Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_193

gambar

The Beginning After The End


BAE_193

Chapter 193: Segel Rusak

 

 #PoV: Grey

 

Aku menatap deretan juri yang mengintip dari platform mereka, yang menatap merendahkan stadion utama dengan lawanku dan aku di dalamnya.

Duduk di tengah-tengah barisan adalah, wanita tinggi dengan rambut keriting merahnya menyala di punggungnya. Dua mata tajam yang akan membuat bahkan singa liar gentar, itu tertarik menatapku. Saat, sisa hakim bergumam di antara mereka sendiri, atas hasil pertandingan.

Aku berpikir sendiri, Apa sebenarnya yang mereka lakukan?

Untuk lawanku, kandidat dari Divisi Dua untuk tempat Divisi Satu, pingsan di belakangku. Sementara, petugas medis mendekat dengan tandu.

Dengan perasaan tenggelam, saat wasit melanjutkan diskusi mereka. Juri sepertinya kesulitan dengan fakta jika mereka harus menentukan, apakah akan mengirimku atau membuatku tetap di Divisi Tiga.

Aku bisa melihat Nico dan Cecilia dari sudut mataku. Mereka sedang menunggu putusan dengan perhatian, seperti yang aku punya selama kompetisi pertamaku saat menghadiri akademi ini.

Perhatian, ketika aku masih percaya kerja keras akan memberikan hasil yang adil.

Setelah itu, pria paruh baya dan kurus, dengan kumis putih yang ditata terlalu cermat. Mungkin untuk mengimbangi kepala botaknya.

Dia berdehem untuk mendapatkan perhatian semua orang.

“Kadet Gray, tanpa nama keluarga. Sementara pertandinganmu sangat mengesankan, terutama demonstrasi seni bela dirimu. Kekuranganmu dalam pemanfaatan Qi di sepanjang turnamen, membuat itu jelas, jika kamu kurang dalam beberapa dasar-dasar.

Dan, ini secara fundamental harus diperhitungkan. Oleh karena itu, Kadet Gray, kamu akan naik ke kelas satu di divisi tiga.”

Aku bisa merasakan darahku mendidih di bawah kulitku, saat semua yang aku bisa lakukan hanya menekan kemarahanku. Aku mengepalkan tinjuku, gigiku, meringkukkan jari kakiku… untuk menghentikan diri dari memukul juri dan seluruh sistem akademi ini.

Saat itu, suara gemuruh tawa menggema di seluruh arena. Dan kemarahanku langsung dipadamkan saat melihat ke atas. Tercengang, pada juri berambut merah yang terus tertawa terbahak-bahak.

Ini bukan hanya karena aku terkejut dengan tindakannya. Sisa dari juri mengalihkan kepala mereka terhadap rekan mereka, dengan ekspresi mulai dari shock, kemarahan, dan rasa malu.

Para penonton yang telah diam menunggu hasil dari babak final ini, bergumam antara satu sama lain. Mereka berharap, untuk mendapatkan beberapa jawaban tentang peristiwa ini.

Akhirnya juri berambut merah tenang, menyeka air matanya.

“Maafkan aku. Aku pikir, Juri Drem hanya ingin menarik kaki anak itu, dengan mengatakan kepadanya, ia harus ‘meninjau secara fundamental’.”

Pada kata-katanya, juri berkumis yang kuduga juri Drem… memerah di sepanjang jalan bagian atas kepala mengkilatnya.

“Lady Vera.”

Juri itu berbicara padanya, dengan hormat yang menakutkan. Meskipun, kesenjangan antara mereka di usia.

“Dalam duel penilaian tahunan ini, perilakumu tida…”

“Tidak,” potong wanita berambut merah datar. “

Perilaku yang tidak dapat diterima, dan memalukan hingga menyedihkan. Itu adalah upaya terang-teranganmu untuk menahan anak itu. Karena, dia bukan dari kediaman bangsawan.”

Jelas tidak siap untuk secara verbal diserang oleh wanita, juri Drem tergagap pada kata yang ia mungkin harap bisa katakan.

“Ap… Beraninya… aku tidak melakukan it…”

“Lalu, bagaimana mungkin kamu bisa menempatkan Kadet Gray, di sesuatu yang kurang dari Divisi Satu?”

Lady Vera mengganggu lagi. Pada titik ini, aku benar-benar berharap wanita ini memiliki baik kekuatan fisik atau dukungan politik, untuk membenarkan sikap dirinya yang terang-terangan, untuk tidak menghormati juri yang lebih tua.

Juri Drem mencoba yang terbaik untuk mengumpulkan akalnya, memberikan batuk lain.

“Seperti yang aku katakan sebelumnya, pemanfaatan Qi Kadet Gray bu…-”

“Salah.”

Dia langsung memotong lagi, membuat juri tua praktis frustrasi dan malu.

“Pemanfaatan Qi anak itu, setidaknya satu langkah di atas, bahkan siswa Kelas Dua di Divisi Satu. Apa yang kamu sebut ‘kurang’ dalam pemanfaatan Qi. Sebenarnya, membuatnya lebih mengesankan utuk tingkat Qi-nya yang lebih rendah.”

Para juri lainnya yang duduk di belakang panel, jelas lebih rendah dalam peringkat, dibandingkan dengan juri Drem. Karena, satu-satunya hal yang mereka lakukan sampai saat ini adalah, menatap di antara Lady Vera, juri Drem, dan diriku.

“Lady Vera,” kata juri tua dengan gigi terkatup.

“Sementara aku berterima kasih atas wawasanmu ke dalam masalah ini. Aku telah menjadi juri selama hampir dua puluh tahun. Tolong bersikap hormat pada keputusanku ini.”

Lady Vera menggerakkan jari-jarinya pada panel tempat ia duduk di belakang. Merenungkan sejenak, sebelum dia mengangguk.

“Baiklah. Aku akan menghormati putusanmu, juri Drem.”

Sebelum aku bahkan memiliki kesempatan untuk kecewa dengan ini, sosok Vera berkedip-kedip dari pandangan.

Apa yang di…

Dia muncul di atasku dan mendarat dengan bunyi gedebuk yang lembut. Meskipun fakta, jika aku telah menyaksikan semuanya. Aku masih tidak percaya, jika dia baru saja menutup jarak sebesar itu dengan santai.

“Nak. Seperti yang juri itu katakan, kamu masih akan berada di Divisi Tiga. Tapi, bagaimana jika aku menjadi mentor pribadimu?”

Aku berpikir sejenak. Aku bahkan berpaling ke Nico dan Cecilia, untuk memastikan apa yang aku saksikan adalah kenyataan.

Aku tidak tahu siapa wanita ini. Tapi, cara dia membawa dirinya sendiri dan keterampilan gerakan mengesankan yang ia gunakan untuk bergerak…

Itu adalah sesuatu yang tentara paling elit bahkan tidak berani coba untuk ditiru. Itu membuatku berani mengambil risiko.

Mengabaikan baris juri yang terperanjat serta kerumunan tertegun, aku menerima tangannya.

“Aku menerima tawaranmu.”

***

 

#PoV: Arthur Leywin

 

Aku terbangun di lantai, dengan tanganku terbentang di depanku, mimpiku telah berakhir. Dan bukan tangan yang tampaknya rapuh milik Lady Vera berada ditanganku.

Aku mencengkeram erat ke tanduk Uto.

Tanduk yang sebelumnya berkilauan menyeramkan, seperti permata obsidian. Sekarang, itu telah retak dan serpihannya berserakan di eksterior abu-abu kusam.

Butuh sesaat untuk bertanya-tanya, bagaimana aku bisa berada dalam posisi ini. Sebelum, aku tiba-tiba teringat.

Seakan disambar petir, aku melompat berdiri. Aku segera menatap lingkungan, dan merasa lega saat sadar aku masih di kamarku, dan keadaan kamarku relatif utuh.

Melihat jendela, itu masih malam hari. Yang berarti, aku tidak sadarkan diri hanya untuk beberapa jam.

Menarik inderaku kembali, aku memfokuskan perhatianku pada inti mana, yang tidak lagi memiliki kemilau perak berkilauan. Itu melainkan terpancar terang seperti matahari putih.

“Aku melakukannya,” gumamku tak percaya.

Aku mempertahankan konsentrasi pada intiku selama beberapa menit.

Kebanyakan hanya merasakan perasaan baru. Aku merasakan, apakah ada yang aneh dengan terobosanku. Bagian paranoid-ku, hanya ingin memastikan jika aku tidak membayangkan hal-hal lain.

Bukankah. Aku sekarang mage inti white.

Gembira, aku mengirim aliran mana ke seluruh tubuhku.

Aliran mana itu mulus dan hampir-instan. Aku tidak mendapat kesempatan untuk membaca notebook yang telah Alanis tuliskan untukku. Tapi aku punya perasaan, dia mungkin harus memperbarui beberapa catatan itu.

Tanpa berhenti, aku mengulurkan tangan, mengepalkan, dan mulai membentuk mana. Aku mulai dengan sesuatu yang relatif mudah, membuat bola mana kecil yang murni.

Ini setara dengan peregangan sebelum berlari.

Setelah itu, aku melanjutkan untuk latihan lebih rumit. Aku memperbesar bola mana dan menyusutkannya secepat mungkin. Lalu, aku membagi bola mana menjadi dua yang lebih kecil.

Setelah aku memiliki sekitar selusin bola mana kecil yang mengambang di atas tangan, aku menyalakan beberapa dari itu melalui penggabungan dengan partikel mana api di atmosfer, sementara aku membekukan set bola dan hal lainnya.

Beberapa menit latihan, aku memiliki puluhan bola elemen yang berbeda.

Semua mengorbit di sekitar telapak tanganku.

Sepanjang ini, aku membuat senyum lebar di wajahku, yang bahkan mulai membuat pipiku kram.

Ada ratusan variasi latihan manipulasi ini. dan, semua dimaksudkan untuk membantu mage menjadi lebih baik dalam sihir. Istilahnya memiliki banyak nama. Tapi, semuanya hanya berarti satu hal:

Sihir yang tidak membutuhkan gerakan atau rapalan.

Banyak kelas sihir dimulai dari Xyrus Academy, hanya mengajarkan sihir berpusat dalam keadaan tetap. Yang pada dasarnya, itu membuat mantra terbatas dalam variasi dan kegunaan, untuk mereproduksinya secara konsisten dan mudah.

Gerakan dan rapalan digunakan banyak mage, dan masih dipakai hingga hari ini. Itu digunakan untuk bantuan dalam membimbing alam bawah sadar mereka, saat mereka membentuk mana ke dalam mantra yang mereka inginkan.

Kelemahan gerakan dan rapalan ini cukup besar. Karena pada dasarnya, kamu mengatakan kepada lawan, ‘Hei, aku akan melemparkan bola api padamu’. Jadi, banyak mage yang layak segera membuat penyelesaian ini.

Sihir organik yang tentu aku pahami dari usia dini, berkat pemahamanku tentang mana dari kehidupan sebelumnya. Itu jauh lebih sulit untuk dibuat dan dikontrol.

Setiap kali aku meluncurkan pisau angin ke lawanku dengan ayunan sederhana lenganku, otakku pada dasarnya memberikan petunjuk rinci, tentang mana yang harus aku jiwai ke mantra itu. Agar, itu dapat mendapatkan bentuk, ukuran, kecepatan, lintasan, sudut, dan kemampuan dengan benar.

Membobol tahap inti white, bukanlah karena kamu ingin mendapat rasa hormat. Tapi, karena itu adalah langkah maju yang besar, lebih daripada satu terobosan di tahap inti sebelumnya.

Kendali dan ‘kemahiran’-ku dalam mana telah meningkat. Hampir seolah-olah, kemajuan dalam inti white juga telah mempengaruhi pikiranku.

Aku berpikir kembali ke beberapa contoh di masa lalu, ketika Lances menunjukkan beberapa kecakapan mereka dalam sihir.

Kemampuan Olfred untuk melemparkan golem magma yang menakutkan. Dan, kontrol yang luar biasa Mica atas unsur abstrak seperti gravitasi.

Itu adalah dua contoh yang mendukung kecurigaanku.

Kesampingkan Alea, aku juga tidak pernah punya kesempatan untuk melihat Aya di pertarungan.

Bairon mampu membuat petir menjadi tombak raksasa, yang tampak sedetail senjata yang dibuat ahlinya.

Dan baru-baru ini, aku mendapatkan kesempatan bertarung dengan naga Varay, yang benar-benar dibuat dari es.

Apakah ini alasan, mengapa semua Lance begitu terampil dalam memanipulasi mana?

Pikiran lain muncul dipikiranku juga: terbang.

Biasanya, terbang secara terampil. Berarti, kamu harus memperhatikan secara konstan tubuh dan output mana. Sementara, kamu juga harus mengalokasikan perhatianmu pada sesuatu yang lain, seperti pertempuran.

Itulah mengapa, kebanyakan mage tidak terbang, bahkan jika mereka mampu.

Apa gunanya terbang, ketika kamu harus tetap fokus untuk mempertahankan itu?

Dan output mananya juga tidak murah.

Tapi, jika memanipulasi mana menjadi semudah ini. Mmaka aku bisa mengerti, mengapa Lance mampu terbang, sementara dengan santai berbicara padaku atau bahkan menggunakan mantra lain.

Ingin tahu tentang batasku, aku tergoda untuk segera menuju ke ruang pelatihan dan menguji beberapa teori.

Aku juga bersemangat untuk mengaktifkan Realmheart, hanya untuk melihat apa yang bisa aku lakukan saat ini. Namun, rasa sakit yang tajam berkobar di kepalaku, memaksaku keluar dari pikiran itu.

‘Arthur! Sesuatu terjadi…’

Suara Sylvie berdering di kepalaku, tapi terdengar teredam dan terdistorsi.

‘Sylvie? Apa yang salah?’

Aku memanggilnya beberapa kali, tetapi tidak mendapatkan respon. Perasaan kegembiraanku segera digantikan oleh khawatir dan takut, saat aku menuju ke tangga ke ruang pelatihan kecil, yang telah ia gunakan untuk mengisolasi dirinya.

Aku memutar gagang logam dingin dari pintu, tapi itu terkunci.

“Sylvie, aku di sini! Bisakah kamu mendengarku?”

Tidak ada respon.

Aku memutar keras, berharap itu hanya macet.

Ketika aku menyadari itu bukan, aku meninju lubang dekat kenop, merusak mekanisme kunci tidak berguna. Mendorong pintu, aku melangkah ke dalam, hanya untuk terdiam, saat melihat ke depanku.

Berdiri di belakang ruangan remang-remang itu seorang gadis kecil bermata lebar, dalam jubah hitam sederhana…. dengan dua tanduk hitam yang jelas menonjol keluar dari sisi kepalanya.

Aku pikir, aku salah melihat pada awalnya.

Aku menyalahkan redup dan bayangan dalam ruangan, berpikir mereka bermain trik dengan mataku. Tapi, ketika aku melangkah lebih dekat, dan gadis itu mendongak dan mata kami terkunci, aku tahu.

“Sylvie? Apa itu kamu?”

Gadis itu tersenyum gelisah. Jejak ketakutan dan kegembiraan jelas dalam mata topaz terangnya.

“Hai, Arthur.”

Kami berdua berdiri di sana. Tak satu pun dari kami tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dikatakan, bagaimana bereaksi.

Aku tidak percaya ini. Mataku mengatakan kepadaku, jika aku melihat seorang gadis yang tampak tidak lebih dari delapan atau sembilan tahun, dengan rambut berombak panjang yang berwarna pucat. Itu sama dengan warna perut bentuk draconic-nya.

Melihat lebih dekat, rambut berantakannya tampak seperti bulu lembut, daripada helai rambut sebenarnya.

Wajah kecil gadis itu ditutupi oleh rambutnya, karena poninya hampir menutupi setengah dari dahinya. Mata bulat kuningnya bergeser dengan gelisah, di bawah tatapan menelitiku.

Akhirnya, dia mengirim transmisi mental.

‘Berapa lama kamu akan terus menatap seperti itu?’

Tertangkap basah, aku tersentak, bukan pada kata-kata sendiri. Tapi, pada emosi yang terjalin di dalamnya.

Tidak seperti sebelumnya, aku bisa merasakan emosi yang ia rasakan, saat dia berkomunikasi melalui pikiranku.

Aku tahu, dia tidak nyaman dan malu. Tapi pada saat yang sama, gembira dan cemas.

Itu aneh, mengalami emosi asing dalam pikiranku.

Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

Paling-paling, Sylvie hanya mampu mengirim satu, emosi yang sangat kuat, seperti saat dia sedang menceritakan bagaimana perasaannya. Tapi, belum pernah seperti ini… sangat intim. Karena, tidak ada kata yang lebih baik untuk mengungkapkannya.

“Maaf,”

Aku berkata lantang.

“Aku masih mencerna segala sesuatu yang terjadi. Apa sebenarnya yang terjadi?”

“Setelah menyerap mana pengikut dari tanduk yang kamu berikan padaku. Aku akhirnya bisa membuka segel yang kamu dan kakekku katakan, berasal dari ibuku, untuk membuatku tetap tersembunyi.”

Perbedaan antara suara kekanak-kanakan dan kata-katanya mengejutkanku. Tapi, aku mengangguk dalam memahami.

“Jadi, dengan merusak segel. Kamu mampu membuka bentuk manusia, yang asura mampu lakukan?”

“Ya,” katanya, menatap tangan kecilnya.

“Terus terang, aku belum memiliki kesempatan untuk benar-benar mempelajari perubahan dalam tubuhku. Jadi, aku tidak bisa mengatakan dengan tepat apa yang terjadi saat ini. Tapi…”

Sylvie tiba-tiba meluncur dan terhuyung-huyung, hampir jatuh ke depan. Sebelum, dia kembali mendapat keseimbangannya.

“Sylvie? Kamu baik-baik saja?”

Aku bertanya, prihatin.

Sylvie berdiri di tempat sejenak, membeku. Aku hati-hati berjalan ke dia, tidak dapat mengerti dengan apa yang salah. Perlahan-lahan, dia menatapku.

Ketika mata kami terkunci lagi kali ini, rasa dingin berlari ke bawah tulang belakangku.

Penampilannya sama, tidak ada yang berubah. Tapi kehadirannya, sikapnya, tatapannya… itu sama sekali berbeda. Begitu banyak, sehingga aku telah tanpa sadar melangkah mundur darinya.

‘Sylvie’ menegakkan tubuhnya, menggoyangkan sisi lehernya ke samping, seolah-olah dia peregangan.

“Ah, ah,” katanya, membersihkan tenggorokannya.

“Kamu dapat mendengarku, ya?”

Aku mengangkat alis, tidak tahu bagaimana menjawab.

“Aku akan mengambil sikap itu sebagai ya,” katanya acuh.

“Siapa kamu?”

Aku bertanya, mataku menyipit.

‘Sylvie’ menyeringai, ekspresi yang tampak tidak alami di wajahnya.

“Aku berterima kasih, karena kamu kebetulan berada di ruangan yang sama, ketika koneksi itu akhirnya didirikan. Ini membuat hal-hal menjadi jauh lebih mudah.”

“SIAPA KAMU?”

Aku mengulangi.

Dia menyeringai lebar. 

“Agrona.”




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_193"