Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Support Us: Traktir Ngopi gan...!

SCG_055

gambar

SCG_055

Bab 55. Dapat Dilakukan, Tak Dapat Dilakukan (2)


Seol Jihu melihat bilah kapak.
Itulah akhirnya.
Saat senjata mereka bertabrakan, campuran mengerikan dari suara yang membingungkan, terdengar di sekitar telinganya. Dan penglihatannya dengan cepat menghitam. Bagian belakang hidungnya terasa sesak dan panas, untuk beberapa alasan. Sensasi lain yang ia rasakan, hilang begitu saja.
Pekikan logam tak lagi terdengar. Dia juga tak bisa merasakan kalua dirinya tertebas. Seolah-olah, waktunya telah terputus.
Tapi, itu hanya berlangsung sesaat.
"…."
Rasa sakit yang mengerikan…
"Ah."
…datang, meski terlambat.
‘Huuaaaaakkk !!’
Jika dia bisa, dia akan berteriak cukup keras, untuk merobek pita suaranya. Namun, rasa sakit yang melumpuhkan, tik memungkinkannya untuk membuka mulut.
Mungkinkah ini digambarkan sebagai rasa sakit yang ia rasakan, dari darahnya yang mengalir terbalik?
Rasanya, semua tulangnya hancur dan dagingnya meledak berkeping-keping. Sensasi otot-otot pundaknya yang tercabik-cabik dan hancur berkeping-keping, adalah rasa sakit pada dimensi lain. Siksaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata belaka.
Apa yang membuatnya merasa lebih putus asa adalah, kenyataan jika dia tak bisa merasakan apa pun di kedua lengannya.
Tak seperti dirinya tak bisa menggerakkan lengannya, tidak… tidak, itu lebih seperti, mereka bahkan tak lagi ada di sana. Dia bahkan akhirnya berpikir jika tangannya telah hancur karena kekuatan tabrakan.
"Aku seharusnya tak meningkatkan…"
Penyesalan bergegas masuk, meski terlambat. Jika dia dipekerjakan sebagai porter, dia seharusnya diam dan tetap di tempatnya. Kenapa dia harus melangkah di sini?
"Apakah aku mati?"
Dia sekarang hanya memperhatikan, jikia lingkungan sekitarnya menjadi sunyi. Semua suara yang memekakkan telinga, menghilang. Seolah-olah, dia berada di bawah air.
Apakah dia tuli, atau dia mati?
Seol Jihu berpikir seperti itu. Tapi kemudian, dia menyadari ada sesuatu yang salah.
Jika dia benar-benar mati, maka dia seharusnya tak merasakan sakit. Karena dia merasakannya, lalu…
“…!!”
Pikirannya sadar dalam sekejap. Matanya terbuka lebar.
Hal pertama yang dilihatnya adalah kapak besar, begitu dekat. Sehingga, hampir menyentuh bola matanya. Faktanya, dia bahkan bisa menangkap getaran halus pedang itu.
Kedua tangannya, yang menurutnya akan patah, masih melekat di pundaknya. Batang tombak yang dipegang dengan kedua tangannya, ditekan oleh kapak itu, dan menghentikannya agar tak jatuh kepadanya.
Ekspresi Seol Jihu menjadi bingung. Meskipun dialah yang melakukan ini, ekspresinya menunjukkan ketidak-percayaannya sendiri.
Meskipun bahunya terasa seperti akan hancur dalam waktu dekat, dan lengannya gemetar, seolah-olah dia menjatuhkan tombaknya, walaupun hanya dengan sedikit dorongan.
Tapi, jika ada sesuatu yang tak bisa diambil orang darinya hari ini. Itu berarti, dia masih berdiri dengan di sini, dan menolak kematian dengan susah payah.
Ini adalah momen kritis, di mana satu kesalahan dapat menyebabkan penghancuran ekspedisi. Namun, Seol Jihu berhasil bertahan, melawan serangan yang datang kepadanya, tanpa peringatan.
-Hrrrr?
Namun itu belum berakhir. Jarak antara dia dan monster itu cukup dekat. Terkejut karena serangan tiba-tiba, tapi Lioner betina itu tahu, jika manusia di depan tak cocok dengan itu. Memang, dia sangat lemah, jika kekuatannya meningkat sedikit lagi, dia akan terinjak-injak.
Jadi, tangan yang memegang kapak mengeluarkan suara meremas, saat monster itu meningkatkan kekuatannya. Hanya sedikit, sedikit lagi, menginjak-injak manusia, dan kemudian…
"Uuuuaa!"
Seol Jihu mengeluarkan erangan, saat tekanan itu meningkat ke level lain.
Kegembiraan hidup yang ia rasakan, hanya berlangsung selama sepersekian detik. Sensasi bilah dingin yang menekan dahinya, bisa dirasakan sekarang. Darah menetes ke bawah dan menggenang di sekitar matanya. Saat pandangannya memerah, pikiran untuk menyerah memasuki pikirannya.
Pikiran-pikiran itu berbisik, jika itu adalah mukjizat yang telah ia alami sampai sekarang. Perlawanannya adalah hal yang mustahil, saat ini dia akan mati.
Saat pikiran-pikiran itu memasuki pikirannya, 'emosi' yang telah diam-diam tenggelam di bawah kesadarannya, tiba-tiba dengan kasar menyerang balik. Dia merasa seperti ditarik keluar dan ditempatkan kembali di tanah yang kokoh, setelah dia turun semakin dalam di bawah laut yang tak berdasar.
'Tapi kenapa?'
Apakah dia langsung mengambil kesimpulan dan menyerah? Bukannya dia sudah mengeluarkan semua yang ia bisa.
"Keuk !!"
Dia menggenggam poros tombak dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Telapak tangannya pasti robek karena sakit. Tapi, dia tak peduli. Pandangannya yang tajam ke arah musuh, semakin tajam.
Serangan kuat yang ia rasakan, berubah menjadi tekad tak ingin mengakhiri hal ini lebih dulu.
Pikiran menyerah, memberitahunya lagi tentang hal yang tak mungkin ini. Dan tekatnya itu berubah menjadi keinginan yang keras untuk mengatakan kepadanya, untuk tak menyerah.
Dan akhirnya, keputus-asaan memberi tahu dirinya, jika dia yang tak bisa melakukan itu, berubah menjadi dia benar-benar bisa melakukannya.
Mata Seol Jihu, setelah terperangkap dalam keburaman dan ketidak-pastian, mendapatkan kembali sinar mereka, saat dia mulai 'menyangkal' semua pikiran negatif di kepalanya.
"Keuh!"
Dia mengambil napas dalam-dalam, dan…
"Keuhkk !!"
Dia memanggil setiap kekuatannya yang tersisa, dan mengedarkan setiap tetes mana ke seluruh tubuhnya.
Kekuatan tersembunyi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menyembur keluar dari dalam dirinya. Energi luar biasa dan mendidih yang mengalir keluar seperti gelombang pasang, terkonsentrasi pada lengannya. Tombaknys mulai berdengung, dengan suara aneh.
Wajahnya memerah. Semua ototnya menggelembung, dan sarafnya melotot kencang, hingga hampir pecah.
Menggertak!
Seol Jihu mengertakkan giginya, dan perlahan-lahan mengangkat tangannya lebih tinggi.
Pada saat itulah, semua orang di sekitarnya dapat melihat 'itu'. pemandangan yang sepenuhnya menentang semua akal sehat.
Jika seseorang menjadi lebih spesifik, maka…
"Keeeuuuuaahhhh !!"
…itu adalah tempat tombak Seol Jihu, perlahan-lahan memaksa mundur kapak Lioner betina itu.
Kapak yang menyentuh wajahnya, didorong ke atas kepalanya. Lalu perlahan-lahan, kapak itu naik semakin tinggi di udara.
Lioner betina itu juga memberikan semua yang dimilikinya. Buktinya, lengan yang memegang kapak, bergetar hebat. Bahkan kemudian, senjata itu tetap naik perlahan perlahan, seolah-olah dia sedang mengangkat beban berat.
Menghadapi kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya yang terus tumbuh lebih kuat, mata Lioner betina mulai menunjukkan tanda-tanda panik, untuk pertama kalinya.
Saat itulah, tubuh Seol Jihu miring tak seimbang untuk sesaat.
Alasannya sederhana. Itu karena, Lioner betina tak tahan lagi dan mundur beberapa langkah.
Itu benar…
Monster itu mundur. Dan hasil dari itu adalah, ekspresi tak percaya yang terukir di wajah para anggota ekspedisi. Serta, pemimpin Lioner yang menatap pemandangan itu.
Ini adalah peristiwa yang seharusnya tak terjadi, dan pemandangan yang mereka saksikan benar-benar menghancurkan akal sehat mereka. Meskipun itu hanya untuk sesaat, Warrior Level 1 tak hanya berhasil menekan monster yang konon lebih kuat dari Warrior Level 4, tapi lelaki ini bahkan memaksanya mundur!
"Aku harus menikamnya…"
Begitu Seol Jihu kehilangan tujuan dan targetnya, semua kekuatannya menghilang. Kakinya menyerah, dan lututnya jatuh ke lantai. Perasaan kelelahan telah menguasai seluruh tubuhnya. Yang bisa ia lakukan adalah bertahan seperti ini, tanpa sepenuhnya jatuh ke tanah.
Lioner betina secara naluriah mengangkat kapak tinggi, saat melihat Seol Jihu di tanah, dengan napas yang acak-acakan. Monster ini tahu jika dia harus membunuh si Mage, tapi ketakutan yang dirasakannya baru saja, membunyikan lonceng di kepalanya. Suara itu mengatakan, jika manusia ini harus mati dulu.
Pzzzt !!
Pada saat berikutnya, satu garis listrik melewatinya seperti bilah cahaya, dan memotong tangan kanan Lioner betina. Kapak itu jatuh tak berdaya ke tanah, dan Lioner betina itu berteriak, merintih sedih.
Seol Jihu menyaksikan dengan wajah bingung, tapi dia merasakan tangan besar menampar punggungnya tiba-tiba.
"Kuk ?!"
“Anak baik!! Bagus, sangat bagus!"
‘Kapan dia datang?’
Dylan yang selalu tenang, menyeringai dengan sangat gembira dan sangat bergigi.
"Ahahaha!"
Setelah itu, dia merasakan seseorang dengan ringan menggosok bagian atas kepalanya. Chohong berjalan melewatinya, dan memandangnya sejenak atau sebelum dia juga tertawa riang.
"Euhah, ahahaha!!"
Samuel tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, dan menampar pundak Seol Jihu, saat dia melewati pemuda itu.
"Ini, orang-orang ini ?!"
Dia sudah setengah mati, dengan seluruh tubuhnya yang sakit!
"Mengapa kamu….!!"
"Uwaahk ?!"
Seol Jihu hendak berteriak, "Mengapa kalian terus memukulku?" Tapi kemudian, Hugo berteriak terlebih dahulu.
"Uwaaaah !!"
Hugo berteriak lagi, seolah-olah emosi yang tak bisa ia kendalikan masuk. Dan wajahnya menunjukkan campuran kegembiraan, sukacita, dan kebahagiaan yang ekstrem.
Seol Jihu menatap seperti idiot, pada Hugo. Ketika pria besar itu dengan penuh semangat menggenggam kapaknya, yang telah terayun dengan berbahaya, sampai sekarang. Tiba-tiba, Pemuda itu merasakan seseorang dengan erat memeluk lehernya. Itu Alex.
"Sudah selesai, dengan baik!! Bagus sekali !! ”
Alex berteriak dengan suara yang sangat gembira, dan pada tingkat yang ia mau, dia bahkan mungkin mulai mencium pemuda itu.
"Seol mempertaruhkan nyawanya, dan menciptakan kesempatan ini untuk kita."
Dylan berbicara, gagal menyembunyikan kegembiraannya sendiri.
“Hanya sedikit yang tersisa. Bunuh mereka semua!!"
“Wuoooooooohhh!!”
Pertarungan Seol Jihu yang bagus, mendorong semangat para anggota ekspedisi lain. Dan mereka semua menerkam maju, dengan semangat juang yang baru.
Tak lama kemudian, Forest of Denial dipenuhi dengan suara senjata yang saling beradu dan teriakan para Lioner.
***

Pertarungan berakhir, segera setelah itu. Memang benar untuk mengatakan, jika hasil pertempuran telah diputuskan, saat serangan mendadak dari Lioner betina telah gagal.
Pemimpin Lioner merencanakan agar si Mage dan priest terbunuh. Dan dengan demikian, itu mengubah aliran pertempuran ke arah mereka. Namun, gangguan dari Seol Jihu tak masuk dalam perhitungannya.
Meskipun tak ada yang mati, ekspedisi tak punya waktu untuk menikmati istirahat, yang diperoleh dengan baik. Segera setelah pertempuran berakhir, Ian menggunakan mantra 'Motus Stabilitatem' yang telah ia 'hafalkan'. Dan kemudian, mereka semua harus minum satu botol ramuan yang tak diketahui.
Hanya setelah mereka menenangkan diri dari kegembiraan pertempuran, para anggota ekspedisi menemukan kesempatan untuk mengatur diri mereka dengan benar. Alex pada dasarnya tinggal di sebelah Hugo, yang telah menerima luka terbanyak dari mereka semua. Dan dia terus melantunkan Divine Magic. Sementara itu, yang lain hanya puas dengan Heal Potion.
Sementara Dylan, Samuel, dan Ian bertukar pendapat dengan wajah muram. Yang lain berkeliling, mengambil item perang yang dijatuhkan Lioner.
Lioner cenderung tak pernah meninggalkan daerah, yang mereka tunjuk sebagai rumah mereka. Jadi, insiden serangan kelompok yang berisi Lioner pemimpin dan wanita untuk melakukan perjalanan sejauh ini ke Forest of Denial, bukanlah sesuatu yang bisa mereka abaikan.
Tentu saja, masalahnya adalah mereka tak dapat menemukan alasan, mengapa makhluk-makhluk ini yang biasanya hidup di pegunungan di luar hutan, memutuskan untuk pergi sejauh ini.
Ian berpikir sejenak, sebelum perlahan membuka mulutnya.
"Ini seperti membaca tentang invasi Barbar, selama Periode Migrasi kembali ke Bumi."
"Maaf?"
Dylan menjawab dengan bingung, ketika tiba-tiba disebutkan tentang sejarah Eropa. Ian hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, jangan pedulikan aku. Lagipula itu hanyalah spekulasi. Benar, aku akan bertanggung jawab penuh dan melaporkan masalah ini kepada keluarga kerajaan, segera setelah kita kembali. "
Tak bijaksana untuk menunda masalah yang tak bisa mereka selesaikan. Ian berpikir seperti itu, dan mengalihkan pandangannya ke Samuel.
"Dan, untuk ekspedisi…"
"Aku ingin melanjutkan, jika tak apa-apa denganmu."
Samuel berbicara, seolah dia sedang menunggu saat ini.
"Itu pasti di dekatnya. Karena itu bukan sebuah makam yang diselimuti misteri. Peluangnya untuk disembunyikan sangat rendah. Jika aku gagal menemukannya dalam satu jam, tidak, 30 menit, maka kita akan segera berhenti dan kembali. "
Daripada dia dibutakan oleh keserakahan, dia terdengar jauh lebih putus asa daripada yang lain. Ian menghela napas dengan lembut, dan menatap Dylan.
"Apa pendapatmu?"
Dylan mengatur pikirannya terlebih dahulu, dan berbicara.
"Berapa kali kamu bisa mengucapkan mantra itu?"
"Dua kali lagi. Tapi aku masih punya cukup potion. ”
“Kalau begitu, mungkin satu jam bisa dilakukan. Karena kita telah mengalahkan para Lioner, tak ada bahaya langsung yang kita dihadapi. Dan yang lebih penting, tak ada yang mati hari ini. Tapi, dengan Alex kehilangan artefaknya, dan senjata utama Seol yang sekarang rusak. Kita juga harus mempertimbangkan kekuatan tempur kita yang melemah, secara keseluruhan. ”
"Mm? Senjata teman itu rusak? "
"Itu yang aku dengar."
Dylan mengalihkan pandangannya ke Seol Jihu, yang dengan putus asa mengambil pecahan-pecahan tombaknya yang hancur dari tanah. Chohong melakukan yang terbaik untuk menghiburnya, sambil mengikutinya. Segera setelah pertarungan berakhir dan dia menarik Mana-nya kembali, retakan terbentuk pada ujung tombak, dan pecah menjadi ratusan keping kecil.
"Yah, senjata itu memang menerima dampak serius saat itu, bukankah begitu?"
Ian bergumam pada dirinya sendiri, dan kemudian memiringkan kepalanya sedikit. Sesuatu terasa aneh di sini. Jika itu patah setengah, tentu. Tapi, untuk tombak bisa hancur seperti itu? Tapi, ketika dia memikirkannya, itu sudah di luar jangkauan akal sehat. Bagaimana bisa tombak dan penggunanya bisa bertahan melawan dan mengalahkan Lioner betina, meskipun hanya untuk sesaat.
"Jika bukan karena teman itu di sana, aku akan menjadi daging mati sekarang."
"M-maafkan aku. Aku tak mengharapkan yang lain muncul, dari belakang kita. "
Samuel buru-buru menyampaikan permintaan maafnya, membuat Ian tertawa kecil.
"Tak apa-apa. Bahkan aku tak berharap betina itu untuk ikut campur."
"Bahkan kamu, Tuan Ian?"
“Rasio jenis kelamin di antara Lioner sangat mendukung laki-laki. Itulah sebabnya, kelompok itu akan melindungi setiap betina yang lahir di tengah-tengah mereka, dengan segala yang mereka miliki. Mereka mungkin dilahirkan dengan kecakapan tempur yang luar biasa. Tapi, mereka jarang berpartisipasi dalam pertempuran… Yah, bagaimanapun juga…”
Ian menggosok janggutnya, sebelum membentuk senyum yang menyegarkan.
"Jika kamu setuju untuk membantuku, Aku juga akan setuju untuk melanjutkan."
"Membantu, katamu?"
Ian menurunkan suaranya dan berbisik. Samuel tersenyum cerah dan mengangguk.
"Baiklah, mari kita lakukan itu. Aku sebenarnya memikirkan hal yang sama.”
"Baiklah kalau begitu. Ayo pergi."
Ketiga pria itu mendekati Seol Jihu. Ian membungkuk dan mengambil sepotong tombak yang hancur di jalan, dan sekilas pemahaman berkedip di matanya.
"Oho. Tombak ini penuh dengan sihir, ya? "
Seol Jihu melihat ke belakang. Dia berusaha yang terbaik untuk terlihat tak terlalu sedih. Tapi, dia masih gagal untuk sepenuhnya menyembunyikan kekecewaannya.
"Apakah kamu membeli ini di Zona Netral? Itu bukan sihir yang luar biasa atau apa pun. Tapi sepertinya, itu bisa mengurangi kekuatan serangan, sedikit… Apakah itu alasan, mengapa kamu bisa menahan serangan itu?”
Sebenarnya, itu lebih tepat untuk mengatakan jika tombak itu rusak, setelah tak mampu menahan Mana Seol Jihu.
Tentu saja, Ian membuat asumsi yang salah, karena dia tak tahu statistik Mana Seol Jihu, yang berada pada level High-Intermediate. Di mana itu tak masuk akal. Bagaimanapun juga, Seol Jihu hanya seorang Warrior Level 1.
Apa pun masalahnya, itu adalah masalah besar bagi Seol Jihu. Dia telah membeli tombak termahal yang tersedia di Zona Netral, setelah memberikan banyak pertimbangan. Tapi itu rusak, sebelum dia memiliki kesempatan untuk menggunakannya dengan benar. Dia melakukan yang terbaik untuk menekan emosinya, karena Forest of Denial. Tapi, jika berbicara dengan serius, dia merasa sangat sedih saat ini.
Saat bahu Seol Jihu terkulai lebih jauh, Ian terbatuk untuk membersihkan tenggorokannya, dan memberi isyarat dengan matanya. Samuel mengambil satu langkah lebih dekat dan dengan ringan menepuk punggung pemuda itu.
“Jangan terlalu tertekan, oke? Aku membawakanmu dua kabar baik! "
"…?"
“Untuk saat ini, kami memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi. Jika pikiranku benar, maka kita harus segera menemukan makam itu. ”
"Baik."
"Dan, mungkin ada tombak yang sangat bagus menunggu untuk ditemukan, di dalam makam itu. Tidak, itu tak masalah, bahkan jika itu bukan intinya. Jika kami menjual beberapa barang berharga yang kami temukan di dalamnya, Kamu akan dapat membeli beberapa tombak bagus! "
Seol Jihu mengangguk sambil kesal. Seorang porter tidak memiliki hak, untuk menuntut hak untuk memiliki artefak yang ditemukan selama ekspedisi. Dengan kata lain, dari sudut pandangnya, tik ada banyak perbedaan, apakah ekspedisi berjalan atau tidak. Jadi, apa kabar baiknya?
"Dan juga…"
Samuel mengambil tas di sebelah pemuda itu, dan memanggil penduduk lokal. Dia sudah merasa agak tak senang pada mereka berdua, yang tak melakukan apa-apa, dan membuang semua barang bawaan di pundak Seol Jihu. Samuel 'menitipkan' tas itu ke dua Poter lain, dan menatap Seol Jihu dengan mengedipkan mata.
Seol Jihu menatap dengan ekspresi bingung, sebelum kulitnya cerah. Dia akhirnya menemukan alasan di balik tindakan Samuel.
"Benarkah?"
"Tentu saja! Bukan hanya diriku, tapi baik Tuan Ian dan Dylan juga setuju. Lebih penting lagi, jika kita tak mengakui Warrior yang berhasil menahan Lioner betina, sebagai salah satu anggota ekspedisi. Lalu, bagaimana kita bisa berpikir untuk mengakui orang lain? "
Samuel tak hanya mengatakan hal-hal itu. lelaki ini sebenarnya berarti bagi mereka. Apa yang Seol Jihu telah capai, adalah sesuatu yang bahkan Grace, Level 3, tak akan bisa lakukan.
"Tapi, kamu harus mempersiapkan dirimu, teman."
Samuel melingkarkan lengannya di bahu Seol Jihu, dan membentuk senyum menggoda.
"Karena kita masih di tengah ekspedisi, kita menahan diri. Tapi begitu kita keluar dari tempat ini, kamu pasti akan dihujani oleh pertanyaan kami. Ada banyak hal yang membuat kami penasaran. "
Seol Jihu tak keberatan dengan hal seperti itu.
Untuk saat ini, dia hanya benar-benar senang diakui sebagai anggota ekspedisi. Sesuatu yang sangat ia harapkan, sejak semua ini dimulai. Tentu saja, dia tak bisa mengungkapkan kebahagiaan itu, karena mereka masih di dalam Forest of Denial.
Tak lama kemudian, Samuel mengumumkan Warrior Level 1 sebagai anggota baru dalam ekspedisi, dan membuat formasi baru. Namun, tak ada yang berubah. Satu-satunya perbedaan adalah, posisi Seol Jihu sekarang telah bergeser ke kiri, tepat di sebelah Chohong.
Begitu mereka selesai dengan persiapan, ekspedisi melanjutkan perjalanan mereka.
Dan sekitar 20 menit kemudian, Samuel menemukan makam itu, seperti yang dijanjikannya.




< Prev  I  Index  I  Next >

Follow Us