Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Traktir Ngopi gan...!

SCG_367

gambar

SCG_367

Bab 367. Yang Menunggu (1)

“Kkeu….”

Sebuah geraman berdeguk keluar, dari gigi Seol Jihu yang terkepal. Kedua tangannya gemetar, saat mereka mendorong batu itu.

Seol Jihu mengambil setiap ons energi dari tubuhnya, dan memusatkannya di tangan. Namun, batu itu tetap tidak bergerak.

Tidak peduli berapa banyak kekuatan yang ia gunakan, batu itu tetap menempel di tempatnya, seperti terpaku pada tanah.

Pupil mata merah Seol Jihu menyusut.

Matanya menyengat, dan penglihatannya kabur.

Dia ingin mengambil satu tangan dari batu dan menyeka matanya. Tapi, dia tidak bisa melakukan itu.

Jangankan memanjat gunung, bahkan berdiri diam saja hampir tidak tertahankan.

Jika dia melepaskan tangannya sebentar, batu itu akan berguling dan menghancurkannya.

Dia sudah mati beberapa kali, dengan cara yang sama persis. Namun, kekuatan manusia tidak tanpa batas. Cukup berdiri dan menjadi semakin tak tertahankan, seiring berjalannya waktu.

“Euuuuu, heuuuuuu…!”

Menyadari apa yang akan terjadi segera, tangisan seperti binatang keluar dari mulut Seol Jihu.

Dia mendorong ke depan dengan tangan yang terasa seolah-olah meledak, karena semua darah yang mengalir deras.

Tentu saja, batu itu tetap menempel, dan tubuhnya yang terdorong ke belakang.

“Keuk!”

Seol Jihu menundukkan kepalanya.

Ddddk.

Tetesan keringat mengalir dari rambutnya yang basah kuyup. Demikian juga, keringat mengalir di bagian atas tubuhnya yang terbuka, seperti hujan.

Dia telah melepaskan kemejanya sejak lama, memperlihatkan kulit dan ototnya yang kekar. Tidak hanya itu menghalangi. Tapi, lapisan tambahan juga menghambatnya.

Situasi yang tidak berubah ini sangat menyesakkan, sehingga dia ingin hatinya meledak. Mungkin dengan cara itu, hal-hal akan terasa sedikit lebih menyegarkan.

“…!”

Tiba-tiba, mata Seol Jihu melebar.

Dia kehilangan keseimbangannya, sementara dia kehilangan fokus sesaat. Tangan kirinya yang basah kuyup meluncur dari permukaan batu. Meskipun dia dengan cepat sadar, lengan kirinya sudah bergerak maju melewati batu.

Pada saat yang sama, batu itu terguling, seperti telah menunggu waktunya untuk saat ini.

“Ah.”

Dari wajah ke kaki, sensasi berat menimpa tubuhnya. Seol Jihu menjadi linglung dan visinya kabur dalam sekejap.

…Sekali lagi, dia gagal melampaui batasnya.

Crack! Craaaack!

Suara mengerikan tulang terdengar.

Segera, batu itu mencapai dasar gunung, meninggalkan jejak darah segar.

Yang tersisa dalam perjalanannya hanyalah tubuh sekarat yang berlumuran darah, dengan daging yang sobek dan tulang yang remuk.

Tubuh yang diinjak-injak secara sporadis. Bahkan, teriakan pun tidak terdengar.

Meskipun status durability Seol Jihu telah naik ke Intermediate (Intermediate), tubuhnya tidak mampu menahan batu besar itu.

Seol Jihu menatap tanpa tujuan, ke tempat ia berdiri.

Tidak lama kemudian, tubuhnya mulai berubah tembus. Dan ketika tubuh itu menghilang sepenuhnya, dia kembali ada di dasar gunung.

Dia sekarang berada di tempat yang sama, ketika dia pertama kali memasuki tempat ini.

Meskipun dia langsung hidup kembali, Seol Jihu tidak membuka matanya. Dia tetap diam dan berkeringat deras, di lapangan ditumbuhi rumput liar.

Berapa lama waktu berlalu?

Meskipun hanya dua puluh menit di Paradise, tiga jam dan dua puluh menit telah berlalu di tempat ini.

Setelah bangun, Seol Jihu sedang mendaki gunung sekali lagi.

Tentu saja, hasilnya tidak berbeda saat ini.

Ukuran batu itu secara bertahap meningkat dan menjadi 1,5 kali lebih besar, sebelum bahkan mencapai titik setengahnya.

Gunung sudah semakin curam saat semakin dekat ke puncaknya. Jadi, dengan batu semakin berat, otot Seol Jihu mencapai batas mereka lebih awal.

Itu sebabnya, dia tidak bisa memanjat lebih jauh. Bahkan jika dia mengambil langkah maju dengan susah payah, batu hanya bertambah berat.

Dia bertemu dengan serangkaian batasan.

‘Sial.’

Sangat buruk, sehingga Seol Jihu mengira, dia sedang dipermainkan. Tapi, batu itu bukan satu-satunya hal yang unik.

Hal pertama yang Seol Jihu rasakan setelah datang ke tempat ini adalah, kurangnya kebutuhan untuk makan dan minum.

Dia juga tidak lapar atau haus. Dan jika dia mati selama ujian, dia hanya akan hidup kembali pada titik awal.

Ketika dia memulai, dia senang, berpikir itu adalah lingkungan yang sempurna untuk pelatihan.

Tapi, itu dia.

Bahkan jika dia tidak merasa lapar atau haus, pikirannya masih lelah. Itu sama dengan rasa sakit.

Pertama kali dia meninggal, Seol Jihu berteriak keras.

Dia sudah terbiasa sekarang, setelah mati ratusan kali. Tapi apa yang ia rasakan saat pertama kali dihancurkan sampai mati oleh batu besar, masih jelas di benaknya.

Satu-satunya hiburan adalah jika status Durability -nya meningkat satu tahap, dari kematian berulang.

Seol Jihu tersenyum pahit sebelum mengerutkan alisnya, karena rasa sakit di lengannya.

Itu melelahkan.

Sangat menyakitkan dan melelahkan, sehingga dia ingin mati. Tapi yang paling melelahkan adalah, dia tidak tahu tujuan dari ujian.

Tidak ada tujuan yang jelas.

Dia tidak tahu, mengapa dia melakukan apa yang ia lakukan.

Mengesampingkan tujuan ‘menempatkan batu di atas gunung’, dia tidak bisa mengerti apa yang ia capai.

Mungkin lebih baik, jika setidaknya ada ujian yang berbeda untuk dipilih. Tapi, mendorong batu besar ke atas gunung selama 100 hari berturut-turut tanpa tujuan yang terlihat, itu sudah cukup untuk menyebabkan penyakit mental. Bahkan, untuk pikiran terkuat.

Jika Seol Jihu tidak mengembangkan temperamen ‘Sort Temperament’ melalui pelatihan Jang Maldong, dia akan menjadi gila sejak lama.

Tetap saja, itu bukan berarti tidak ada kemajuan.

Tempat di mana dia saat ini dipaksa untuk berhenti, berbeda dari tempat di mana ia awalnya berhenti.

Dia telah maju setidaknya sedikit.

Tapi, itu hanya dua puluh enam langkah di depan. Dia masih memiliki jalan panjang, tapi dia bahkan belum mengambil tiga puluh langkah.

Pada tingkat ini, tidak diketahui, apakah dia akan lulus ujian pertama.

Akhir terasa begitu di luar jangkamuan, sehingga Seol Jihu menundukkan kepalanya.

Saat dia menutup matanya, menatap darah dan keringat yang membasahi jalan gunung…

‘…Hah?’

Sebelum dia memperhatikan, beban yang meremukkan di lengannya, sepertinya sedikit berkurang. Telapak tangannya yang terbakar dengan rasa sakit merobek, berubah hangat, saat darah mengalir melalui itu.

Apa yang terjadi?

Apakah tangannya tergelincir lagi, sementara dia tidak memperhatikan?

Berpikir ‘bagaimana jika’, Seol Jihu mengangkat kepalanya. Rahangnya terjatuh.

Syukurlah, tangannya masih melekat erat ke batu.

Mereka belum tergelincir. Sebagai gantinya, sebuah pesan dicetak di depannya.

[Stat Strength-mu meningkat dari Intermediate (Intermediate) ke Intermediate (High).]

Kekuatan memasuki mata Seol Jihu. Ini adalah pesan peningkatan stat kedua yang muncul, sejak dia memasuki Path of Soul.

“Ayo pergi…!”

Pada saat berikutnya, Seol Jihu mendorong batu itu dengan gembira.

Segalanya berbeda dari sebelumnya.

Batu itu naik dengan sangat baik, seolah-olah persepsi bawah sadar Seol Jihu tentang keterbatasannya sendiri, telah membatasi dirinya selama ini.

“Bagus…!”

Dia berteriak dalam kegembiraan murni, tapi dia takut di dalam.

Dia telah mencapai hasil ini, setelah seratus hari kesakitan dan kesulitan. Bagaimana jika dia tidak bisa lulus ujian pertama?

Sebanyak dia menaikkan harapannya, kekecewaan itu juga akan sangat besar.

Karena itu, Seol Jihu mendorong batu itu dengan tergesa-gesa. Namun, kenyataannya dingin.

Semakin dekat dia ke puncak, batu itu menjadi lebih besar dan lebih besar, sampai akhirnya menjadi dua kali lipat ukuran aslinya.

Berat yang ia rasakan di tangannya, adalah puluhan kali lebih besar dari pada awalnya.

“Uek!”

Akhirnya, batu itu tenggelam ke lereng gunung.

“Tolong, tolong…!”

Itu tidak bergerak, bahkan pada permintaan putus asa Seol Jihu. Batu itu berdiri dingin di tempatnya. Seol Jihu telah mencapai batas sekali lagi, dengan hanya sekitar tiga puluh langkah yang tersisa.

Ekspresi Seol Jihu meredup.

Dia mencoba mendorong ke depan, menolak menyerah. Tapi, dia memaksakan diri hanya membuat tangannya tergelincir.

“Ah!”

Ketika dia secara refleks keluar dari jalan, batu itu meluncur turun gunung, seperti longsoran salju.

Dia sekarang harus turun gunung dan memulai dari awal lagi.

“…Haa.”

Seol Jihu menghela nafas dari lubuk hatinya. Untuk sementara, dia dengan bingung menatap jalan gunung, sebelum jatuh ke tanah.

Kakinya tiba-tiba menyerah.

Dia merasa seperti selesai berlari marathon, hanya untuk diberi-tahu, jika dia perlu melakukan putaran lain. Tentu saja, tak perlu dikatakan, jika situasi saat ini seribu kali lebih buruk.

“….”

Seol Jihu tidak berdiri untuk waktu yang lama.

Dia ingat pepatah, itu hanya semakin sulit, saat kamu semakin dekat dengan akhir.

Dia berempati dengan pepatah ini, lebih dari sebelumnya. Tiba-tiba, dia tidak ingin bangkit kembali.

Dia melihat matahari terbit seratus kali, sebelum dia bisa mencapai titik ini. Dia bahkan tidak bisa memperkirakan, berapa lama baginya untuk mendaki jarak yang tersisa.

“…Bangsat…”

Kutukan kasar keluar dari mulutnya.

Ketika dia duduk di tempat, tidak ingin melakukan apa pun, dia tiba-tiba punya pikiran.

“Haruskah aku mencoba naik?”

Seol Jihu melirik ke puncak pertama.

Dia belum naik ke sana.

Tidak sampai sekarang, dia bahkan tidak berpikir tentang berjalan tanpa batu.

“Pesan itu mengatakan untuk mendorong batu besar ke atas. Tapi, bukankah tidak apa-apa untuk melihat apa yang ada di sana?”

Seol Jihu tidak berharap untuk lulus ujian dengan cara ini. Dia hanya ingin tahu, apa tujuan dari ujian ini.

‘…Ayo kita coba. Mungkin, itu akan memberiku petunjuk. ‘

Seol Jihu bangun setelah banyak pertimbangan, dan terhuyung-huyung menaiki lereng gunung yang curam.

Meskipun dia memberikan segala macam alasan untuk membenarkan naik gunung. Itu benar-benar berbeda. Karena dia tidak merasa, seperti dia bisa menangani turun kembali, dan berdiri di depan batu sekali lagi.

Demi kewarasannya, dia membutuhkan perubahan suasana. Jadi, Seol Jihu naik selangkah demi selangkah, dan ketika dia akhirnya mencapai puncak…

Tiga peringatan menghantam telinganya.

[Pembatasan kelas dan skill lain-lain dicabut.]

[Pembatasan mana diangkat.]

[Semua artefak tidak disegel.]

“Eh?”

Suara terkejut keluar dari mulut Seol Jihu. Kebahagiaan muncul di wajahnya yang cemberut.

Kemampuan dan artefaknya bisa digunakan lagi. Apalagi, Mana-nya telah kembali.

Kekuatan memasuki anggota tubuhnya, saat dia merasakan energi kuat yang beredar di seluruh tubuhnya.

“Jadi, melewati ujian pertama, dengan mengangkat semua batasan.”

Menemukan ini sepadan dengan upaya mempertaruhkan bahaya dan mendaki ke atas.

Seol Jihu mengangguk, sebelum memiringkannya dengan bingung.

Kemampuannya telah kembali, tapi…

‘Kenapa basic skill-ku tidak kembali?’

Memikirkannya sekarang, itu aneh.

Pesan mengatakan class skill-nya, skill lain-lain, dan artefak tidak dibatasi. Namun, itu tidak mengatakan hal yang sama untuk basic skill-nya, Future-Gauging Nine Eyes. Jelas mengatakan, jika itu menghilang sementara.

Itu mencurigakan, tidak peduli bagaimana dia memikirkannya.

Karena dia sudah naik ke puncak pertama, Seol Jihu mengira, dia akan naik ke puncak yang lain juga. Kemudian, dia berjalan di jalan setapak, yang membentang di atas lereng gunung pertama.

Jalan kedua tidak jauh berbeda. Yang harus ia lakukan adalah memanjat.

Tapi, jika dia menjelaskan perbedaan secara mendetail. Itu hanya akan menjadi, jika jalur kedua agak sempit dan memiliki persimpangan yang tak terhitung jumlahnya di tengah.

“Apakah ujian kedua adalah labirin atau semacamnya?”

Saat dia memanjat dengan keraguan, tiba-tiba dia merasakan getaran besar.

Kemudian, dia melihat sebuah batu yang terguling dengan cepat dari puncak kedua.

Tidak, itu bukan batu besar. Setidaknya selusin bergulir, satu per satu.

Seol Jihu tersentak secara refleks, sebelum memalingkan matanya dan membangunkan mana. Sekarang setelah mana-nya kembali, dia tidak punya alasan untuk takut pada batu-batu besar atau menghindarinya.

Seol Jihu menunggu batu pertama turun, sebelum meninju ke depan dengan kekuatan penuh.

Boom!

Batu itu meledak dalam satu pukulan.

Seperti yang diharapkan, kekuatan mana peringkat High (High), sudah cukup untuk menghancurkan batu berukuran mobil, menjadi potongan-potongan kecil.

Saat potongan-potongan kecil batu beterbangan di udara, Seol Jihu mengayunkan tinjunya satu demi satu.

Kwang, kwang, kwang, kwang!

Seol Jihu mengayunkan tangannya tanpa berhenti.

Dia meninju dengan tinju mana, seolah-olah untuk melampiaskan rasa frustasinya yang terpendam.

Menghancurkan batu-batu besar, memberinya perasaan ekstasi dan kebebasan, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Tapi, ketika dia menghancurkan batu kesepuluh, getaran baru meletus dari kiri dan kanan. Batu-batu besar bergulir dari puluhan persimpangan, yang membentang ke segala arah.

“Jadi, itu bukan labirin.”

Seol Jihu tersenyum dan melompat.

Dengan ringan, dia menginjak sebuah batu yang baru saja bergulir, dia mengeluarkan mana yang mengelilingi tubuhnya.

Paat!

Kilatan cahaya memotong lereng dalam sekejap.

“Ha ha ha!”

Seol Jihu tertawa.

Dia tahu, dia seharusnya tidak bergantung pada mana. Tapi, itu terlalu menyenangkan.

Dia mengira, ujian kedua menjadi lebih sulit daripada yang pertama. Jadi, dia tidak bisa menahan kebahagiaannya. Karena dia tahu, jika ujian kedua akan mudah.

Seol Jihu berlari melalui jalur dalam sekejap mata, dan mencapai puncak kedua.

Dia mengundurkan diri dengan ringan, dan segera melihat sekeliling dengan baik.

Saat itu.

“…!?”

Dia bergoyang, segera setelah dia menginjak tanah.

“Hah? Hah?”

Dia tiba-tiba tidak bisa merasakan mana.

Alih-alih menghilang lagi, sensasi itu sendiri tidak ditransmisikan. Dia merasa seperti mengambang di udara.

Bahkan ketika dia menelan ludahnya, dia tidak bisa merasakannya turun ke tenggorokannya. Dia tidak bisa merasakan dirinya bernapas, dan semua suara menjadi jauh.

Akhirnya, penglihatannya kabur, sebelum benar-benar gelap.

Kelima indera telah kehilangan fungsi mereka.

Karena Seol Jihu bingung apa yang harus dilakukan dalam kegelapan yang tiba-tiba…

[Eu… eu…]

Erangan terdengar di kepalanya.

Seol Jihu melihat ke kiri dan ke kanan dengan kaget, sebelum menetapkan pandangannya di satu tempat. Tempat ini adalah satu-satunya tempat yang menyala di tengah-tengah kegelapan. Itu hampir seolah-olah lampu sorot bersinar di atasnya.

Seorang lelaki berbadan tegap berbaring di sana, mengerang.

Seol Jihu menatap kacamata pria yang hancur, sebelum menyadari siapa dia.

“Hyung?”

Kenapa dia tiba-tiba melihat Seol Wooseok di sini?

Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia menolak untuk diam.

Tepat ketika dia mencoba bergegas mendekatinya untuk bertanya, apakah dia baik-baik saja…

“Tolol.”

Mata Seol Jihu membelalak.

‘A-Apa yang baru saja dia katakan?’

“Kenapa kamu datang padaku? Terutama jika kamu akan tersingkir oleh satu pukulan. Apakah kamu benar-benar berpikir, aku akan dipukuli, seperti ketika kita masih muda?”

Seol Jihu menggelengkan kepalanya dengan gila.

Mulutnya bergerak sendiri.

“Kenapa kamu muncul di sini? Sangat memalukan.”

Puk!

Dia kemudian menendang Seol Wooseok.

Tubuhnya bergerak sendiri juga.

[Jihu… tolong…]

“Enyahlah, oke? Tepat ketika aku juga beruntung… Eii, kamu mengusir semua keberuntunganku.”

Seol Jihu meludah ke tanah dan berbalik, dan Seol Wooseok menggigit bibirnya, ketika dia melihat Seol Jihu pergi.

Seol Jihu menatap semua ini dengan linglung, sebelum menggelengkan kepalanya.

Tidak, ini bukan.

‘Aku tidak mengatakan ini…’

Ketika pikirannya kacau, tiba-tiba dia merasakan tatapan.

Seol Wooseok menatap lurus padanya, dengan tatapan terbakar. Air mata mengalir di pipinya, ketika dia menatapnya dengan tajam.

Tsssst!

Detik berikutnya, mata Seol Jihu terbuka.

Sebuah bola api besar tiba-tiba menyala di dalam hatinya. Api menyebar dalam sekejap dan membakar tubuh Seol Jihu.

“Kuaaaaaaaaah!”

Jeritan mengerikan bergema.

Seperti seorang penyihir yang sedang dibakar, Seol Jihu merasakan sakit yang tak terlukiskan, saat dia dibakar hidup-hidup.

Itu bukan akhirnya.

Setelah menggeliat kesakitan selama sepuluh menit atau lebih…

[Syukurlah, Oppa. Itu keputusan yang tepat, itu keputusan yang tepat. Terima kasih sekali.]

Sebuah suara baru terdengar sebelum api mereda.

[Ayo pergi, minta larangan permanen dulu. Kita bisa memberi tahu Ayah dan Ibu, sesudahnya. Ah, Kakak juga.]

[Jangan khawatir! Aku akan pergi bersamamu!]

Seol Jihu berjuang untuk mendapatkan kendali atas tubuhnya, tapi kepalanya berputar sendiri. Melalui matanya yang berlinang air mata, dia melihat Seol Jinhee yang tersenyum ceria.

[Apa kamu lapar? Apakah kamu ingin berhenti di tempat istirahat, dan mengambil makanan?]

[Kentang panggang dan cumi bakar, kan? Oke, oke, aku mengerti. Aku akan segera kembali, jadi tunggu beberapa menit…]

“Tidak, jangan.”

Seol Jihu membuka mulutnya tanpa sadar.

Karena…

‘Tidak tidak…!’

Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seolah ingin membuktikan jika dia benar, pemandangan langsung berubah.

[Oppa! Opppaaaaa!]

Seol Jinhee berlari ke arahnya.

Lengannya penuh dengan makanan yang ia beli dari tempat istirahat. Saat dia bergegas untuk menyusulnya…

[Oppa… Ah, aaack!]

Dia tersandung dan jatuh dengan keras.

Kentang panggang tumpah, dan sup kue ikan juga tumpah.

[Oppa! Jangan pergi! Oppaaaaa…!]

“Hehe, operasi berhasil.”

Mulutnya bergerak sendiri lagi.

“Aku seharusnya bisa mendapatkan jumlah pinjaman yang bagus dengan ini, kan? Heh, aku akan menggandakan beberapa kali, dan membelikannya sesuatu yang lebih baik.”

Seol Jihu menginjak pedal gas sambil bersenandung riang.

Pada saat berikutnya, wajahnya yang tersenyum berkerut berat.

‘Uaaah, uaaaah!’

Seol Jihu berteriak dalam hati, dan mencari adik perempuannya.

Seol Jinhee berlutut di tempat yang sama, dengan bingung menatap mobil, saat ia melaju.

[…Op…]

Ekspresi Seol Jinhee tiba-tiba menjadi dingin.

Dia mengepalkan giginya, bergetar dari kepala ke kaki, dan meneteskan air mata darah. Kemudian, dia dengan marah menatap Seol Jihu yang menangis.

“Kuk…”

Ketika Seol Jihu bertemu mata adiknya, dia tiba-tiba menahan nafas.

Rasa dingin sedingin es, mengalir dari jantung-nya. Badai salju diaduk dan merembes ke setiap organ dan vena.

Rasa sakit fisik adalah satu hal, tapi yang lebih tak tertahankan adalah rasa sakit mental.

Kekuatan yang tak tertahankan menusuk otaknya, mengeluarkan semua ingatannya yang menyakitkan.

“Kkeuk… kkeuk…”

Sekarang, suaranya bahkan tidak keluar dengan benar.

‘Maaf… maaf…’

Seol Jihu melangkah mundur, sebelum tiba-tiba lemas. Lengannya jatuh, dan kepalanya jatuh.

Air mata mengalir di wajahnya tanpa henti.

Segera, matanya yang menangis menjadi tidak fokus, dan menjadi kabur.

Saat dia menangis tanpa henti, tubuh bagian atas Seol Jihu mulai miring.

Jatuh ke depan sedikit demi sedikit, perlahan-lahan jatuh dengna wajah duluan.

Seol Jihu telah hancur, tidak lagi mampu menahan rasa sakit. Kemudian, Seol Jihu melihat seseorang melalui penglihatannya yang kabur.

Seorang wanita menatapnya dengan ekspresi sedih. Dia akrab dengan wajahnya.

Pada saat itu, Seol Jihu memikirkan seseorang. Bahkan, ketika mengetahui itu tidak mungkin.

“S…”

Dia berbicara, meskipun dia tahu itu.

“Seon…”

Seolah menanggapi panggilannya, wanita itu mengambil langkah ke arahnya. Seol Jihu mengangkat matanya sedikit. Namun, wajahnya yang basah kuyup jatuh dalam sekejap.

Kegelapan dengan cepat merayap dekat.

Seol Jihu tidak menyadari hal ini, tapi dia menggapai wanita itu, seolah dia akan hancur.

“Seonhwa…”

Dia mengulurkan tangannya dan memanggil namanya.

“Seonhwa…”

Jadi, tepat sebelum kepalanya menyentuh tanah…

Tangannya yang gemetaran dan tanpa tujuan…

Tak.

…itu diraih dengan tangan lembut.




< Prev  I  Index  I  Next >

Posting Komentar untuk "SCG_367"

Follow Us