Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_113

gambar

The Beginning After The End


BAE_113

Chapter 113: Untuk Berburu Mangsa

 

Mengintip ke bawah dari tepi tebing, di mana saat ini kami berdiri, aku tidak bisa mengerti dan merasa cemas.

Hutan di sini tampak seperti salah satu semak raksasa, yang tumpah ke cakrawala. Dengan pohon-pohon berantakan menghalangi pandangan dari apa yang ada di bawahnya. Spesies burung besar dan menakutkan melayang di atas koleksi padat hijau itu, menyelam dan mengambil makanan mereka setiap saat.

Apa yang membuatku takut lebih dari tempat ini. Bagaimanapun, itu adalah raungan yang sesekali menggema dari kejauhan.

Aku hanya bisa membayangkan seberapa besar mereka terlihat, jika mereka bahkan mampu mengguncang atau bahkan meruntuhkan pohon yang menghalangi jalan mereka, saat mereka melintasi melalui padang hutan tebal…

“Ini adalah tempat di mana kamu akan berlatih,”

Windsom mengumumkan, tatapannya masih tertuju pada hutan.

“Tentu saja,”

Aku mendesah, memastikan jika penyimpanan yang disampirkan di bahuku, diikat ketat.

“Bisakah kita?”

Setelah menjawab dengan anggukan cepat, kami berdua melompat dari tebing. Lalu, menyebarkan mana melalui tubuh kami, ketika mencoba untuk menjaga keseimbangan diri dari angin keras yang bertiup di sekitar.

Tepat saat kami hendak terjun ke puluhan pohon, aku membuat dorongan angin di bawah kakiku, guna menurunkan kecepatan jatuhku.

Saat Windsom dan aku mendarat dengan cekatan di hutan besar, suasana berubah drastis.

Tanah di bawah kakiku basah, seperti berjalan di atas busa. Dan saat aku menempatkan berat badanku, tanah yang lembab mengalah, memeluk sepatuku, dan dengan lembut melepaskan mereka dengan setiap langkah yang aku ambil.

Hidungku dibombardir dengan aroma dari dedaunan yang melimpah, dicampur dengan bau basah yang dikeluarkan lumut, kotoran, dan pembusukan dari kayu yang tumbang.

“Kamu sudah mennyerahkan segalanya, kecuali untuk item dalam tasmu, benar?”

Asura itu mengkonfirmasi, mengarahkan telapak tangannya keluar untuk mencari tahu, apa ia sudah melewatkan sesuatu.

“Semua yang aku miliki adalah cincin dimensi, yang tidak besar. Hal lain apa yang ingin kamu ambil dariku? Bajuku? Sebuah ginjal atau paru-paru mungkin?”

Aku menyindir, sambil melihat-lihat lingkunganku.

“Lucu,”

Asura itu menjawab datar, lalu mengambil sebuah buku dari jubahnya.

“Sekarang, karena kamu begitu bersikeras pada kenyataan, jika kamu memiliki penguasaan penuh atas kontrol-mana internal-mu.”

“Aku hanya mengatakan, jika tidak perlu membuang-buang waktu pelatihan begitu saja,” balasku.

“Pokoknya, aku akan mempertimbangkan bila tingkatmu cukup, apabila dapat mengambil tiga hal ini.”

Dia menunjuk pada buku yang terbuka.

“Bulu dari tupai raptor, inti binatang dari silver panther, dan cakar beruang titan,”

Aku membaca daftar keras-keras, mencoba menyerap gambar hitam dan putih dari masing-masing mana beast.

“…dan barang-barang ini akan membuktikan… entah bagaimana, jika aku siap untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehendak yang Sylvia telah berikan padaku?”

Aku menyerahkan buku kembali kepadanya.

“Di satu sisi. Tentu saja, dengan syarat, jika kamu tidak menggunakan seni mana eksternal apapun. Ah, dan kamu juga harus memakai ini setiap saat,”

Windsom menambahkan, dan menyodorkan bel yang kira-kira sebesar kepalan tanganku.

“Aku benar-benar harus mempertanyakan ide pelatihanmu,”

Aku mendesah lagi saat aku mengangkat lonceng perak, yang memicu serangkaian suara yang terlalu keras untuk bel tunggal bisa buat.

“Beri tahu aku, ketika kamu telah mengumpulkan semua hal dalam daftar dengan bel ini.”

Dia berbalik, bersiap-siap untuk pergi, tapi berhenti kemudian.

“Oh, dan aku sarankan untuk mendapatkan item sesuai dengan urutannya.”

Setelah itu, dia pergi, meninggalkanku sendirian di hutan, tanpa apa-apa kecuali bel, selimut, dan kantong kulit yang diisi dengan air segar.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai Windsom dengan menyuruhku berburu item ini. tapi, jika itu adalah apa yang dibutuhkan untuk mempercepat proses pelatihan. Maka, itu adalah alasan yang cukup.

“Ayo lihat. Pertama pada daftar adalah bulu raptor squirrel,” gumamku pelan, pada diriku sendiri.

Tampaknya cukup mudah selain dari kenyataan, jika aku harus menangkap satu dalam kondisi yang cukup baik.

Aku merenungkan tiga item yang Windsom diminta. Jika ini adalah beberapa bentuk tes untuk mengukur manipulasi mana internalku. Itu berarti, Mana Beast ini memiliki skill, yang mana mengharuskanku untuk memiliki tingkat tertentu kekuatan dari mereka.

Dan fakta, jika yang pertama adalah sejenis tupai yang paling mungkin berada di dekat bagian bawah rantai makanan.

Jika itu benar, maka untuk melindungi dirinya sendiri, mungkin dia memiliki semacam mekanisme pertahanan. Itu seperti kebanyakan mangsa untuk menghindari dimakan.

Menurut gambar, raptor squirrel tampak seperti tupai biasa. Kecuali, dia memiliki kaki yang lebih menonjol ke belakang, tiga ekor tipis, dan mata seperti manik-manik.

Mengamati lingkunganku, aku belum melihat binatang apapun.

Berkonsentrasi mana pada mataku, aku meningkatkan jangkamuan dan penglihatanku. Tapi, tetap tidak ada.

Aku terus-menerus mencari untuk setiap indikasi fauna, sementara berjalan menuju ujung lain dari hutan. Beberapa jam telah berlalu tapi masih, tidak ada tanda-tanda darinya.

“Bel sialan ini!”

Aku berteriak lebih keras dari keinginanku. Dan seakan terus-menerus mengejekku, bel terus berdering karena sedikit gerakan yang aku buat. Itu menghalangi makhluk apapun mendekat padaku.

Saat langit menjadi gelap, begitu pula suasana hatiku. semua yang bisa aku lakukan adalah merasa frustasi, karena berlalunya waktu dan kurangnya kemajuan misiku. Setelah memutuskan, jika hari sudah malam.

Aku membuat kamp dari batang berongga pohon yang tumbang.

Menggangguk, itu adalah suara binatang kecil yang tersembunyi di selubung kegelapan. Itu hanya keluar ke sekitar perkemahanku, segera setelah aku berbaring.

Saat aku mencoba untuk bangkit kembali, denting bel bergema keras sepanjang malam tanpa mau diam. Itu menyebabkan makhluk di sekitarku bergegas pergi dengan cepat.

‘Aku akan mulai besok pagi,’

Aku memutuskan sambil menghela napas. Kemudian, kembali ke dalam selimut saat angin dingin mengalir melalui batang kayu yang aku gunakan. Dan melalui pakaianku, membuatku kedinginan.

Sinar cahaya entah bagaimana berhasil melewati lapisan daun dan cabang-cabang menuju wajahku, membangunkanku dari tidur.

Aku tinggal tersembunyi di dalam batang pohon. Meskipun begitu, aku terus bersiap agar tidak membunyikan bel. Namun, setelah beberapa jam, jelas jika bel bukan satu-satunya alasan raptor squirrel untuk menjaga jarak dariku.

Mana beast yang berada di bawah rantai makanan, mungkin telah mengembangkan indra yang dibuat, untuk menghindari pandangan predator mereka. Karena itulah, bahkan ketika aku hampir tertidur dan benar-benar membeku, mereka masih menjaga jarak mereka.

Untuk saat ini, menyembunyikan kehadiranku adalah upaya terbaik yang mudah-mudahan dapat memikat raptor squirrel keluar. Bagaimana untuk menangkap mereka, aku harus mencari tahu setelahnya.

Setelah pencarian singkat, aku menemukan semak yang cukup rimbun, untuk menyembunyikan diri. Setelah membuat diriku senyaman mungkin dalam cabang kaku dan daun berduri, aku menunggu.

Menahan semua mana terus-menerus beredar ke seluruh tubuhku. Aku tinggal tidak bergerak dan terus mengamati. Karena asimilasi dengan kehendak Sylvia, tubuhku lebih kuat daripada kebanyakan manusia. Tapi, aku masih merasa sedikit rentan, meninggalkan tubuhku tak terlindungi begitu saja.

Menit segera berubah menjadi jam, saat aku menunggu. Tidak cukup dengan menarik mana saja.

Aku menyadari, jika benar-benar diperlukan untuk menjernihkan pikiran dan niat, ketika berhadapan dengan mangsa juga. Aku bisa merasakan melembutkan pernapasanku, hampir menghilang. Karena, aku hembuskan sesuai dengan angin yang sesekali yang mengalir lewat.

Akhirnya, hasil kerjaku menunjukkan suatu moncong kecil, yang muncul keluar dari salah satu semak-semak lainnya, dia mengendus tanda-tanda bahaya. Segera, beberapa raptor squirrel bergegas keluar dengan tiga ekornya yang terus memutar-mutar kesekitar seperti antenna.

Dia berusaha keras untuk menemukan beberapa makanan, sebelum predator merasakan kehadiran mereka.

Aku tahu, tidak mungkin untuk menangkap item pertama pada daftarku hari ini. jadi, aku menggunakan kesempatan ini untuk menguji beberapa hal. Aku mulai dengan memancarkan sedikit mana.

Dan, raptor squirrel segera merespon dengan menaikkan kaki belakangnya, untuk mengangkat ekornya.

Dia jelas merasakan fluktuasi mana dan itu membuatnya tegang. Beberapa bahkan bergegas pergi, karena ini.

Karena aku terus menguji batas mereka, aku belajar tiga hal:

Yang pertama adalah jika sedikit kebocoran mana, tidak akan selalu mengusir mereka. tapi, hanya membuat mereka khawatir ke tingkat, di mana tidak mungkin untuk mencoba menangkapnya.

Mengerahkan terlalu banyak mana, pasti akan memimpin mereka untuk segera melarikan diri.

Hal kedua menarik yang kupelajari adalah jika mana internalisasi dalam tubuhku tidak memicu sinyal alarm mereka. tapi, terlalu banyak konsentrasi dan fokus akan membuat nafsu membunuhku keluar, dan itu menyebabkan mereka berlari.

Hal terakhir yang aku pelajari, dan mungkin yang paling berguna adalah, jika aliran mana eksternal tidak mengagetkan. Atau, bahkan membuat mereka dengan cepat memperhatikan sekitar.

Aku belajar ini saat aku duduk, tersembunyi, bermeditasi.

Ketika aku menyerap mana di sekitar, tidak ada tanda-tanda pergerakan dari raptor squirrel. Hanya ketika aku mulai aktif memurnikan dan mengkondensasi mana saja, mereka mulai menyadari sesuatu yang salah.

Pengujian ini mengambil sepanjang hari, karena aku harus mengubah lokasi, setiap kali aku membuat mereka melarikan diri. Tapi dengan tiga hasil pengamatan ini. Akhirnya, aku punya sesuatu untuk dilakukan.

‘Aku ingin tahu, apakah Sylvie sudah mendapatkan sesuatu dari pelatihannya,’ pikirku sambil membungkus selimut di sekitarku. Dan kembali masuk batang kayu berongga, yang aku putuskan gunakan sebagai tenda darurat.

Beberapa kekhawatiran yang sama, yang selalu melalui pikiranku. Segera setelah aku punya beberapa waktu untuk berpikir.

Bagaimana keluargaku?

Bagaimana Tessia?

Bagaimana Elijah?

Apakah dia bahkan masih hidup?

Jika demikian, akankah aku mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkannya?

Sepertinya, aku telah tersesat ke dalam pikiranku sendiri di sepanjang malam. Tapi pada satu titik, mataku tersentak terbuka, karena cahaya lembut matahari pagi.

Setelah merapikan barang-barang, aku mengisi kantongku dengan genangan embun pagi, yang terbentuk dari daun terdekat, dan mulai melakukan perjalanan ke tempat terbuka.

Tujuan hari ini tidak untuk mengamati, atau bahkan menangkap raptor squirrel. Aku ingin menguji ide kecil, yang telah didasarkan pada tiga pengamatanku kemarin.

Saat aku berdiri di tengah wilayah kecil yang dikelilingi oleh tanaman, dengan jamur yang aku ambil. Aku mulai menempatkan teoriku ke dalam tindakan.

Karena fisiologiku adalah seorang augmenter, saluran mana yang bertanggung jawab untuk secara efektif menyebarkan mana, dimurnikan dari intiku ke sepanjang sisa tubuhku. Dan itu jauh lebih menonjol daripada urat manaku, yang digunakan untuk menyerap mana kotor dari atmosfer ke dalam tubuh.

Namun, untuk teknik ini, aku harus menyeimbangkan output dari mana yang dimurnikan dari inti mana, melalui saluran mana dan masukan mana dari atmosfer melalui pembuluh darah manaku.

Dengan keseimbangan sempurna, aku harus bisa memanfaatkan mana tanpa ada kesalahan. Dan aku akan bisa merasakannya. Itu dalam teori, tentu saja.

Pembuluh darah manaku secara alami jauh lebih kurang dikembangkan, dibandingkan dengan saluran manaku. Jadi, aku mulai dengan mencocokkan output dari mana, untuk jumlah yang bisa aku masukan.

Perasaan ini agak mirip, dengan ketika aku pertama kali belajar Mana Rotation dari Sylvia. Tapi, itu jauh lebih sulit.

Semakin lama aku berlatih, semakin jelas jika itu tidak semudah yang aku bayangkan. Sebuah siasat tertentu diperlukan untuk secara akurat mencapai titik keseimbangan, antara dua tindakan yang berlawanan, meskipun melakukannya sambil berdiri. Tetap saja, itu sama seperti mencoba menggerakkan gunung.

Persepsiku akan waktu sudah di suatu tempat yang entah di mana. Tapi aku terkejut, ketika aku membuka mataku untuk kesekian kalinya. Akhirnya, ada raptor squirrel sedang makan dari tumpukan makanan yang telah aku ambil.

Namun, kegembiraanku itu sangat singkat, karena begitu konsentrasiku tergelincir. Mereka segera menyadari fluktuasi mana yang telah aku gunakan untuk kamuflase.

“Yes!”

Aku meninju. Ini adalah kemajuan yang bagus. Salah satu kelemahannya, adalah pasokan manaku yang keluar… dengan cepat.

Aku hanya bisa mempraktekkan ini dalam beberapa menit pada suatu waktu, sebelum aku harus berhenti dan memasok inti manaku kembali.

Walau dalam faktanya, aku sudah hampir mencapai tahap silver. Itu tidak membantu, karena kelebihan mana yang dibuang dalam pemanfaatan teknik ini sangatlah besar.

Keesokan paginya, aku melanjutkan rutinitasku dan melakukan hal yang sama. Tidak sampai hari keempat, aku akhirnya merasa, seperti aku punya cukup kontrol untuk mencoba bergerak, sambil menggunakan teknik ini.

Pada akhir minggu, aku bisa perlahan-lahan bergerak. Tapi karena bel diikat ke pinggangku, bahkan ketika mereka tidak bisa merasakan mana, mereka akan melarikan diri karena suara. Tapi, aku sudah memikirkan rencana untuk hal ini.

Jika semua yang aku perlukan adalah menyembunyikan kehadiranku. Maka, aku tidak perlu repot-repot menemukan cara untuk memanfaatkan teknik ini.

Aku perlu menguasai teknik ini untuk menggunakan mana secara efisien, menerkam raptor squirrel, sebelum mereka bisa bereaksi terhadap suara belku.

Menggambar garis di tanah lembut, dan memposisikan diri di depan sebuah pohon yang ditunjuk sebagai targetku.

Aku berlatih.

Aku berhenti tepat, ketika bel berdering. Tujuanku adalah untuk mencapai pohon pada saat bel berdentang.

Jadi untuk ini, aku perlu memanfaatkan cukup mana dan untuk seketika bergerak pada kecepatan, yang cukup cepat untuk tidak mengguncang bel, sambil menyeimbangkan aliran input dan output dari mana atmosfer dan manaku.

Yang sudah dimurnikan untuk menyamarkan kehadiranku dari ekor tupai squirrel.

“Lagi.”

Aku berbalik dan berjalan kembali ke titik awal, setelah mendengar bel.

“Sekali lagi,”

Aku mengulangi untuk diriku sendiri.

Saat aku terus melanjutkan, aku menyadari jika aku pada dasarnya bertujuan untuk sesuatu yang mirip dengan teknik yang Kordri pernah gunakan, ketika ia melatihku. Mengontrol mana yang mengalir, sementara memanipulasi kehadiranmu sendiri untuk baik menyembunyikan atau memancarkannya. Ini mengecoh indra lawan.

Menghapus kehadiranmu dengan menggunakan mana atmosfer, dan hampir tidak dapat dilacak dengan menutupi output dari manamu sendiri. Lalu, aku langsung bergerak cepat untuk mencapai lawan.

Apakah ini skill yang Windsom telah coba untuk tes?

Sekali lagi, aku mencoba dan lagi aku akan gagal mencapai tujuanku. Tapi dengan setiap upaya, jarak antara pohon dan aku semakin dipersingkat sebelum bel berdenting.

Itu hanya satu langkah. Tapi, begitu banyak konsentrasi dan presisi yang diperlukan.

Namun, langkah tunggal, seketika ini, ditambah dengan bentuk tempur yang telah diajarkan oleh Kordri, serta seni pedang yang kukembangkan sendiri. Niscaya, ini bisa menjadi kartu truf yang penting.

Aku ingat bagaimana bingung dan tak berdayanya diriku, ketika Kordri menggunakan skill ini, menghapus kehadirannya saat ia menyerang. Sedangkan detik berikutnya, dia akan memancarkan kehadirannya hanya untuk melemparku.

Meskipun asura itu tidak menggunakan mana dalam cara yang sama, seperti apa yang aku coba lakukan. Kekuatan bawaannya bisa dengan mudah sebanding dengan seseorang di tahap inti perak.

“Hampir,”

Aku mendorong diriku, berada dalam posisi berdiri untuk upaya lain.

Aku tidak yakin berapa jam telah berlalu, sejak pohon mulai menutupi kebanyakan dari langit. Aku tenggelam dibawah pohon. Hari berlalu saat aku terus berlatih, sampai…

“Hehe…”

Aku tertawa dalam kemenangan, saat menatap jejak kotoran yang telah aku buat, dari hari-hari mencoba menguasai skill ini. Sementara sisa tanah dikotori dengan daun dan ranting patah, hanya jejak tipis yang terus-menerus terbentuk dari gerakan bolak-balik diriku terlihat jelas.

Aku mencoba bangkit. Tapi, kakiku gemetar sebagai protes, terlalu lelah untuk menahan berat badanku. Namun, aku merasa baik untuk pertama kalinya dalam beberapa saat, sejak datang ke hutan terkutuk ini.

“Aku akan membawa raptor squirrel bodoh itu, menuju kepunahan mereka,”

Aku menyatakan dengan penuh kemenangan.

***

 

#PoV: Windsom

 

‘Apa yang direncanakan anak ini?’ pikirku, sambil menjaga jarak darinya. Aku meninggalkan dia tanpa pengawasan selama dua minggu, berpikir jika itu cukup banyak waktu baginya untuk menangkap raptor squirrel.

Dari fakta, jika aku tidak akan bisa menemukannya di hutan ini, tanpa bantuan bel yang aku beri, jelas jika ia telah menguasai kemampuan untuk menghapus kehadirannya. Meskipun demikian, Arthur belum menangkap satu tupaipun.

Raptor squirrel cepat dan sangat perseptif.

Sejak mata mereka buruk, mereka mengandalkan hidung mereka untuk mengendus makanan, dan ekor mereka untuk merasakan fluktuasi mana apapun. Atau, gerakan bahkan di daerah sekitar.

Jika ekor mereka mendeteksi konsentrasi tinggi mana. Atau bahkan perubahan mana, akan sulit untuk bahkan asura untuk menangkap satu.

Namun, di luar itu, raptor squirrel yang agak berpikiran sederhana.

Setelah menghapus kehadirannya, jika anak itu tetap benar-benar membawa beberapa umpan di tangannya, akan mudah baginya untuk menangkap satu. Namun, anak itu malah meletakkan makanan di depannya, sebagai gantinya.

‘Yah, dia belajar skill yang diperlukan lagipula,’

Aku mengangkat bahu. Tapi untuk beberapa alasan, pandanganku masih terpaku pada anak itu. Seolah, dia menunggu sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Anak itu berdiri tidak bergerak, sambil terus menunggu dengan sabar untuk raptor squirrel mendekat.

Dalam sekejap mata, anak itu tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di depan raptor squirrel dengan tangan terentang.

“Dia…”

Suaraku melemah kagum.

Tepat ketika anak itu hendak mengambil mendapatkan raptor squirrel, bel yang aku berikan berdering dan membuat raptor squirrel melesat pergi ke luar genggaman Arthur.

“Gah!”

Anak itu berteriak, jelas frustrasi karena dia menendang tumpukan makanan yang telah ia kumpulkan untuk memikat raptor squirrel.

Tidak ada cara dia bisa bergerak dengan kecepatan seperti itu, tanpa menggunakan mana. Tapi… aku juga tidak bisa merasakannya.

Itu berarti, dia tidak hanya sekedar menghapus kehadirannya dengan menarik mana, dan menyembunyikan niatnya. Dia telah secara efektif menggunakan mana sendiri, sementara menutupinya dengan mana murni di sekitarnya.

Fatamorgana Walk.

Itu bayangan yang agak kasar, tapi Arthur telah jelas berhasil pada langkah pertama dari Mirage Walk. Ini adalah teknik gerakan, untuk membuatnya lebih sederhana. Tapi, itu juga jauh lebih dari itu.

Mirage Walk adalah esensi dari apa yang membuat Klan Thyestes, dapat berkembang dari ras Pantheon lain.

Untuk seorang anak manusia biasa dapat memahami dasar-dasar seni mana, yang bahkan membuatku bertahun-tahun untuk memahaminya… dan, ini adalah hal Kordri diam-diam ajarkan padaku, meskipun kerahasiaannya yang ketat.

Baginya untuk bisa sampai sejauh ini, hanya dengan melihat Kordri…




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_113"