Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Traktir Ngopi gan...!

TPS_162

gambar

TPS_162

Bab 162 - Pemimpin di sini !?


Awan tebal telah menghalangi matahari, dan kesibukan cahaya telah dimulai.

“Aku melakukannya untuk tujuanku sendiri. Mengikutimu, setidaknya lebih baik daripada mendengarkan gadis bodoh ini. ”

“Sangat bagus. Aku juga tak peduli, asalkan Kamu melakukan apa yang diperintahkan. ”

“Aku berharap akan mendapat kompensasi dengan baik, begitu Lord Doem mendapatkan kerajaan ini.”

“Kamu akan.”

Clara hanya bisa menatap dengan kaget, ketika Guin dan Maximilian berbicara dengan santai.

Dia pikir, jika itu saudara perempuannya, hal seperti ini tak akan pernah terjadi.

Jika di tempatnya sekarang adalah Rose. Seperti yang dimaksudkan semula, mereka tak akan menderita begitu banyak pengkhianatan yang kejam.

Karena saudara perempuannya kuat, dapat diandalkan. Sehingga, semua orang percaya kepadanya.

Clara tak bisa menjadi seperti itu, tak peduli seberapa besar usahanya. Karena dia tidak kuat, Guin telah mengkhianatinya. Karena dia tidak kuat, Batt ditebas.

Dan sekarang, mereka berada di ujung tanduk.

“Seharusnya dia, bukan aku…”

Bukankah itu penyebab utamanya?

Dia, seorang gadis yang tidak tahu apa-apa, tak bisa berdiri memimpin orang lain. Kakaknya, setidaknya akan mencurigai Guin.

Bahkan dia telah mendengar pembicaraan jika seorang pengkhianat mungkin ada di tengah-tengah mereka.

Tapi, dia bahkan tak bisa membayangkan, kalau itu adalah Guin. Pria yang sudah lama melayani keluarganya.

Berpikir kembali, ada banyak poin di mana lelaki itu tampaknya merencanakan sesuatu. Tapi, dia melambaikan pikiran itu sebagai imajinasi.

Semua orangnya telah berjuang begitu keras, dan mereka bahkan mendapat bantuan dari Shadow. Namun, dia masih kalah.

Clara menangis. Dia merasa tak enak, bagi orang-orang yang menaruh kepercayaan pada dirinya, dia sangat menyukai Batt.

“Apakah kamu melihat ini, OWL! Tunjukkan dirimu sekarang! jika kamu peduli dengan nasib gadis ini! ”

Hanya Maximilian yang berbicara di halaman, yang perlahan-lahan dipenuhi salju.

Angin bertambah kuat dan salju turun seiring dengan itu, menciptakan tirai putih.

“Tak ada orang lain untuk memimpin kaum Royalis, begitu gadis ini meninggal. Bagaimanapun juga, semua kerabatnya yang lain akan mati. ”

Darah, itu benar, darah. Maximilian benar. Clara hanya dipilih karena darah bangsawannya. Bukan karena dia adalah pemimpin yang baik.

Namun, ada orang-orang yang benar-benar percaya padanya, dan tetap bersamanya.

Clara menyeka air matanya dan memandang tanah yang dingin tempat Batt berbaring. Darah yang telah menyebar dari bawahnya, berwarna merah salju saat jatuh.

Punggungnya bergerak perlahan.

Dia masih hidup.

Dia mungkin masih bisa menyelamatkannya.

Jadi, pertarungannya, pertarungan Clara belum berakhir.

“Aku akan menunggu 10 detik lagi. 10… 9… 8… 7… 6… ”

Clara mulai berpikir. Apa yang bisa dia lakukan?

Sesuatu, apa saja, dia hanya perlu menemukan …

“5… 4… 3…”

Clara melihat sekeliling dirinya, dan kemudian dia melihat sesuatu.

Di belakang Maximilian berdiri seorang pria dari Doem Camp. Pria yang telah memperingatkannya, tentang pengkhianat di antara faksi-nya.

Dia menatap Clara, dia sedang menunggu perintah wanita itu untuk menyerang.

Clara mengangguk.

Ya, masih ada seseorang yang percaya padanya.

“2… 1…”

Maximilian berhenti menghitung.

“…Apa artinya ini, Zack?”

Zack memegang pisau di leher Maximilian.

“Lihat tukang kebun itu berdarah di sebelah sana… Itu tuanku,”

Zack berbicara dengan amarah, meredam suaranya.

“Oh, jadi kamu pengkhianat kami, setelah semua… Mungkin, selamat dari penjaga kerajaan rahasia? Aku ingat mereka semua dieksekusi. ”

“Aku masih trainee.”

“Orang yang lemah, kalau begitu… Aku rasa, aku seharusnya lebih teliti.”

“Aku mungkin lemah dibandingkan denganmu. Tapi, bahkan kita yang lemah memiliki cara untuk bertarung. Sekarang, silakan biarkan Yang Mulia bebas, bos.”

Zack membawa pisaunya di leher Maximilian.

“Aku bertanya-tanya, haruskah aku…?”

Kata Maximilian sambil menghela nafas bosan.




< Prev  I  Index  I  Next >

Posting Komentar untuk "TPS_162"

Follow Us