Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

SCG_477

gambar

The Second Coming of Gluttony

SCG_477

Bab 477. Finis Belli (1)

 

Exploding Patience berada dalam kekacauan total. Dia sudah tergantung pada garis tipis. Tapi, serentetan serangan tiba-tiba, datang ke arahnya.

Situasi terburuk itu mulai terungkap.

“Hnng, banshee. Jadi, pada dasarnya kamu adalah hantu. Magic-spell, kombinasi magic dan spell. Itu harus menjadi cara terbaik, untuk menghadapi seseorang seperti dirimu.”

Roselle melanjutkan.

“Dan yang kamu tahu bagaimana untuk berteriak… Membunuhmu, seharusnya lebih mudah daripada membunuh wanita sialan itu. Aneh. Kami memiliki Ea yang bisa menggunakan udara. Jadi, kenapa kita belum melakukan sesuatu tentang dia?”

Dengan Roselle yang memainkan peran besar dalam membunuh Vulgar Chastity bergabung dalam pertempuran, segalanya mulai terlihat suram untuk Exploding Patience.

Chak!

Exploding Patience menoleh pada suara ledakan yang tiba-tiba. Pipi kirinya terasa terbakar. Apakah ada sesuatu yang menghancurkan sifat tak terkalahkannya, dari serangan fisik?

Di arah Exploding Patience menuju…

[Hehe.]

…Dia melihat Spirit melarikan diri, setelah memukul pipinya.

[Maaf maaf! Kamu mengingatkanku pada wanita sialan perusak rumah tanggaku. Yang mencuri pria yang aku cintai, ketika aku berusia enam tahun!]

Flone berbalik dan terkikik.

Percikan amarah berkobar dari mata Exploding Patience. Namun, dia tidak punya cara untuk mengejarnya, atau bahkan melawan.

“Jadi, aku bisa menyerangnya dengan ini, huh!?”

Wu Lei menendang tanah, dan melayang ke langit.

Exploding Patience tidak mempermasalahkannya.

Meskipun dia tidak ahli dalam pertarungan jarak dekat, dia adalah Spirit tanpa tubuh fisik. Bahkan, jika musuh cukup kuat untuk membelah lautan dan menghancurkan pegunungan… musuh tidak akan bisa melakukan apapun, untuk melawannya.

Namun, ketika dia melihat greatsword itu menghantam kepalanya, dia jatuh dalam ketakutan.

Swoosh!

Bilahnya dengan tipis melewati wajahnya yang tembus cahaya.

Segera, dari dahi ke dagu, garis tipis digambar di wajah terkejut Exploding Patience. Penampilan wanita bangsawannya yang anggun berubah drastis. Dan, cairan hitam menetes dari celah kecil.

[Bagaimana…?]

Exploding Patience berkedip, sambil bergumam terperanjat. Selanjutnya, ketika Wu Lei mendecakkan lidahnya karena kecewa, tatapannya tertuju pada senjata di tangannya.

Tanda geometris melingkari greatsword itu. Itu mengitari bilahnya, sebelum diserap ke dalamnya, dan membuatnya bersinar terang.

[Itu…!]

Ekspresi Exploding Patience berkerut.

[Mustahil! Itulah Rune of Third Sacrifice Rictus!]

Rune of Third Sacrifice Rictus.

Secara tradisional, ini merujuk pada doa tertulis yang dibacakan pada upacara ketiga, setelah pemakaman. Itu adalah bentuk berkah, untuk mengirimkan jiwa almarhum dengan damai.

Namun, Roselle telah memodifikasi doa itu dengan menggunakan sihir, dan memaksanya untuk membawa jiwa almarhum dengan paksaan. Itu diformulasikan untuk mematikan bagi Exploding Patience, yang sudah meninggal.

[Bagaimana mantra sihir yang hilang ratusan tahun lalu, muncul sekarang…?]

Jawabannya sudah dekat.

Ketika Exploding Patience melihat sekeliling dengan kaget. Dia melihat Roselle menggerakkan bibirnya, tanpa istirahat.

Wu Lei bukan satu-satunya yang terpengaruh.

Kata-kata yang keluar dari mulut Roselle menyebar ke segala arah, dan memperkuat ‘pembawa pesan kematian’, yang datang untuk Exploding Patience.

Wu Lei mengayunkan greatsword-nya lagi, dan menuju Exploding Patience.

Exploding Patience dengan cepat meledakkan divinity-nya dan mundur.

Kekuatan kutukan yang menakutkan, langsung berkumpul di sekitar tangannya. Tapi, lima Spirit King dengan cepat mengelilinginya, dan melepaskan energi mereka.

[Keuk!]

Merasakan rasa bahaya, Exploding Patience menyebarkan energi kutukan.

Lima elemen itu menjadi hitam dalam sekejap. Dia kemudian berhasil lolos dari pengepungan dengan terbang ke atas. Tapi, yang menunggunya adalah skuadron Valkyrie, yang bergegas masuk dari semua sisi.

[Serangga sial!]

Exploding Patience berteriak, dalam perjuangan putus asa.

[Mati!]

Dia telah melepaskan divinity-nya, dan merasa sangat kuat. Namun, mengapa itu membuatnya tidak sabar?

[Aku… Aku dianugerahi divinity Patience!]

Exploding Patience mengayunkan tangannya dengan liar. Setelah dilepaskan, divinity adalah energi yang benar-benar berada di luar dunia manusia. Bahkan, menggunakan energinya yang sederhana dan belum sempurna, menyebabkan para Valkyrie meledak.

[Aku…!]

Kemudian, tubuh Exploding Patience mengembang, seperti babi yang gemuk.

[Aku berada pada tingkat keberadaan yang berbeda, dari ras kelas rendah seperti kalian!!]

Dan selanjutnya, dia langsung menjadi lebih kurus, dan gelombang kejut yang menakutkan…

[…?]

…Tidak meledak.

Dia benar-benar berteriak, tapi tidak ada suara yang terdengar. Rasanya, hampir seperti suaranya disedot, sebelum bisa keluar. Yang tersisa hanyalah divinity yang menyebar secara acak. Itu tidak memiliki tempat tujuan.

-Bagaimana kamu bisa begitu mudah ditebak?

Lalu.

-Suara adalah gelombang.

Suara cekikikan terdengar di kepalanya.

-Gelombang mentransfer energi, dari satu lokasi ke lokasi lain. Namun, dibutuhkan suatu media, untuk proses tersebut.

Exploding Patience secara refleks memiringkan kepalanya ke atas. Roselle menatapnya dengan tatapan kasihan, sambil tetap melantunkan mantra.

-Suara bekerja melalui media material, yang sering disebut udara.

Roselle menyeringai.

-Jadi, apa yang akan terjadi, jika media itu menghilang?

Setelah dia menyebutkannya, Exploding Patience tidak bisa merasakan aliran udara di sekitarnya.

Area itu tiba-tiba berubah menjadi ruang hampa.

[Ah.]

Melihat Air of Spirit King, Ea, di kejauhan, Exploding Patience menjadi linglung. Setelah beberapa saat, pupil matanya membesar, hingga tingkat yang terlihat. Dan dia tampak, seolah-olah dunia akan runtuh.

-Mengapa? Apa menurutmu, melantunkan mantra adalah semua yang kami, pengguna sihir tahu bagaimana cara melakukannya?

Seringai dingin bergema di kepalanya.

-Setiap kali aku melihat seseorang sepertimu, aku hanya bisa memikirkan tentang golongan anti-evil. Yang mana menghilang, setelah kalah dari golongan black magic.

-Apa gunanya memiliki kekuatan?

Setelah Perang Benteng Tigol, Roselle memberikan evaluasi berikut dari Army Commander:

‘Aku akan mengakui tiga atau empat dari mereka, tapi sisanya tidak mengesankan.’

-Energi anti-evil adalah kekuatan di luar tingkatan mereka. Jadi aku bisa mengerti, tidak bisa menggunakannya secara maksimal. Tapi tidak mengetahui nilai sebenarnya, tidak menelitinya, dan bahkan tidak menggunakannya…

Roselle pernah menyebutkan jika Kekaisaran seharusnya tidak jatuh begitu saja, tidak peduli seberapa banyak mereka menolak untuk mengesampingkan segala sesuatu, selain disiplin sihir.

Dia yakin, ada alasan lain kejatuhan mereka.

-Kalung mutiara di leher babi. Itu ekspresi yang pas, bukan begitu?

Exploding Patience wajah memerah, karena kritik keras Roselle. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa sebagai tanggapan. Metode serangan utamanya disegel.

Yang bisa ia lakukan sekarang, hanyalah mengandalkan kutukan atau energi divinity.

-Juga, aku mengerti jika mulutmu busuk dan membusuk. Tapi, tolong bicaralah dengan benar.

-Sebuah hama belaka, yang merangkak keluar dari Dimensi Spiritual, dan memperoleh kekuatan secara kebetulan… berani mempertanyakan tingkat keberadaan makhluk hidup?

Melihat Roselle berbicara tanpa henti, sambil menggerakkan jarinya, Exploding Patience menjadi semakin waspada.

[Euu, euu….]

Situasi telah berubah. Membebani musuh dengan kekuatan murni, bukan lagi pilihan. Dan sekutunya tidak dalam posisi untuk membantu.

Yang bisa ia lihat, hanyalah Spirit yang masuk tanpa mempedulikan nyawa mereka.

Pada akhirnya, dia tidak punya pilihan, selain mundur lagi.

Dia ingin melakukan sesuatu, tapi tidak bisa memikirkan apa pun.

Ketika dia menyebarkan kutukan, Spirit yang tak terhitung jumlahnya akan melemparkan diri mereka sendiri dan memblokir serangan itu. Ketika dia menggunakan divinity-nya, Lord of Light and Darkness Spirit meminimalkannya. Dan jika itu tidak cukup, Spirit King datang untuk mendukung mereka.

Sementara itu, para utusan Seven Sins dan Servant mereka, menggunakan celah kecil yang diciptakan ini untuk menyerang.

Proses ini berlanjut tanpa batas.

Exploding Patience menggeretakkan giginya. Dia merasakan divine energy-nya merosot dengan cepat.

‘Aku tidak akan bertahan lama, kalau terus begini…!’

Lalu.

Saat Exploding Patience mengeluarkan divinity-nya secara membabi buta, dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang panjang dan tipis, menyentuh punggungnya.

Kemudian, saat dia merasakan seutas benang yang putus…

Whish!

Jaring lebar jaring laba-laba tiba-tiba menyebar di sekelilingnya.

Benang perak yang dibuff oleh sihir Roselle, melingkari tubuh Exploding Patience.

[Heeeeu! Keeeeeut!]

Erangan aneh keluar dari mulut Exploding Patience. Meskipun itu hanya sepersekian detik, dia hampir kehilangan kesadaran. Rasanya, seperti jiwa-nya ditarik dengan paksa.

Tzzzzzzzz!

Benang yang mengikat Exploding Patience mencair seperti merkuri, dan menyerbu tubuhnya. Kemudian, tubuhnya yang sudah tembus cahaya menjadi semakin redup.

Yang membuatnya semakin marah adalah jika serangan lain juga tidak berhenti.

[Aku sudah memukul pipi kirimu, jadi berikan pipi kananmu!]

Spirit yang menampar pipinya tadi, tiba-tiba masuk.

[K-Keeu! Kamu sialan!]

Exploding Patience mengayunkan lengannya, tapi…

Retak!

Apa yang terjadi adalah, perasaan jiwanya terkoyak.

Dia tidak salah. Tangan kanannya benar-benar dimakan.

[Lezat!]

Flone mengunyah tangan kanannya lalu kabur lagi. Exploding Patience menyaksikan dengan marah. Tapi dia memutuskan jika memutus benang adalah prioritas nomor satunya.

Sayangnya, sebuah celah sudah dibuat.

“Aku tahu itu.”

Kata-kata yang keluar dari mulut Roselle, berhenti untuk pertama kalinya.

“Maaf, sudah membuatmu menunggu begitu lama.”

Di saat yang sama, jari-jarinya yang bergerak cepat, juga berhenti.

“Mengapa kita tidak memulai, Lord Diffidem, Lord Ophinu Odor?”

Roselle berbicara dengan jelas, sebelum mengarahkan tangannya ke bawah.

Kemudian, tepat saat sarang laba-laba yang mengikat Exploding Patience meledak, lingkaran sihir besar dibuat di belakangnya.

Mata Roselle berbinar.

“Buka! Pintu Alam Spiritual!”

Lingkaran sihir mulai berputar. Selanjutnya, itu terbelah sambil memancarkan cahaya kebiruan. Terungkap di dalamnya, adalah kegelapan tak berujung.

Lubang yang seperti lubang hitam, mulai menyedot Exploding Patience.

[Hiiiiik!?]

Exploding Patience yang ketakutan, keluar dari pikirannya. Siapa mage ini yang bisa menggunakan seni rahasia, yang hanya diketahui ras Naga?

Dia bertahan untuk saat ini. Tapi, divinity yang jatuh dengan cepat sekarang, menghilang beberapa milidetik.

Saat dia mencoba menggeliat keluar, terang dan gelap tiba-tiba menyelimuti pandangannya.

Lord of Light and Darkness Spirit telah mengambil kesempatan untuk menangkapnya.

Tidak hanya mereka memegang erat tubuhnya. Tapi, mereka juga memutar tubuhnya seperti kain, dan mendorongnya ke pintu itu.

[KIIIIIAAAAAAA!]

Rasa sakit Exploding Patience, terasa seperti terjebak di dalam blender. Saat dia berteriak karena rasa sakit yang menyiksa, kondisi sekeliling memasuki sudut matanya.

Dimulai dengan sekelompok Spirit yang menyembur seperti gelombang, anggota pasukan sekutu bersiap untuk menyerangnya dari semua sisi.

Setelah melihat Valkyrie menarik tangan mereka kembali untuk melemparkan tombak, Exploding Patience menjadi tidak sabar. Meramalkan kematiannya, ekspresi keraguan melintas di wajahnya.

‘Aku akan mati. Aku akan binasa di sini, dan tidak dapat melakukan apa pun, seperti Vulgar Chastity dan Unsightly Humility.’

‘Aku… Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!’

Memperkuat pikirannya dalam hitungan detik, Exploding Patience mengumpulkan sisa energinya.

Bahkan, tak ada sedikitpun keraguan di kepalanya. Mungkin… dia siap untuk ini, saat sisi kanan dan pasukan pembuka jatuh, dan pasukan musuh mendatanginya.

Lalu, ketika hanya ada beberapa sentimeter antara dia dan lingkaran sihir…

[Maafkan aku, ratuku…]

Exploding Patience menutup matanya.

Mata Roselle menyipit secara bersamaan, saat Exploding Patience merentangkan lengan dan kakinya.

FLASH!

Sekelompok cahaya tiba-tiba meledak dari Exploding Patience. Kemudian, dia mulai tumbuh secara eksponensial.

Saat itu juga, Roselle membuka matanya, dan buru-buru merentangkan tangannya. Dengan tangan kirinya, dia menggerakkan Flone dan kekuatan utama sekutu sebanyak yang ia bisa. Dan, dia mengulurkan tangan kanannya, ke arah lingkaran sihir.

Kemudian, lingkaran sihir berubah bentuk dalam sekejap, menciptakan penghalang berwarna kuning jarak jauh.

“Blokir itu! Tidak, hindari itu!”

Dan dengan teriakan Roselle, Diffidem dan Ophinu Odor mengulurkan tangan. Mereka menahan Exploding Patience di tempatnya, seolah-olah untuk mencegah energi itu meledak.

Earth Spirit King, Tera, juga mengangkat tembok tanah yang tinggi. dan Sylphid juga bekerja sama dengan Ea, untuk membuat perisai yang sempurna.

Lapisan penghalang yang kuat, muncul dalam sekejap mata. Tampaknya efektif, tapi itu hanya sesaat.

Cahaya putih mengembang dan menyusut berulang kali, sebelum keluar dari penghalang dengan ledakan keras.

Menyelimuti tangan Lord of Light and Darkness Spirit, itu merobohkan dinding tanah dan merobek penghalang angin.

Cahaya kehancuran yang hebat ini, kemudian mewarnai seluruh dunia menjadi putih.

Melihat cahaya yang datang tepat di depannya, Cinzia membuat ekspresi kelelahan. Dia bisa berteleportasi dengan beberapa orang di sekitarnya, berkat penghalang yang mengulur waktu.

Dia mengira, dia melakukan perjalanan jauh, berdasarkan apa yang terjadi dengan Abhorrent Charity. Tapi, itu hampir tidak cukup.

Berapa lama waktu berlalu?

Saat cahaya yang menyilaukan mereda, Cinzia menekankan dahinya, pada pemandangan mengerikan yang terungkap.

Spirit Lord of Light and Darkness tidak terlihat di mana pun.

Itu sama dengan Sylphid, Ea, dan Tera.

Tidak hanya mereka, tapi sebagian besar Spirit juga telah binasa. Dan Cave Fairy dan Sky Fairy yang berbaris maju, menderita banyak korban.

Adapun Roselle…

Cinzia tidak bisa menahan, untuk tidak mendecakkan lidahnya.

Separuh tubuhnya hancur lebur, dan kata kehancuran tidak bisa menggambarkan kondisinya. Seorang mage sekaliber dia, seharusnya memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Dia pasti gagal melarikan diri dari jangkauan ledakan, karena dia mencoba meminimalkan ledakan energi itu sebanyak mungkin.

Tentu saja, konsep kematian bukanlah sesuatu yang diterapkan pada Roselle.

Meskipun dia mewujudkan tubuh fisik, dirinya yang sebenarnya adalah keinginan. Hanya saja, dia sekarang kehilangan kemampuannya untuk bertarung.

[… Ini adalah kesalahan perhitungan di pihakku.]

Roselle tersenyum pahit, hanya dengan separuh wajahnya.

[Kita pasti terlalu terburu-buru. Aku tidak berpikir, dia akan mengambil keputusan begitu cepat… Itu untuk mengurangi beban World Tree. Tapi ternyata, itu adalah kesalahan.]

[Kita seharusnya menunggu, sampai World Tree mencapai tahap akhir evolusi…]

Roselle menghela nafas, dan melepas topinya yang berbentuk kerucut.

[…Aku rasa, itu tidak bisa membantu. Aku akan kembali sekarang.]

[Harap jaga murid-muridku.]

Dengan itu, tubuh Roselle berubah menjadi gas hitam. Lalu, menghilang ke arah ibu kota.

Sama seperti bagaimana Spirit dipanggil kembali ke Alam Spirit ketika mereka meninggal, dia kembali ke pemiliknya, Seol Jihu.

“…Ayo pergi,” kataAgnes mengambil divinity Patience yang dijatuhkan oleh Roselle. “Meski hasilnya bisa lebih baik, fakta jika kita menang tidak berubah. Ini tidak akan lama. Juga…”

Agnes berhenti sejenak, dan melihat ke kejauhan.

Seol Jihu bersama Ratu Parasite.

“Semua orang berteriak! Yaa!”

…Dia tidak tahu apa yang Seol Jihu bicarakan sekarang. Tapi, Seol Jihu melakukan pertempuran intens, yang tidak ada bandingannya, dengan pertempuran lainnya.

Dan dia melakukannya sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

“… Kita tidak tahu, berapa lama lagi dia bisa bertahan.”

Cinzia mengangguk.

Sekarang, hanya ada satu… tidak, dua tugas yang tersisa.

Segera, Cinzia menggunakan Teleport lagi ke tempat anggota Valhalla, yang mengalami pertempuran sengit.

 




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "SCG_477"