Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Untuk memperbesar atau memperkecil font, gunakan 'zoom in' dan 'zoom out'.
Terima kasih. Selamat membaca... :)
Support Us: Traktir Ngopi gan...!

SCG_444

gambar

The Second Coming of Gluttony

SCG_444

Bab 444. Saat Dia Pergi (1)

 

Ekspedisi Sumpah Kekaisaran kedua.

Rangkaian insiden yang dimulai dengan serangan mendadak Parasite terhadap Nur… berakhir ketika ekspedisi 21 anggota menyusup ke Kekaisaran dengan mempertaruhkan nyawa mereka, dan mencapai tujuan mereka.

Ekspedisi tersebut tampaknya telah berakhir dengan berhasil, ketika tim tersebut mengambil prasasti, dan dua puluh anggotanya kembali dengan selamat. Tapi itu jauh dari kebenaran…

Karena ternyata, tujuan Parasite yang sebenarnya bukanlah prasasti itu. Federation dan manusia telah berputar-putar di telapak tangan Ratu Parasite sepanjang waktu.

Ekspedisi telah selesai, tapi tim tidak lengkap. Setelah keluar dari wilayah Parasite, mereka pindah ke pangkalan operasi Haramark, benteng Lembah Arden.

Semua itu untuk menunggu anggota ekspedisi terakhir, yang belum kembali.

Chohong duduk bersila di pos penjagaan tertinggi di lembah. Dia telah mengamati jalan di dekat pintu masuk lembah sejak pagi hari, tanpa bergerak sedikit pun.

Kazuki yang membawa nampan sarapan, menghela nafas, ketika melihat Chohong. Hari ini, bukan pertama kalinya Chohong melakukan ini.

Chohong telah melihat ke jalan, sejak ia tiba di benteng lembah. Dia makan di pos jaga dan tidur di pos jaga. Meskipun, dia tahu persis apa yang terjadi.

Dan itu bukan hanya Chohong. Semua orang tahu apa yang terjadi pada Seol Jihu.

Observation Vitae Teresa menjadi tumpukan abu, dan Eun Yuri mengkonfirmasi kematiannya dengan Roselle.

“Makananmu di sini.”

Kazuki meletakkan nampan di sebelah Chohong, tapi dia bahkan tidak melihat. Kazuki tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah lelah membujuknya. Dan bukan berarti, Chohong satu-satunya di keadaan ini.

“Dia akan makan, saat dia lapar.”

Kazuki bergumam pada dirinya sendiri dan berbalik.

“Ah.”

Tapi dia berhenti, sebelum dia menginjakkan kaki di lereng, karena dia ingat sesuatu.

“Sepertinya, dia akan tiba besok pagi.”

Chohong sedikit tersentak.

“…Di mana?”

“Kami tidak tahu pasti. Kami hampir tidak tahu lokasinya saat ini.”

“…”

“Tunggu dia. Jangan lakukan sesuatu yang gegabah,” kata Kazuki, sebelum melanjutkan menuruni lereng.

Pagi selanjutnya.

Hujan sudah turun sejak fajar. Apa yang dimulai sebagai gerimis, segera menjadi hujan yang turun tanpa ampun di atas benteng. Seolah-olah, sebuah lubang telah dilubangi melalui langit, yang penuh dengan awan gelap.

Chwaaaa…

Mengintip melalui hujan lebat, Yi Seol-Ah melihat seorang pria di kejauhan mendekati benteng.

“Lihat! Di sana!”

Dia berteriak, karena terkejut.

Meskipun sosok itu terhuyung-huyung, dia sangat terharu. Ini hanya bisa berarti satu hal… dia masih hidup. Bahkan, Kazuki melebarkan matanya.

Tapi setelah pemeriksaan lebih dekat, mereka menyadari, jika asap hitam yang mengelilingi tubuh pria itu lah, yang menggerakkannya.

Saat pria itu mendekat, mereka dapat dengan jelas melihat kepalanya yang terkulai, lengan yang menggantung, dan dua kaki yang terseret di tanah yang basah… meninggalkan bekas yang panjang di belakangnya.

Gerbang terbuka.

Flone melayang melalui gerbang, dengan lengan kirinya melingkari leher Seol Jihu. Saat dia perlahan mengangkat kepalanya, mata bingung semua orang menoleh padanya.

[Kami kembali…]

Flone masih menangis. Air mata darahnya bercampur dengan hujan yang turun, dan menyebar seperti cat air di pipinya.

Setelah hening beberapa saat, dia dengan hati-hati membaringkan Seol Jihu di tanah, di depan semua orang. Kemudian, dia menempatkan Spear of Purity dan telur merah di sebelah tubuh itu.

Akhirnya, anggota terakhir tim ekspedisi telah kembali.

Semua orang terdiam, saat melihat Seol Jihu.

Pria yang terbaring di tanah hampir tidak merasa familiar, setelah hujan menyapu darah yang menutupi tubuhnya dan mengungkapkan jejak perjuangannya.

Lukanya hanya bisa digambarkan, sebagai luka yang mengerikan. Itu sudah cukup, untuk membuat mereka yang menonton bergidik ngeri.

Melihat bibir biru dan kantong hitam di bawah matanya, Yi Seol-Ah mulai terisak. Kondisi tubuhnya menjadi bukti, betapa putus asa ia bertarung.

Tiba-tiba, seorang wanita terhuyung ke depan. Dia menjatuhkan diri di samping tubuh, dan mulai melafalkan mantra suci. Wanita ini adalah… Seo Yuhui.

Menggumamkan mantra penyembuhan berulang kali, Seo Yuhui tampak di samping dirinya sendiri.

“Lengan… Lengannya…”

Jari-jarinya meraba-raba bahu kanan Seol Jihu, di mana lengannya telah terpotong. Dia segera mengangkat tangannya ke udara, mengeluarkan altar, mengambil semua persembahan yang bisa ia temukan di Dimensional Pocket, dan meletakkannya di atas altar.

Philip Muller menatap Eun Yuri.

Eun Yuri menggigit bibir bawahnya dan dengan cepat mengucapkan mantra. Ketika dia selesai menggambar dua lingkaran dengan jarinya, Seo Yuhui yang akan membungkuk ke altar, jatuh ke tanah.

Seandainya, Seo Yuhui berada dalam kondisi pikirannya yang normal. Dia dengan mudah akan menolak mantra tidur sederhana, seperti yang baru saja digunakan Eun Yuri. Tapi, karena kekuatan mentalnya telah melemah secara signifikan…

Dia tidak bisa menahan mantera dan dengan demikian jatuh pingsan.

“Ratu Parasite tidak pernah peduli dengan prasasti… aku pikir, dia mengejar Oppa sejak awal.”

Setelah Oh Rahee membawa Seo Yuhui ke dalam, Eun Yuri mulai berbicara.

“Seluruh pasukan Parasite, bahkan yang seharusnya mengejar kita, mengejar Oppa… Mereka melangkah lebih jauh, dan melakukan Taktik Roda untuk melawannya…”

Dengan suara kecil tapi jelas, dia menceritakan semua yang ia pelajari dari Roselle.

“Setelah kita berpisah… dia tidak bisa beristirahat sedetik… dikelilingi oleh musuh. Dia bertarung terus menerus, tanpa henti…”

Selama 12 hari berturut-turut.

“Bahkan, melawan pasukan puluhan ribu parasite… dia tidak akan jatuh… jadi, Ratu Parasite dan enam Army Commander harus turun tangan…”

Eun Yuri berhenti sejenak sambil berbicara. Lalu, menggertakkan giginya.

“Yang benar adalah…”

Ada satu hal yang ditekankan gurunya, agar semua orang tahu.

“Oppa… tahu itu.”

Roselle memberi-tahunya, jika mereka harus berterima kasih kepada Seol Jihu. Roselle berkata kepadanya, jika bahkan berlutut di depannya dan membungkuk seratus kali tidak akan cukup.

“Dia menyadari niat sebenarnya dari Ratu Parasite, saat dia melarikan diri…”

Karena…

“Dan dia lega…”

Tidak mungkin Seol Jihu tidak tahu, jika masuk ke perangkap musuh akan mengurangi peluangnya untuk kembali hidup-hidup, hingga hampir nol.

Meski begitu, Seol Jihu tidak melarikan diri. Dia masuk ke dalam jebakan, tahu itu jebakan. Dan itu bukan untuk membuktikan apapun.

Dia hanya menginginkan satu hal, dan satu hal saja. Dia ingin rekan-rekannya melarikan diri dengan selamat.

Untuk alasan itu, Seol Jihu mengangkat tombaknya tanpa ragu-ragu. Khawatir musuh akan mulai mengejar rekan-rekannya, dia memilih untuk menghadapi Parasite secara langsung. Bahkan, dengan risiko kematiannya.

“Idiot…”

Phi Sora cemberut, matanya merah karena menangis.

“Sudah aku bilang jangan pedulikan…”

Dia menyeka air matanya, dengan tangannya.

Kazuki dengan cepat mendekati Chohong dari belakang dan meraih lengannya. Sehingga, dia tidak bisa bergerak. Napas Chohong menjadi tidak teratur, dan tangannya yang memegang Thorn Steel bergetar.

Matanya yang merah penuh dengan air mata, dan dia tampak hampir siap untuk menyerbu ke wilayah musuh.

“Jangan pernah berpikir tentang itu.”

“Pikirkan tentang apa?”

“Kamu tahu apa maksudku. Sudah terlambat untuk melakukan apapun.”

“Lepas. Lepaskan aku! Tidak bisakah kamu melihat itu?”

Tubuh Chohong bergetar, seolah hendak meledak.

“Apa itu terlihat seperti tubuh manusia bagimu? Tidak, itu sepotong daging yang disembelih! Aku akan melakukan hal yang sama pada Parasite! Bajingan itu…!”

Chohong berteriak sekuat tenaga, berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Kazuki. Tiba-tiba, sebuah tangan seukuran tutup panci, meraih lengannya. Dia mencoba melepaskannya. Tapi, tangan itu hanya menekan lebih keras.

“Lepas…!”

“Hentikan.”

Saat dia akan meledak, dia mendengar suara suram.

Chohong berbalik.

Ekspresi bingung melintas di wajahnya.

Hugo lah yang menangkap lengannya. Dia tampak tenang dan serius, yang tidak biasa baginya.

Pembuluh darah yang membelah di bagian putih matanya, adalah bukti jika segudang emosi melayang di benaknya. Tapi dia bisa melihat, jika dia menahannya dengan sekuat tenaga.

Hugo berbicara dengan mata tertuju pada Seol Jihu.

“…Dia di sini sekarang.”

Hanya itu yang ia katakan. Itu hanya tiga kata. Tapi ketika dia mendengarnya, Chohong merasakan semua kekuatan meninggalkan tubuhnya.

Setetes air mata mengalir di pipi Hugo, dan bercampur dengan hujan.

Bukan hanya Hugo. Marcel Ghionea juga menangis. Wajahnya basah karena hujan. Tapi, aliran air yang mengalir di pipinya, tanpa diragukan lagi… itu adalah air mata kebencian terhadap Parasite.

Gedebuk!

Thorn Steel menghantam tanah, dan kepala Chohong jatuh pada saat yang bersamaan. Wajahnya sedih dan dia terisak-isak.

Seolah itu isyarat, isak tangis perlahan mulai memenuhi benteng.

“Hujan semakin deras…”

Raja Prihi yang diam sampai saat itu, mengangkat kepalanya ke arah langit.

“Kita harus membawanya masuk, sebelum cuaca menjadi lebih dingin.”

Atas perkataan Prihi, Jan Sanctus membuka peti kayu, yang telah mereka persiapkan sebelumnya.

Teresa mengangkat Seol Jihu dari tanah, dan dengan hati-hati membaringkannya di dalam peti mati.

Sebelum menutup tutupnya, dia mengambil tangan Seol Jihu yang pucat dan tak bernyawa, di tangannya.

“Jangan khawatir.”

Teresa berbisik pada Seol Jihu, yang sepertinya tertidur lelap.

“Kami akan melindungi Paradise, sampai kamu kembali…”

Dia mencium di dahinya yang dingin, dan menutup tutupnya. Kemudian, dia menutupi peti itu dengan selembar kain putih.

“Pahlawan kita telah kembali kepada kita.”

Prihi mengumumkan dengan sungguh-sungguh.

“Perlakukan dia dengan hormat dan sopan, yang pantas ia terima.”

Jan Sanctus dan tentaranya berbaris lebih dalam ke dalam benteng, membawa peti kayu di pundak mereka. Rekan-rekan pahlawan mengikuti prosesi dengan wajah serius.

Hujan terus turun, membasahi kain penutup peti mati….

***

 

Keluarga kerajaan Haramark mengirim tubuh Seol Jihu ke Eva. Dengan itu, berita kematiannya menyebar dengan cepat. Dan keluarga kerajaan Eva yang dengan tidak sabar menunggu kembalinya Seol Jihu, menjadi hiruk pikuk.

Menurut rumor yang beredar, Charlotte Aria terus menerus pingsan, setelah mendengar berita tersebut. Dan bahkan, Sorg K├╝hne pun menolak untuk keluar dari kamarnya.

Situasi di Valhalla tidak jauh berbeda.

“Siapa yang kamu katakan sudah mati? SIAPA? Mustahil! Itu tidak mungkin!”

Teriakan Jang Maldong bergema di seluruh gedung.

“Tuan Jang! Harap tenang…!”

Permohonan putus asa Kim Hannah juga terdengar.

“Minggir! Aku… Aku harus pergi menemuinya…. Uhuk uhuk!”

“Tenanglah, Tenang!”

Yi Sungjin yang sedang menderita apakah akan masuk atau tidak, dengan cepat membuka pintu, ketika dia mendengar permintaan bantuan Kim Hannah. Dia bersama dengan Kim Hannah, memaksa Jang Maldong untuk tenang.

“Haaaaa….”

Rambutnya acak-acakan dan terurai, Kim Hannah menghela nafas panjang. Dia terlihat kurang ideal, karena kurang tidur selama beberapa hari terakhir.

“Um…”

Setelah beberapa saat ragu, Yi Sungjin berbalik ke arah Kim Hannah. Dia memiliki kantung hitam di bawah matanya.

“Bukankah kamu harus cepat?”

Kim Hannah yang telah menghela nafas tanpa istirahat, melirik Yi Sungjin.

“Aku tahu… aku akan segera pergi. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan persiapan.”

“Mempersiapkan pekerjaan?”

“…Ya.”

Saat dia menjawab dengan suara kelelahan, seberkas kekhawatiran melintasi alisnya.

“Ini seharusnya terjadi sekitar sekarang…”

***

 

Beberapa hari yang lalu.

Saat itu sudah lewat tengah malam dan udara dingin.

“Heuuuuu!”

Seol Jihu bangun dengan kaget. Matanya terbuka lebar dan dia tersentak dan terengah-engah. Seolah-olah, dia baru saja lolos dari mimpi buruk.

Penglihatan kaburnya mulai jelas, dan dia melihat pola yang dikenalnya di dinding.

Dia ada di kamarnya.

Untuk sesaat, dia berbaring dalam diam, mengedipkan matanya dengan cepat. Tapi segera, dia menendang selimutnya untuk bangun. Saat itulah, gelombang pusing tiba-tiba melanda dirinya.

“Ugh…”

Sambil mendengus, Seol Jihu menjatuhkan diri kembali ke tempat tidur.

‘Ini dingin…’

Sambil menggertakkan giginya, dia memeluk dirinya sendiri. Dia tidak bisa berhenti menggigil. Dan kepalanya berdenyut-denyut, seolah sedang pusing. Dia tidak pernah merasa begitu sakit.

“Apakah aku minum terlalu banyak tadi malam?”

Berbaring telentang di tempat tidurnya, Seol Jihu hanya menggerakkan bola matanya, untuk memindai ruangan. Dia tidak bisa melihat botol atau gelas di dekatnya.

‘…Hah?’

Tiba-tiba, kepalanya sedikit miring, karena bingung.

‘Apakah kamarku… selalu sebersih ini?’

Ada lapisan tipis debu di furniture. Tapi secara keseluruhan, kamarnya tampak rapi. Asbak tempat ia membangun menara puntung rokok, juga hilang.

‘Apakah Seonhwa datang? Atau… tunggu sebentar.’

Mata Seol Jihu menyipit. Sesuatu terasa aneh.

‘Aku pergi mengunjungi Seonhwa kemarin…. Dia memberiku 2 juta won dan aku pulang dengan itu. Lalu…?’

Seol Jihu mengerutkan kening. Dia mencoba untuk tetap tenang. Tapi, semakin dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, dia mulai merasa semakin tidak teratur.

Dia tercengang. Mengapa dia mengira sesuatu yang telah terjadi lebih dari setahun yang lalu, baru saja terjadi kemarin?

Seol Jihu menarik napas dalam-dalam, dan mencoba mengatur pikirannya.

‘Tidak aku…’

Tepat sekali, kemarin dia bertemu Yoo Seonhwa. Itu terjadi jauh lebih lama. Dan setelah itu, dia…

‘Hmm? Hah?’

Tidak, setelah dia kembali dari rumah Seonhwa… hari itu…

‘Aku bermimpi aneh…?’

Ya, dia bermimpi, meskipun dia tidak bisa mengingat tentang apa itu. Setelah dia bangun, dia berkeliaran di sekitar lingkungan untuk sementara waktu. Lalu, di Tancheon…

‘Aku rasa… aku bertemu seseorang…?’

Memegang kepala dengan tangannya, Seol Jihu merengek.

‘Orang yang aku temui adalah…’

Ketika dia mencoba mengingat, tusukan rasa sakit yang sangat kuat menyentak otaknya. Itu menyebabkan matanya tersentak terbuka.

“Aak!”

Jeritan keluar lagi dari bibirnya. Rasa sakit semakin tajam, saat pemandangan dari masa lalu mulai melintas di benaknya. Masalahnya, adegan-adegan ini hanyalah satu segmen dari keseluruhan, potongan gambar diam dari strip film.

‘Apa…’

Seol Jihu mencengkeram kepalanya, karena ingatan yang tiba-tiba campur aduk.

‘Apa yang sedang terjadi…!?’

Motifnya, penyebabnya… dia tidak ingat satupun. Yang bisa dia ingat, hanyalah hasil akhirnya.

“Keuaaaa….”

Sambil mengerang, Seol Jihu berguling di lantai kamarnya.

‘Tidak…’

Dia menggeliat dari sisi ke sisi, di atas lantai yang keras. Sebelum, tiba-tiba mengangkat kepalanya.

‘Seseorang, tolong…!’

Matanya menangkap ponsel yang terhubung ke charger di sudut ruangan.

‘Mengapa aku memiliki dua ponsel?’

Bahkan saat merasa mual, Seol Jihu berhasil mengambil HP yang benar. Dia mengetuk layar dan mengklik ikon panggilan, dengan ibu jarinya yang gemetar.

“…Kim Hannah?”

Alis Seol Jihu langsung berkerut.

“Yun Seora? Phi Sora? Siapakah orang-orang ini…?”

Koong.

Dia menekan dahinya ke tanah. Melihat nama-nama yang tidak dikenal ini, membuatnya semakin bingung. Dan, sakit kepalanya semakin memburuk.

“Siapa mereka…?”

Suara Seol Jihu mulai bergetar.

“Apa yang sedang terjadi…!?”

Dia berteriak sekuat tenaga. Karena marah, dia melemparkan ponsel di tangannya ke seberang kamarnya, dan berdiri.

“Ini tahun 2018? Bukan 2017?”

Sambil mondar-mandir melintasi ruangan, dia bergumam pada dirinya sendiri, seperti orang gila.

“Dan ada apa dengan ponsel ini?”

Dia berteriak, setelah menemukan ponsel yang tidak ingat pernah ia beli. Akhirnya, dia mulai membenturkan kepalanya ke dinding, untuk menghilangkan sakit kepalanya yang berdenyut-denyut.

Sesuatu yang besar telah terjadi dalam hidupnya. Tapi, dia tidak dapat mengingat semua itu. Dia merasa seperti baru saja bangun dari satu dekade hibernasi. Tapi dia tahu, itu tidak mungkin.

Dia tahu sebelum semua ini terjadi, jika dia sedang melakukan sesuatu. Tapi setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu itu, sakit kepalanya semakin parah. Seolah-olah, seseorang dengan sengaja menghapus bagian ingatan dari otaknya.

Dan itu membuatnya gila.

“…Brengsek!”

Seol Jihu membanting tinjunya ke dinding.

“Apa ini!?”

Kemudian, dia menendang TV dan menjatuhkan meja. Dia harus melampiaskan emosinya. Jika tidak, dia tahu dia akan kehilangannya.

Tetangganya sepertinya telah memperhatikan keributan yang ia sebabkan. Seol Jihu mendengar suara langkah kaki mendekat.

Ding dong! Ding dong!

Dia mendengar bel pintu, dia mendengar ketukan, dia mendengar suara memanggil namanya.

Tapi, suara-suara itu adalah yang paling tidak menjadi perhatiannya.

“Uaaaargh!”

Seol Jihu bukan lagi dirinya yang biasa. Dan, itu bukan hanya karena tekanan psikologis, karena tidak dapat mengingat masa lalunya.

Ada juga penyebab stres fisik.

Dia mengalami kesulitan bernapas, udara terasa pengap. Dan dia merasa, seolah-olah jantungnya akan meledak.

Rasa sakit yang menusuk tajam disertai sakit kepala. Sepertinya, itu hampir menggetarkan otaknya.

Bulu mata Seol Jihu bergetar, saat air mata mengalir di matanya. Dia tidak tahu kenapa. Tapi, dia merasa hampa dan tersesat.

Perasaan ini semakin memicu rasa ketidak-sesuaiannya. Dan kebingungan menyebar seperti api, di dalam dirinya. Rasa sakitnya begitu parah, sehingga dia berharap, dia mati.

Karena jika kepalanya benar-benar meledak. Maka, dia tidak perlu menderita seperti ini lagi.

Drrrrk!

Karena semakin sulit untuk bernapas, Seol Jihu tanpa sadar membuka jendela. Udara malam yang dingin, menyapu wajahnya. Terengah-engah seperti binatang buas, Seol Jihu menjulurkan lehernya ke luar jendela, dan menundukkan kepalanya.

Saat itulah, dia melihat sedan hitam diparkir di depan gedung apartemennya.

Saat dia melihat sedan itu, entah kenapa, dia…

“Ah…”

Mata Seol Jihu sejenak meredup, saat dia menatap ke bawah.

Lalu.

KWANG!

Suara pintu terbuka bergema di udara.

Empat atau lima pria berpakaian jas hitam, memasuki kamar Seol Jihu.

“Apa…”

Seol Jihu yang secara naluriah menoleh ke suara itu, berteriak kaget.

“Kamu siapa? Apa yang kamu mau dariku?”

Salah satu pria berkacamata hitam dengan cepat melihat sekeliling, untuk memahami situasinya. Ruangan itu berantakan, dan pemilik ruangan tampak tidak stabil dan bahkan agresif.

Dan jika dia tidak salah… tubuh Seol Jihu sedikit condong ke luar jendela.

“Ini lebih buruk dari yang aku harapkan. Dalam kondisi itu, bahkan jika kita mencoba membujuknya, dia tidak mau mendengarkan.” (Bahasa China)

“Apa katamu? Bujuk aku? Apa yang kamu bicarakan?”

Seol Jihu berteriak, dan pria itu menampar bibirnya.

“Maaf, tapi ini untuk kebaikanmu sendiri.” (Bahasa China)

“Keluar! Jika kamu tidak pergi, aku akan memanggil polisi…!”

“Tangkap dia.” (Bahasa China)

Seol Jihu tersentak, karena bahasa yang baru saja diucapkan pria itu, bukan bahasa Korea.

Saat berikutnya, empat pria berjas hitam mendatanginya.

Seol Jihu berjuang, untuk menangkis mereka.

‘Hah?’

Ketika dia berhasil melepaskan lengannya, Seol Jihu tersentak kaget. Dia pikir, dia tidak akan cocok untuk mereka. Tapi, dia berhasil mendorong salah satu dari mereka keluar dari jalannya, tanpa banyak kesulitan.

Bahkan setelah itu, dia mempertahankan jalan buntu, melawan empat pria besar dan sehat.

“Bahkan tanpa ingatan, dia…” (Bahasa China)

Ketegangan terjadi antara Seol Jihu dan sekelompok pria itu.

Tiba-tiba, Seol Jihu mendengar suara rendah dari belakang.

“Itu pasti buah dari semua latihan kerasnya. Tubuhnya mengingat apa yang telah dilupakan oleh otaknya.” (Bahasa China)

Terkejut, Seol Jihu dengan cepat mengayunkan lengannya ke arah pria di belakangnya. Tapi, pria itu memblokirnya dengan telapak tangan Seol Jihu. Pada saat yang sama, tangannya yang lain memegang sapu tangan menutupi hidung dan mulut Seol Jihu.

Sapu tangan itu berbau gas anestesi.

“Uup! Uuuuep!”

Seol Jihu berjuang untuk membebaskan dirinya. tapi, keempat pria itu dengan cepat meraih lengan dan kakinya, dan menempelkannya seperti jangkrik di pohon.

Setelah beberapa menit perjuangan yang intens, tubuh Seol Jihu menjadi lemas.

Hao Win menghela nafas panjang, dan menyeka keringat di dahinya.

“Kita harus segera pergi. Berhati-hatilah, saat kamu menggendongnya.”

Dua pria meraih Seol Jihu dari kedua sisi, dan melangkah keluar dari pintu depan. Mereka mengikuti Hao Win menuruni tangga.

Tak lama kemudian, sedan hitam yang diparkir di depan gedung itu bergegas keluar gang dan melaju pergi.

Suara mesinnya memudar.




< Prev  I  Index  I  Next >

Posting Komentar untuk "SCG_444"

Follow Us