Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Support Us: Traktir Ngopi gan...!

SCG_022

gambar

Bab 22. Bintang Bersinar Lagi (2)



[Menembus pengepungan dan bertahan hidup! (Jumlah misi yang tersisa: 15/15)
Selamat dari pengepungan kelompok skeleton!
Kesulitan: Sulit
Ketika berhasil: +1.000 poin Survival.
Ketika tidak berhasil: Kematian
* Party dibolehkan (hingga 6 peserta)]
‘Pengepungan? Skeleton? ’
Perkamen misi menjerit 'bahaya', bahkan melalui pandangan sekilas. Fakta jika misi itu memungkinkan hingga enam orang untuk membentuk sebuah party, menceritakan kisah yang sama. Sangat mungkin, Seol akan menemukan dirinya dikelilingi dari semua sisi, saat dia merobek perkamen menjadi dua.
Namun, tak peduli berapa lama dia menatap, warna misi tetap kuning. Dan warna itu, tanpa diragukan lagi, menandakan jika dia harus memberi perhatian. Seol berdiri di sana, agak ragu karena kata 'pengepungan'. Tapi kemudian, dia ingat jika Kang Seok juga bersinar dalam warna kekuningan.
Jika makhluk yang dia temui berada di level pria itu, maka...
"Aku harus mengambil risiko."
Jika dia bisa bertahan dan sukses, maka dia berpotensi mendapatkan hingga 15.000 poin. Dia akan mengumpulkan hampir setengah dari tujuannya dengan 34.000 poin, dengan satu misi ini saja. Selain itu, orang-orang yang selamat lainnya tak menunjukkan tanda-tanda bahkan menyentuh perkamen ini. jadi, sepertinya cocok untuk situasinya saat ini.
"Tapi aku harus tetap berhati-hati."
Setelah mengambil keputusan, Seol mengeluarkan semua bola sihir yang dimilikinya.
"Akankah racun bekerja melawan skeleton?"
Seol berunding sejenak, sebelum dia memutuskan untuk menggunakannya, meskipun terbukti tak efektif. Dia mengkonfirmasi fakta penting selama membunuh Gaekgwi, jika bola ‘kabut beracun’ itu tampaknya memiliki beberapa unsur gas peledak. Jika dia mengombinasikannya dengan ‘Ignite’, maka ada peluang bagus jika dia akan mendapat manfaat besar. Seperti yang terakhir kali.
"Jadi, sebaiknya menggabungkan keduanya…"
Dia dengan hati-hati memeriksa setiap bola sihir dan membaginya menjadi dua kelompok.
Kelompok yang akan digunakan dalam kombinasi, dan sisanya yang akan digunakan satu per satu. Sangat memalukan, jika tak ada bola sihir yang berhubungan dengan sihir suci atau ilahi.
Itu akan bohong, jika dia tak merasa gugup. Tetap saja, dia memasukkan bola sihir itu ke dalam sakunya, dan meraih palang baja sekuat mungkin, sebelum merobek perkamen itu dengan giginya.
Sensasi yang sudah akrab melewatinya dan pemandangan berubah dalam sekejap.
Lokasi untuk misi ini ditetapkan di dalam ruang seperti gua bawah tanah. Penglihatannya segera mengambil langit-langit di atas, yang tampaknya terlalu rendah untuk disukainya.
"…."
Dan, tepat di depan matanya… Beberapa lusin skeleton berdiri di sana. Seperti yang diharapkannya, semua monster menatap tajam si pengganggu.
"Mereka semua terlihat agak bermusuhan, bukankah mereka…"
Perbedaan antara apa yang ia lihat dalam video game dan kenyataan, ternyata perbedaannya sama besarnya dengan surga dan bumi.
Apa pun masalahnya, rencananya adalah memulai serangannya dengan keras. Seol mengeluarkan kombinasi Poison Fog dan Ignite, kombo yang bekerja sangat baik melawan Gaekgwi . Saat akan melemparkan keduanya, tangannya buru-buru membeku di tengah-tengah aksi.
"…Hah."
Tiba-tiba, dia punya pikiran. Dia berdiri di lingkungan yang sangat berbeda, dibandingkan ketika dia membunuh Gaekgwi. Dia melirik ke belakang dan melihat dinding yang kokoh. Tak ada banyak ruang di sekelilingnya, dan yang terburuk, tak ada ruang untuk mundur.
Tapi, dia berpikir untuk menggunakan gas beracun di sini? Dan juga, untuk membuatnya meledak?
Dia dengan gugup menelan air liurnya, setelah menyadari betapa dekatnya dia dengan bunuh diri, secara tak sengaja. Sejak awal, segalanya berjalan menyamping.
-Kwaaahhhaaa !!!
Tepat di belakang gerombolan undead, satu skeleton yang mengenakan helm pertempuran, meraung. Kemudian, puluhan skeleton ‘normal’ mulai meraung berulang kali bersahutan. mereka mengangkat senjata mereka, dan mulai maju lebih dekat ke posisi Seol.
Menyadari betapa mendesak situasinya, Seol dengan cepat melemparkan bola sihir Ignite terlebih dahulu. Itu menyebabkan ledakan kecil dan merobohkan dua skeleton. Mungkin karena itu digunakan secara independen, efek keseluruhannya jauh lebih rendah daripada apa yang ia harapkan.
Seol berusaha tetap tenang dan mengeluarkan kombinasi keduanya dari saku. bola Spiderweb dan Hydrochloric Acid.
Bola sihir yang dilempar dengan cepat berputar di udara, sebelum puluhan benang perak meledak. Sepuluh skeleton aneh diikat oleh jaring ini. Seol memukul bola Acid sesaat kemudian. Cairan asam menghujani monster tak bergerak. Tengkorak, tulang rusuk, tulang panggul, tulang paha, dll, dilebur dalam sekejap mata. Dan itu membendung gelombang pertama.
Efek keseluruhan lebih atau kurang dapat diterima. Tapi masalahnya adalah, dia masih harus mengurus dua puluh lebih skeleton yang tersisa. Monster-monster ini terus bergerak maju dengan gigi berisik mereka. Meskipun api dari Ignite menyebar dan menangkap beberapa dari mereka, yang terbakar.
Semua ini masih dalam perhitungan Seol. Dia harus mengurangi jumlah mereka sebanyak yang ia bisa, sebelum dia didorong ke dinding. Sementara hati-hati untuk mundur, Seol mengeluarkan lebih banyak bola sihir dari sakunya.
Sinar cahaya yang kuat meledak keluar, dari bola keempat yang ia lemparkan ke udara.
Dengan dengungan keras, bola itu meledak di cahaya yang menyilaukan, dari busur listrik yang menyebar ke mana-mana. Dan itu menyebabkan semacam reaksi berantai. Skeleton itu bergetar tanpa henti, sebelum mereka jatuh ke tanah, seperti boneka dengan talinya. Entah bagaimana, Seol berhasil menghalau gelombang kedua.
-Guaaaah
Dari belakang, skeleton memakai helm meraung marah, sekali lagi. Karena tampaknya, dia lah yang menjadi pemimpin gerombolan undead ini. Amarahnya kurang lebihnya dapat dimengerti. Karena, bawahannya berkurang lebih dari setengah, hanya dalam waktu beberapa tarikan napas.
Skeleton pemimpin itu meraih kapak besar dan bergegas ke depan, sebelum dengan kuat menendang dari tanah.
Tangan tulang itu melengkung ke belakang, dan kemudian melesat ke bawah. Seolah, monster itu ingin memotong pengganggu yang kasar itu, dalam sekali jalan.
Seol tak mengharapkan musuh untuk melakukan serangan udara seperti itu, dan berdiri di sana berkedip dengan linglung. Sementara itu, jarak antara dia dan monster itu menyusut dengan cepat. Dia akan menarik tiga bola sihir lagi. Tapi, dia harus segera mengangkat batang baja, untuk mempertahankan dirinya.
Meskipun dia sedikit ketahuan, selama dia bisa mempertahankan serangan ini, dan mengenai skeleton dengan banyak bola sihir, maka dia akan…
Dentang!!
Tubuh Seol miring ke satu sisi, dan itu agak tak terduga. Matanya tumbuh besar tak percaya.
Serangan di udara yang membawa momentum ke bawah, berisi kekuatan destruktif yang dengan mudah melebihi harapannya. Sudut pertahanan memungkinkannya untuk membelokkan kapak yang turun. Tapi pada saat yang sama, kekuatan tumbukan mendorong lengannya sendiri.
Kapak itu diayunkan lagi dalam garis diagonal dan menghantam batang baja Seol. Seolah, itu bukan apa-apa. Kemudian, Kapak itu berayun kembali ke tulang rusuknya, yang sekarang terbuka.
Matanya berputar secara naluriah dan melihat pergelangan kuat, yang sedang menarik kapak. Kepala Seol kosong, lalu…
‘Aku akan mati di sini?
Seperti ini? Benar?
Tapi, itu hanya warna ‘Diperlukan Perhatian ’, bukan?
Aku masih memiliki bola sihir yang tersisa untuk digunakan, dan aku belum dalam posisi yang tidak menguntungkan …’
Ketika ribuan pikiran masuk dan meninggalkan kepalanya, nalurinya menjerit. Itu memberitahunya, jika sudah terlambat sekarang.
Seol menyerah pada serangan balik, dan segera berputar dengan sedikit refleks yang bisa ia kerahkan. Sambil memaparkan punggungnya, dia berjongkok ke depan sebanyak yang ia bisa.
Mengiris!!
Bilah tajam dari kapak tak memotong punggung penyusup itu, tapi memotong benda yang tersampir di bahunya. Tas tebal yang berisi hampir setiap hal kecil dari toserba.
Pada saat yang sama, kepala skeleton dipantulkan pada permukaan lantai yang halus dan dipoles, yang mengintip dari bawah celah yang terbuka oleh kapak.
Tiba-tiba, seberkas cahaya keluar dari tas, dan menembus rongga mata skeleton itu.
-Kieeeeeee!
Skeleton itu menjerit. Seol hampir terguling dari tumbukan, tapi berhasil menopang dirinya, dengan meletakkan tangannya ke dinding. Dia menoleh untuk melihat.
Meskipun dia linglung dan tertegun, dia masih bisa melihat skeleton itu menjerit kesakitan, karena terbakar. Momen berfikir cepat telah menyelamatkan lehernya, tapi dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dari perubahan situasi yang tiba-tiba.
"A-apa yang terjadi?"
Dia berhasil bertahan, tapi itu tak berarti masalahnya sudah selesai. Dia dengan cepat menarik tas yang berfungsi sebagai perisai indah ke depannya, dan mengobrak-abrik isinya. Dia kemudian menemukan penyebab perubahan itu. Sinar cahaya terang datang dari celah irisan tas.
"Oh."
Mirror of Understanding.
Itu adalah item Spesial yang ia ambil dari mesin draw, yang konon katanya item untuk berurusan dengan almarhum.
Berpikir 'bagaimana jika', Seol menarik cermin dan menyinari skeleton berhelm yang masih terbakar. Setiap tulang di tubuh monster itu segera mulai berubah warna. Segera, monster itu benar-benar menjadi abu, dan berserakan seperti debu.
Tapi itu bukan satu-satunya monster itu. Bahkan yang terperangkap di dalam Spiderweb, bahkan yang tergesa-gesa mundur… begitu cahaya menyentuh mereka, mereka berubah menjadi abu, sambil menangis dalam ratapan sedih.
Dia hanya perlu menyinari cahaya sekali di sekitar gua. Tapi, puluhan skeleton menjadi debu dalam waktu kurang dari satu menit.
 Ketika semua targetnya hilang, permukaan cermin retak, seolah mengisyaratkan jika ia telah mencapai, apa yang dirancang untuknya.
[Kamu telah berhasil menyelesaikan misi kesulitan 'Sulit'.]
[1.000 poin Survival telah ditambahkan ke penghitunganmu.]
[SP Saat Ini: 28.100 SP]
***

Ketika Seol kembali ke alun-alun, keributan kecil muncul.
Setelah 'player yang pertama kali ditempatkan' menghilang dari alun-alun, kerumunan dengan cepat memeriksa misi apa yang telah dipilihnya, hanya untuk terkejut dari pikiran mereka. Bahkan, belum ada satu orang pun di antara mereka yang berani mencoba misi kesulitan Normal. Tapi, pemuda ini sudah menantang kesulitan ‘sulit’? Bukan hanya itu, tapi dia sendirian?
Pendapat itu terbagi rata.
Beberapa mengatakan jika dia telah menggigit lebih banyak daripada yang bisa dikunyahnya. Sementara yang lain mengatakan, jika mereka harus menunggu dan melihat. Dan seperti yang dapat dilihat semua orang, Seol kembali ke alun-alun dalam waktu kurang dari lima menit.
Karena hanya ada satu kemungkinan atas kegagalan misi, yaitu kematian, kemunculannya kembali hanya berarti satu hal.
"Aku tak bisa mempercayainya."
Hao Win bergumam lirih dengan tak percaya.
Dapat dikatakan jika kejutan Hao Win berada pada tingkat yang berbeda, dibandingkan dengan player lainnya di sini. Dia sudah berhasil menyelesaikan beberapa misi. Sambil melakukan itu, dia harus membentuk pandangan tertentu, semacam dugaan terstruktur, dan mengenai bagaimana seseorang harus bertahan hidup di Zona Netral.
Dia yakin, jika dia ingin melakukan misi, dia harus membuat persiapan yang memadai terlebih dahulu, dengan membeli berbagai barang melalui banyak toko, yang ditemukan di sini. Dan juga, bahkan jika dia dapat membentuk party dengan orang lain yang memiliki tingkat kemampuan yang sama seperti dirinya, dia tak mau. Bahkan dalam keadaan apa pun, dia berusaha untuk membersihkan misi yang memiliki peringkat kesulitan lebih tinggi dari 'Normal', setidaknya tidak untuk saat ini.
Mungkin itulah sebabnya, Odelette Delphine pergi untuk mengobrol dengan pemuda yang menempati posisi pertama dari Korea. Tentu saja, dia masih ditolak dengan agak sombong.
Tapi, pria dari Korea itu telah menyelesaikan misi dengan peringkat kesulitan dua anak tangga lebih tinggi dari 'Normal' ini dengan cepat?
“Bagaimana dia melakukannya? Sudah bisa menggunakan sihir… Hmm? ”
Hao Win berpikir untuk lebih dekat ke Seol dan bertanya. Tapi akhirnya, dia memiringkan kepalanya. Seol berdiri di tempat yang sama, tak bergerak seperti patung batu. Ada suasana aneh dan canggung di sekitarnya.
Seolah-olah Hao Win sedang melihat seorang prajurit yang nyaris tak berhasil kembali dari medan perang yang berdarah dan brutal. Ketika Hao Win melihat lebih dekat, tas emas yang sangat ia iri, terbelah hampir menjadi dua bagian. Dan ekspresi Seol sepertinya hilang dan kosong, pada saat yang sama.
Kemudian, Seol mulai menggerakkan kakinya dalam diam.
Kerumunan hanya bisa menatap bagian belakang pria muda itu tanpa kata, yang sedang memanjat tangga dalam langkah-langkah goyah.
***

Seol tak bisa mengingat, bagaimana ia kembali ke kamarnya. Kepalanya sakit dan dia merasa pusing, seolah dia terlalu banyak minum. Setelah mendapatkan kembali fokusnya, dia menemukan seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin.
Rasa dingin merayap naik di punggungnya. Napasnya tampak normal di permukaan, tapi jantungnya terus berdebar. Tenggorokannya terasa begitu kering dan lembap, sehingga dia pikir itu bisa pecah berkeping-keping kapan saja. Dia mengeluarkan sebotol air dua liter dan minum tanpa henti.
Jakunnya menari-nari untuk waktu yang lama. Seol minum hampir setengah dari botol sekaligus. Lalu, dia memaksa kakinya yang gemetar bergerak. Segera, dia jatuh di atas tempat tidur.
Baru kemudian, sensasi untuk kembali hidup dari jurang ini, datang membasuhnya. Jujur saja, pernahkah dia merasakan hal ini, sejak Tutorial dimulai?
Tok, tok…
Dia mendengar seseorang mengetuk pintu dan mengangkat kepalanya. Tapi kemudian, dia memutuskan untuk tak peduli dan menjatuhkan kepalanya kembali ke seprai. Dia tak merasa ingin berbicara dengan siapa pun untuk saat ini.
Ketukan itu berlanjut untuk sementara waktu, tapi ketika tak ada jawaban, itu berhenti.
Seol hanya berbaring di sana dan tanpa kata, menatap langit-langit. Pola kotak-kotak di langit-langit di atas, tampak berputar dalam pandangannya.
Berapa lama waktu berlalu?
Kesunyian yang tebal dan abadi berlanjut. Mata Seol yang ketakutan dan terkejut, perlahan-lahan ditutup, sampai hanya setipis yang tetap terbuka.
"Apakah aku terlalu percaya, pada kemampuanku?"
Perkamen misi itu bersinar kuning. Dia pikir, dia pasti bisa menyelesaikan misi, mengingat pengalaman sebelumnya dengan Kang Seok.
"Atau apakah aku terlalu ceroboh?"
Bukannya dia pikir itu akan berjalan-jalan sesuai rencananya. Dia tahu, itu akan sangat berbahaya. Dia hanya berpikir jika dia bisa mengambil risiko.
"Mungkin, aku terlalu santai…"
Tapi, bukankah dia membuat persiapan? Dia memeriksa setiap bola sihir dan bahkan membaginya menjadi beberapa kombinasi yang mungkin…
Seol berpikir sampai di sini, lalu…
"Apakah aku terlalu tergesa-gesa?"
…Dia benar-benar menutup matanya.
Semakin dia mencoba menganalisis tindakannya, semakin bodoh ia memandang dirinya sendiri.
Setidaknya, dia telah berhasil menyelesaikan misi itu. Atau lebih tepatnya, dia nyaris tak menelesaikannya. Pilihan salah, yang buatnya kembali untuk sekarat dan hampir kehilangan nyawanya. Sebenarnya, dia bisa kembali hidup dan dalam keadaan utuh, sudah menjadi keajaiban.
'Sembilan Mata' miliknya tak berbohong. Ketika dia memikirkannya dengan seksama, misi itu berada pada tingkat, di mana dia bisa menyelesaikannya, jika dia sangat berhati-hati. Dia bahkan memiliki jawaban yang diperlukan, untuk menyelesaikan misinya.
Apa yang akan terjadi, jika dia mengeluarkan Mirror of Understanding saat dia sampai di sana?
Apakah itu almarhum atau skeleton, mereka berdua adalah undead. Jadi, mengapa dia tak bisa memikirkan kesamaan yang jelas ini sebelumnya?
Atau, apa yang akan terjadi, jika dia datang dengan berbagai jenis kombinasi bola sihir?
Hanya dengan mengandalkan pengalaman kecil menyedihkan dari membunuh Gaekgwi, dia pergi dan memilih Poison Fog sebagai garis serangan pertama, dari sepuluh bola sihir yang dimilikinya. Sementara itu, dia bahkan tak berhenti untuk mempertimbangkan, lokasi seperti apa yang mungkin ia temui, setelah teleportasi.
Pada akhirnya, pikirannya yang harus disalahkan. Dia pura-pura tak santai. Dia pura-pura tak terlalu percaya diri. Pikiran dan keserakahan, membutakannya dengan kebutuhan untuk mengumpulkan Poin Survival secepat mungkin.
Minimal, dia tak akan bertindak balik dengan puas diri, selama Tutorial.
‘Tidak, itu tak benar, kan?’
Bahkan saat itu, adakah yang ia lakukan, dengan kekuatannya sendiri?
Semakin banyak pertanyaan secara alami mengangkat kepala mereka yang jelek, ketika Seol ditarik oleh rantai logika ini.
Ketika dia mengusir Gaekgwi di aula pertemuan, apakah itu melalui kekuatannya sendiri? Atau, ketika dia menerobos misi kedua yang penuh dengan perangkap?
Dua peristiwa itu karena Skill 'Visi Masa Depan'. Dia bahkan tak tahu, cara mengaktifkan hal itu sekarang. Dan yang lebih penting, Seol tak membuat pilihan sadar untuk bertindak. Dia hanya diliputi oleh emosi pada saat itu.
Dan kapan dia membunuh Gaekgwi?
Itu hanya mungkin, karena keamanan mutlak dari zona aman yang disediakan.
Bagaimana ketika dia mendapatkan jumlah poin tertinggi selama Tutorial, lalu? Itu semua berkat Diary of Unknown Student yang tak dikenal.
Kemungkinan besar, dia menjadi terlalu sombong. Begitu dia melangkah ke aula pertemuan, dia dikenali sebagai pemegang Tanda Emas dan semua orang sangat menghormatinya. Semua orang berusaha mengikuti jejaknya, dan beberapa bahkan memujanya. Bahkan hal-hal terkecil yang ia lakukan, untuk menarik begitu banyak perhatian. Mereka semua mengatakan, jika dia adalah seseorang yang sangat spesial.
Dia pasti menikmati semua perhatian ini, pengakuan keberadaannya, meskipun secara lahiriah dia menyangkalnya dan tak menginginkannya, bahkan dia tak menyukainya…
2. Ciri-ciri
a. Temperamen:

- Lemah berkemauan. (Memiliki kemauan yang lemah, sehingga tidak dapat membuat keputusan sendiri atau menempel pada yang sudah dibuat)
- pemarah.
b. Bakat:

- Rata-rata. (Normal dalam segala hal. Tidak memiliki bakat atau kualitas tertentu)
3. Kondisi Fisik
Strength
Basic - Basic
Durability
Extreme - Basic
Agility
Intermediate - Basic
Stamina
Basic - Basic
Magic
Advance - Intermediate
Luck
Basic - Intermediate
Poin Kemampuan yang Tersisa: 0

Pada kenyataannya, dia lemah. Jika seseorang mengambil ini dan itu, maka dia benar-benar tak memiliki apa-apa, dan tidak bisa apa-apa.
Dia sudah tahu, apa yang terjadi padanya, saat dia kehilangan kemampuannya. Dia tahu betul, jenis sampah tak berguna macam apa dirinya, namun… Juga, bukankah dia memberi lebih banyak kali ini? Selain kemampuan ajaibnya sendiri?
"Dasar keparat bodoh…"
Dia merasa sulit untuk menahan rasa malu ini.
Seol berdiri kembali dan mencengkeram botol air itu dengan membaliknya. Kemudian, dia menuangkan air ke atas kepalanya. Cairan pendingin turun dari kepalanya, bergegas melewati wajahnya, dan membasahi bagian atas tubuhnya.
Dia mengejek dirinya sendiri. Dia berkata pada dirinya sendiri,
"Kamu menemukan dirimu dalam posisi yang menguntungkan. Jauh lebih baik daripada dibandingkan dengan orang lain. Tapi, apakah ini yang bisa kamu lakukan?"
Bahkan setelah botol itu kosong, Seol tetap berdiri di sana dengan mata tertutup. Dia fokus pada setiap tetes air yang jatuh dari ujung rambutnya. Ketika dia melakukan ini untuk waktu yang lama, angin puyuh dari emosi yang mendidih jauh di dalam perutnya, mulai mendingin.
Saat itulah dia membuka kembali matanya.
"Fuuuu…."
Cahaya keserakahan benar-benar hilang dari matanya sekarang, dan cahaya aslinya kembali.
"Ini tik bisa dilanjutkan."
Dia mulai merenung dari awal, detail dari setiap detail kecil. Bukan hanya ketika dia mulai melakukan misi, tapi saat dia melangkahkan kaki di dalam Zona Netral.
"Mengapa aku begitu terpaku untuk mendapatkan Ambrosia?"
Obsesinya dimulai, saat Maria menyerahkan pamflet… Tidak, itu tak benar. Dia tahu keberadaan toko VIP, bahkan sebelum dia sampai di sini.
‘Mungkin Kamu bisa menggunakan toko VIP…’
…Guide Han.
Ketika Seol mengingat wajah Han, dia juga ingat sesuatu yang ia lupakan sampai sekarang. Kenapa orang itu memilih waktu itu, untuk membisikkan kata-kata itu pada dirinya?
Kenapa dia pergi keluar dari aturan, untuk menyebutkan toko VIP?
Tetesan air masih jatuh dari Seol, saat dia bergerak untuk mengambil tas itu. Dia melemparkannya terbuka dan mengobrak-abrik isiny,a sampai dia menemukan tiga lembar kertas terlipat rapi di dalamnya.
Dia mengambil satu dan dengan hati-hati membuka lipatannya.



< Prev  I  Index  I  Next >

Follow Us