Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

SCG_489

gambar

The Second Coming of Gluttony

SCG_489

Bab 489. Epilog (1)

 

Beberapa bulan telah berlalu, sejak perjanjian ditanda-tangani.

Paradise menikmati kedamaian yang memang layak. Federation dan manusia sedang menuju masa depan yang lebih baik, tanpa insiden atau pertengkaran besar.

Nah, ada satu kejadian.

Itu yang agak besar yang menimbulkan sedikit keributan di Paradise.

Seol Jihu pensiun dari Valhalla. Tapi, dia tidak pensiun dari paradise.

Tidak lama setelah Perjanjian Setengah Abad ditanda-tangani, Seol Jihu mengundurkan diri sebagai perwakilan Valhalla, dan keluar dari organisasi.

Perwakilan Valhalla.

Di Paradise, itu adalah posisi yang memiliki kekuatan lebih dari enam kerajaan, dan memberikan pengaruh lebih dari Seven Sins.

Sejak dia mengundurkan diri dari posisi seperti itu, wajar jika semua jenis rumor menyebar.

Beberapa mengatakan jika Seol Jihu bosan dengan Paradise dan akan pensiun. Yang lain mengatakan, jika Seol Jihu akan mendirikan organisasi baru untuk memimpin penyatuan Paradise.

Namun, kenyataannya berbeda dari ekspektasi semua orang.

Seol Jihu membuat rumah di sudut gang Eva. Dalam bentuk yang tidak diharapkan siapa pun.

***

 

Aliran ras asing yang konstan, mengunjungi Eva seperti biasa. Karena, kota ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan Federation dan manusia.

Kota itu berkembang dan berkembang dari hari ke hari.

Eva terasa sedikit berbeda dari Haramark.

Seorang pria melihat sekeliling, sambil berjalan. Dia adalah pria kulit hitam tinggi, yang bisa dengan mudah bermain untuk NBA.

“Itu sudah diharapkan.”

Seorang pria tua yang berjalan di sampingnya, menanggapi. Dia ramping dan pendek, sangat kontras dengan pria pertama.

Eva adalah satu-satunya kota, yang selamat dari kehancuran perang terakhir.

Orang tua itu berbicara, sambil mengelus janggut putihnya yang panjang.

“Itu juga kota yang paling awal menerima Federation, dan seluruh kota diberkati dengan benteng pertahanan. Tidak berlebihan untuk mengatakan, jika ibu kota umat manusia bukan lagi Scheherazade, tapi Eva.”

“Hmm… Bukannya aku belum pernah mendengar ini sebelumnya. Tapi, aku harus mengakui itu. Rasanya, itu agak aneh.”

“Haha, aku tidak berbeda. Tapi, begitulah cara dunia bekerja! Kamu mungkin tidur pada suatu malam, dan bangun ke dunia yang sama sekali berbeda. Aku yakin, bukan hanya kita yang merasa seperti ini.”

Orang tua itu tertawa.

Benar, kedua pria itu tidak lain adalah Edward Dylan dan Ian Denzel.

Mereka telah dihidupkan kembali berkat Seol Jihu, dan mendapatkan kembali ingatan mereka. Sekarang, mereka secara aktif berpartisipasi dalam revitalisasi Paradise.

Mereka datang ke Eva hari ini, untuk mengunjungi orang tertentu.

“Baiklah, baiklah, itu cukup obrolannya! Ayo cepat! Bukankah kita datang untuk melihat spesialisasi Eva?”

“Hah? Bukannya kita…”

“Ini hari yang dingin, ayo cepat! Jika kita terlambat satu menit, kita harus menunggu 20 menit lagi!”

Ian mempercepat langkahnya, didorong ke depan oleh angin dingin yang bertiup. Dylan memiringkan kepalanya, saat mengikuti gaun Ian yang berkibar.

“Ini tempatnya.”

Segera, Ian berhenti.

“Kita harus berdiri di belakang mereka. Ini pasti antirannya.”

Dylan berkedip. Antrian panjang orang terbentang, dari gang sampai jalan utama.

Rasanya, tidak seperti melihat halte bus pada jam sibuk. Kerumunan besar orang berbaris, seperti kerumunan yang berkumpul di bandara, selama musim liburan.

“Aku tahu, apa yang ingin kamu tanyakan,” kata Ian pelan.

“Kamu ingin bertanya, apakah spesialisasi Eva begitu enak. Sehingga, pantas ditunggu dalam antrian yang panjang?”

Dylan tanpa sadar menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, aku akan menjawab tanpa ragu-ragu.”

Ian menyeringai.

“Ya.”

“…Tetap saja, antrian ini terlalu panjang.”

“Mau bagaimana lagi. Begitulah populernya tempat ini. Pendidikan, persahabatan, dan hubungan darah. Pengurus kerajaan Eva yang tidak peduli dengan semua ini… secara pribadi mengiklankan tempat ini sebagai produk khusus Eva. Pasti ada alasan, mengapa tempat itu diberi gelar seperti itu.”

“Nah, jika aku menunggu dalam cuaca dingin selama beberapa jam. Aku yakin, aku bisa makan apa saja. Seolah-olah, itu adalah makanan terbaik di dunia.”

“Haha, tapi keadaan tidak terlalu buruk sekarang. Sebelumnya, kamu tidak bisa makan, bahkan setelah mengantri selama empat jam.”

“Seburuk itu?”

“Orang-orang menolak untuk bangun, begitu mereka duduk. Jadi sekarang, ada batasan dua mangkuk per orang. Dan, mereka harus pergi, setelah 45 menit sejak mereka duduk.”

“45 menit. Itu cukup ketat.”

Dylan menggelengkan kepalanya.

“Nah, kamu akan berubah pikiran, setelah kamu memakannya.”

Saat itu, Dylan melihat sepasang suami istri berjalan keluar dari restoran.

“Wow, itu luar biasa.”

“Lihat? Awalnya, aku pikir itu terkenal, hanya karena nama pemiliknya. Tapi…”

Melihat pasangan yang mengobrol riang, Dylan membuat ekspresi bingung. Dia ingat jika dia mengantri belum lama ini. tapi, sudah ada puluhan orang yang mengantri di belakangnya.

Pasangan yang baru saja meninggalkan restoran, juga kembali mengantri. Mereka semua menunggu giliran.

“Aku rasa, aku tidak akan rugi, dengan mencobanya.”

Dylan mengangkat bahu.

Seperti yang dikatakan Ian, antrian bergerak cepat. Tetap saja, dia harus menunggu dua jam, sampai mereka bisa masuk.

Ketika dia memasuki gang setelah berbelok di tikungan, neraka baru terbuka. Itu sangat buruk. Sehingga, dia merasa dibebaskan, ketika dia memasuki restoran kecil dan lusuh, dengan hanya tujuh meja di dalamnya.

“Wah, akhirnya. Apa nama tempat ini? Aku melihat tandanya, tapi tidak sempat membacanya.”

Dylan bertanya, sambil mengusap telapak tangannya yang memerah.

“Inikah ‘Seol Jihu Ramen?’… dengan tanda tanya disertakan. Rupanya, dalam bahasa Korea, ‘-ramen?’ adalah cara singkat untuk mengatakan, ‘Bagaimana jika…?’. Jadi, namanya plesetan dari kata sebenarnya, ramen. Dan, tanda tanya singkat itu…”

Ian tertawa, mengomentari kelucuan nama itu.

“…Uh, oke.”

Dylan menjawab dengan canggung. Setelah menunggu sedikit lebih lama, sebuah kelompok yang duduk di meja di depan dapur, berdiri.

“Ada meja kosong.”

Saat Dylan mulai berjalan ke depan untuk duduk…

“Di sini!”

Sekelompok tiga orang, dipimpin oleh seorang wanita berambut merah, memotong di depan mereka. Dylan hendak mengajukan keluhan, sebelum melihat wajah yang dikenalnya dan menahan diri.

“Ayah…”

Eun Yuri mencari ayahnya, saat dia masuk.

“Hei! Di sini! Apa kamu tak akan menyapa?”

Chohong berbicara dengan berani, sambil tertawa. Dilihat dari protes marah di belakang, mereka sepertinya mengabaikan antrian, dan berjalan masuk.

“Ah, selamat datang.”

Seorang wanita berpakaian seperti pelayan, dengan hati-hati berjalan. Trio itu menutup mulut mereka, setelah melihat wanita berambut emas pink yang berjalan sambil menepuk perutnya.

Masalahnya adalah perutnya buncit.

“A-Apa?”

Chohong berkedip cepat.

“Ah… Aku akan segera melahirkan. “

Teresa tersipu malu.

“Tunggu sebentar. Aku akan membersihkan meja untukmu. Sayangku menyuruhku istirahat. Tapi, aku ingin bergerak…”

Dia tersenyum, dan kemudian menyeka meja dengan kain.

Eun Yuri menatapnya lekat-lekat, sebelum terbang ke depan. Kemudian, dia menekan perut Teresa.

“Ah…!”

Sebuah bantal besar jatuh dari perut Teresa.

Keheningan mengisi suasana sejenak.

“…Chet!”

Teresa mendecakkan lidahnya. Seolah-olah itu memalukan, sebelum dia dengan cepat membersihkan meja dan menghilang.

“Wanita itu mulai gila.”

Chohong berbicara dengan tercengang, sebelum berjalan ke kursi.

“Bagaimanapun, kita akan duduk di sini! Maaf, Dylan dan Pak Tua… eh?”

Namun, dia berhenti, sebelum dia duduk. Itu karena satu jari menunjuk ke arah mereka bertiga, dan kemudian ke pintu.

“Antri.”

Suara yang jelas keluar.

“Ah, hei, antriannya terlalu panjang…”

“Tidak, kamu harus mengantri seperti orang lain.”

Protes Chohong tidak menghasilkan apa-apa.

“Apa kamu tidak terlalu kasar, sayang? Bukankah kita semua adalah rekan?”

“Mantan rekan. Apakah aku masih perwakilan Valhalla?”

Protes Phi Sora juga tidak berhasil.

“Papa…”

“Kenapa aku menjadi papamu, Nona Eun Yuri?”

Upaya Eun Yuri untuk mendapatkan simpati, juga sia-sia.

“Semua pelanggan sama. Bahkan, Seven Sins pun tidak terkecuali.”

Jawaban yang diselesaikan, keluar.

“L-Lalu bagaimana dengan mereka!?”

Phi Sora menunjuk ke sudut restoran. Dua wanita sedang sibuk makan ramen di meja.

Harus ada batasan dua mangkuk per orang. Tapi, lebih dari sepuluh mangkuk ditumpuk di atas meja mereka.

“Kamu akan tahu, jika kamu melihat ke dinding.”

Seperti yang dikatakan kepala koki, selembar kertas tergantung di dinding.

Pemberitahuan itu berbunyi sebagai berikut:

[Aku, Seol Jihu, karena telah melakukan dosa besar kepada Claire Agnes di depan semua orang. Aku akan mengizinkan Claire Agnes dan salah satu rekan pilihannya, untuk memasuki restoran tanpa menunggu.

Dan sampai aku diampuni, Claire Agnes dan rekan pilihannya akan mendapatkan makanan tak terbatas di restoran.]

“Nona Agnes adalah pengecualian, karena kesalahanku.”

Phi Sora menutup mulutnya.

Apa yang dilakukan Seol Jihu hari itu memang di luar batas. Dia mendengar, bahkan Hoshino Urara yang ada di sana saat itu, terkekeh dan memanggilnya orang gila.

“Kalian harus antri.”

Ketuk, ketuk, ketuk, ketuk.

Kepala koki meletakkan Spear of Purity, yang digunakannya untuk memotong bawang hijau, di bahunya.

“Apakah kamu ingin pergi dengan tenang dan menunggu? Atau, apakah kamu lebih suka dibimbing dengan paksa?””

Meskipun Seol Jihu mengundurkan diri dari posisinya, kemampuannya tidak pergi ke mana pun.

Saat energi hebat mulai mengalir keluar, ketiganya menurunkan ekor mereka.

“Baik…”

Phi Sora, Chohong, dan Eun Yuri berbalik dengan sedih.

“Agnes, apa kamu ingin tahu sesuatu?”

Melihat ketiganya berjalan dengan susah payah, Cinzia memasang ekspresi bangga.

“Akhir-akhir ini, aku sangat bangga, memiliki kamu sebagai bawahanku.”

“Jika karena restoran ini, maka aku harus setuju.”

Agnes menjawab dengan bangga.

“Jangan pernah memaafkan dia.”

“Tentu saja.”

Duo itu tertawa di antara mereka sendiri, sebelum menggali ke dalam mangkuk lain. Begitu trio yang memotong antrian pergi, Dylan akhirnya bisa melihat wajah kepala koki.

“Selamat datang! Duduklah di sini!”

Seol Jihu menyapa mereka dengan senyum cerah. Dia mengenakan seragam koki putih dan bandana putih.

Dia juga tidak sendiri. Ada dua wanita di sampingnya, yang mengenakan pakaian yang sama.

Mereka adalah Baek Haeju dan Seo Yuhui.

“Maaf sudah menunggu lama. Ayo hangatkan dirimu sedikit.”

Teresa keluar dengan seragam pelayan, dan meletakkan dua cangkir teh di atas meja.

“Bagus, bagus! Aku akan memesan Seol Jihu Ramen!”

“Hanya ramen? Atau kamu ingin yang spesial?”

“Apakah kamu perlu bertanya? Tentu saja, aku ingin yang spesial!”

“Mm… aku akan memesan hal yang sama.”

Dylan mengangkat tangannya dengan patuh.

Seol Jihu tersenyum.

“Dua Seol Jihu Ramen Special!”

Kemudian, dua wanita di sebelahnya bersenandung, “Dua Seol Jihu Ramen Special…”

“Lama tidak bertemu, kalian berdua. Ini pertama kalinya, kamu datang ke restoranku, bukan, Dylan?”

“Pak Tua ini terus membicarakannya. Penantian itu mematikan.”

Dylan menjawab dengan santai, melontarkan pukulan halus ke Ian.

“Fufu, aku tidak sabar, melihat wajah kagetmu.”

Ian membalas, dan kemudian mengeluarkan sebuah buku tebal.

“Bagaimana kabar Haramark?”

Seol Jihu bertanya, sambil menuangkan air ke dalam panci.

“Tidak jauh berbeda. Nah, itu jauh lebih santai dari sebelumnya.”

“Akan lebih baik, jika Dylan bergabung dengan Valhalla juga.”

“Perwakilan baru memang datang menemuiku beberapa kali.”

“Kim Hannah melakukannya?”

“Ya. Aku akan berbohong, jika aku mengatakan kalau aku tidak mempertimbangkannya. Tapi, aku suka keadaanku sekarang.”

“Tidak masalah. Melakukan apa yang kamu inginkan, adalah yang terbaik.”

Seol Jihu bergerak dengan sibuk, saat mengobrol dengan Dylan.

Kemudian, percakapan terhenti.

Hanya suara Ian yang memindahkan penanya, yang terdengar.

Melihat Seol Jihu yang bergerak dan membuat ramen dengan sangat lancar…

“Seol.”

Dylan tiba-tiba berkata.

“Aku baru-baru ini menemukan reruntuhan.”

Seol Jihu melirik Dylan.

“Tuan Ian juga memastikan keberadaannya. Karena berada di wilayah yang belum dipetakan, akan menyenangkan jika menjelajahinya.”

Dylan melanjutkan.

“Aku datang untuk menanyakan, apakah kamu tertarik…”

Dylan menyilangkan lengannya.

“Tapi sepertinya, kamu sudah bersenang-senang.”

Senyuman muncul di wajah Seol Jihu.

“Setelah aku membunuh Ratu Parasite… aku merasa agak hampa.” kata Seol Jihu.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena aku tidak lagi punya tujuan. Rasanya, seperti aku kelelahan.”

Melihat stopwatch, dia memasukkan mie, segera setelah alarm berbunyi.

“Aku sebenarnya berpikir untuk pensiun, tapi…” lanjutnya sambil memecahkan telur.

“Ketika aku lebih memikirkannya, aku menyadari jika masih banyak yang harus aku lakukan.”

Ian mengangkat kepalanya, dan menatap Seol Jihu.

“Bukan hal-hal yang harus aku lakukan. Tapi, hal-hal yang ingin aku lakukan.”

“Hal yang ingin aku lakukan.”

Ian bergumam pada dirinya sendiri, sebelum memindahkan penanya lagi.

“Dylan.”

Seol Jihu mendongak, dan menatap Dylan.

“Beginilah aku hidup di saat ini.”

“….”

“Itu menyenangkan. Aku menikmatinya, dan aku senang.”

Seo Yuhui berbalik ke samping dan tersenyum malu-malu, sambil melihat Seol Jihu.

Baek Haeju juga menunjukkan senyuman tipis, saat menyiapkan bahan-bahannya.

“…Ya, aku tahu.”

Dylan juga tersenyum.

“Maka sepertinya, ceritamu berakhir di sini.”

Tak.

Ian menyimpulkan, dan berbicara dengan riang.

“Kamu masih menulis novel itu?”

“Tentu saja! Aku sebenarnya berpikir, hari ini akan menjadi bab terakhir. Sepertinya, aku benar.”

Ian menutup bukunya.

“Aku sedang berpikir, untuk mengakhiri cerita utama di sini, dan beralih ke cerita sampingan.”

“Oh, kedengarannya bagus!”

Seol Jihu tertawa, dan mengeluarkan nampan dengan kedua tangan.

“Ini pesananmu!”

“Oooooh, apakah kamu tahu, sudah berapa lama aku menunggu saat ini?”

Ian menggosok sumpitnya, dengan gembira.

Dan setelah mencium aroma pedas yang keluar bersama uap yang mengepul, lubang hidung Dylan pun ikut mengembang.

Mencucup.

Lalu, saat dia menggigit…

“…!”

Dia tersentak.

Apa yang terjadi selanjutnya, sama untuk Ian dan Dylan.

Seruput, seruput!

Duo ini menyeruput mie dalam sekejap mata. memakan kimchi dengan tangan kiri mereka, menjilat jari mereka, dan makan nasi dengan sisa sup.

Terbang, terbang!

Akhirnya, mereka meneguk sisa sup dari mangkuk.

“Bersih!”

“Kuhaaa!”

Bau!

Dylan dan Ian menghela napas, setelah meletakkan mangkuk mereka. Kemudian, mereka secara bersamaan berteriak.

“Tolong, Seol Jihu Ramen Special lainnya!”

“Ya, Tuan…! Dua Seol Jihu Ramen Specials segera hadir!”

Seol Jihu menjawab dengan senyuman.

“Dua Seol Jihu Ramen Specials segera hadir…!”

Baek Haeju dan Seo Yuhui juga balas berteriak, dengan ekspresi ceria.

***

 




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "SCG_489"