Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_201

gambar

The Beginning After The End


BAE_201

Bab 201: Alokasi

 

Kastil muncul di atas kepala, dalam langit abu-abu padat. Hujan belum terbentuk dalam awan tebal. Tapi, aku bisa merasakan kelembaban pada kulit dan pakaian. Dan, mana air yang menjadi padat di sekitarku, saat aku mendekati dasar struktur terbang ini.

Para prajurit dengan mana beast terbang yang menjaga benteng mengambang, berkumpul di sekitarku.

“Jenderal Arthur!”

Mereka memberi hormat serempak, sebelum membuat jalan di langit yang mengarah ke landing dock.

Aku mengangguk singkat pada squad sebelum mendarat, mengambil satu tatapan terakhir kembali ke arah Wall, saat gerbang digulung tertutup.

Para pekerja yang bertugas menjaga dermaga, dengan semua artefak yang digunakan untuk menjaga dan menghindar dalam pertahanan, berhenti melakukan apa yang mereka lakukan dan segera bergegas mendekat di sekitarku untuk memberi hormat.

“Lanjutkan dengan apa yang kalian lakukan,” kataku, isyarat bagi mereka untuk pergi.

Aku terus berjalan, pakaian dan rambutku meneteskan air dari awan, sampai aku melihat dua gadis yang akrab yang muncul di hadapanku. Senyum tersungging di bibirku, saat melihat mereka.

Ellie berdiri tegak dengan mata cokelat bersinar dengan keyakinan. Rambut cokelat yang mengalir, hanya melewati bahunya, adalah pengingat rasa sakit dari ayah, yang baru saja aku temui untuk berdebat sengit dengannya.

Berdiri di samping adikku, seorang gadis yang lebih unik.

Dia tampak sedikit lebih muda dari Ellie. Tapi, mata kuning berkilauannya, memancarkan sesuatu yang aneh.

Sebuah tirai pucat rambut gandum menutupi tubuhnya yang ramping, yang diselimuti gaun hitam bersinar seperti obsidian. Pakaiannya dicocokkan dengan dua tanduk bergerigi, yang menjorok keluar dari sisi kepalanya yang kecil.

Apa yang membuatnya unik adalah bukan fakta jika ia memiliki tanduk. Tapi kenyataan, jika dia benar-benar asura, naga, dan yang paling penting, dia adalah ikatanku.

Adikku melambai, sebelum berlari gembira ke arahku, dengan Sylvie di belakangnya. Ikatanku mengambil langkah ragu-ragu. Tapi, gerakannya telah menjadi jauh lebih lembut dalam beberapa hari, ketika kami terpisah.

“Selamat datang kembali,”

Adikku menyambut.

“Melihat bagaimana seluruh tubuhmu basah kuyup. Mari kita berpura-pura, seperti kita sedang berpelukan.”

“Aku tidak mau berpura-pura,” kataku lemah, sebelum menarik adikku ke dalam pelukanku.

“Gah! Aku seperti dimandikan!” protesnya, berjuang dari genggamanku.

Setelah merendam adikku hingga tingkat memuaskan, aku membiarkan dia pergi, dan berbalik ke ikatanku. Aku mengacak-acak rambutnya, yang terasa tajam untuk disentuh.

“Sepertinya, naga menakutkanku sudah tumbuh menjadi seorang gadis muda yang sehat.”

Meskipun lelucon itu berasal dari hatiku, mata besar Sylvie menyipit, saat ia menyadariku isi hatiku.

‘Kita akan membicarakannya nanti,’ kataku kepadanya melalui trasnmisi mental, mengutuk ketidak-nyamanan telepati kami.

Ikatanku mendesah dan menepuk lenganku.

“Selamat datang kembali.”

“Hal yang baik untuk kembali,” kataku pada mereka berdua.

“Jadi, bagaimana misimu? Aku ingin mendengar semua hal tentang itu,”

Adikku bertanya, matanya berkilau dengan kegembiraan.

Saat Ellie meningkatkan keterampilannya dalam sihir dan memanah. Aku tahu, dia memiliki kerinduan untuk berada di lapangan dan membuktikan dirinya.

“Aku akan memberi-tahu kalian semua tentang hal itu nanti,”

Aku berjanji.

“Tapi pertama-tama, aku harus memberi laporan ke Dewan.”

Setelah menyihir gelombang panas sederhana untuk mengeringkan diri, kami bertiga meninggalkan ruangan yang penuh sesak, tapi menjadi nyaman karena kehadiranku.

Segera setelah kami melangkah keluar. Aku hampir bisa merasakan pekerja menjadi santai, saat mereka mulai mengambil tempat yang mereka tinggalkan.

“Aku masuk ke tahap red, saat kamu pergi,”

Adikku menyatakan dengan bangga.

“Dan karena rejimen latihan harianku dengan Boo, mungkin membuatku menjadi mage yang cukup kompeten di usiaku. Bahkan, Komandan Virion memuji kemampuanku. DIa mengatakan, jika aku bahkan mungkin dapat melewatkan pelatihan wajib bagi para prajurit.”

Setiap kali adikku membesarkan antusiasme-nya untuk bergabung dengan jajaran tentara, aku merasa ingin untuk menahannya. Kali ini, meskipun aku merasakan itu lagi, aku hanya tersenyum ramah dan mengangguk.

Respon mendukung, yang bisa aku berikan untuk saat ini.

Sementara itu, ikatanku berjalan diam-diam di sampingku, konsentrasinya masih terfokus pada aksi berjalan dua kaki-nya. Aku bisa merasakan mana praktis meledak keluar dari tubuh kecilnya, saat ia menggunakan sihir sebagai penopang, sampai dia memiliki kontrol penuh atas tubuhnya.

Namun, adaptasi Sylvie dalam bentuk manusia, telah jauh membaik sejak terakhir kali aku melihatnya, yang hanya beberapa hari sebelumnya.

Aku tahu, dia melakukan yang terbaik, agar dia bisa bergabung denganku dalam misi, secepat mungkin.

“Kamu tahu, Putri Kathyln telah benar-benar membantu juga. Dia berlatih denganku, dan membantuku menyelesaikan beberapa seluk-beluk manipulasi mana,”

Adikku terus bercerita, melompat-lompat ke depan dan berjalan mundur untuk menghadapiku, saat dia berbicara.

“Oh benarkah? Kamu tahu, aku selalu bisa membantu dalam mengajar sihir, ketika aku bebas,” jawabku.

“Lagipula, Aku adalah seorang profesor di Xyrus Academy.”

“Untuk beberapa… semester,”

Adikku menjawab dengan seringai.

Aku melambaikan komentar sinisnya pergi.

“Seorang profesor tetaplah seorang profesor.”

“Terima kasih untuk tawarannya. Tapi aku merasa, seperti belajar darimu hanya akan menahanku lagi,”

Dia tertawa.

“Apa?”

Aku berseru, terkejut.

“Mengapa kamu berkecil hati?”

“Aku tahu kita terpaut lima tahun. Tapi, kita masih berbagi darah yang sama,” jawabnya, berbalik. Sehingga, punggungnya menghadapku, saat dia berjalan dengan baik.

“Melihat bagaimana kamu sudah menjadi mage inti white selain menjadi quadra elemental. Aku mungkin hanya mulai membandingkan diriku dengannmu, setiap kali kamu mengajariku sihir.”

Sikap riang gembira adikku berubah, dan aku menemukan diriku menatap Sylvie dengan harapan, jika dia punya cara untuk memecahkan kekacauan yang aku buat.

Ikatanku mengangkat alis padaku, sebelum berjalan mendekati adikku.

Sylvie menepuk Ellie di bahunya.

“Tidak masalah. Bakat saudaramu dianggap suatu yang tidak normal, bahkan di antara Asura. Jangan membandingkan dirimu dengan orang aneh seperti dia.”

Aku menggaruk pipiku.

“Bukankah itu sedikit kasar?”

Adikku melihat kembali dari bahunya, dengan seringai.

“Tidak ada, aku pikir, ‘aneh’ menggambarkan tentangmu dengan sempurna, dalam hal ini.”

***

 

Kami mencapai ruang rapat, setelah berpisah dengan adikku. Aku ingin beberapa waktu untuk bicara lebih banyak dengan ikatanku, tentang perubahan dalam tubuhnya sekarang, sebagai akibat segelnya yang rusak.

Tapi, beberapa kewajiban harus dipenuhi.

Aku mengunci tatapan dengan dua penjaga, yang berdiri di kedua sisi pintu masuk. Dan mereka menanggapi, dengan memberi hormat pada kedatangan kami, sebelum membiarkan kami masuk.

Duduk langsung dalam pandangan pintu masuk adalah Virion, yang ternyata menatap penuh semangat ke arah kami. Wajahnya berseri-seri, saat ia bangkit dari tempat duduknya.

“Arthur, kamu akhirnya tiba!”

“Komandan,”

Aku menyapa, menjaga formalitas di depan umum. Sylvie memilih untuk sedikit menundukkan kepalanya.

“Duduk,”

Dia memberi isyarat, menunjuk ke samping dengan senyum di wajah tuanya.

Aku berbalik untuk melihat apa yang ia cari, hanya untuk melihat sisa Dewan dan satu wajah akrab yang tidak aku harapkan untuk melihat.

Memutar-mutar jenggotnya, rasa bosan keluar dari pikirannya.

Itu Buhndemog Lonuid, mantan guru sihir dwarf-ku.

“Ho. Bukankah ini Lance muda,” dia menyapa monoton.

“Sepertinya, pertemuan telah membuatmu menderita,” jawabku dengan senyum, yang mencerminkan Virion ini.

“Tidak pernah pantatku menjadi begitu sakit, sejak hari aku dicambuk oleh ibuku saat kecil,”

Dia mengerang, meregangkan tubuh kekarnya.

Aku tertawa, dan mengalihkan perhatian ke seluruh Dewan.

“Council.”

Aku menyambut dengan anggukan hormat.

“Council-women.”

“Jenderal Arthur,” jawab Priscilla Glayder.

“Kamu datang pada saat yang tepat.”

“Ya,”

Blaine setuju.

“Kami ingin mendapatkan lebih banyak laporanmu.”

“Arthur!”

Alduin Eralith seru, ekspresinya cerah.

“Silakan duduk, kalian berdua.”

“Selamat datang kembali,”

Merial Eralith menimpali dengan senyum hangat, rasa syukur bisa dirasakan dalam suaranya.

“Terima kasih,” jawabku.

Aku kemudian berjalan melewati mantan raja dan ratu Elenoir, mengambil kursi dengan Sylvie, di sebelah Buhnd.

Virion kembali duduk dan membuka gulungan transmisi di depannya.

“Melihat sisa Lance keluar untuk misi, kita akan melanjutkan pertemuan. Tapi, sebelum kita mengatakan apapun, aku ingin Jenderal Arthur memberikan penjelasan penuh, pada apa yang terjadi di perbatasan Elshire Forest.”

Setelah mengambil seteguk air dari gelas di depan kursiku, aku menjelaskan semua yang telah terjadi, tidak menutupi interogasi mage Alacryan.

Butuh bagian yang lebih baik dari satu jam untuk membuat sisa Dewan. Dan ikatanku, mengerti dengan apa yang telah terjadi.

“Tampaknya, kita sudah meremehkan tingkat kemampuan mage Alacryan,” jawab Virion serius.

“Meremehkan?”

Blaine mengkerutkan alisnya bingung.

“Jika ada pembelajaran dari mereka, para bajingan (mage) Alacryan itu sangat terbatas, dan hanya terkhusus dalam sihir mereka. Itu membuatku berpikir, jika kita telah melebih-lebihkan mereka.”

“Aku harus setuju dengan anggota Dewan Blaine tentang satu ini,” tambah Alduin.

“Aku rasa, ini adalah kelemahan yang jelas, untuk taktik pertempuran mereka.”

“Aku tidak berpikir, hal ini sesederhana itu,”

Buhnd berpendapat, menggosok janggutnya sambil berpikir.

“Jika kita melihatnya dari tingkat permukaan, spesialisasi mereka dapat dilihat sebagai kelemahan,”

Virion setuju.

“Tapi dari apa yang Jenderal Arthur temukan, metode mereka dalam membangkitkan dan melatih sihir untuk orang-orang mereka, tampak lebih maju daripada cara di Dicathen sendiri.”

“Bagaimana?”

Merial bertanya ingin tahu.

Buhnd berbicara lagi, semburat kegembiraan muncul di wajahnya.

“Ini hanya spekulasiku. Tapi, dengan sistem Seal dan Peak atau apapun, mage dari Alacryan tampaknya akan terfokus pada mantra dan perubahan serta evolusi.

Itu berarti, sementara mage dari Dicathen fokus pada berbagai mantra dari elemen mereka, atau unsur-unsur yang berkaitan…

Dia menoleh ke arahku.

“…mage Alacryan ini menghabiskan hidup mereka, untuk mengasah mantra tunggal dan memperkuatnya.”

“Apa yang tetua Buhnd katakan, sesuai dengan apa yang aku lihat di lapangan,”

Aku menambahkan.

“Salah satu ‘striker’ yang aku lawan, hanya menggunakan satu mantra. Tapi, waktu cast untuk daya tahan dan potensi sihir dalam pertempuran, aku telah keliru menganggap dia sebagai mage di sekitar level inti yellow.

Dan fakta jika mage khusus bekerja dalam tim kecil yang meniadakan kelemahan mereka. Aku akan mengatakan, jika hanya mage veteran inti yellow dan lebih tinggi milik kita yang benar-benar dapat memanfaatkan ‘keterbatasan’ musuh.”

“Duels adalah masalah lain. Dalam ujung tombak perang, mage yang serbaguna tak akan menjadi seberguna, seperti tentara khusus sialan itu… ahli pada satu hal,”

Buhnd menyimpulkan muram.

“Sepertinya, kita harus mengirimkan informasi ini ke semua kapten, serta guild dan akademi militer. Sehingga, mereka dapat mengembangkan cara-cara yang lebih baik untuk memerangi ‘mage khusus’ ini,” gerutu Blaine frustrasi.

“Aku singgah di Wall, dan mengatakan kepada kapten di sana,” kataku.

“Baiklah. Sekarang, mari kita membahas rencana, tentang cara terbaik penyebaran pasukan,” kata Virion berat.

“Aku awalnya ingin berdiskusi dengan Master Aldir tentang ini. tapi, berhubung dia dan sisa asura telah berhenti membuat kontak dengan kita… kita harus mengatasi ini sendiri, untuk saat ini.”

Penyebutan Aldir dan asura membawa denyut tajam untuk dadaku. Dan, aku ingin berbicara tentang apa yang telah dikatakan Agrona padaku saat ini juga. Tapi, aku menahan lidahku.

‘Diskusi ini tidak akan berkembang, jika aku mengatakannya sekarang,’ pikirku.

‘Kamu harus memberi-tahu semua orang pada akhirnya,’ kata Sylvie, sebelum ia berhenti.

‘Tapi, mungkin setelah diskusi selesai.’

Sesuai dengan harapanku, bahkan tanpa menjatuhkan bom, ‘dewa-dewa tidak lagi dengan kami’. Pertemuan itu segera berubah menjadi debat, saat anggota Dewan berdebat dengan satu sama lain.

Tentang, tempat mana yang paling penting untuk dibentengi dengan tentara dan mage.

Masalah utama adalah, jika ada terlalu banyak tanah untuk dijaga.

Apa yang Agrona dan Alacryans telah lakukan lebih baik dari ini. Walau aku benci untuk mengakui, mereka tetap menjaga tujuan mereka, hampir tidak terbaca.

Dari pertempuran sejauh ini, kami tahu jika Alacryans menghabiskan cukup banyak sumber daya ke dalam Wall, agar binatang rusak bisa menerobos perbatasan timur Sapin.

Alacryans juga telah mampu memanfaatkan beberapa terowongan di kerajaan Darv, untuk mengangkut pasukan mereka dari pantai selatan, di sepanjang jalan dekat garis batas Darv dan Sapin.

Dan dari apa yang Buhnd telah beri-tahu. Tampaknya, ada faksi Dwarf radikal yang merasa ketidak-puasan dengan posisi dan kehidupan mereka di Dicathen. Hingga, membuat mereka benar-benar ingin Alacryans untuk mengambil alih, dalam rangka untuk menuai keuntungan.

Buhnd membuat jelas, jika ia dan loyalis-nya akan membuat serangan dalam memberantas kelompok ini, sesegera mungkin.

Seolah-olah itu tidak cukup, masih ada kapal Alacryan yang terlihat di sepanjang pantai barat, yang memaksa kota-kota pesisir seperti Telmore, Etistin, dan Maybur untuk membangun pertahanan. Yang tidak hanya pada bagian sisi timur.

Dalam hal ini, Wall tidak mampu menahan. Tapi, perbatasan barat mereka juga.

Dewan telah cukup menyimpulkan, jika beban serangan Alacryan akan dikhususkan untuk Sapin. Tapi, dalam dua misi terakhirku, membuktikan itu sebaliknya.

Kota-kota utara seperti Ashber, yang memiliki akses tercepat ke Grand Mountains dan ke kota-kota utama Elenoir dalam hal ini Elshire Forest. Itu telah dijadikan tempat bagi Alacryans, untuk bersembunyi.

Kami berpikir, jika tujuan mereka adalah untuk berbaris dari selatan, dan bergabung dengan sekutu mereka yang datang dari pantai barat.

Tapi dengan serangan-serangan terakhir yang diarahkan ke wilayah elf yang berasal dari Beast Glades. Pasukan Alacryan ke utara mungkin benar-benar telah membidik ke arah timur, menuju Elenoir.

Perhatian utama Alduin dan Merial adalah untuk kerajaan mereka. sementara, Blaine dan Priscilla menentang pengiriman pasukan ke Elenoir, dan menyebarkan lebih banyak pasukan dari seluruh Sapin.

Dan dengan Buhnd dan banyak mage dwarf difokuskan pada sengketa perdata mereka sendiri, dengan radikal yang mencoba untuk membantu Alacryans…

Perdebatan hanya jalan di tempat.

Sepanjang perdebatan, aku tahu jika Virion berusaha untuk menjadi diplomat dan tetap netral. Dia diam sepanjang seluruh pertemuan itu yang berlanjut hingga malam. Itu hanya pemikiran berbobotnya, tentang skenario tertentu yang bisa saja terjadi.

“Ini adalah alasan, mengapa aku ingin menunggu sampai Master Aldir datang!”

Blaine gusar frustrasi.

“Dia akan tahu, jika itu bodoh untuk menyebarkan pasukan kita menjadi lebih sedikit, dari yang sudah ada.”

“Komandan Virion, kamu menyebutkan, jika Tetua Camus seharusnya sudah kembali ke Elenoir, setelah pelatihanku dengan dia, yang sudah berakhir,” kataku, mengabaikan mantan raja Sapin.

“Ya,”

Menunjukkan transmisi terbaru yang miliki dari kota utara Asyphin.

“Apakah dia tahu, tentang serangan yang telah muncul di selatan?”

“Dia tahu, tentu saja,” katanya, memahami arah pembicaraanku.

“Mungkin itu akan menjadi baik dan kepentingan terbaik kita, jika ia membantu menatap selatan, untuk setiap gerakan yang mencurigakan.”

“Elshire Forest membentang ratusan mil. Tidak peduli seberapa kuat tetua Camus, dia hanya satu orang,”

Merial membantah.

“Dan Jenderal Aya,”

Virion menambahkan, beralih ke Blaine dan Priscilla.

“Dengan dua Lance kalian, serta Jenderal Mica yang kebanyakan menetap di Sapin. Ini dapat diterima, jika aku tetap menahan Lance lain di Elenoir, kan? Dia dapat ditarik, jika benar-benar diperlukan dan kami juga masih memiliki Jenderal Arthur.”

Blaine tampak seperti dia hendak mengatakan sesuatu. Tapi, Priscilla segera campur tangan.

“Tidak apa-apa.”

“Ini solusi sementara,”

Alduin stress, setelah Virion mengalihkan pandangannya ke arah dia dan istrinya.

“Jika serangan meningkat ke arah Elenoir, kita harus mengirim pasukan yang mampu berjalan melalui hutan, untuk mempertahankannya.”

“Jangan menutup-nutupi hal itu. Katakan saja, kamu akan mengambil elf kembali, karena membela Elenoir lebih penting daripada membela semua Dicathen,”

Blaine menembak kembali.

“Cukup!” bentak Virion, menembakkan silau mematikan pada kedua belah pihak. “

Jika ini sudah selesai, kita akan mengakhiri pertemuan in…”

“Sebenarnya,”

Aku menyela, mengumpulkan tatapan semua orang dalam ruangan.

“Kita memiliki satu topik yang lebih penting dalam agenda. Yang aku rasa, kita harus atasi sesegera mungkin.”

Virion mengangkat alis, sementara orang lain memandangku dengan ekspresi penasaran sama.

“Oh? Dan apa itu?”

Aku menatap Sylvie terakhir kalinya, dan dia bertemu tatapanku dengan ekspresi tegas. Setelah membiarkan keluar napas dalam-dalam, aku mulai,

“Ini tentang tidak adanya Aldir dan asura…”




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_201"