Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

ARK_V16E06P03

gambar


6. Carnival II (3)

Ark berlari menuju kastil horror, dengan Racard.

"Huhuhuhu, manusia bodoh telah mengunjungi. Apakah Kamu ingin melangkah ke kastil ketakutan ini? Jika kamu memiliki keberanian dari 50 silver…”

Ketika dia tiba di depan kastil horor, NPC mengulurkan tangannya. Ark melempar koin dengan ekspresi kesal, dan berlari ke kastil horor.

-Ohhhhhh, kya kya kya kya, kuoooooh!

Ketika dia memasuki kastil horor, suara menakutkan langsung terdengar. Itu menangis, merintih, dan mengintimidasi dari auman hantu dan monster!

Akustiknya benar-benar menciptakan suasana yang menakutkan. Tapi, masalahnya bukan kebisingan.

"Sial, apa ini?"

Ketika dia berkomunikasi melalui bola mata sebelumnya, dia tidak tahu di mana Buksil berada. Itu normal untuk membuat rumah berhantu sedikit rumit. Bukankah kata-kata di plang juga berbicara tentang labirin?

Tapi ketika dia masuk, dia tidak menyadari, jika ini akan menjadi rumit. Lusinan jalur di labirin terbentang seperti sarang laba-laba, dari pintu masuk. Tidak peduli betapa rumitnya medan dungeon itu, biasanya itu bukan masalah.

Berkat skill kartografi yang memetakan fitur medan dari dungeon, dia tidak pernah berkeliaran di rute dua kali. Tapi, ini adalah wahana, bukan dungeon. Skill kartografi tidak tersedia. Selain itu, tidak ada fitur geografis yang akan ditandai.

"Bagaimana aku bisa menemukan Buksil di sini?"

“Waaahhh! Ark-nim, apa yang kamu lakukan? Silakan datang segera. Ada banyak dari mereka di daerah ini!”

Bola mata menjelaskan beberapa fitur kasar, tapi tidak membantu. Dia tidak tahu bagaimana menemukan tempat itu. Kastil horor juga memiliki banyak jejak kaki, sehingga dia tidak bisa menggunakan Stalking milik Radun.

Pada akhirnya, dia tidak punya pilihan selain pergi berkeliling, dan mencari tempat yang disebutkan Buksil. Ark khawatir sebentar, sebelum dia berkata.

"Mau bagaimana lagi. Lebih baik berpisah dan mencarinya, daripada tetap bersama.”

"Tapi Master, orang itu adalah tengkorak.”

Gumam Racard sambil mengetuk Razak. Seperti yang dikatakan Razak, ini adalah sebuah desa. Skeleton berkeliaran sendirian, bisa menyebabkan masalah. Tapi, Ark hanya menggelengkan kepalanya.

“Tempat ini adalah rumah berhantu. Orang-orang yang menyamar sebagai monster, sengaja tersebar di sekitar. Sehingga tidak akan ada keributan, jika Skeleton terlihat. Tapi, Razak tidak memiliki cara untuk melakukan kontak, jika Buksil ditemukan. Sehingga, dia akan bergerak denganmu. Tidak perlu dikatakan lagi, tapi jangan biarkan mereka menangkap Buksil. Setelah Kamu menemukannya, lakukan apa saja untuk melindunginya.”

"Baik. Hei, tengkorak! Ikuti aku.”

-Clack clack clack, clack clack clack clack!

Ark dan familiar-nya berpencar, dan mulai mencari Buksil.

***

 

"Di sana!"

"Aku melihatnya berlari ke sana!"

Itu adalah area bawah tanah dengan peti mati dan peralatan di mana-mana. Ada puluhan orang berlarian, dan menangis dengan suara keras. Buksil telah berlari di sekitar labirin, menghindari bandit selama 10 menit. Dan, 20 bandit nyaris kehilangan jejak, karena labirin yang rumit.

Sama seperti Ark, grup bandit itu berpencar dan mulai mencari Buksil. Namun, tidak mudah untuk menemukan satu orang di labirin.

Selain itu, ada perangkap yang diletakkan di mana-mana, di lantai kastil.

Perangkap itu bukan yang akan mengancam jiwa, tapi beberapa dari mereka menghentikan orang untuk bergerak atau memindahkan mereka ke lantai bawah. Jadi, tidak mudah untuk menangkap Buksil.

Namun, Buksil juga khawatir akan jatuh ke dalam perangkap. Dia telah ditangkap beberapa kali oleh perangkap. Dia juga dikejar oleh NPC yang menyamar sebagai monster, saat berkeliaran tersesat. Karena itu, para bandit berhasil menyusul Buksil dan lingkaran pengepungan semakin menyempit.

"Dia pasti dekat di sini. Kalian di sini, dan kalian lihat di sana!”

Buksil melompat, setiap kali dia mendengar suara para bandit.

“Hik, ada bandit di mana-mana! Aku dikelilingi!"

"Tuan, ada lubang di sudut itu!"

Pada saat itu, Baekgu menunjuk ke sudut dan berteriak. Ketika dia menoleh, ada lubang kecil di antara beberapa alat penyiksaan, yang mengerikan. Ada juga beberapa lorong rahasia yang disiapkan di kastil horor untuk bersenang-senang…

Itu juga satu-satunya metode melarikan diri bagi Buksil, untuk bertahan hidup. Buksil berlari menuju lubang tanpa melihat. Saat dia hendak memeras tubuhnya yang melimpah, zombie tiba-tiba jatuh dari lubang.

"Aaaagh!"

Buksil menjerit dan jatuh ke tanah. Tapi, zombie itu hanya tersenyum, dan berjalan ke sisi yang lain.

“Hihihi, itu adalah kesuksesan lain. Sekarang, siapa yang akan aku goda selanjutnya?"

Buksil gemetar, sementara Baekgu hanya menghela nafas dan bergumam.

“Ah Tuan, itu hanya monster palsu.”

"Aku tahu aku tahu. Tapi…"

Air mata jatuh di wajah Buksil, saat dia berbicara. Tentu saja Buksil tahu, jika semua monster hanyalah NPC yang berdandan, dan keselamatannya terjamin. Selain itu, dia telah menemui semua jenis monster saat bepergian dengan Ark. Tidak ada alasan untuk mengecilkan ketakutan, ketika dia melihat monster.

Tapi mengetahui itu dan tidak takut, itu berbeda. Bukankah orang-orang menonton film horor untuk sensasi ketakutan?

Dalam situasi yang tidak terduga itu, siapa pun akan terkejut. Dengan demikian, Buksil meneteskan air mata, dengan setiap pertemuan dalam permainan.

"Eh, lewat sini!"

Kemudian, beberapa bandit berteriak dari sudut yang berlawanan.

"Hik, B-Baekgu!"

"Tuan, tolong cepat!"

Baekgu menggigit Buksil, dan menyeretnya melalui lubang.

"Sial, bajingan itu!"

Bandit itu mengutuk dan mencoba mengikuti. Tiba-tiba, 10 tangan hitam muncul dan meraih pakaian para bandit. Ini juga salah satu peristiwa kastil horor. Berkat peristiwa ini, para bandit akhirnya kehilangan Buksil beberapa kali.

Ketika bandit melepaskan tangan dan memasuki lubang, Buksil tidak bisa dilihat lagi.

"Sial, kita kehilangan dia lagi!"

“Kalau saja, tidak ada NPC barusan itu… Tempat ini sangat menyebalkan!”

“Tapi, kita hampir selesai mengelilingi daerah itu. Kita akan menangkap pria itu segera.”

“Ya, sekarang tinggal menunggu waktu saja. Dan kita sudah melewati bagian ini sebelumnya. Kita akan melanjutkan cara ini, sementara beberapa orang akan memblokir sisi lain. Tidak peduli di mana dia muncul, kita akan segera menangkapnya.”

Seorang bandit menendang peti mati dengan ekspresi kesal, saat mereka berlari melewati lorong.

Setelah beberapa saat, peti mati yang ditendang bandit terbuka, dan Buksil dan Baekgu muncul.

"Huk huk huk, aku hidup!"

Keringat menetes ke wajah Buksil, saat dia bergumam. Baekgu terlambat mengetahui, jika lubang itu sebenarnya adalah jebakan. Begitu mereka melewati lubang, jebakan telah dipicu dan menutup mereka berdua dalam peti mati besar. Tapi, itu karena Buksil terperangkap dalam peti. sehingga dia bisa menghindari bandit.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "ARK_V16E06P03"

Pemberitahuan Update via Email