Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

LMS_V57E02P02

gambar


2. Hari Pembantaian (2)

"Baunya luar biasa."

"Aku tak bisa makan level makanan ini, bahkan di Castle Aren."

Sebelum perang dengan dragon, bahkan Guild Hermes telah berkeliaran dengan bebas.

Hanya kekuatan Guild Hermes saja, berjumlah lebih dari 300.000. Hidangan terbaik senilai beberapa ratus gold, adalah hal-hal yang mereka mampu beli. Dan makanan adalah masalah yang sangat penting.

Makanan lezat dan bergizi, juga meningkatkan Strength dan Stamina selama pertempuran.

Boemong menggigit sate babi hutan yang diasinkan.

"Mungkinkah Weed menjadi host acara ini. Sehingga, kita mendapatkan makan bagus yang mendukung pertempuran?"

Slayer Calcus juga punya ketertarikan pada daging. Dia mencicipi kaldu daging sapi Morata, yang meleleh di mulutnya.

"Sepertinya, seperti itu. Acara ini menawarkan uang dan ketenaran bagi para chief. Dan itu menyediakan makanan terbaik untuk kita, para player."

Crebulta yang memimpin legiun ke-7 di perang Garnav Plains, juga bersama mereka.

"Khh. Ini cukup enak. Aku merasa berenergi. Tapi, apakah ini akan menambah peluang kita bahkan 1%, untuk melawan dragon? Sepertinya, itu tak ada artinya bagiku."

Para komandan memprediksi, jika efeknya akan minimal. Karena, mereka tak menghadapi monster biasa. Tapi, mereka optimis tentang dorongan moral. Mereka sendiri juga mampu melepaskan diri dari ketegangan sebelum perang.

Boemong meraih sate babi hutan lain, dan berbicara.

"Bukankah kamu pikir, harga ini cukup tinggi? 10 gold untuk satu tusuk sate?"

Crebulta tertawa dan menjawab.

"Kita tepat sebelum perang. Para merchant menjual sedikit lebih tinggi dari biasanya."

Para anggota Guild Hermes merasa ditipu, tapi menerima keadaan. Dan mereka menghabiskan semuanya dengan baik.

***

 

Setiap jalan di Morata terang benderang, dengan obor dan lentera sihir.

Kota kumuh juga menjadi host yang menjadi acara terakhir. Dan semua orang membersihkan barang-barang mereka di rumah mereka.

"Whew, apa yang terjadi? Ini memiliki sidik jari di atasnya..."

"Kamu memilikinya, untuk waktu yang lama?"

"Nah, aku dulu membelinya. itu digunakan dan ditutupi dengan cetakan pemilik lamanya. Aku bahkan tak bisa menggunakannya dengan baik."

Para player di Kota kumuh bergerak atau menjual perabotan dan barang-barang rumah tangga milik mereka.

Melalui gerbang terbuka lebar, para player yang belum mengunjungi Morata, banjir di dalam.

"Ini benar-benar kota yang luar biasa. Aku hanya datang, setelah sekian lama... Seharusnya, aku membeli rumah di sini."

"Ada festival berbeda, yang terjadi di setiap kota."

"Yah mari kita pergi ke salah satunya, dengan cepat."

Para player menikmati malam yang sibuk.

Di Light Square, para bard membuka konser.

Marey, yang dianggap sebagai bard terbaik Versailles!

Dia dan 1.000 player lain memainkan alat musik mereka.

Di satu sisi, mage dan priest memancarkan sinar cahaya ke langit. Dengan cahaya dan musik, panggung bersinar.

"Ayo berpesta!"

Para player menggoyangkan tubuh mereka, dan menari.

Perang hanya beberapa jam lagi. Tapi tampaknya, mereka telah kehilangan semua rasa itu.

Bahkan, anggota pasukan penyerang dan anggota Guild Hermes yang telah berburu sampai sekarang, berbaur bersama yang lain, dan berbagi sukacita di malam itu.

"Hmm-hmm! Maaf tentang itu."

"Kamu harus melihat-lihat temanku... Halo, Carlise-nim."

"Hai, bagimana kabarmu? Kamu berada di sini juga, Lancelot-nim?”

"Aku pikir, itu akan sia-sia, hanya duduk dan menunggu perang."

"Aku harap, kamu bersenang-senang..."

"Untukmu juga, Carlise-nim."

Alun-alun kota begitu penuh, sehingga player secara tak sengaja menginjak kaki satu sama lain.

Pemimpin Guild Black Lion dan komandan Guild Hermes yang memiliki dendam mendalam terhadap satu sama lain, saling menabrak bahu. Tapi, mereka dengan cepat menyelinap pergi.

Itu bukan waktu di mana mereka bisa menempatkan perasaan mereka, sebelum aturan Kekaisaran Arpen. Dan tampaknya, semua yang mereka inginkan malam ini adalah, untuk merasa nyaman dan menikmati festival ini.

Light Square menghibur para player di Morata. Seolah-olah, itu menempatkan mereka di bawah mantra.

"Haruskah kita menari, untuk satu lagu?"

"Tapi, ada begitu banyak orang di sekitar."

Di salah satu sudut alun-alun kota, adalah seorang pria di bawah topeng orc dengan gigi yang menonjol, dan seorang wanita dengan topeng kucing.

Itu Weed dan Seoyoon.

Mereka berjalan di jalan-jalan Morata, tersembunyi di balik topeng mereka.

"Tak ada yang akan mengenali kita."

"Aku belum pernah menari sebelumnya."

"Biarkan tubuhmu mengalir dengan musik. Kamu memiliki indera atletik yang bagus. Aku pikir, kamu akan adaptasi dengan cepat.”

"Aku juga tak pandai berolahraga."

"Jany akan baik-baik saja. Melihatmu menebas monster-monster itu, aku yakin..."

"Apa?"

"Kamu ringan dan cepat."

Weed meraih tangan Seoyoon, dan memasuki kota.

Mereka menawarkan diri mereka pada cahaya dan musik.

Mereka menyatu dengan kerumunan dan menari canggung, tapi bebas. Itu adalah saat yang paling membahagiakan.

Weed menarik tangan Seoyoon, dan kadang-kadang dia memeluknya dengan erat.

"Bagaimana itu?"

"Ini tidak buruk."

"Haruskah kita lebih sering melakukan ini?"

Seoyoon mengangguk, tanpa berkata-kata. Para bard terus bermain, tapi mereka bisa mendengar detak jantung pasangan mereka.

Seoyoon mengenakan pakaian pelancong umum, dan lebih dari setengah wajahnya ditutupi oleh topeng kucing.

[Lalu sesungguhnya…

Kami telah mengetahui…

Apa yang ada di dalam mulutnya…

Apakah itu rencana besar atau lainnya…

Dan apa yang ada di dalam hati mereka…

Tentang apa yang ada di dalam hati manusia itu…

Tak mengetahui… hal itu…]

'Apakah ini cinta sejati?'

Weed pikir, jika dia belajar emosi. Sejak pertama kali bertemu dengan Seoyoon, perasaannya diungkapkan dari nada suara, ekspresi wajah, dan tindakannya.

Meskipun tak ada yang mengatakan kepada mereka tentang kebahagiaan. Mereka yakin, jika sekarang, mereka bahagia.

Bahkan, jika Morata akan menjadi debu oleh Kaybern, momen ini akan bertahan dalam ingatan mereka, selamanya.

Weed mengalungkan tangannya dengan ringan di pinggang Seoyoon, dan menari.

"Sangat beruntung, jika aku tak bisa melihat wajahnya. "

Mata Seoyoon berkilauan, seperti permata di bawah obor.

Weed yakin, jika dia akan kehilangan pikirannya, karena kecantikan Seoyoon.

Sebuah lagu, dan berikutnya.

Seperti mereka lupa akan konsep waktu, mereka berpegangan tangan dan menari.

Para player terus berkerumun ke Light Square. Dan segera, tempat itu menjadi terlalu penuh untuk menari.

"Mari kita lihat sekeliling."

"Kedengarannya bagus."

Mereka menuju ke Yellowy Square, di mana lomba memasak sedang berlangsung. Dan mereka membeli makan dengan semua jenis hidangan.

"Ini sangat lezat."

"Hidangan guritanya enak sekali. Mari kita memilih tempat ini."

"Baiklah."

Mereka bergabung dengan barisan antrian, mencicipi makanan, dan memilih yang lain.

"Karena keadilan lomba, suara dari anonym (orang asing) tak diterima."

Mereka dibatasi oleh merchant Dewan Mapan, yang menyelenggarakan acara tersebut.

"Tolong berikan namamu."

"Weed, apa yang terjadi? Ini Seoyoon."

"Maukah kamu mengulanginya?"

"Weed dan Seoyoon."

"Apakah kamu membawaku untuk..."

Merchant yang hendak berteriak itu dibungkam oleh Weed, yang sedikit mengangkat topengnya.

"Yang Mulia."

Tak ada alasan bagi Seoyoon untuk mengangkat topengnya. Tapi, dia tetap melakukannya, setelah Weed.

"Aku Seoyoon."

"Terengah-engah."

Setelah melihat wajah Seoyoon dari dekat, merchant itu akan pingsan!

"Hei, apa yang terjadi?"

"Ada apa?"

Orang-orang yang berbaris di belakang mereka, mulai menimbulkan kebisingan. Beberapa dari mereka yang berada di dekat merchant, telah melihat Seoyoon. Dan mereka hanya berdiri, dengan rahang terbuka.

"Dewi."

"S-Seoyoon..."

Di tengah persiapan untuk perlindungan Morata, banyak orang melihatnya. Tapi, penampilannya dari dekat, itu tidak nyata.

Weed menggeser kembali topeng Seoyoon.

"Apakah kita siap untuk pergi?"

"Ya, ya."

"Baiklah kalau begitu."

Weed lolos dari lokasi itu secepat mungkin, sebelum keributan bisa meletus.

Mereka berkeliling gang-gang belakang, dan membeli suvenir dari pasar.

Di atas Art Centre, tanpa mata di sekitarnya… mereka berciiuuman dengan penuh gairah.

***




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "LMS_V57E02P02"