Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Support Us: Traktir Ngopi gan...!

SCG_306

gambar

SCG_306

Bab 306. Berputar-putar (1)

Mereka memiliki petunjuk baru. Merangkum temuan itu, Evangeline Rose dan Adam Galaev berbagi tujuan yang sama. Namun dalam proses mencapai tujuan itu, pendapat mereka berbenturan. Mereka tidak dapat berkompromi dan berpisah.

Adam Galaev terus mencari kerja sama sesudahnya, tapi Evangeline Rose tampaknya telah menolak. Dan sekarang, Evangeline Rose sudah mati, dan Adam Galaev menghilang.

Dengan ini, ‘tujuan akhir’ mereka tampaknya terkubur. Tapi, itu tidak seperti tidak ada petunjuk.

Priest Invidia yang dihubungi Adam Galaev dan ‘gadis’ yang disebutkan dalam surat terakhirnya. Kim Hannah kebetulan tahu identitasnya.

Rupanya, dia adalah gadis ikat kepala putih yang Seol Jihu temui di Banquet. Karena itu, Seol Jihu segera memerintahkan pencarian mereka. Karena itu hanya mencari seseorang, jaringan informasi Valhalla dapat melakukannya dengan mudah.

Tong Chai membawa berita itu tepat empat hari kemudian.

Kakak beradik ini telah bepergian ke dan dari banyak kota, sejak mereka meninggalkan Eva. Dari Eva ke Caligo, dari Caligo ke Grazia, dari Grazia ke Nur, lalu dari Nur ke Odor.

Kota tempat mereka terakhir terlihat adalah kota Odor di bagian barat daya.

Seharusnya, mereka menginap di sebuah penginapan bernama Dreaming Moon Inn. Karena Guild Assassins memiliki cabang di Odor, Seol Jihu mengirim utusan untuk menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan mereka.

Karena mereka kelihatannya pengembara yang tidak tinggal lama di satu tempat, Seol Jihu ingin memanggil mereka ke Eva atau membiarkan mereka tinggal di Odor. Bagaimanapun, Seol Jihu akan menyia-nyiakan waktu dan upayanya, jika mereka pergi pada saat ia tiba di kota.

Guild Assassins tampaknya telah berhasil melakukan kontak dengan mereka. Namun, jawaban yang mereka terima adalah ‘tidak’.

Seol Jihu yang bingung menyarankan agar Guild Assassins bertanya lagi, mengatakan mereka harus menyebutkan pertemuan Seol Jihu di Banquet. Namun, Guild Assassins mengembalikan jawaban yang sama, melaporkan, ‘Mereka masih menolak’.

Rupanya, seorang pria kekar yang tampak menakutkan, yang tampaknya adalah penjaga gadis ikat kepala putih, menolak dengan keras.

Mereka tidak tahu, mengapa saudara dan saudari itu menolak untuk bertemu.

Pada akhirnya, Seol Jihu memutuskan untuk pergi ke Odor sendiri. Dia tidak ingin memaksa orang yang tidak mau bertemu dengannya. Tapi, dia tidak bisa menahannya, karena situasi yang mendesak.

Seol Jihu tiba di Odor sebelum fajar menyingsing. Syukurlah, keduanya belum meninggalkan kota. Itu layak meminjam kereta tercepat dari Keluarga Kerajaan Eva, dan mengendarai sepanjang hari.

Dreaming Moon Inn adalah penginapan kumuh di dekat gerbang selatan Odor. Setelah meraih kamar di konter, Seol Jihu menuju ke lantai dua.

“Kamar kedua di sebelah kiri, kan?”

Seol Jihu dibuat dengan perasaan campur aduk, saat dia berjalan menaiki tangga. Meskipun dia bergegas ke sini dengan tergesa-gesa. Sepertinya, dia tidak akan disambut. Bukan saja dia menerobos masuk atas kemauannya sendiri. Tapi, itu juga tengah malam.

“Mungkin aku harus menunggu sebentar, dan bertemu mereka di pagi hari.”

Dengan begitu, dia tidak akan bertemu kalimat, ‘Menurutmu jam berapa sekarang?’. Tentu saja, dia mungkin tidak bisa menghindari ucapan, “Bukankah kami katakan, jika kami tidak ingin bertemu denganmu?”

Tapi kekhawatirannya berubah menjadi keraguan, saat dia berjalan ke lantai dua.

Itu adalah malam yang mati. Sebuah cahaya redup keluar dari ujung lorong yang gelap dan kosong. Itu datang dari celah di bawah pintu kamar kedua di sisi kiri lorong.

“Apakah mereka sudah bangun?”

Seol Jihu berjalan dengan langkah diam. Dia dengan lembut meletakkan telinganya di pintu, tapi tidak bisa mendengar ada yang berbicara. Saat dia bertanya-tanya, apakah dia harus mengetuk…

-Masuk.

Suara kesepian mengalir ke telinganya.

Seol Jihu membuka telinganya dengan kaget. Dia bisa mendengar tawa dari dalam.

-Kamu bisa masuk. Ah, tamu lain pasti tidur. Jadi, kamu harus membuka dan menutup pintu dengan tenang.

‘Dia tahu?’

Bukankah mereka Warrior dan Priest, dan bukan Archer?

Seol Jihu menatap pintu sebelum membukanya dengan hati-hati. Orang pertama yang memasuki garis pandangnya adalah seorang gadis bertubuh lemah yang rambut putih rembulannya mengalir sampai ke pinggangnya. Dia duduk di kursi tua, menatap kosong ke jendela yang memantulkan cahaya bulan yang jauh.

Dia perlahan-lahan menoleh, begitu Seol Jihu diam-diam menutup pintu. Dia memberikan senyum melamun dengan ekspresi nakal, yang kontras dengan matanya yang hampa.

“Halo.”

Seol Jihu akhirnya melihat ikat kepala putih cantik di kepala gadis itu.

“Sudah lama, sejak kita terakhir bertemu.”

“Ah, ya, senang bertemu denganmu lagi.”

Seol Jihu yang kehilangan pemikiran tanpa sadar, tersentak dari linglung dengan susah payah dan berkata.

“Maafkan aku. Kamu sudah menolak untuk bertemu denganku. Namun, aku sudah datang jauh-jauh ke sini…”

“Tidak, aku yang harus minta maaf.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan tenang.

“Aku mendengarnya, setelah Oppa menolak. Sepertinya, itu masalah besar untuk bertemu sekali saja…”

Dia mengoceh sambil memberikan ekspresi cemberut.

Ketika Seol Jihu menoleh mengikuti pandangan gadis itu, dia melihat seorang pria kekar, yang setidaknya memiliki kepala lebih tinggi darinya.

Dia bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, memelototi Seol Jihu dengan ekspresi muram. Meskipun dia mungkin hanya menatap, wajahnya yang menakutkan secara alami membuatnya tampak terlarang.

Seol Jihu tidak tahu harus berbuat apa, dan memutuskan untuk mengangguk dengan sopan. Kemudian, pria kekar itu menundukkan kepalanya dengan diam-diam, dengan cara yang tidak jelas apakah itu salam atau tidak.

Gadis itu bolak-balik di antara kedua pria itu dengan wajah tersenyum, sebelum perlahan bangkit dari kursinya.

“Maaf, kami seharusnya pergi menemuimu, mempertimbangkan bagaimana kamu menyelamatkan kami di Banquet.”

“Tidak, tidak sama sekali. Aku senang mendengar kamu mengatakan itu, bahkan ketika aku datang ke sini tanpa diundang.”

“Fufu, jangan khawatir tentang itu. Aku tipe orang yang selalu membalas budi.”

Gadis itu mengeluarkan dua kursi, dan menawari kedua pria itu duduk.

Meskipun Seol Jihu langsung duduk, pria kekar itu tidak. Dia bahkan tidak bergeming dari dinding.

“Jangan pedulikan dia. Oppa memiliki kebiasaan berdiri, setiap kali dia harus banyak berpikir.”

Seol Jihu menatap kursi kosong. Jika itu benar, dia tidak tahu, mengapa dia menarik dua kursi.

Tepat ketika dia akan membahas masalah ini, berpikir itu mungkin hal yang tepat, gadis itu bertanya.

“Apakah Unni yang cantik tidak akan duduk?”

“…?”

Sebagai catatan, Seol Jihu datang ke Odor sendirian. Ketika dia menatap gadis itu, seolah bertanya apa yang ia bicarakan, dia berseru dengan gembira.

“Wow, kamu sangat cantik! Warna rambutmu juga mirip dengan milikku.”

Gadis itu menatapnya, tapi bukan wajahnya. Dia melihat ke bawah lehernya.

Saat pemikiran tertentu terlintas di benak Seol Jihu, asap hitam keluar dari liontinnya dan langsung terbentuk.

“Flone?”

[Aku tahu itu.]

Flone tiba-tiba muncul. Pria kekar itu mencoba bergerak pada saat bersamaan. Tapi, gadis itu mengangkat tangannya, dan memberi isyarat padanya untuk berhenti.

“Tidak apa-apa, Oppa.”

“….”

“Aku juga takut, tapi dia tidak terlihat seperti orang jahat. Dia hanya memiliki kebencian yang mendalam.”

Kulit Seol Jihu memudar. Gadis itu terlalu tenang dan sunyi. Itu bukan reaksi normal, tidak peduli bagaimana ia memikirkannya.

Melihat ke belakang, itu aneh sejak awal, mereka berdua bangun pada jam ini, dan berbicara seolah-olah mereka sedang menunggunya. Seolah-olah mereka tahu, dia akan datang ke sini malam ini.

[Hati-hati.]

Flone memperingatkan tiba-tiba, memeluk Seol Jihu. Seolah-olah untuk melindunginya. Apa yang ia katakan sesudahnya bahkan lebih acak.

[Dia kesurupan.]

“…Hah?”

[Gadis itu, dia kesurupan.]

‘Kesurupan?’

Mata Seol Jihu membelalak.

“Tidak, tidak, aku tidak kesurupan.”

Gadis itu melambaikan tangannya dengan canggung.

“Karena pikiran dan tubuhku, masih dikendalikan olehku.”

[Kamu tidak kesurupan? Aku tidak percaya. Aku bisa melihat dengan jelas dengan mataku.]

Flone berteriak. Dia tampak sangat marah.

[Aku bisa menyingkirkannya, jika itu memaksamu sendiri.]

“Terima kasih atas tawarannya yang baik, tapi…”

[Aku tahu! Sebagian darinya telah mengambil alih tubuhmu. Mengapa kamu menyerahkan pikiran dan tubuhmu, pada roh bernafsu yang begitu rendah?]

“Flone!”

Seol Jihu memberikan peringatan keras, merasa jika Flone tidak sesuai dengan komentarnya. Meskipun dia tidak yakin apa yang mereka bicarakan. Itu adalah keyakinannya, jika orang-orang memiliki keadaan mereka sendiri. Sama seperti Yi Seol-Ah dan Phi Sora.

“Aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Namun, gadis itu sepertinya tidak terlalu mempermasalahkannya. Jika ada, dia tampak tertarik.

“Mengapa Ghost Unni bersama Oppa?”

[Aku tidak merasuki dia, seperti roh bernafsu itu. Ada media terpisah yang aku gunakan sebagai rumahku.]

“Bahkan tetap saja. Dendam yang dimiliki Unni terlalu menakutkan. Sungguh luar biasa, jika roh bernafsu dalam diriku menahan napas dalam ketakutan. Maafkan aku karena mengatakan ini. tapi, Unni pasti akan dikategorikan sebagai roh pendendam.”

[Apa yang kamu coba katakan?]

Gadis itu tersenyum pada jawaban Flone yang singkat.

“Aku tidak tahu. Hanya saja itu bukan pemandangan yang bagus, untuk roh pendendam yang begitu mengerikan untuk mengikuti manusia. Secara umum.”

Mendengar ini, Flone tersentak.

“Tapi… aku yakin ada alasan bagus untuk itu. Sebuah cerita rahasia yang hanya kalian berdua yang tahu.”

[….]

“Sama denganku.”

Flone terdiam mendengar serangan balik sempurna gadis itu.

[…Aku tidak merasakan dendam dari roh bernafsu, terhadap dirimu.]

Setelah hening sesaat, sebuah suara geram yang tenang terdengar.

[Aku hanya merasakan keinginan yang menjijikkan. Itu sebabnya, aku marah.]

“Bukannya itu tidak memiliki dendam. Itu hanya mereda.”

Gadis itu tersenyum manis, lalu menambahkan dengan singkat.

“Tentu saja, aku tidak mengatakan, jika aku melakukan sesuatu untuk mendapatkan kebenciannya. Pelaku kesalahan itu mungkin seseorang yang aku kenal. Mungkin orang yang bersalah adalah salah satu leluhurku, dan aku tidak beruntung harus menanggung kebencian roh. Lagipula, hantu yang lahir dari kebencian tidak membeda-bedakan orang.”

[Euk.]

Flone terpaksa menutup mulutnya sepenuhnya. Dia tampak terpana.

Melihat ini, gadis itu akhirnya mengalihkan pandangannya dari Flone, dan kembali ke Seol Jihu.

“H-Hantu?”

“Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Gadis itu berbicara dengan fasih.

“Mungkin saat aku berumur sepuluh tahun…? Mataku tiba-tiba terbuka di tengah tidurku. Aku bisa melihat sesuatu yang aneh di langit-langit. Aku belum pernah melihat yang seperti ini.”

Mata gadis itu menjadi kabur, seperti sedang bermimpi.

“Dia jatuh dan menekan tubuhku… Aku sangat takut, sampai aku menangis. Orang tuaku langsung berlari masuk.”

“….”

“Itu adalah pertemuan pertamaku dengan roh bernafsu. Pasti sangat mengejutkan bagi diri mudaku, karena aku masih mengingatnya dengan jelas sampai hari ini. “

“Apakah itu ketika kamu kesurupan?”

Seol Jihu bertanya, setelah diam-diam mendengarkan ceritanya. Dia bertanya-tanya mengapa Adam Galaev menyebut gadis ini sebagai asisten yang sangat baik, dan ini tampaknya terkait.

“Aku tidak segera kesurupan.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Aku menentang sebanyak mungkin, dan orang tua serta kakak lelakiku melakukan yang terbaik untuk membantuku. Aku sudah cukup banyak mencoba segalanya, dari berdoa kepada Dewa hingga membakar dupa. Tapi, tidak ada yang efektif.”

“…Itu pasti sulit.”

Seol Jihu berbicara dengan susah payah.

“Dulu. Aku mulai membenci siapa pun yang menyebabkan roh menempel padaku. Setiap kali aku membuka mata, aku akan menangis karena kesedihan…”

Gadis itu secara terbuka mengakui emosinya sejak saat itu.

“Roh bernafsu akan muncul setiap malam untuk menyiksaku. Itu sangat, sangat menakutkan. Hari-hari itu benar-benar menyiksa. Jika Oppa tidak ada untukku, aku akan menjadi gila sejak lama.”

Seol Jihu melirik ke arah dinding. Pria kekar itu diam-diam berdiri di sana, sama seperti ketika ia pertama kali memasuki ruangan. Sejak gadis itu memberi isyarat padanya, dia telah berdiri di sana tanpa mengganggu.

“Tapi, yang paling menyakitkanku adalah, keluargaku yang terluka.”

“Roh itu melukai keluargamu juga?”

“Kecelakaan kecil dan besar, mulai menjadi lebih sering. Itu adalah satu-satunya kesimpulan logis.”

Gadis itu menghela nafas berat.

“Jadi, aku akhirnya menyerah.”

“Kamu berhenti menolak?”

“Ya. Roh nafsu membisikkan ancaman ke telingaku setiap malam. Itu akan berakhir, jika kamu menerimaku. Keluargamu tidak perlu terluka lagi. Itu berlangsung selama beberapa tahun.”

“Selama beberapa tahun…”

“Setelah tahun ketujuh, aku tidak tahan lagi. Sangat sulit tak tertahankan, sehingga aku menyerah dan berhenti melawan. Ketika aku berusia 17 tahun, aku tidak menolak roh bernafsu dan membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya dengan tubuhku.”

Dia melanjutkan ceritanya dengan suara monoton.

“Tapi…”

Kemudian, dia tiba-tiba mulai berbicara perlahan.

“Bagaimana aku harus mengatakan ini… Aku menerima roh dengan putus asa, tapi…”

Sudut mulut gadis itu melengkung perlahan dan sedikit.

“Sungguh… rasanya luar biasa.”

Alis tipis gadis itu melengkung ke bentuk bulan sabit, saat dia memberikan senyum aneh.

“Itu adalah pengalaman yang benar-benar ajaib. Sedemikian rupa, sehingga aku menyesal tidak menerimanya lebih awal. “

Seol Jihu merasakan hawa dingin membasahi punggungnya, menghadap mata gadis itu membicarakan rahasianya.

[Aku mengerti keputusan yang kamu buat… tapi, apa kamu baik-baik saja?]

Flone berbicara dengan suara kasihan.

[Tidak mudah bagi makhluk hidup untuk menerima hantu ke dalam tubuh mereka. Tubuhmu pasti berubah entah bagaimana. Seperti, bisa melihat hal-hal yang tidak bisa kamu lihat sebelumnya.]

“Jika kamu berbicara tentang Spirit Eye, kamu benar. Tapi itu tidak terlalu buruk, sehingga membuat kehidupan sehari-hari menjadi tidak mungkin. Aku telah melihat roh bernafsu selama yang aku ingat. Jadi, jangkauannya benar-benar melebar.”

[Itu tidak aneh?]

“Awalnya aku terkejut, tapi aku sudah terbiasa.”

Gadis itu menjawab sambil tersenyum lebar. Senyumnya tidak benar-benar terlihat seperti senyum.

“Ngomong-ngomong, setelah itu, kecelakaan yang terjadi pada keluargaku menghilang. Seolah, itu tidak pernah ada. Aku puas dengan itu.”

“…Bagaimana kamu bisa masuk paradise?”

“Kecelakaan itu hilang, tapi begitu juga kekayaan keluarga kami. Orang tua kami menghabiskan banyak uang karena diriku. Kami diperkenalkan ke paradise sebagai imbalan untuk menyingkirkan salah satu hutang terbesar kami.”

“….”

“Kamu tidak harus menatapku seperti itu. Seperti pepatah, hidup adalah serangkaian kebetulan.”

Gadis itu dengan apatis mengangkat bahu mungilnya, tapi ceritanya benar-benar hanya bisa digambarkan sebagai malang.

“Kenapa roh itu…”

“Jika kamu bertanya mengapa roh nafsu menempel padaku, aku tidak akan punya cukup waktu. Bahkan, jika aku berbicara sampai fajar. Semua itu kembali ke zaman kakekku, bahkan jauh dalam sejarah keluarga Rumania.”

Gadis itu berseru, ‘Ah’ dan kemudian menutup mulutnya.

“Ah, aku terlalu banyak bicara. Permintaan maafku. Sebenarnya, aku pikir itu aneh, ketika kamu pertama kali membuka pintu dan masuk. Aku bisa merasakan aura hantu, yang sebelumnya tidak ada pada dirimu. Aku pikir, hal serupa terjadi padamu.”

Cara dia berbicara dengan tergesa-gesa, dia tampaknya membuat petunjuk halus, jika dia tidak ingin menjelaskan lebih jauh.

Akhirnya, mengingat alasan melakukan perjalanan ini, Seol Jihu mengesampingkan pertanyaannya dan berdeham.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, apakah itu baik-baik saja denganmu.”

“Lanjutkan. Semua pertanyaan tidak masalah.”

Gadis itu segera menjawab. Dia sepertinya juga bertanya-tanya, mengapa lelaki itu datang.

“Apakah kamu kenal seorang Mage bernama Adam Galaev?”

“Ah… Dia.”

Gadis itu memutar matanya sekali sebelum mengangguk.

“Ya. Oppa dan aku pernah membantunya, ketika kami berada di Eva. “

“Apakah dia datang untuk menemukanmu, setelah itu?”

“Ya. Hanya sekali saja. “

“Bisakah kamu memberi-tahuku, apa yang kamu bicarakan saat itu?”

“Tentu. Itu tidak penting. Dia hanya datang untuk meminta bantuan.”

Gadis itu menyilangkan tangannya dan melanjutkan.

“Dia bilang, dia harus pergi ke suatu tempat dan membutuhkan kekuatanku.”

Pergi ke suatu tempat. Mata Seol Jihu berbinar saat dia mendengar ini. Dia hampir berteriak Eureka.

“Dia memintaku menjadi Pathfinder-nya.”

Tapi, itu sampai dia mendengar ini.

“Pathfinder?”

“Aneh, bukan? Meminta seorang Priest menjadi Pathfinder/penemu jalan.”

“Bisakah kamu menjelaskan lebih detail?”

“Mm… Bagaimana aku harus menjelaskan ini…”

Gadis itu memiringkan kepalanya dengan penuh pertimbangan.

“Dia mengatakan kepadaku beberapa hal pada waktu itu… tapi mereka begitu rumit dan berbelit-belit. Sehingga, aku tidak dapat benar-benar memahaminya. Sudah lama juga… Apakah tidak apa-apa, jika aku hanya memberi tahumu apa yang aku ingat?”

“Tentu saja.”

“Aku senang. Menurut orang itu, tujuannya berada dalam situasi yang sangat istimewa.”

“Situasi khusus?”

“Ya. Bahkan Archer yang paling cakap pun akan tersesat, jika mereka masuk ke tempat itu sampai akhirnya terpesona.”

Seol Jihu fokus pada penjelasannya.

“Dia bilang, itu bukan hanya orang. Entah itu manusia atau jiwa, ras apa pun atau makhluk hidup. Katanya, tidak ada yang bisa menavigasi untuk melalui tempat itu. “

“Mengapa?”

“Aku tidak yakin. Apa yang ia katakan lagi? Sesuatu tentang hukum yang dipelintir dan bagian dari dunia lain memanifestasikan dirinya di Dunia Tengah… Aku tidak tahu apa yang ia katakan.”

Gadis itu menjilat bibirnya.

“Ngomong-ngomong, dia bilang kamu perlu melihat dua dunia secara bersamaan, untuk menghindari tersesat di tempat itu. Hanya dengan begitu, kamu bisa mencapai pusat ruang yang bengkok. Dan juga…”

Gadis itu menyeret sambil mengangkat jari telunjuknya yang tipis.

“…Dia bilang, aku berpotensi cocok dengan kondisinya.”

Menyodokkan pipinya yang pucat, dia tersenyum aneh.

--------

NB:

Dalam cerita rakyat tradisional, roh bernafsu adalah hantu yang terobsesi dengan tindakan seksual. Mereka sering memiliki manusia dan membuat mereka memiliki pikiran cabul. Dalam beberapa kasus, mereka dapat menyentuh tubuh manusia yang hidup atau menyentuhnya sendiri atau orang lain. Roh nafsu sering menguras energi dari tuan rumah mereka yang dimiliki, membuat mereka lemah.




< Prev  I  Index  I  Next >

Posting Komentar untuk "SCG_306"

Follow Us