Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_243

gambar

The Beginning After The End

BAE_243

Bab 243: Di Permukaan

 

#PoV: Tessia Eralith

 

Aku melihat kembali ke koridor yang diterangi cahaya lembut, yang membentang kembali ke dalam kegelapan, sebelum tatapanku tertuju pada medali putih di tanganku.

“Maaf, Kakek,” gumamku pelan, memegang erat artefak itu.

 “Aku bersumpah akan mengembalikan ini.”

Aku membelakangi jalan tempatku berasal, dan menghadap gerbang kuno di depanku. Menghela nafas panjang, aku bersiap untuk apa pun yang akan terjadi, begitu aku menyeberang.

Aku menjadi gegabah dan emosional.

Aku tahu itu.

Bahkan setelah apa yang terjadi pada pertempuran terakhirku di Hutan Elshire, di mana Jenderal Aya harus menyelamatkanku. Aku masih memilih untuk melakukan ini.

Bahkan setelah betapa aku telah mencaci-maki diriku sendiri… membenci diriku sendiri…

Aku tidak bisa duduk diam seperti ini.

Kakek sudah membunuh Ibu dan Ayah dalam pikirannya. Tidak peduli apa yang ia katakan. Aku tahu, tampang yang selalu ia miliki, ketika aku menyebutkannya.

Aku tahu apa arti tampilan itu. Baginya, orang tuaku bukan lagi keluarga, tapi pengkhianat.

Nenek Rinia tidak seburuk itu. Tapi aku tahu, dia sudah menyerah untuk mencoba menyelamatkan orang tuaku. Hanya dari mendengar rencana yang ia dan Virion buat bersama dengan Jenderal Bairon, tentang siapa yang harus diselamatkan.

Aku tahu jika orang tuaku tidak ada dalam daftar itu.

Tapi, mereka tidak tahu. Mereka tidak ada di sana seperti diriku.

Mereka tidak tahu seberapa keras tangan ibu gemetar, saat dia memegang tanganku dan menarikku.

Mereka tidak berada di sana untuk melihat Ayah dengan air mata membasahi wajahnya, saat kami melangkah melalui portal.

Menarik kerudung di atas kepalaku, aku menguatkan diriku.

Apa pun yang dipikirkan orang tentang tindakanku sekarang, itu tidak masalah. Orang tuaku berhak mendapatkan kesempatan. Dan jika putri mereka sendiri tidak mau memberikan itu kepada mereka, siapa yang akan melakukannya?

Pikiranku berkelana dan aku memikirkan Arthur.

Aku tergoda untuk memintanya membantuku, tapi itu terlalu egois. Aku tahu bahaya yang ditimbulkan oleh misi ini, dan jika sesuatu terjadi padanya karena diriku…

Aku bisa diabaikan, dia tidak.

Memegang medali di depanku, aku berjalan melewati gerbang bercahaya di depanku. Cahaya ungu lembut bergelombang saat disentuh medali, dan aku merasakan sedikit tarikan.

Daripada menahan sensasi asing, Aku menerimanya, dan melangkah lebih jauh ke dalam gerbang, sampai seluruh tubuhku terbenam dalam warna ungu lembut.

Segera, tubuhku ditarik melintasi corong cahaya yang berputar-putar. Rasanya, berbeda dari gerbang teleportasi normal, aku lebih… mual.

Aku tersandung ke sisi lain di tanah beraspal, masih agak bingung dari perjalanan. Tidak lama kemudian seseorang berteriak,

“Hei! Seseorang menggunakan gerbang!”

Mengintip ke atas, Aku melihat empat Alacryan berdiri berjaga di sekitar gerbang teleportasi, yang telah Aku lewati.

“Berlutut dan buka tudung kepalamu!”

Penjaga di sebelah kananku memerintahkan, mengarahkan bola angin yang kental ke arahku.

“Sekarang!”

Aku menjatuhkan diri dan membanting telapak tanganku ke tanah. Sebelum mantra dari Alacryan bisa mencapaiku, bagaimanapun, angin kencang bertiup di sekitarku.

Dengan satu tangan di kepalaku untuk menjaga tudung tetap di tempatnya, aku menggumamkan mantra lain. Aku menginginkan penghalang pelindung angin untuk berkembang, mendorong para mage musuh yang lengah.

Menggunakan jenda kesempatan yang singkat ini, Aku berlari ke depan ke gang terdekat, seratus kaki ke utara.

Perintah diberikan kepada sekutu mereka lebih jauh. Dan segera, sepasang Alacryan datang ke arahku dari kedua sisi.

Menjaga kerudungku turun, aku bergegas menuju Alacryan di sebelah kiriku, menembakkan wind blade ke arahnya.

Hampir seketika, armor dari es menyelimuti tubuhnya, melindungi lehernya dari angin sabit tajam, yang telah Aku kirimkan ke arahnya.

 Naluri awalku adalah, terkejut dan diintimidasi oleh irregular mage, sebelum Aku mengingatkan diriku sendiri, jika Alacryan menggunakan sihir secara berbeda dari yang kami lakukan.

Tapi, bentuk sihir yang lebih tinggi, tidak selalu sama dengan mage yang lebih kuat dalam kasus mereka.

Aku fokus pada lawan yang ada.

Alacryan yang berlapis es berhasil mempertahankan seranganku. Tapi, kekuatan wind blade-ku berhasil menjatuhkannya.

Sebelum rekannya bisa datang membantunya, sementara dia berdiri kembali, Aku mempercepat langkah. G

odaan untuk menggunakan sihir tanaman atau beast will-ku akan tumbuh dengan cepat. Aku akan jauh lebih mudah untuk melarikan diri, tapi Aku menolak.

Menggunakan sihir irregular seperti itu akan memberi tahu semua orang, jika mantan putri Eralith di sini.

Membayangkan gelombang angin kental di bawah kaki belakangku, Aku mendorong diriku sendiri, dalam jarak lengan musuh. Dia mengangkat pedang panjangnya, untuk memblokir serangan apa pun yang ia pikir akan Aku pukul.

Tapi sebaliknya, Aku meraih lengannya dan menggunakan lemparan di atas kepala, yang diajarkan kakek kepadaku.

Dengan bantuan sihir angin, aku melemparkan Alacryan beberapa puluh kaki ke udara, yang membuka jalan menuju gang terdekat.

“Jangan biarkan dia lolos!”

Sebuah suara berteriak dari jauh.

Dihibur oleh fakta, jika mereka mengira Aku adalah seorang laki-laki. Aku melaju dan pergi dengan hembusan angin lain yang membantuku.

Aku melaju melalui lorong sempit.

Gedung-gedung menjulang di kedua sisiku, jalannya hampir tidak cukup lebar, untuk memungkinkan dua orang berjalan bersamaan. Terlepas dari seberapa tua bangunan dan jalan beraspal, tidak ada satu pun sampah yang menodai gang.

Sebagian besar kota manusia tampak sangat mirip satu sama lain. Sehingga sulit untuk mengatakan dengan tepat, di mana Aku berada. Sampai, Aku memiliki pemandangan kota yang lebih baik secara keseluruhan.

Tapi Aku tahu, jika Aku setidaknya telah tiba di salah satu kota besar di Sapin.

Mataku terus-menerus mengamati jalan. Dan bahkan atap di dekatnya, ada Alacryan yang melacak keberadaanku dari atas. Melihat sekilas ke langit memastikan, jika Aku belum mendarat di Kota Xyrus.

Awan berada di atas kepala dan tidak ada penghalang tembus pandang, yang terlihat melindungi kota terapung.

Setelah beberapa waktu berlalu, dan Aku dengan hati-hati berjalan menuju salah satu jalan yang lebih besar. Aku mengintip dari lorong sempit yang telah Aku lalui, untuk melihat jika ada cukup banyak orang yang masih berjalan di jalanan.

Tetap saja, Aku tetap tidak terlihat dan mengamati pejalan kaki yang lewat, hanya untuk memastikan. Meskipun sebagian besar adalah petualang dan tentara yang mengenakan armor atau kulit pelindung.

Aku melihat cukup banyak anak-anak dan ibu rumah tangga yang mengenakan celemek kotor. Namun, anehnya, semua orang sepertinya bergerak ke arah yang sama.

‘Mereka semua memiliki ekspresi tak bernyawa,’ pikirku dalam hati. Dadaku beradu, karena rasa bersalah.

Bodoh rasanya, merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Tapi, sebagian dari diriku masih berpikir, jika mungkin sebagian besar kesalahanku, atas bagaimana perang itu terjadi.

Aku menggelengkan kepalaku, keluar dari lubang yang akan aku buat sendiri, jika aku memulai alur pemikiran ini.

Setelah membungkus jubahku erat-erat, dan memastikan jika sebagian besar warna rambutku yang mencolok tidak bisa dilihat. Aku melompat keluar dari gang.

Menyatu dengan kereta kuda yang lewat di dekatku, aku berjalan selaras. Sampai, sekelompok pejalan kaki yang agak bergerombol menawariku penghalang yang lebih alami untuk bersembunyi.

Beberapa melirikku sekilas. Tapi karena fisik Aku yang lebih kecil, sepertinya tidak ada yang terlalu memperhatikan.

“Apakah kita benar-benar harus pergi?”

Seorang wanita paruh baya beberapa kaki di depanku berbisik, kepada apa yang tampak seperti suaminya.

Pria gemuk itu menjawab dengan nada berbisik.

“Alacryan sialan itu sudah mulai mengusir orang-orang dari rumah mereka. Jika kita tidak pergi sekarang, itu hanya akan memperburuk keadaan.”

Wanita itu memandang suaminya, seolah-olah dia akan mengatakan sesuatu, tapi menunduk. Aku bisa melihat bahunya terkulai, saat dia memegang erat tangan putrinya.

Bingung, Aku terus mengikuti semua orang, sampai Aku melihat beberapa stand di pinggir jalan.

Sebagian besar hampir selesai membungkus barang-barang mereka, dan meletakkan terpal yang menggantung di atas stand mereka. tapi, Aku berhasil menemukan stand pakaian yang belum dikemas sepenuhnya.

Dalam satu gerakan cepat, Aku mengusap topi kulit panjang dan mantel, serta setelan celana yang serasi tergantung di rak.

“Hei! Itu…”

Suara penjaga toko itu menghilang. Melihat sekilas ke belakang, aku bisa melihatnya dengan mata terbelalak, melihat beberapa koin silver yang tersisa di atas meja.

Menggeser ke gang lain di dekatnya, antara toko roti yang ditinggalkan dan toko daging dengan jendela pecah. Aku buru-buru mengganti pakaianku, dengan yang baru saja aku beli.

Aku mengikat rambutku dan memasukkannya ke dalam topi kulit yang melewati leherku, memastikan sebagian besar rambut perakku tidak terlihat. Setelah memakai mantel dan celana, aku menyapukan jariku ke tanah, dan menyelipkannya dengan berantakan di wajahku.

“Ini seharusnya cukup,” gumamku pelan.

Aku berpikir tentang mungkin mengeluarkan busur latihan yang Aku pinjam dari Ellie, untuk melengkapi ciri khas petualang. Tapi aku memutuskan sebaliknya, setelah menyadari jika tidak ada yang membawa senjata mereka.

Aku berbaur dengan arus orang-orang, yang berjalan dengan sungguh-sungguh ke arah yang sama. Meskipun tempat itu jauh lebih ramai, masih ada keheningan yang menakutkan.

“Permisi. Apa yang sedang terjadi?”

Aku memperdalam suaraku dan menghindari kontak mata, dengan pria yang baru saja Aku tanya.

Pria itu mengabaikanku dan mempercepat langkah.

Aku mencoba lagi, kali ini kepada seorang wanita tua. Tapi, mendapat tanggapan yang sama. hingga akhirnya, seorang wanita yang lebih muda, sedikit lebih tua dariku, akhirnya menanggapi.

“S-Sudah berakhir,”

Dia menahan isak tangisnya.

“Para penyerang itu menyuruh kami pindah ke pusat Etistin, jika kami tidak ingin diburu.”

“Diburu?” kataku pelan.

“Bagaimana dengan tentara Dicathen yang ditempatkan di Etistin?”

Langkah wanita itu semakin cepat, saat dia melihat ke belakang dengan gugup.

Aku mengikutinya, menyesuaikan langkahnya, dan bertanya lagi, sebelum menjawab dengan suara yang lebih pelan.

“Mereka pergi.”

“Pergi?”

Aku berkata sedikit lebih keras dari yang aku inginkan.

Mata wanita itu melotot seperti anjing liar yang terkejut. Fan dia membuka ritsleting, memegang erat tas di pelukannya.

Aku menghela napas dalam-dalam, ketika Aku mencoba untuk menekan rasa frustrasi dan kecemasan yang menumpuk di dalam diriku. Berbicara dengan wanita itu, meninggalkaku dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dan sepertinya, semua orang terlalu takut untuk berbicara.

Menyesuaikan topi kulitku, aku terus berjalan. Satu-satunya caraku mendapatkan jawaban adalah dengan pergi ke Etistin.

Menilai dari fakta jika kami bergerak menjauh dari Grand Mountains, kami menuju ke barat.

Aku pasti telah menyeberang melalui gerbang timur Etistin. Itu masuk akal, karena itu adalah gerbang teleportasi yang paling jarang digunakan, dan yang terjauh dari kastil.

Elder Rinia pasti sudah menyiapkannya untuk yang ini, untuk menyelundupkan beberapa tokoh kunci yang telah ia tulis di daftar itu.

Semakin Aku terus berjalan, semakin padat kerumunan di sekitarku. Itu sampai pada titik, di mana kami semua harus bergerak maju, saling menekan.

Teriakan anak-anak bisa terdengar, di atas rasa gugup yang dibuat oleh orang tua mereka.

Gedung-gedung tinggi berornamen yang membentuk bagian dalam ibu kota Etistin, menghalangi pemandangan pusat kota. Tapi, tepat sebelum itu, Aku melihat orang-orang Alacyans.

Mereka tidak ada bedanya dengan manusia Sapin. Tapi, mereka semua mengenakan seragam abu-abu dan hitam, yang sama bergaris-garis merah darah. Mereka juga satu-satunya yang memiliki senjata. Dan, mereka menggunakannya untuk menggiring orang-orang ke depan, menuju jalan setapak menuju pusat kota.

Saat itulah, Aku mendengarnya.

Jeritan pertama.

Itu baru permulaan…

Teriakan pertama itu lebih dipicu, saat kerumunan di depan mencapai area terbuka alun-alun kota.

Aku mendorong maju melalui kerumunan, mencoba memeras ke depan. Aku berada di tengah-tengah barisan padat orang, yang berdesak-desakan di area terbuka, yang dulunya merupakan pusat perdagangan.

Saat Aku semakin dekat, Aku memperhatikan perubahan di udara… dari ketakutan dan kekhawatiran, menjadi keputus-asaan.

Aku bisa melihat reaksi yang lebih halus sekarang, di samping jeritan yang bergema. Aku bisa melihat desahan dan erangan. Dan bahkan, isakan pelan dari orang-orang di depan.

Saat aku semakin dekat, aku bisa melihat orang-orang.

Seorang pria bertubuh besar menunjuk jari gemetar ke kanan. Seorang wanita dengan kedua tangan menutupi mulutnya, mata lebar dan air mata mengalir deras. Pria lain dengan ekspresi tetap yang mengeras, melihat ke arah lain.

Saat itulah, Aku mencapai depan.

Aku menoleh untuk menghadapi pemandangan, jika semua orang bereaksi begitu kuat, tidak peduli tentang Alacryan di dekatnya.

Dan akhirnya, Aku melihatnya. Perutku mengepal dan gumpalan di tenggorokanku mengancam untuk mencekikku, ketika Aku melihat empat sosok itu.

Dua pria, dua wanita, dengan paku hitam menembus tubuh mereka tinggi-tinggi di udara agar dapat dilihat semua orang.

Dua adalah pemimpin kerajaan ini, dan dua lainnya adalah… orang tuaku.




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_243"

Pemberitahuan Update via Email