Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Traktir Ngopi gan...!

SCG_360

gambar

SCG_360

Bab 360. Apa Artinya Berubah (2)

 Seol Jihu tidak merasa lelah, meskipun penerbangan berlangsung lebih dari 8 jam.

Itu karena, dia menggunakan penerbangan kelas satu.

Kursi-kursi itu mahal, menelan biaya sekitar 10 juta won per orang. Tapi harganya tidak masalah, karena kebanyakan dari mereka sudah membuat nama untuk diri mereka sendiri di Paradise.

Lagipula, tiketnya hanya bernilai sekitar 20 koin silver, dalam mata uang Paradise.

Akibatnya, mereka memiliki penerbangan yang menyenangkan, dan tidak perlu menunggu lama untuk menerima barang bawaan mereka.

Di sisi lain, dia memang merasa menyesal.

Eun Yuri berasal dari keluarga kaya, jadi dia mampu membeli tiket. Tapi, Yi Seol-Ah dan Yi Sungjin berada di tempat yang sempit.

Dia kemudian menemukan, jika Jang Maldong telah membayar kursi mereka.

Dia seharusnya menjadi orang yang mengurus kebutuhan keuangan mereka, karena dia adalah perwakilan dan semuanya. Tapi, karena dia sibuk dengan hal-hal mengenai keluarganya, dia gagal memperhatikan situasi Yi bersaudara.

Seol Jihu menyalahkan dirinya sendiri untuk itu.

Ketika mereka berjalan keluar dari Bandara Honolulu, para anggota yang telah tiba duluan, sedang menunggu mereka di luar.

“Hei! Lihat di sini!”

Seol Jihu tersenyum tipis, ketika dia melihat Chohong mengayunkan tangannya ke arah mereka, sekeras sebelumnya.

Dia mengenakan gaya kasual yang sama, dengan yang dipakainya di Paradise... Kemeja tanpa lengan dan celana pendek lumba-lumba.

Di sebelah Chohong, berdiri Hugo dengan senyum lebar di wajahnya. Dia mengenakan kemeja biru dengan pola bunga, dan celana pendek tenis putih.

“Jadi, kita akhirnya bertemu di Bumi. Sini, beri aku kopermu. Aku akan membawanya ke mobil.”

Dengan mata ragu, Jang Maldong menyaksikan Chohong meraih koper-nya.

“Tidak, terima kasih, aku bisa membawanya sendiri.”

“Berikan saja padaku, kamu orang tua terkutuk! Apa kamu tahu, sudah berapa lama aku menunggu kesempatan untuk memukulmu dengan ini?”

“…Aku menghargai tawaranmu, tapi aku baik-baik saja.”

“Serahkan! Ingin mati!?”

Chohong mengatakan semua ini, dengan senyum cerah di wajahnya.

Tapi senyumnya memudar, ketika dia melihat Jang Maldong memelototinya.

“Cukup sudah!”

TAK!

Sebuah tongkat memukul kepalanya.

Chohong meraih kepalanya dengan jeritan.

“Aduh! Untuk apa itu? Aku hanya ingin membantu!”

“Cukup dengan kebohongan! Kamu baru saja bilang, kamu akan memukulku dengan koper ini. ”

Chohong berkedip cepat.

“Apa… kamu berbicara bahasa Kanton?”

“Bukan hanya bahasa Kanton. Aku bisa berbicara bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan Prancis. Aku yakin, kamu tidak pernah membayangkan, jika aku pernah menjadi penerjemah! Kamu bajingan.”

Pengakuan mendadak Jang Maldong, mengubah wajah Chohong pucat.

‘Sial! Tapi, aku belum mengatakan sepersepuluh dari apa yang ingin aku katakan!’

Dia memukul tanah dengan tinjunya, dan meratap.

Sementara itu, Seol Jihu bertukar salam dengan pria lain.

“Ohaiyo, Kazuki-san.”

“Annyeong. Jadi, kita akhirnya bertemu di Bumi. “

Orang Korea berbicara bahasa Jepang, dan orang Jepang berbicara bahasa Korea.

“Oh, apa kamu berbicara bahasa Korea?”

“Sedikit. Aku membaca buku percakapan di pesawat. Aku mungkin tidak akan bisa memahami kalimat yang rumit.”

Kazuki menjawab tanpa ragu-ragu. Seolah-olah, dia mengharapkan pertanyaan itu.

Tiba-tiba, mata Seol Jihu berjalan di belakang Kazuki ke wanita mungil, yang memakai haori bunga sakura.

Kecantikan berkulit putih dengan rambut hitam disisir rapi, memancarkan aroma hangat teh.

Dia berdiri dengan tangan tergenggam di depan pinggangnya. Ketika tatapan Seol Jihu bertemu dengannya, dia tersenyum sopan dan menundukkan kepalanya padanya.

Terkejut, Seol Jihu membungkuk sebagai imbalan.

Dia bisa bersumpah, jika dia belum pernah melihat wanita ini sebelumnya.

‘Siapa dia?’

Tetap saja, ada sesuatu tentang dirinya yang aneh baginya.

Seol Jihu mencoba mengingat, jika sebenarnya dia pernah melihatnya, di mana saja sebelumnya. Saat itulah Kazuki berdeham. Dan, suara itu mendorong Seol Jihu untuk menarik kesimpulan.

“Aku lihat, kamu membawa pacarmu, Tuan Kazuki.”

“Aku tidak mengerti, apa yang baru saja kamu katakan. Tapi, aku merasa itu adalah penghinaan.”

“Kekasih. Aku bilang, kekasih. Dia ‘pacarmu’ kan?”

Kazuki perlahan menutup matanya.

“Hoshino Urara.”

“…Maaf?”

Seol Jihu berdiri linglung sejenak, sebelum melambaikan tangannya dan tertawa.

Hoshino Urara, lambang seorang wanita sopan? Apakah Kazuki benar-benar berpikir, dia akan percaya itu?

“Ha ha. Bagus. Sangat lucu.”

“Dia adalah Hoshino Urara. Aku tahu itu sulit dipercaya, tapi itu benar.”

“Baik… Aku kecewa padamu, Tuan Kazuki. Kamu hanya mengatakan apa pun yang ada dalam pikiranmu, berpikir aku tidak akan dapat memahamimu.”

Seol Jihu menyipitkan matanya, dan menatap Kazuki.

Meskipun Kazuki tidak bisa mengerti sepatah kata pun, yang Seol Jihu baru saja katakan. Dia tahu, perwakilan itu mencurigai dia berbohong.

“Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku juga terkejut. Periksa paspor-nya. Itu akan mengatakan ‘Hoshino Urara’.”

“Ah, kamu terus mengatakan itu. Tapi, aku tidak akan tertipu untuk itu.”

Seol Jihu menggelengkan kepalanya, dan mengalihkan pandangannya ke wanita itu, dengan senyum tipis.

“Halo. Bisakah aku mengajukan pertanyaan kepadamu?”

“H-Hai.”

“Apa hubunganmu dengan Tuan Kazuki?”

Dia belajar bahasa Inggris di sekolah, selama hampir 20 tahun.

Terkagum-kagum dengan kemampuan bahasa Inggrisnya sendiri, Seol Jihu merasa kepercayaan diri terpancar dari dalam.

Wanita itu tampak bingung oleh pertanyaan mendadak itu.

“Ah…”

Dia memandang Seol Jihu dan Kazuki secara bergantian, ragu-ragu, membuka, dan kemudian menutup mulutnya beberapa kali.

Dia kemudian menurunkan pandangannya sedikit dan memerah, sebelum mengambil beberapa langkah pendek menuju Kazuki, dan mengunci lengannya di lengan Kazuki.

Kazuki mundur karena terkejut.

“Wow! Itu kejam, Tuan Kazuki.”

“Jangan sampai tertipu! Lihat!”

Kazuki menunjuk dengan marah pada wanita itu.

Seol Jihu mengerutkan alisnya.

‘Hah?’

Wanita itu berguling-guling di lantai, sambil tertawa.

Mata mereka bertemu. Dan dengan seringai, dia melepas obi-nya, dan melemparkan haori-nya ke udara.

Ini mengungkapkan gaun berwarna cerah yang ia kenakan di bawahnya.

“Hula hoop… hula tradisional…”

Mengenakan muumuu, pakaian tradisional Hawaii, dia mulai menari hula.

“Nona Hoshino Urara?”

Rahang Seol Jihu terjatuh.

Dia hanya mengubah ekspresinya, namun segala sesuatu tentang dirinya tampak berbeda.

Seorang wanita yang sesuai dengan kaligrafi dan upacara minum the, telah berubah menjadi whacko dalam sekejap mata.

“Lihat? Aku sudah bilang.”

“Tunggu, mengapa Nona Hoshino Urara ada di sini…”

Keributan berhenti, ketika Jang Maldong memanggil mereka.

Seol Jihu merangkak ke dalam SUV, dan Hugo pergi ke hotel.

Mereka dijadwalkan menginap di ‘Bulan Purnama’, sebuah hotel bintang lima yang didirikan oleh mantan earthling di dekat Pantai Waikiki.

Tidak ada yang menarik terjadi pada hari pertama.

Penerbangan mereka nyaman, tapi karena sebagian besar dari mereka menghabiskan sepanjang hari, sebelum penerbangan untuk mempersiapkan perjalanan, kelelahan telah menumpuk di dalam diri mereka.

Jadi pada hari pertama, mereka berganti pakaian yang nyaman dan bersantai di hotel, mengobrol, makan malam, dan pergi tidur lebih awal.

Dan hari berikutnya, semua orang pergi ke pantai seperti yang dijanjikan.

Pantai ramai dengan turis, tapi Seol Jihu duduk sendirian di bawah payung, jauh dari semua keributan.

Dia menatap laut dengan linglung. Tidak ada pikiran di kepalanya. Dia merasa seperti berada di pasukan cadangan berlatih lagi.

“Apa yang kamu lakukan di sana sendirian, dan kesepian?”

Saat itulah, dia mendengar suara yang hidup.

Phi Sora dan gadis-gadis Valhalla lainnya, semuanya mengenakan bikini berbagai warna, mendekatinya.

Mereka pasti telah memperhatikan semua perhatian yang telah mereka tarik ke diri mereka sendiri. Karena, ada aura kesombongan dari cara mereka berjalan.

Seol Jihu menatap Phi Sora, bingung, dan diam.

Dia mengenakan bikini beludru merah yang sangat seksi, dan memamerkan sosoknya dengan sempurna. Sulit untuk mengatakan, apakah bikini itu pakaian renang atau pakaian dalam.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mesum…”

Phi Sora mulai, tapi berhenti di tengah kalimatnya, dan memasang wajah bingung.

Mata Seol Jihu mati seperti ikan busuk.

Dia sepertinya tidak peduli sama sekali tentang mereka. Phi Sora bisa membaca pikiran di kepalanya. ‘Siapa aku? Dimana aku?’, ‘Kenapa aku membuang-buang waktuku di sini?’, ‘Ah, aku sangat bosan.’, ‘Aku ingin pergi ke Paradise.’.

Bingung, dia berkata tanpa berpikir.

“B-bagaimana menurutmu? Aku memanjakan diri dengan bikini baru.”

“…Ah. Tentu. Kalian semua cantik.”

“Aku pikir, pria di depan kami mungkin adalah zombie. Sepertinya, dia tidak punya jiwa.”

Oh Rahee, mengenakan bikini halterneck hitam, terkikik… saat dia mengusap rambutnya.

Dengan desahan yang dalam, Seol Jihu berbaring di atas pasir.

Yang benar adalah jika dia lebih suka melihat Maria, mengenakan kaus longgar, celana pendek denim, dan topi jerami yang menguap dari kepalanya, daripada bermacam-macam bikini tepat di depan matanya.

‘Jika aku tertidur sekarang, aku mungkin bangun pada hari terakhir perjalanan.’

Seol Jihu menutup matanya, dengan rasa antisipasi yang tidak jelas.

“Tunggu, mengapa kamu berbaring? Dan mengapa kamu menutup mata?”

Tentu saja, itu tidak pernah terjadi, dan dia merasakan tangan mengangkatnya dengan kakinya.

“Daripada tidur… Sayang, kamu harus bersenang-senang.”

Dia meraih kedua pergelangan kakinya, dan menariknya ke arahnya.

Seol Jihu menggoyangkan tubuhnya.

“Biarkan aku pergi… aku tidak ingin bermain voli pantai.”

“Itu lucu. Hanya karena kita berada di pantai dan mengenakan bikini, tidak berarti kita akan bermain voli pantai.”

“Aku bisa membayangkannya di kepalaku. Seorang karakter duduk di mejanya mengipasi dirinya dengan tangannya, mengeluh, ‘Panas… Sangat panas…’ Dan kemudian, yang lain datang mengenakan baju renang dan tabung di pinggangnya, berteriak, ‘Ayo pergi ke pantai!’…. Lagu pembuka diputar dan adegan berubah menjadi pantai. Semua orang berlari ke laut sambil berteriak, ‘Uahhhhhh!’.”

“Apa yang kamu bicarakan…? Alasanmu buruk dan terlalu panjang. Ayo pergi. Tuan Hugo meminjam jet ski untuk kita.”

“Tidak…”

“Ya ampun, diamlah, oke? Mari bermain bersama…”

Zzzzz.

Phi Sora menyeret Seol Jihu melintasi pantai berpasir, meninggalkan jejak panjang di belakang.

Seperti yang dikatakan Phi Sora, ada beberapa jet ski yang diparkir di pantai, menunggu dengan sabar pemiliknya tiba.

Dua orang bisa mendapatkan satu. Seol Jihu akhirnya berpasangan dengan Eun Yuri.

“…Apa kamu ingin menyetir, Nona Eun Yuri?”

Eun Yuri menggelengkan kepalanya begitu keras, hingga embel-embel putih pada bikininya, bergoyang-goyang.

Dia mengaku tidak punya lisensi.

Dengan desahan lembut, Seol Jihu merangkak ke kursi depan dan menyalakan mesin.

“O-Oppa. Bisakah kamu memulai dengan lambat…?”

Dia merasakan lengan Eun Yuri mengencang di pinggangnya. Jadi, dia mengendarai jet ski dengan kecepatan rendah.

Untuk sementara, dia terus mengemudi dalam garis lurus, tanpa berbelok.

Alhasil, pantai itu kini cukup jauh.

“…Oppa?”

Khawatir, Eun Yuri memanggil nama Seol Jihu. Tapi, tidak ada jawaban. Mata Seol Jihu yang melamun menatap ke cakrawala. Bahkan saat mengemudi, kepalanya penuh dengan Paradise.

Di tengah lautan luas tanpa ujung yang terlihat, garis di mana air dan langit bertemu sangat indah.

Ya, itu pasti di mana Paradise berada. Jika dia bisa melampaui cakrawala itu, dia pasti akan mencapai Paradise…

Berpikir demikian, Seol Jihu akan mempercepat jet skinya, ketika tiba-tiba…

Chwaa!

Ombak besar memercik padanya.

Suhu air yang dingin membuat Seol Jihu sadar.

“Apa itu?”

“Kamu tidak mungkin berada di sini, untuk naik perahu santai!”

Chohong menyeringai, dan jet ski yang membawa Chohong dan Maria dengan cepat pindah.

Chwaa!

Saat itu, percikan air lagi menghantamnya.

Hoshino Urara mengerem, memercikkan air ke udara beberapa detik, sebelum jet ski-nya bertabrakan dengan milik Seol Jihu.

“Ugh. Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Menurutmu apa yang sedang kita lakukan? Ini perang!”

Eun Yuri memprotes, tapi yang ia dapat hanyalah cibiran.

“Menjadi basah adalah bagian dari pengalaman jet ski. Kamu tahu ini kompetisi, kan? Jangan lengah, kalau tidak kamu akan jatuh!”

Phi Sora yang duduk di kursi belakang, dengan lembut melambaikan tangannya, ketika Hoshino Urara mengendarai jet ski mereka menjauh dari Seol Jihu dan Eun Yuri.

Melihat sekeliling, mereka melihat Hugo dan Audrey Basler dengan waspada, menunggu kesempatan untuk menyerang mereka.

‘Sial.’

Benar-benar basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki, Eun Yuri menggigit bibir bawahnya.

“Oppa, kita juga harus…?”

Dia berhenti di tengah kalimatnya, merasakan sedikit getaran di kulitnya.

“O-Oppa?”

Seol Jihu gemetar, dengan kepala tertunduk.

Dia, sebenarnya, kesal. Jantungnya mulai berdetak kencang.

Memikirkan Paradise adalah waktu santainya dari masa kini. Dia tidak ingin ikut dalam perjalanan ini sejak awal.

“Mereka menyeretku ke sini dengan paksa. Dan sekarang, mereka bahkan tidak akan membiarkanku melamun dengan tenang?”

Kemarahan berputar di dalam Seol Jihu, seperti badai.

Mereka tidak memberinya pilihan.

Dia mengepalkan giginya dan mengencangkan cengkeramannya pada setang.

“Oppa. Ayo coba yang terbaik.”

Kicau Eun Yuri, tanpa menyadari keseriusan situasi. Ini hanya memperburuk masalah.

Kesabaran Seol Jihu akhirnya habis, dan dia mengangkat kepalanya dalam sekejap.

Matanya menyala dengan cahaya yang tajam.

“…Aku akan membunuh kalian semua.”

Vruaaang!

Seol Jihu bergumam dan menginjak pedal gas. Saat jet ski melesat ke depan, mata Eun Yuri melebar karena terkejut.

“Tungguu…!”

Tangisan putus asa menggema di udara.

“Hmm?”

Jang Maldong yang mengawasi mereka dari pantai, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Tiba-tiba, salah satu dari jet ski dipercepat, mengejar yang membawa Chohong dan Maria.

Begitu jet ski melampaui targetnya, dia mengayun membentuk lingkaran, melayang ke samping.

‘Oho, drive yang sangat indah…!’

Arus yang menakjubkan mengejutkan Jang Maldong.

Ombak besar yang diciptakan oleh arus menghantam Chohong dan Maria dari semua sisi. Dan, pasangan itu jatuh ke air, tanpa harapan melambaikan tangan mereka dalam perjuangan putus asa, untuk tetap bertahan.

Tapi, Seol Jihu tidak berhenti di situ.

Dia segera pergi ke jet ski yang membawa Hugo dan Yi Seol-Ah.

“Tidak begitu mudah!”

Hugo berhadapan dengan Seol Jihu.

Dia benar-benar percaya diri dengan keterampilan mengemudi. Tapi segera, dia mendapati dirinya menjerit.

Jet ski Seol Jihu mendekati Hugo, dan saat itu dengan cepat bergerak ke kiri dan ke kanan berturut-turut, ombak melonjak. Itu menyebabkan jet ski Hugo terbalik.

Jeritan Yi Seol-Ah dan Eun Yuri indah diselaraskan bersama.

Jeritan seperti ‘Uak’ atau ‘Kyak’ tidak sepenuhnya asli. Ketika kamu membuat jenis suara itu, kamu masih sadar akan lingkunganmu. Setidaknya, sampai taraf tertentu.

Seseorang yang diliputi ketakutan, tidak akan pernah membuat suara desain seperti itu. Dan dalam hal itu…

“KIEEEEUKIAAAKK…”

Eun Yuri tidak bisa lebih otentik, jika dia mencoba.

“Apa-apaan ini? Apa yang salah dengannya? Apakah dia sudah gila?”

Chohong bergumam kaget. Hanya kepalanya yang terlihat di atas air.

“Jangan khawatir! Aku akan menghentikannya!”

“Yah, yah, yah. Bukankah kamu cukup baik, sayang? Ayo main bersama kami juga!”

Penuh dengan kepercayaan diri, Hoshino Urara dan Phi Sora mulai menyerang Seol Jihu. Tentu saja, apa yang terjadi selanjutnya adalah…

Vruaaaaang!

“Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku!”

“Sayang, sayang, sayang, tunggu, tunggu, tunggu, tunggu!”

Bahkan 10 detik berlalu, sebelum mereka melarikan diri dari Seol Jihu, yang kemudian mulai mengejar mereka, dengan kecepatan penuh. Dia cepat-cepat menyusul jet ski mereka, dan tidak ada yang terkejut, pasangan itu berakhir di air.

“…Hei.”

Oh Rahee yang duduk di belakang Kazuki, mengulurkan lengannya dan menyodok pengemudi di samping.

“Ayo kabur. Hanya ada dua tim yang tersisa.”

“Apa yang kamu katakan?”

“Aku bilang, ayo keluar dari sini. Sialan, apa ‘kabur’ dalam bahasa Jepang?”

“Aku tidak mengerti, tapi kita harus pergi sekarang. Hal-hal itu terlihat terlalu berbahaya.”

Seol Jihu memutar jet ski-nya untuk mencari target berikutnya. Audrey Basler dan Yi Sungjin memutuskan untuk melompat ke air, dengan sukarela. Ketika dia melihat apa yang terjadi, Kazuki membalikkan jet ski-nya ke arah lain, menuju pantai.

Tapi, dia sudah terlambat. Dia diburu, sebelum dia bisa melarikan diri.

Dia dan Oh Rahee jatuh ke air bersama-sama.

Baru setelah ia memarkir jet ski di pantai, Seol Jihu sadar.

“Aduh….”

Rasa sakit yang tiba-tiba dan tajam, membuatnya meringis.

Dia melihat ke bawah, untuk menemukan bekas paku di sisinya.

Punggungnya juga terbakar dengan rasa sakit. Sepertinya, seseorang telah mencakarnya.

Setelah kembali ke pantai, pelakunya segera melarikan diri dari jet ski. Tapi dia jatuh, sebelum dia bisa pergi jauh.

“Uaah, ueeehh, huaaaang.”

Jelas ketakutan, dia merangkak menjauh dari pantai, memalingkan matanya.

‘Apa yang baru saja terjadi?’

Seol Jihu memiringkan kepalanya dengan ragu.

Ada beberapa jet ski tanpa pemilik mengambang di laut.

Dia ingat marah pada yang lain, tapi tidak setelah itu.

Tapi dia merasa, jika sesuatu yang sangat mengerikan dan kejam telah terjadi.

“Apakah Future Vision diaktifkan atau semacamnya?”

“Itu bukan lelucon. Kamu cukup pamer, bukan?”

Kim Hannah mendekati Seol Jihu, yang berdiri dengan bingung.

Dia mengenakan monokini biru-hitam, yang dengan anggun menunjukkan pinggang rampingnya.

Tatapan Seol Jihu melekat padanya, dan dia menyeringai padanya.

“Ada apa dengan mata itu? Apa yang kamu pikirkan?”

“Anak kedua kita.”

“…?”

“Nama apa yang harus kita berikan untuk saudara Jinah?”

Segera tendangan datang, dan Seol Jihu mundur.

Kim Hannah mendecakkan lidahnya.

“Pokoknya, selamat atas kemenanganmu.”

“Kemenanganku?”

“Untuk lomba jet ski barusan. Kalian dinilai atas betapa indahnya kamu mengendarai jet ski, dan kamu menang dengan telak.”

Kim Hannah memujinya, tapi Seol Jihu jelas tidak tertarik.

“Untuk apa kamu menyimpan skor?”

“Apakah kamu tidak tahu, jika permainan dan hadiah wajib untuk sebuah perbaikan? Itu resep untuk bersenang-senang.”

Meski begitu, Seol Jihu tampaknya tidak peduli.

Kim Hannah menarik kacamata hitamnya, cukup baginya untuk melihat matanya.

“Kamu tidak terlihat sangat terkesan. Tapi aku yakin, kamu akan terkejut mendengar hadiah pertama.”

“Apa itu?”

“Sebuah harapan. Dalam rentang yang realistis, tentu saja.”

“Sebuah harapan? Kita ada di Bumi. Apa manfaatnya?”

“Percayalah, tergantung bagaimana kamu menggunakannya, kamu akan merasa sangat puas. Misalnya… kamu mungkin ingin meninggalkan Hawaii dan kembali ke Paradise.”

“…Bisakah aku benar-benar berharap untuk itu?”

“Tentu saja. Itu sebabnya, itu disebut harapan. Dan, Tuan sudah memberikan persetujuan.”

Wajah Seol Jihu langsung cerah.

“Aku sudah menyiapkan 6 pertandingan individu dan 6 pertandingan tim, dengan total 12 pertandingan. Jika kamu bisa menempati urutan pertama dalam setengah dari permainan ini, kamu tidak akan memiliki masalah untuk memenangkan hadiah utama.”

Mendorong kacamata hitamnya kembali, Kim Hannah memberikan senyum nakal.

“Selanjutnya adalah voli pantai. Partisipasi tidak wajib, tapi jika kau memilih untuk berpartisipasi, kamu harus berpasangan dengan seseorang. Kamu dapat memilih mitra yang berbeda, untuk setiap permainan. Sekarang, sudahkah aku menggelitik minatmu?”

Kata-kata Kim Hannah memiliki efek besar padanya. Seol Jihu segera pergi mencari pasangan.

Di bawah payung, Eun Yuri berbaring telungkup, mencoba menenangkan napas.

“Nona Eun Yuri!”

Dia tersentak, ketika mendengar langkah Seol Jihu.

“Bola voli pantai berikutnya!”

“Eh?”

“Bekerja-sama denganku lagi. Ayo, bangun!”

“Eh?”

“Ayo pergi! Ayo menang sekali lagi!”

Eun Yuri melarikan diri dengan teriakan.

Seol Jihu mendecak bibirnya, saat dia menyaksikannya melarikan diri dengan sekuat tenaga.

Saat itulah, matanya melihat Phi Sora berjalan keluar dari air, dengan langkah-langkah yang goyah.

Seol Jihu berbalik.

“Nona Phi Sora!”

“Y-Ya? Kenapa tiba-tiba kamu begitu semangat?”

“Jadilah pasanganku, untuk pertandingan berikutnya.”

“Tunggu. Aku terlalu lelah… Tunggu!”

Posisi mereka terbalik.

Kali ini, Seol Jihu adalah yang menyeret Phi Sora dengan paksa.

Kim Hannah mengangguk puas, menatap Seol Jihu yang sekarang jauh lebih menyukai permainan daripada siapa pun.

‘Hu hu. Sepertinya, dia bersenang-senang.’

Dia menyebutnya Operasi Sersan.

Dia menerapkan metode yang sama dengan yang digunakan oleh instruktur latihan di Pasukan Cadangan, di mana mereka mendorong tentara untuk berlatih lebih keras dari biasanya, dengan memberi tahu mereka… jika mereka bisa pulang lebih awal hari itu. Tapi, ketika semuanya sudah berakhir, ini sudah saatnya mereka berhenti.

“Jet ski itu tidak terduga. Tapi, tidak mungkin dia akan memenangkan semuanya!”

Kim Hannah sedikit terkejut, ketika Seol Jihu juga akhirnya memenangkan voli pantai. Tapi, dia tetap tidak terganggu.

Dia yakin operasinya akan berhasil, karena dia telah mengatur permainan ini, setelah penyelidikan menyeluruh, tentang apa yang menjadi keahlian para anggota. Dia bahkan merasa sedikit kasihan pada Seol Jihu.

Kim Hannah tersenyum licik, saat dia menyaksikan Seol Jihu meraung dengan kemenangan. Tapi, senyumnya menghilang, tidak sampai setengah hari.

Permainan ketiga adalah biliar.

“Kuhuhuhu. Maaf, tapi biliar adalah permainanku. Aku pasti akan menang kali ini. Skorku jauh melampaui 27 poin untuk 3 cushion!”

Hugo mengumumkan dengan arogan, mengangkat tongkat biliar. Dan kepercayaan dirinya bukan tanpa dasar. Dia mengalahkan lawan-lawannya satu demi satu dan mencapai final. Tapi kemudian, dia mengalami masalah.

“Tidak mungkin… bagaimana kamu begitu hebat? Kamu pro atau semacamnya?”

Rahang Hugo terjatuh, saat dia menyaksikan Seol Jihu bermain.

Dia mencoba yang terbaik untuk mengejar ketinggalan. Tapi, lawannya terus mencetak dengan kecepatan yang tak terbayangkan, sampai dia akhirnya mengambil kemenangan.

“Huu, aku menang. Kamu cukup bagus, Hugo.”

Seol Jihu memuji Hugo, saat dia menyeka keringat di dahinya.

Hugo jatuh berlutut karena kaget.

Hal yang sama terjadi pada permainan keempat.

Kazuki dan Chohong mencapai final, tapi dikalahkan oleh Seol Jihu dan Hoshino Urara, setelah pertempuran sengit.

“Brengsek! Apa kalian semua melihat itu? Buldoser manusia! Seol Jihu-nim ada di sini!”

Hoshino Urara mengangkat kedua lengannya ke udara, gelisah dengan kemenangan itu.

Kim Hannah tidak bisa lagi bersantai.

Untuk meredam semangat Seol Jihu, dia memutuskan untuk menjadi host permainan kelima, Poker yang semula direncanakan akan berlangsung pada hari berikutnya.

Dia bahkan bekerja sama dengan Seol Jihu hanya demi mengendalikannya. Tapi, dia membungkuk lebih rendah.

Menggunakan Nine Eyes, yang dia telah bersumpah untuk tidak pernah mengandalkan lagi. Seol Jihu menang lagi dengan telak.

Dia telah menduduki puncak daftar lima kali, hanya dalam satu hari.

“…Maafkan aku….”

Pada akhirnya, Kim Hannah akhirnya meminta maaf kepada Jang Maldong.

“Aku tidak pernah membayangkan Jihu akan sebagus ini… Serius, ini tidak masuk akal. Tidak masuk akal sama sekali.”

Kim Hannah mengeluh, mengangkat tangannya.

“Keahlian biliar Jihu bernilai setidaknya 30 poin, menurut Tuan Hugo. Dengan sedikit latihan, dia bahkan bisa menjadi pemain profesional. Bisakah kamu bayangkan? Dia bilang, dia belum pernah bermain biliar sebelum kuliah!”

“…Aku lebih kagum dengan jet ski.”

“Dan juga ping-pong! Aku mendengar, Kazuki pernah menjadi prospek ping-pong amatir yang menjanjikan. Bagaimana Jihu menang melawan seseorang seperti itu? Dia bilang, dia yang pertama di kelasnya di sekolah menengah. Tapi, itu tidak seberapa dibandingkan dengan Kazuki.”

“…Yah, mereka bilang bolanya bulat.”

“…dan Poker! Aku sengaja bermain curang. Tapi sepertinya, dia mengolok-olokku…!”

Kim Hannah sangat marah.

Seol Jihu sedang menghancurkan semua hambatan yang ia siapkan untuknya.

Dia hampir bisa memahami perasaan Ratu Parasite.

“…Mau bagaimana lagi.”

Jang Maldong menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit, karena dia tidak mengira kegigihan Seol Jihu sebesar ini.

“Aku sebenarnya akan melakukan ini sehari, sebelum kita meninggalkan Hawaii. Tapi aku pikir, aku harus pindah ke malam ini.”

Malam itu, Jang Maldong membawa Seol Jihu ke pusat kota Honolulu.

Mereka tiba di rumah sakit bernama ‘Eden Paradise’.

Seol Jihu mengetahui, jika rumah sakit ini juga didirikan oleh earthling.

Seorang pria yang tampak sebagai staf rumah sakit, bergegas keluar untuk menyambut Jang Maldong.

Seol Jihu terdiam, ketika dia melihat pria tua itu berbicara dengan staf rumah sakit.

Dia tidak yakin, mengapa Jang Maldong membawanya ke sini. Tapi, dia siap untuk apa pun.

Jang Maldong telah memberitahunya, jika ada tempat yang ia ingin tunjukkan kepada Seol Jihu, muridnya, dan seseorang yang ingin ia temui.

Jang Maldong segera kembali dengan membawa file dan dua tali, masing-masing dilampirkan pada kartu pengunjung dalam bentuk kartu.

“Ayo masuk.”

Dia menyerahkan Seol Jihu salah satu kartu, dan berbalik.

Rumah sakit sibuk.

Meskipun sudah larut, lorong-lorong dipenuhi dengan dokter, perawat, dan pasien berjubah.

“Hawaii adalah tempat berkumpul bagi orang-orang yang bekerja di sana.”

Jang Maldong menjelaskan, mengarahkan Seol Jihu ke aula.

“Karena memiliki rumah sakit spesialis yang didedikasikan untuk orang-orang seperti kita. Tempat ini bukan amal, tentu saja. Tapi, lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya, ada jaring pengaman untuk saat ada masalah.”

“Jadi, jika kita mati di sisi lain, rumah sakit ini merawat kita?”

“Ya. Banyak orang pindah ke Hawaii hanya untuk berada di dekat rumah sakit ini, karena jarak yang lebih pendek. Berarti, waktu respons yang lebih cepat. Namun…”

Jang Maldong berhenti dan menampar bibirnya.

“Apa kamu tahu, kehidupan orang-orang yang mati di sana, yang hidup di Bumi?”

“Tidak…”

“Mereka menjalani kehidupan yang menyedihkan.”

Jang Maldong berkata dengan sederhana.

“Tingkat kelangsungan hidup untuk mantan earthling di Paradise adalah sekitar 57 persen… Tapi, jumlah itu termasuk Level 1. Tingkat kematian meningkat secara eksponensial, untuk setiap peningkatan level.”

Jang Maldong mengalihkan pandangannya dari dokumen, dan berhenti di jalurnya.

Dia menatap diam-diam ke ruang terbuka.




< Prev  I  Index  I  Next >

Posting Komentar untuk "SCG_360"

Follow Us