Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_117

gambar

The Beginning After The End


BAE_117

Chapter 117: Langkah Maju dan Kembali

 

#PoV: Arthur Leywin

 

Bahkan, sebelum aku bisa membuka mataku, hal pertama yang aku sadari adalah suara langkah berderit lembut, pada lantai kayu tua. Suara papan lantai bergema di telingaku. Itu memungkinkanku untuk mendapatkan pemahaman yang kabur, dari ukuran ruangan tempatku sekarang.

Bau memabukkan yang kaya dengan bumbu asing dan rempah-rempah, membombardir indraku. Itu menggangguku lebih dari apa pun.

Membuka mataku, hal pertama yang menyambutku adalah bagian bawah atap pondok. Selain rasa kering lidahku karena kekurangan air, tubuhku terasa baik-baik saja. Atau setidaknya, sampai aku mencoba bergerak.

Dengan ngeri, tidak ada respon, ketika aku mencoba untuk mengangkat kakiku. Tak ada sensasi atau umpan balik, ketika aku bahkan mencoba memindahkan apa pun dari pinggang ke bawah.

Aku segera mengangkat selimut yang menutupi tubuh bagian bawahku, hanya untuk melihat jika kakiku telah benar-benar dibalut dan diikat erat dengan pelat kayu, untuk menjaga itu dari bergerak.

“Kakimu baik-baik saja, nak. Aku hanya harus membuat mereka mati rasa, agar kamu tidak merasa sakit sepanjang malam,”

Suara lembut, namun sedikit rapuh itu menarik perhatianku.

Beralih ke asal suara, aku bertemu dengan senyum lembut dari seorang wanita yang hampir melewati masa mudanya. Dia sudah dibumbui dengan tanda-tanda halus dari penuaan.

Walau keriput menandai wajahnya, hal itu tidak menyembunyikan sosok bermartabat dan sikap anggunnya.

Mengenakan jubah abu-abu sederhana yang cocok dengan rambutnya, yang diikat erat ke belakang dan sebagian dikepang.

Pengurusku ini mendekatiku dengan mata berbinar.

Membiarkan keluar napas lega setelah mendengar kata-katanya, aku tenggelam kembali di tempat tidur.

“Bagaimana perasaanmu, nak?” rayunya, sambil menempatkan tangan hangatnya di dahiku.

Aku berkedip canggung.

Hal terakhir yang aku ingat adalah mendaratkan pukulan telak pada Titan Bear, sebelum pingsan.

Aku lalu menoleh ke sekitar, memindai lingkunganku. Aku berada di sebuah ruangan yang luas, cukup terang dan hangat oleh api yang berderak di perapian batu.

Di samping, ada dapur kecil kacau dengan panci dan wajan, dari semua ukuran tergantung di dinding. Atau, ditumpuk tinggi di atas satu sama lain.

Selain sofa berlapis dengan kain usang ditempatkan di sekitar perapian dan meja makan kecil di depan dapur, tidak hal lain di dalam pondok ini.

“Bingung?”

wanita berusia itu tertawa.

“Ya,” jawabku serak, sebelum itu berubah menjadi batuk. Wanita itu segera bangkit dari tempat duduknya di sampingku, dan kembali dengan secangkir air hangat.

Setelah menerima tegukan dari apa yang terasa seperti ‘cairan surga’, aku merasa cukup percaya diri untuk membentuk kata-kata.

“Terima kasih…”

“…Myre. Kamu bisa memanggilku Myre, nak,” ucap wanita itu, sebelum mengambil cangkir kosong dari tanganku.

Saat aku memaksa duduk, rasa sakit yang membakar mulai merangkak naik dari kakiku. Seakan, api cair telah merendam mereka.

Mengira ekspresi sebagai ketakutan, Myre mengeluarkan tawa lembut.

“Jangan khawatir, aku tidak akan memakanmu. Meskipun, aku melakukan sesuatu seperti menculikmu, menjauh dari Windsom. Tapi, itu sebuah keberuntungan. Jika aku segera mengobatimu, aku takut kakimu akan butuh lebih banyak waktu untuk sembuh.”

“I-Ini bukan itu. Kakiku…”

Aku berhasil menjawab dengan gigi terkatup.

“Sepertinya, obatku telah kehilangan efeknya.”

Menempatkan cangkir ke bawah meja di sampingku, Myre mulai mengangkat satu-satunya hal yang membuatku terlindungi dari menjadi benar-benar tanpa pakaian.

Tanganku segera mengulur untuk menutupi ‘itu’ di antara kedua kakiku, yang mana membuat penyelamatku ini tertawa lembut. Dengan hati-hati melipat lembaran kain, sehingga hanya kakiku yang terlihat, ia dengan lembut melayangkan tangannya ke atas kakiku yang diperban.

Saat Myre mulai membuka bungkus perban, aku akhirnya bisa melihat kakiku yang penuh luka. Aku tidak bisa mengerti dan merasa bingung, dengan melihat kaki ini.

Guratan yang tidak pernah aku rasakan, berserakan di kedua kakiku. Lutut dan pergelangan kakiku memiliki banyak luka. Tapi, apa yang paling membuatku bingung adalah, jika bekas luka ini tampak. Seolah-olah, itu telah berada di kakiku selama bertahun-tahun.

Keringat dingin mulai membentuk di dahiku, saat rasa sakit di kaki ini menjadi semakin parah.

Myre mulai hati-hati memeriksa setiap inci dari kakiku, setelah benar-benar melepas semua perban.

Setelah mengangguk puas pada dirinya sendiri, dia membawa ember yang diisi dengan cairan herbal.

Aku tanpa kata mengamati, saat ia dengan rajin memotong dan merendam perban untuk membalut kakiku, dengan jari-jari lincahnya. Aku tidak bisa mengerti dan jatuh ke keadaan tak percaya dari gerakan ritmis dan terampilnya.

“Elder Myre…”

“Silakan, Arthur. Aku akan lebih memilih, jika kamu hanya memanggilku Myre,” ucapnya, perhatiannya masih terfokus pada kakiku.

“Er, Myre, berapa lama aku tak sadarkan diri?”

Aku bertanya, takut jika dengan kakiku yang tampaknya sedang diobati, aku telah pingsan untuk waktu yang lama.

“Hanya lebih dari dua malam, Sayangku.”

Saat dia selesai mengganti perban terakhir di betis kiriku, dia menoleh padaku. Mata hijaunya berkabut saat mempelajariku.

“Sekarang, bagaimana rasanya?”

“Jauh lebih nyaman. Terima kasih,”

Aku meyakinkan dengan rasa syukur, saat rasa sakit mulai mereda. Karena, rasa dingin dari cairan seperti gel, yang direndam ke dalam perban baru.

Menerima rasa terima kasihku dengan senyum tenang, dia mengumpulkan kain yang digunakan sebelumnya, dan membuangnya ke dalam baskom berisi air.

Setelah menuangkan bubuk seperti garam ke dalamnya, dia mengangkat gaunnya dan melangkah masuk ke baskom. Menggunakan kakinya, dia mencuci kain bekas itu.

“Myre, kamu pasti lelah. Biarkan aku mencuci itu untukmu,”

Aku buru-buru menyatakan, saat Aku menghendaki mana ke tanganku, bersiap-siap untuk memanipulasi air di dalam baskom.

“Tidak, tidak apa, sayang. Melakukan hal ini, memberi tulang-tulang tuaku kesempatan untuk mendapatkan beberapa Latihan.”

Dia melambaikan tangan untuk bantuanku, saat tangan lainnya masih memegang ujung gaunnya.

Saat aku terus menatap kosong pada hentakan kain basah, aku tidak bisa mengerti dan bertanya,

“Myre, aku… apa kita masih di dalam Epheotus?”

“Kenapa? tentu saja kita masih di sini, nak. Di mana lagi kamu akan mampu memperbaiki keadaan kakimu?” jawab Myre, sambil terus mempertahankan langkah beriramanya di baskom.

“Aku minta maaf, hanya saja…”

Mataku jatuh ke kakinya.

“Oh. Nak, kamu kira akan lebih mudah untuk melakukan segala sesuatu yang telah aku lakukan dengan mana creation. Tapi, apa yang menyenangkan dari itu?

Bahkan sebagai asura, ada hal-hal yang tidak dapat disimulasikan. Misalnya, dinginnya air antara jari-jari kakiku, saat kain basah membungkus kakiku. Apa yang menyenangkan dari melambaikan jarimu, untuk menggerakkan air?”

Dia menyatakan, memberiku kedipan mata.

Kata-katanya membuatku bingung. Tapi, aku tidak bisa berharap untuk mampu memahami perspektif ras kuno, di mana sihir sudah tertanam ke mereka begitu lekat.

“Maaf, hanya apa yang ada di tempat ini, agak membingungkan bagiku. Bukan maksudku bersikap kasar, dan aku sangat berterima kasih untuk perawatan telitimu. Tapi aku hanya berpikir, jika mungkin mana creation penyembuhan akan mempercepat proses pemulihanku.”

“Jika mantra penyembuhan sederhana dilemparkan padamu, kamu pasti akan pincang, dan tulangmu pasti berbentuk yang sama sekali berbeda,”

Wanita tua itu terkekeh, saat dia mengusapkan handuk ke tangannya dengan sekejap.

Berjalan ke arahku, dia meringkukkan bibirnya menjadi senyum nakal.

“Selain itu, aku juga melakukan mana creation untuk memperbaiki kakimu.”

Myre menjentikkan lengannya padaku. Dan lebih cepat dari reaksiku, ledakan es menyengat melalui dadaku.

Aku segera berbaring kembali di tempat tidur, mataku membuka lebar, saat menatap kabut keperakan yang telah menelan luka, yang dibuat Titan Bear. Saat percikan berkurang, luka berdarah di tulang rusukku mulai menyembuh dengan cepat.

Tawa senang menbangkitkan dari pikiran linglungku. Dan aku melirik ke bawah, untuk melihat Myre merasa gagal dalam tindakannya.

“Seperti itu, setiap kalinya!”

Dia mendesah, tangannya masih diselimuti kabut keperakan.

“B-Bagaimana?”

Aku terkejut, jari-jariku menelusuri luka terbuka yang menjadi semakin kecil, dan menjadi benar-benar mengering.

“Seorang wanita selalu memiliki rahasia, sayangku.”

Suaranya melembut saat dia dengan ‘nakal’ menekan jari ke bibirnya. Meskipun dia sudah pada usia tua, aku tidak bisa mengerti dan merasa malu, dengan perilaku main-mainnya.

Batuk untuk menyembunyikan perasaan itu, aku duduk kembali. meskipun, itu mengangkat sedikit lebih bagian selimut.

“Terima kasih untuk mengobatiku, Myre, serta keramahanmu. Sepertinya, tidak ada banyak ruang di sini.”

“Tidak masalah. Selain itu, pondok tua ini bukan tempat tinggalku. Aku hanya menggunakan tempat ini untuk mendapatkan ketenangan. Dan dari waktu ke waktu, juga mengobati pasien,”

Dia tersenyum, lalu menyerahkanku semangkuk sup hangat.

“Aku seharusnya tidak berada di sini kamu tahu. Tapi, aku ingin bertemu dengan anak manusia yang akan menjadi penyelamat dunia,”

Dia menyatakan anggun, sebelum mengedipkan matanya.

Membalas dengan tertawa lemah, aku meneguk sup dari mangkuk. Segera, kaldu gurih dicampur dengan herbal, menyegarkan menyelimuti lidahku. Itu membuatku untuk dengan rakus melakukan tegukan besar lain, sebelum menaruhnya ke atas meja.

“Jangan pernah mencoba untuk bangun saat malam. Luka-luka pada kakimu tidak sesederhana luka kecil di dadamu. Butuh banyak waktu untuk kakimu mendapatkan kembali kesehatannya. Jadi, beristirahatlah. Itu prioritas terbesarmu saat ini,”

Myre memperingatkan.

“Ada air di meja dalam jangkamuan lengan. Dan jika kamu harus menggunakan kamar mandi, ada pot tepat di samping tempat tidur. Selamat malam, sayangku.”

Myre meninggalkanku dalam pikiranku, dengan satu-satunya sumber cahaya, api yang menggeliat di perapian.

Sejenak aku menutup mata, aku memikirkan kembali api perak yang ia buat, dan aku tersentak bangun kembali dari rasa sakit yang berdenyut tajam. Walau rasa sakit ini tidak terlalu intens, seperti sebelum Myre mengganti perbanku. Tapi, itu cukup untuk membuat kembali jatuh tertidur.

Pondok hampir sepenuhnya gelap selain dari beberapa helai cahaya bulan, yang berhasil melewati atap jerami.

Api telah lama pergi menghilang, dengan hanya aroma asap samar tersisa. Aku tidak yakin dengan tingkat penyembuhanku. Tapi, aku hanya gelisah saat memikirkannya untuk membuang-buang buang waktu.

Meninggalkan gagasan untuk kembali tidur, aku duduk kembali, tegak, dan mulai melakukan hal yang hanya produktif yang bisa aku lakukan di keadaan ini: bermeditasi.

Saat aku berkonsentrasi pada inti mana yang berputar-putar dalam di tulang dadaku, semburan tenaga asing menyambutku. Tiba-tiba, gunung yang telah menahanku untuk mencapai inti silver menghilang. Dan yang menyambutku adalah jembatan untuk menyeberang.

Menyerap mana dari lingkunganku, aku merasa ragu-ragu saat mulai menyuling. Karena, energi tak dikenal mulai dengan lapar mengisap, dan bergabung dengan mana dari inti mana-ku. Rona light yellow di inti-ku lalu bersinar saat mana melonjak ke seluruh tubuhku, mengisi pembuluh darah, otot, tulang, dan kulitku dengan energi berapi-api.

Aku bisa merasakan diriku menggigil tak terkendali, saat inti-ku mulai bersinar terang sampai ke titik tidak berwarna kuning. Tapi, perak cerah.

Energi liar yang berkecamuk di dalam tubuhku, terus menghancurkan perisai di lapisan intiku.

Itu membuat inti silver-ku tumbuh lebih cerah dan terang, dengan setiap energi yang masuk. Aku menahan napas, takut jika sedikit pergeseran akan menghentikan perkembangan yang cepat dari inti mana-ku.

Akhirnya, sumber energi misterius itu mereda, setelah menyempurnakan inti mana-ku, hingga ke puncak pertengahan silver.

Hanya ketika aku berpikir jika transformasi telah selesai, jeritan tajam dari dentang logam mengisi telingaku. Seakan, dinding yang tak terlihat yang telah menahan pikiranku hilang. Tubuhku dengan paksa berubah ke fase kedua dari kehendak Sylvia.

Membuka mataku terbuka lebar, aku bisa melihat rune emas muncul dari lengan dan bahuku. Hal yang mengejutkan adalah, rune ini bersinar dan mulai berubah.

Desain mereka tumbuh menjadi lebih kompleks, karena berbentuk menjadi semacam bahasa kuno. Rambutku yang kusut mulai berubah warna dari rambut alamiku menjadi putih. kemudian, itu kembali ke rambut alamiku lagi.

Benda di dalam pondok mulai gemetar saat jerami dan serpihan jatuh dari atap. Itu mengisi ruangan dengan sinar yang lebih banyak dari cahaya bulan. Namun, meskipun panci dan wajan bertabrakan satu sama lain. Satu-satunya suara yang mengisi telingaku, adalah dentingan logam bernada tinggi.

Sementara rambutku berubah kembali ke warna aslinya, rune baru terbentuk pada tubuhku bersinar terang, saat warna dunia mulai berubah. Segera, satu-satunya warna yang bisa aku lihat berubah ke partikel yang sangat kecil, dan mengambang di sekitarku.

Sesuatu telah berubah.

Selama aku menggunakan Dragon Will, aku biasanya hanya bisa melihat empat warna: satu untuk masing-masing dari empat elemen. Namun, bintik ungu yang mengihiasi kali ini, secara berlimpah bergabung dengan array biru, kuning, merah, dan hijau.

Setelah menggunakan kemampuan ini untuk membunuh Lucas. Aku pikir, aku sudah menjadi lebih baik dalam mengendalikan dorongan yang keras, yang datang dengan menggunakan fase kedua Sylvia’s Will.

Namun, keinginan itu sepertinya menolak tubuhku lebih dari sebelumnya, sampai aku tidak tahan dengan penderitaan, di mana tubuhku terasa terobek terpisah lagi.

Aku melepas Dragon Will, dan seolah-olah seember air telah dilemparkan, untuk memadamkan api yang mengamuk.

Semua energi, kekuatan, dan rasa sakit yang telah tumbuh menggila di dalam diriku tiba-tiba lenyap. Keheningan mengelilingiku, saat aku ditinggalkan dalam perasaan bingung, tak berdaya dan lemah…

Meskipun, aku telah mengalami kemajuan inti mana.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_117"