Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_103

gambar

The Beginning After The End


BAE_103

Chapter 103: Congregation Peculiar

 

#PoV: Arthur Leywin

 

Ada sedikit ekspresi senang, saat Windsom ini mengangkat alis matanya yang tajam. Asura ini, masih mengenakan seragam militer biasanya, gaya rambutnya disesuaikan.

“Sylvie!” seruku.

Aku melesat naik dari tempatku, sambil tetap ekstra hati-hati menjemput Sylvie dari tangan Windsom. Setelah memeriksa dengan hati-hati, tidak ada luka yang terlihat di tubuhnya, dan dengan melihat irama pernapasannya. Tampaknya, dia hanya tertidur saja.

Merasa lega, aku kemudian dengan hati-hati menempatkan dragon yang sedang tidur itu ke kepalaku, sebelum menatap Asura yang berdiri di depanku.

“Terima kasih.”

Aku memberinya anggukan bermakna, yang ia jawab dengan tampilan, seperti orang tua yang baru saja memberikan hadiah kepada seorang anak kecil.

“Aku tahu kamu lemah, tapi berpikir jika kamu dan Lady Sylvie tertangkap begitu cepat. Dan bahkan, berurusan dengan orang-orang yang terlibat dengan Vritra juga,”

Dia menegur.

“Agar adil, aku juga berhasil menyelamatkan akademi dari Vritra,”

Aku setengah mengangkat bahu. Seolah-olah, aku ingin dia memvalidasi tindakanku yang lain.

“Kamu perlu memahami jika keamananmu dan Lady Sylvie adalah yang paling diutamakan di sini.”

“Windsom, ada orang di dalam akademi yang hidupnya aku anggap lebih penting daripadaku sendiri.”

Wajahku menjadi serius, suaraku bahkan mencerminkan tekad yang kuat.

Windsom terdiam sejenak, sebelum berbicara lagi.

“Apakah itu untuk putri Elf?” tanyanya, seakan ia sudah tahu jawabannya.

“I-itu bukan hanya untuk dia,”

Aku mencoba menyela, tapi suaraku terdengar tidak percaya diri sama sekali.

“Tidak peduli,”

Asura itu mendesah.

“Apa yang terjadi, sudah berlalu. Tapi, bila kita membicarakan tentang ini, apa yang aku tidak mengerti adalah, mengapa pelaku insiden mengambil temanmu, Elijah, bersamanya.”

“Aku juga tidak tahu…”

Aku juga bingung, dan tidak peduli berapa kali aku merenungkan tentang hal itu di dalam sel-ku, aku tetap tidak bisa mendapatkan penjelasan yang masuk akal.

“Aku tidak tahu,”

Aku mengulanginnya.

“Tapi, aku ingin kamu membantu kami keluar dari sini, Windsom. Aku perlu mencari tahu di mana mereka membawa Elijah dan…”

“Dan apa? Menyelamatkannya?”

Asura itu memotongku, dengan tatapan matanya yang dingin menembusku.

“Kamu bahkan tidak bisa melarikan diri dari tempat ini. Tapi kamu masih berpikir, jika kamu memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya?”

Setelah menghela napas dalam-dalam, dia merendahkan suaranya dan melanjutkan.

“Selain itu, aku tahu, kira-kira di mana pria bernama Draneeve membawa temanmu itu.”

“Benarkah? Di mana?”

Aku tanpa sadar meraih lengan bajunya, saat mengatakan ini.

“Setelah menyelidiki artefak yang tertinggal di Xyrus Academy, aku menduga, jika itu adalah perangkat teleportasi yang Draneeve telah digunakan untuk melarikan diri, bersama dengan temanmu Elijah… itu juga perangkat yang telah aku gunakan untuk…”

“… untuk sampai ke sini,”

Aku menyelesaikan kalimatnya, perasaan takut tumbuh dalam diriku.

“Mereka membawa Elijah kembali ke Alacrya, bukan?”

“Kemungkinan besar,”

Dia menjawab, dengan nada dinginnya.

Aku merosot ke dinding dan menatap kakiku, saat tak satu pun dari kami berbicara untuk sementara waktu.

“Windsom, menurut semua ini, bisakah aku yakin… jika Elijah yang dibawa ke Alacrya, dapat tetap hidup, hingga aku datang menyelamatkannya? Walau kamu akan merespon dengan mengatakan, jika aku bahkan tidak harus bermimpi tentang itu, karena aku akan terbunuh, segera setelah aku melangkahkan kaki di sana…”

Aku kembali menatapnya dan situasi yang benar-benar langka terjadi, saat aku tidak mendapatkan jawaban darinya.

“Jadi, apa yang bisa aku lakukan?”

“Yah aku tidak akan mengatakan, kamu akan mati segera setelah kamu melangkah kaki di sana,”

Asura itu sedikit tersenyum, dan sedikit jejak empati jelas terdengar juga dalam suaranya, yang biasanya dingin.

“Tapi ya, itu akan sama dengan bunuh diri. Untungnya, bidak Clan Vritra telah pergi sebelum kamu tiba. Jika tidak, mereka akan jauh lebih waspada terhadapmu. Sampai sekarang, mereka memegang minat padamu, hingga tahap ingin kamu menjadi milik mereka, dan tetap hidup.

Tapi, jika mereka tahu jika kamu benar-benar memiliki kehendak Lady Sylvia beserta putrinya. Maka aku takut, bahkan Asura lain akan memiliki waktu yang sulit untuk menjaga kalian berdua aman.”

“Apa yang harus aku lakukan? Menyerah begitu saja pada sahabatku?” balasku.

“Aku sudah menghitung kemungkinan menerima bantuan dari Raja Elf, dan aku juga tahu kamu akan membantuku melarikan diri. Tapi bahkan dengan itu, tidak akan ada tempat yang aman bagiku untuk tinggal.

Menimbang jika Dewan bekerja untuk Vritra, akan baik jika aku harus tinggal di mana keluargaku bersembunyi. Atau, membuat lubang di suatu tempat yang jauh di dalam Beast Glades.”

“Tapi, jika aku tetap bersembunyi dengan keluargaku, aku tidak akan mampu menghadapi musuh yang lebih tinggi dari para Lance. Itu hanya membahayakan keluargaku dan Tessia. Dan jika aku memilih untuk pergi ke dalam Beast Glades, aku kemungkinan besar tidak akan bertahan cukup lama, sebelum mendapatkan pelatihan yang baik.”

Aku memikirkan suara raungan Mana beast raksasa yang kami lewati saat perjalanan menuju kemari. Dan, bagaimana bahkan para Lance cukup berhati-hati untuk tidak melawan.

“Kamu sepertinya memiliki cukup pemahaman yang baik pada situasi saat ini,”

Asura itu sedikit memujiku, dan lalu memberiku anggukan singkat.

“Berapa banyak yang pahami tentang hubungan Vritra dengan para Dewan?”

“Cukup untuk mengetahui, jika orang yang paling dekat terhubung dengan Vritra adalah Greysunders. Manusia tampaknya mendukung pendapat para Dwarf juga. Tapi aku punya firasat, jika mereka ragu-ragu,” jawabku.

“Mengesankan,”

Windsom kembali memujiku. Mengangkat lengan kirinya, Asura ini kemudian melihat jam tangannya.

“Arthur, ini waktunya kita…”

“Siapa kamu?”

Sela suara lain.

Baik Windsom dan aku berpaling untuk melihat, jika itu adalah Bairon.

“Tampaknya, ada hal yang masalah yang harus diselesaikan dulu,” gumam Windsom dengan lembut pada dirinya sendiri.

“Bagaimana kamu bisa di sini?”

Mata Lance menyipit, saat tatapannya berkedip-kedip antara Asura di sebelahku. Dan seharusnya terkunci, untuk dragon yang ada di atas kepalaku.

Meskipun Bairon terlihat mudah emosi, aku sadar jika dia sebenarnya sangat berhati-hati dan berkepala dingin dalam keadaan normal. Dia meneliti Windsom dengan hati-hati, tidak meninggalkan celah, bahkan ketika dia dipisahkan oleh sel yang sudah diperkuat.

“Aku bertanya, bagaimana kamu bisa sampai kemari,” geram Bairon.

Matanya terpaku pada pengunjung misterius di sampingku.

“Apakah kamu dengan penyusup lain?”

“Ya,” jawab Windsom acuh tak acuh, sambil mengambil langkah menuju Lance itu.

“Maka, penjelasan tidak lagi diperlukan.”

Bairon mengangkat tinjunya, saat meriam listrik berkumpul dan berderak muncul di sekitar lengannya.

‘Flash Ray.’

Aku dengan panik melompat menghindar, setelah mengetahui apa yang akan terjadi. Windsom lupa untuk melepaskan artefak yang ditanamkan ke dadaku, yang mampu menonaktifkan aliran manaku.

Jadi, jika aku terkena mantra itu, bahkan tidak akan ada abu yang tersisa untuk menguburkan diriku.

Sebuah bola listrik ditembakkan keluar dari tinju Lance itu. lalu, bergabung dengan batangan logam yang telah diperkuat. Seolah-olah, itu sejak awal menyatu. Namun, Windsom tetap tinggal, terpaku pada posisinya, saat mantra cepat itu mendekatinya.

Aku menguatkan diri untuk waktu, ketika bola petir akan bertabrakan dengan Asura. Tapi saat sihir tingkat tinggi Bairon mencapai Windsom, asura itu hanya mengulurkan tangan dan menangkap mantra itu. Seolah-olah, itu adalah bola karet.

Aku tahu, tanpa diragukan lagi, jika Windsom mampu menangani serangan itu. tapi, bahkan aku tidak berharap untuknya mengatasi ini dengan sangat mudah.

Windsom menghancurkan bola petir di telapak tangannya, dia lalu berpaling kepadaku, memberi isyarat dengan gerakan kepalanya.

“Sepertinya, kita memiliki jalan keluar.”

Aku tertawa getir, tapi sebelum aku bisa mengatakan apa-apa lagi, Bairon sudah mencapai Windsom.

“Nak. Tidak ada lagi alasan bagimu untuk melawanku,”

Windsom berkata dingin, sambil dengan mudah menghindari rentetan serangan dan tendangan atribut thunder. Tidak seperti diriku, sihir petir Bairon sepertinya sebagian besar terdiri dari mantra eksternal.

‘Thunder Lance.’

Bairon mengaktifkan mantra di tengah-tengah serangan, menyihir lima tombak yang terbuat dari petir untuk menusuk Windsom.

Aku menjauh ke bagian dalam sel, untuk menghindari sisa serangan mereka. Tapi saat aku terus mengamati, aku melihat jika Windsom, sepertinya benar-benar… sedang merasa bosan.

“Cukup.”

Dengan jentikan sederhana lengannya yang tampak lambat, dibandingkan dengan serangan cepat Bairon. Wajah Lance dikuburkan di dalam tanah. Seluruh sel juga bergetar, saat retakan yang seperti sarang laba-laba muncul di lantai yang diperkuat sihir.

Kepala cekung Bairon yang menjadi pusat gempanya.

Menggunakan mantra itu untuk mengubur wajah Lance, Windsom sepertinya sudah melakukan pekerjaan yang baik, untuk memalukan salah satu mage terkuat benua.

“Berlututlah,” kata Windsom tidak sabar, saat Lance itu masih berjuang untuk membebaskan kepalanya dari tanah.

Meskipun wajah Bairon ini menggaruk dan sedikit berdarah, dia nyatanya tidak terlalu terluka.

“Bairon, tetap di tempatmu.”

Telingaku mendengar suara yang familiar. Itu Varay, Lance perempuan yang menangkap Sylvie, dan mampu mengendalikan dua Lance lainnya.

“Aku tidak mengerti. Dia dengan penyusup!”

Bairon membalas, berbalik menghadap sesama Lance.

“DIA adalah dewa, bukan seseorang yang bisa kamu tangani dengan begitu sembrono!”

Varay membentak kembali, dia lalu berkata dengan suara tenang.

“Aku minta maaf, The Great One. Rajaku dengan rendah hati meminta kehadiranmu.”

Meski aku tahu siapa Windsom itu, aku masih tertegun, ketika melihat Varay benar-benar tunduk kepada seseorang. Sebagai perbandingan, Bairon memiliki tampilan penuh kebingungan, hingga ke tahap yang cukup lucu.

“D-Dewa?”

Lance ini tergagap bodoh.

“Benar. Dan karena kamu sekarang tahu siapa aku, ketidak-tahuan tidak lagi bisa dijadikan sebagai alasan,”

Windsom menjawab, melihat ke bawah pada Bairon.

“Berlututlah”

Dengan ucapan itu, kepala Bairon terhempas ke tanah lagi. Walau Windsom tidak perlu melakukan itu untuk memaksa membuatnya berlutut. Tapi, itu adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat.

Kami kemudian dituntun kembali ke ruangan tempat sidangku telah terjadi terakhir kali. Kecuali, kali ini aku tidak dalam keadaan dirantai. Bairon sangat enggan saat ia disuruh membuak belenggu, dan mengambil artefak yang menghambat aliran manaku sebelumnya.

Seorang penjaga yang berbeda dari terakhir kali membuka pintu bagi kami, mengungkapkan orang-orang yang di dalam ruangan.

“S-Selamat datang.”

Raja Blaine adalah yang pertama untuk berbicara, dia berdiri dari kursinya. Disampingnya, Ratu Priscilla, terlihat kesakitan. Karena, duduk di bangku di sekitar meja oval, yang tidak ada di sana sebelumnya.

Duduk berdekatan dengan raja manusia dan ratu, adalah orang tua Tessia, Alduin dan Meralith yang bersama dengan Lance berkerudung mereka, yang menyampaikan catatan kepadaku malam sebelumnya.

Kedua Raja dan Ratu elf tidak menyapaku dengan ucapan nyaman. Sebaliknya, mereka tetap tinggal diam. Juga duduk di meja itu adalah Direktur Cynthia, yang mengenakan ekspresi penuh rasa syukur dalam penampilan kusutnya.

Ketika aku mengunci mata pada pria yang duduk di sampingnya, aku tanpa sadar melompat mundur dengan waspada. Semua rambut di tubuhku juga berdiri, karena setiap serat keberadaanku memohon padaku untuk lari dari orang tua, yang memiliki satu mata di dahinya ini.

“Arthur. Tidak apa-apa,” kata Windsom.

Aku merasa aneh melihat Greysunders tidak hadir. Tapi sisa orang-orang di dalam ruangan, minus satu orang yang aku tidak tahu, bangkit dari tempat duduk mereka, dan membungkuk hormat pada Windsom.

Setelah mengakui rasa hormat mereka, Windsom memberi isyarat bagiku untuk duduk bersamanya di meja. Saat aku duduk di sebelah Windsom, aku memaksa pikiranku bekerja, mencoba untuk memproses apa yang terjadi.

Saat ini aku, duduk tepat di samping Dewan dan Lance mereka. Direktur Cynthia yang pernah menjadi tahanan dihukum mati. Dan seorang pria, yang identitasnya tidak kuketahui.

Ada ketegangan jelas di dalam ruangan, yang mana cukup untuk mendorong orang normal keluar dari ruangan ini dengan mandi keringat dan ketakutan mendalam.

Aku sudah menempatkan Sylvie di pangkuanku selama ini. jadi, aku menepuk kepalanya, untuk kemudian mendengar seseorang bangkit dari tempat duduknya.

Tanpa diduga, seseorang yang bangun adalah orang yang telah memaksaku instingku melarikan diri darinya. Tampak seolah-olah ia memiliki tiga mata, namun dua dari mereka ditutup.

Rambut putihnya diikat ke belakang, mengingatkanku akan Virion, ketika aku pertama kali bertemu dengannya.

“Bagi mereka yang tidak tahu siapa aku…”

Orang dengan mata ungu di dahinya terfokus padaku…

“…Aku Aldir.”

“Windsom dan aku telah dikirim kemari, untuk memberikan makhluk yang lebih rendah kesempatan bertahan hidup, dalam perang yang akan datang dengan Vritra,”

Asura itu terus berkata tanpa jeda.

“Jadi, sesuai dengan yang kami takutkan, perang benar-benar akan…”

Alduin berbicara keras, seolah-olah dia baru saja menyuarakan pikirannya.

“Aku telah melakukan langkah pertama dari membuang yang rusak. Peranku di sini sekarang adalah untuk mengawasi sisa dari apa yang kalian panggil sebagai ‘Dewan’, dan menginstruksikan kalian pada persiapan yang diperlukan untuk melawan Benua Alacrya.”

Begitu kata ‘rusak’ keluar, baik Blaine dan Priscilla Glayder membeku, kulit mereka menjadi pucat.

“Y-Yang Mulia. Jika aku bisa mengatakan sesuatu…”

Blaine adalah orang yang berbicara. Dan dengan cara bicaranya, tampaknya sesuatu telah terjadi, hingga membuat Raja ini tampil begitu lemah lembut.

“Kamu telah jelas menunjukkan kepada kami kemampuanmu. Cukup bagiku untuk percaya, jika Kamu tidak seseorang dari dunia ini. Perbedaan kemampuan kita sampai ke titik, di mana aku tidak yakin mengapa Kamu membutuhkan kami. Tidak bisakah Kamu hanya pergi ke Benua Alacrya dan mengalahkan Vritra?”

“Apa maksud Asura itu tentang membuang yang ‘rusak’?”

Aku bersandar ke arah Windsom, berbisik di telinganya.

“Greysunders telah dieliminasi, dan Lance mereka sekarang berada di bawah kendaliku,”

Aldir menjawab menggantikan Windsom.

Semuanya masuk akal. Sepertinya, Asura ini sudah membunuh orang-orang yang bekerja secara langsung dengan Vritra, sementara memberi Glayders dengan semacam peringatan. Itulah sebabnya, Raja dan Ratu manusia sangat gugup sekarang ini.

“Dan untukmu, Raja Glayder. Memang cukup sederhana, jika itu hanya mengumpulkan para Asura dan kami secara pribadi melawan Vritra. Namun, Clan Vritra, bersama dengan tiga klan lain, yang berada di bawah komando mereka.

Semuanya adalah mantan Asura yang telah melanggar hukum kami. Bahkan, kami tidak bisa menghitung lagi berapa banyak kekuatan yang telah mereka kumpulkan saat ini.

Selain itu, pertempuran besar ini pasti akan menjadi pertempuran tingkat dunia. Dan itulah mengapa, aku menjadi seperti ini,” ucap Aldir saat dia menghadapi Raja yang ketakutan.

Raja Glayder menanggapi dengan diam tertegun, sedangkan kami semua mencoba membayangkan besarnya pertempuran yang bisa meneggelamkan benua ini.

Aldir terus berbicara,

“Kami, Asura dan Clan Vritra telah menyepakati perjanjian, di mana tidak ada makhluk yang lebih tinggi bisa langsung menyerang satu sama lain, atau mengganggu makhluk yang lebih rendah. Sebagai gantinya…”

“Tahan. Bukankah fakta, jika kamu membunuh dua ‘makhluk yang lebih rendah’, bertentangan terhadap kata-katamu?”

Aku memotong.

Bercahaya, mata ungu Asura itut menyipit saat mengintip ke arahku. Tapi setelah sesaat, bibir Aldir meringkuk ke dalam seringai.

“Dicathen tidak menerima bantuan langsung dari kami para Asura. Tapi sekarang, karena penduduknya sudah diatur langsung oleh Agrona dari Vritra. Bahkan dengan tindakanku, mereka tidak akan cukup gegabah untuk membatalkan perjanjian, hanya karena sedikit kecacatan,”

Windsom menjawab menggantikan Aldir.

“Bagaimana dengan iblis hitam bertanduk, yang telah menyerang tanah kami selama bertahun-tahun? Satu bahkan bertanggung jawab atas pembunuhan seorang Lance,” balasku.

“Kamu bicara tentang pemilik fragmen ini?”

Direktur Goodsky adalah yang berbicara kali ini, dia memegang fragmen hitam dari makhluk bertanduk yang menewaskan Alea Triscan.

“Nak, aku mengerti, jika Windsom tidak berbohong. Ketika dia mengatakan jika kamu tidak sederhana. Yang bertanggung jawab atas pembunuhan Lance, dan orang-orang yang telah menyelinap ke benua ini bukanlah Asura.

Monster-monster itu dulunya makhluk yang lebih rendah sepertimu. Tapi, mereka telah melalui eksperimen yang tak terhitung jumlahnya,”

Aldir meludah, jelas jijik menyebutkan ini.

“Jadi, ada monster yang bahkan Asura tidak mampu hancurkan, dan mahluk itu membunuh mage terkuat di benua kami? Apakah mungkin bagi kami untuk menang?”

Merial Alduin, ibu Tessia berbicara untuk pertama kalinya.

“Ya, tapi mereka terbatas, dan juga kartu truf yang berharga para Agrona dalam perang ini. Karena sekarang mereka tahu kehadiranku, mereka tidak akan menggunakan tindakan yang begitu ceroboh, seperti sebelumnya.”

Aldir duduk kembali, seluruh tubuhnya berbalik ke arahku.

“Pikirkan aku sebagai seorang jenderal dalam perang yang akan datang ini. Hal ini untuk kepentingan para Asura, tentang kemampuan kami mempertahankan benua ini. Jadi, Windsom, bukankah ada sesuatu yang kamu dan anak itu harus lakukan?

Aku akan mengurus sisanya. Kita membutuhkan persiapan yang tak terhitung jumlahnya, sebelum kita bisa membela diri.”

Memberikan Asura bermata tiga anggukan, Windsom menarikku, membawaku dan Sylvie yang tidur, keluar dari ruangan.

“Sesuatu yang harus kita lakukan, Windsom? Bukankah penting, jika kita berpartisipasi dalam diskusi juga? Bukankah kita seharusnya ada di dalam ruangan juga?” tanyaku sambil mengikuti Asura itu.

“Itu bukan tempatmu. Aldir tahu apa yang ia lakukan, dan akan melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan bangsa lemahmu dalam perang yang akan datang. Ketika waktunya datang, jika kamu tidak ingin menjadi tidak berguna, kita perlu untuk membuatmu menjadi lebih kuat.”

“Masuk akal, jadi apa yang akan kita lakukan?”

“Pertama, kita akan mengunjungi keluargamu. Kamu perlu mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.”

Punggung Asura ini masih menghadap padaku. Jadi, aku tidak dapat menentukan, apakah dia sedang bercanda atau tidak.

“Selamat tinggal? Selamat tinggal apa? Ke mana aku akan pergi?”

Aku menarik kembali lengan Windsom, dan terkejut saat ia berbalik begitu mudah.

“Aku akan membawamu dan Lady Sylvie ke tanah air dari para Asura. Pelatihanmu akan diselenggarakan di Epheotus.”




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_103"