elder Rinia.

Orang tuaku terlihat ingin menginterogasiku, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, mereka berhenti, tepat ketika suara jejak kaki lain secara tiba-tiba terdengar.

Jejak lembutnya bergema melalui terowongan dan berhenti di belakangku. Dan, aku segera mengambil tindakan tanpa ragu-ragu untuk memperkenalkan siapa orang tersebut.

“Semuanya, ini adalah orang yang membantuku melalui dalam banya hal, ketika aku di penjara… dan juga calon guru-ku.”

Aku menunggu semacam reaksi dari mereka, namun orang tua dan adikku tetap diam, membeku di tempat… saat mata mereka masih terpaku pada sosok di belakangku.

“Ahem, kurangi tekananmu.”

Aku berbalik ke belakang untuk melihat Windsom menatapku bingung, dengan matanya yang melebar sedikit.

“Aku minta maaf,” katanya. Dan udara di sekitar kami berubah kembali normal.

Aku sudah terbiasa dengan tekanan yang asura biasa berikan. Tapi untuk mage normal, itu sepertinya agak sedikit mencekik.

Ibu dan adikku berlutut. Sementara ayahku terhuyung, hampir tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.

Elder Rinia yang agak lebih jauh, berdiri dan membungkuk dalam-dalam ke arah Windsom. Aku tidak yakin jika dia tahu identitasnya. Tapi dia, setidaknya, tampaknya mengerti jika orang tak dikenal ini bukanlah orang biasa.

“Selamat datang di kediaman sederhanaku. Tolong, buatlah dirimu merasa nyaman.”

Elf tua itu berbicara dengan santun, dia menggunakan nada hormat yang tidak pernah aku dengar, ia gunakan sebelumnya.

Windsom hanya mengangguk sebagai jawaban, membuat terowongan hanya terisi dengan keheningan dan suara derak api.

Ayahku adalah orang pertama yang berbicara.

“Pertama, te-terima kasih untuk membantu anakku. Aku sangat tahu, jika dia sulit untuk diatur.”

Asura benar-benar mengeluarkan senyum tipis sebelum bicara.

“Sepertinya, anakmu telah memberimu banyak kekhawatiran.”

“Dan sepertinya itu masih akan terus terjadi,” ucap ibuku, saat ayah membantunya dan adikku berdiri kembali.

“Tapi Arthur, apa yang kamu maksud dengan calon Guru?”

“Alice, anakmu baru saja kembali dari perjalanan panjang. Ada banyak waktu untuk topik ini, setelah dia mendapatkan sesuatu untuk mengisi perutnya,”

Rinia menyarani, mengantarkan semua orang kembali ke sekitar perapian.

Bersyukur untuk kesempatan di mana aku akhirnya bisa makan sesuatu, aku segera duduk dan tidak sabar meniup rebusan panas untuk mendinginkannya.

Windsom menolak untuk makan. Tapi, dia tetap duduk bersama kami sambil diam menatap api. Setelah semua orang selesai makan, ayahku mulai memberi-tahuku tentang apa yang terjadi, setelah aku ditangkap.

Setelah itu, Virion tampaknya membawa Tessia dan Lilia pergi tempat lain, untuk mengobati cedera mereka. Dan keluarga Helstea mengikutinya untuk menjaga putri mereka, yang menjelaskan mengapa hanya ada keluargaku saja di sini.

Elder Rinia lalu menggodaku dengan mengatakan, jika aku akan bertemu dengan mereka dalam beberapa hari, yang menyebabkan semua orang tersenyum.

Akhirnya, semua orang sudah kehabisan hal untuk obrolan basa-basi, meninggalkan gua ini kembali dalam diam sekali lagi. Dan aku tahu, orang tuaku sedang mengharapkan jawabanku, atas pertanyaan mereka sebelumnya saat ini.

Mengalihkan pandanganku ke Windsom, dia ternyata sudah menatap ke arahku, seakan mengharapkan hal yang sama. Ini membuatku menggaruk-garuk kepala, yang aku rasa telah menjadi kebiasaan selama keadaan canggung terjadi sejak aku datang ke dunia ini.

Setelahnya, aku bicara.

“Elder Rinia. Apakah baik-baik saja bagiku, untuk berbicara dengan orang tuaku secara pribadi?”

“Tentu saja,” Elder Rinia memberiku senyum hangat.

“Bagaimana denganku?” celoteh Adikku, masih menggendong ikatanku dalam pelukannya.

“Maaf, Ellie.” Aku menggeleng, saat aku menuju ke dalam tenda pertama.

Orang tuaku mengikuti di belakangku, tampak sedikit bingung.

“Tidakkah Master-mu akan bergabung juga?” tanya ayahku, melihat kembali ke luar sebelum menutup penutup tenda.

“Ada sesuatu yang kalian berdua perlu tahu.”

Suara dan ekspresi wajahku membungkam mereka dari meminta pertanyaan lain, setelah mereka duduk di depanku.

“Sebelum kita memulainya, ada sesuatu yang sudah aku pikirkan dengan panjang dan keras. Itu tentang memberi-tahu kalian apa yang terjadi, setelah aku datang ke dunia ini.”




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_104"