Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

***Donasi: Traktir ngopi! (min Rp 1.000,-)***
Laporan Donasi

BAE_274

gambar

The Beginning After The End

BAE_274

Bab 274: Kristal

 

 Kubah berwarna ungu bening, berkilauan dari keberadaan entitas. Dan, aku menemukan diriku kembali di ruang tersembunyi.

Entitas yang baru saja aku lawan tidak dapat ditemukan. Dan, aku hampir tidak bisa tetap berdiri. Ketegangan mental dan fisik dari rune baru-ku, mencengkeram cakar dinginnya di sekitarku.

 Regis datang berlari ke arahku, ekspresinya campuran antara keterkejutan dan perhatian.

“A-Apa yang terjadi? Kamu mendapat rune lain!”

 “Di mana dia?”

Aku bertanya dengan gigi terkatup, mataku mencari tanda-tanda sosok ungu itu.

“Dia?”

Regis bergema dalam kebingungan.

“Kamu hanya berdiri diam beberapa detik, sebelum petir ungu ini mulai berderak di sekitarmu.”

“Aku belum pernah melihat aether bermanifestasi seperti ini, sebelumnya,”

Suara dalam yang familiar bergema di depanku.

Aku mengangkat kepalaku, sementara Regis berputar untuk melihat, jika sumber suara itu tidak berasal dari entitas yang sama… tapi, kristal yang mengapung di atas alas.

“Maafkan aku, atas kebingungan ini. Melihat karena aku tidak memiliki bentuk fisik lagi, aku mengambil pertarungan kita ke dalam pikiranmu,” kata kristal itu, memancarkan cahaya yang sesuai dengan kata-kata yang diucapkannya.

Alisku berkerut.

“Jadi, seluruh pertarungan itu tidak benar-benar terjadi?”

“Pikiran adalah alat yang ampuh, yang bahkan para asura jarang dilatih. Karena mereka memilih untuk mengasah tubuh dan inti mereka,” jawab kristal, dengan nada yang agak sembrono.

“Tapi, kamu tampaknya berbeda… dalam lebih dari satu arti.”

 “Putri di sini memang agak aneh,” Regis setuju, menganggukkan kepalanya.

Bahkan aku harus mengakui, jika kasusku sama sekali tidak aneh. Namun, aku punya banyak pertanyaan dan ingin maju.

“Jadi apa yang terjadi sekarang? Apakah aku telah lulus ‘uji coba terakhir’-mu, atau apakah ada yang lebih?”

“Fakta jika aku telah memilih untuk berbicara denganmu. Berarti, kamu telah lulus,” jawab kristal itu.

“Pertengkaran kecil itu lebih untuk rasa ingin tahu dan kebosananku. Dan, kamu telah melakukan pekerjaan yang bagus, dalam memuaskan keduanya.”

 Entah itu Klan Indrath atau Klan Vritra, asura dan entitas yang lebih tinggi ini… sepertinya, selalu senang memuaskan kebosanan mereka, tanpa mempedulikan mereka yang menerima.

 “Untuk berpikir, jika kamu akan dapat menerima rune, dan spatium decrypt tidak kurang,” lanjut kristal itu.

“Katakan padaku. Bagaimana kamu dapat mengontrol aliran aether di dalam tubuhmu, dengan presisi seperti itu? Apakah fisik asura yang membantumu?”

 Mataku menyipit.

“Aku tidak punya alasan atau insentif untuk menjawab.”

 Regis kembali menatapku dengan panik.

“Ar… Gray. Apa yang sedang kamu lakukan? Jangan merendahkan kristal yang berbicara.”

“Tidak. Tuanmu bijaksana,” kata kristal itu kepada Regis, sebelum memanggilku.

“Gray, apakah itu? Sebelumnya, kamu menyatakan, jika kamu menginginkan jawaban. Apa yang disimpan di dalam sisa aether ini adalah, sesuatu yang aku yakin kamu inginkan. Yang aku minta adalah, kamu memuaskan rasa ingin tahuku, untuk beberapa menit lagi.”

“Kamu mengatakan, jika aku telah lulus uji coba-mu. Apakah aku belum berhak, atas apa pun yang akan kamu berikan kepadaku… terlepas dari apakah aku menjawab kamu atau tidak?”

Aku membantah, lelah dengan kejenakaannya.

Kristal itu berhenti, permukaannya yang bercahaya meredup selama beberapa detik, sebelum berbicara lagi.

“Sangat bagus. Aku bisa memberimu hadiah kecil tambahan dari bangsaku.”

 Saling bertukar pandangan dengan Regis, aku menghela nafas dan mulai menceritakan perjalananku setelah sampai di sini.

Aku memberi tahu kristal tentang beast yang harus aku lawan, uji coba yang harus aku atasi, dan apa yang akhirnya terbentang, setelah aku keluar.

Bagaimanapun, Aku menghilangkan hubunganku dengan Klan Indrath, karena alasan yang jelas.

 ***

 

“Menarik! Untuk berpikir, kamu tidak hanya mampu menempa inti ether. Tapi, juga secara paksa meredam saluran internal-mu sendiri untuk mengontrol output-nya. Benar-benar sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan fisik asura,”

Kristal itu memancar, cahayanya berdenyut, dengan penuh semangat.

“Untuk itulah, rune yang menutupi tubuhmu itu, kan? Mereka digunakan, sehingga kamu bisa mengontrol aliran aether,”

Aku menegaskan.

“Benar. Sementara orang-orang kami telah menguasai bentuk mantra, untuk menarik dan memanipulasi aether. Penguasaan sejati dan penampilan organik dari god-rune… seperti cabang spatium yang baru saja kamu terima… itu hanya datang melalui knowledge utama.”

“Jadi, god-rune ini menandakan, jika aku telah memperoleh knowledge, tentang aspek tertentu dari aether, kan? Oleh siapa, atau apa?”

Aku bertanya.

“Apakah ada dewa yang lebih tinggi di atas para asura, yang memberikan ini?”

“Informasi itu tidak disimpan di dalam sisa-sisa (kristal) ini,” jawab kristal itu.

“Tapi, aether ada di sekitar kita, dan dapat bekerja dengan cara yang tidak mungkin dibayangkan. Jalan untuk mendapatkan otoritas atas aether, berbeda untuk setiap orang. Dan sejauh ini, kamu adalah yang paling berbeda.”

“Bagaimana?”

Regis bertanya.

“Orang-orang kami dibatasi oleh tubuh fisik kami. Sebagian besar perjuangan kami, bukan tentang mendapatkan knowledge. Melainkan, mencari cara untuk membuat tubuh rapuh kami menangani beban aether.

Aku mungkin berspekulasi. Tapi aku yakin, rune baru-mu tampak seperti kilat, bukan karena itu kilat. Tapi, karena begitulah cara mu mengkreasikan sifat abstrak dari cabang aether tertentu,” lanjut kristal itu.

“Jadi, para naga dari Klan Indrath tidak dapat melakukan apa yang orang-orangmu atau aku bisa lakukan?”

Aku bertanya.

“Mereka memiliki fisik dan bakat untuk menangani aether. Tapi, mereka tidak memiliki pengetahuan dan wawasan, untuk mengkreasikan aether sebagai milik mereka, bukan?”

Aku merasakan rambut di leherku berdiri, saat tekanan berat keluar dari kristal.

“Beast itu tidak pantas mendapatkan gelar asura, atas kekejaman yang telah mereka lakukan. Keserakahan mereka akan knowledge. Dan ketakutan pada kami, jika kami dapat mengambil alih posisi mereka, sebagai pengguna aether yang sebenarnya.

Itu membuat mereka membunuh, tidak hanya orang-orang kami. Tapi, juga memenjarakan banyak mage kami yang paling kuat, dengan harapan untuk menyiksa mereka, dan belajar.”

 Mataku terbelalak, melihat semburan info kristal yang tiba-tiba itu. Aku tidak tahu, seberapa banyak yang harus dipercaya. Tapi jika apa yang dikatakan itu semua benar, maka Klan Indrath tidak jauh berbeda dari Agrona dan Klan Vritra.

 Aku ingin berdebat… mengatakan, jika tidak semua naga seperti itu.

Sylvia dan Lady Myre adalah beberapa makhluk paling baik yang pernah aku temui, yang telah mengajariku begitu banyak.

Tapi, pikiran yang diceritakan Sylvia, menimbulkan kecurigaan baru. Berdasarkan pesan terakhirnya, sepertinya dia datang untuk membenci klan-nya.

Apakah rune emas yang ia miliki, merupakan produk sampingan dari temuan mereka dari para mage kuno ini?

 Menggigit lidahku, aku mengangguk dengan sungguh-sungguh.

 Kristal itu sepertinya mengamatiku, sebelum berbicara sekali lagi.

“Maafkan aku, atas kemarahanku. Bukan hanya knowledge-ku yang disimpan di sini, tapi juga emosiku. Seperti yang kamu duga, Klan Indrath… bersama dengan asura lainnya yang dibodohi oleh pemimpin mereka… hingga percaya, jika kami adalah ancaman yang bertekad untuk menghancurkan dunia…

Mereka telah berhasil dalam genosida mereka, tapi tidak dalam mengejar knowledge kami.”

 “Karena Relictombs yang kamu bangun untuk mengusir asura?”

Aku bertanya.

 “Relictomb?”

 “Itulah yang disebut orang-orang yang mempelajari tempat ini,”

Aku menjelaskan.

 “Sungguh sesuai. Ya. Tempat ini adalah hasil karya ratusan mage yang mahir, menggunakan berbagai decrypt yang berbeda. Seperti, yang mungkin sudah kamu duga.

Waktu, ruang, dan kehidupan semuanya bekerja secara berbeda di sini, dan lebih banyak dari proses alami waktu daripada desain kami sendiri,” kata kristal, dengan sedikit kebanggaan.

“Sementara peradaban kami telah dirampok dan dibakar. Kami telah menciptakan ekosistem yang terpisah dari bagian dunia lainnya, yang tidak dapat disentuh oleh asura.”

 “Aku tidak mengerti, bagaimana semua itu mungkin terjadi. Dengan ratusan mage aether, bagaimana kalian bisa kalah?” tanyaku, lebih bingung dari sebelumnya.

“Dan juga, bagaimana mungkin orang-orangmu menciptakan tempat, di mana hanya makhluk lesser/yang lebih rendah, yang diizinkan… ketika Klan Indrath atau terbatas seperti itu, masih memiliki kemampuan untuk mempengaruhi aether.”  

“Aku tidak bisa mengatakannya,” kata kristal itu.

“Dan, kami mampu melakukannya, dengan upaya dari banyak spatium mage.”

Frustrasi berkobar di dadaku, dan Regis merasakannya juga. Dia dengan ringan memukul kakiku, dengan ekornya.

“Baik,” kataku.

“Bagaimana dengan lesser yang menjelajahi tempat ini, mencari untuk menjarah apa pun yang mereka bisa, dengan harapan menjadi lebih kuat. Dan, menemukan potongan-potongan knowledge yang telah kamu simpan di sini, untuk dibawa kembali ke asura yang mereka layani?”

 “Seperti yang kemungkinan besar kamu saksikan secara langsung, kami telah menyusun pengamanan untuk kemungkinan itu. jadi…”

 “Yah, kemungkinan itu perlahan-lahan gagal,” potongku.

“Mungkin bertahan beberapa waktu. Tapi seperti yang aku bilang, asura dari Klan Vritra sudah hampir mendapatkan knowledge, tentang apa yang orang-orangmu ketahui tentang aether… dengan menggunakan lesser, untuk jelajahi reruntuhan ini untuknya.”

“Kamu harus mendapatkan knowledge tentang aether lebih cepat. Dibandingkan dengan asura, yang bahkan tidak mampu melintasi bidang ini… fisik dan pemahamanmu yang unik memberikanmu keuntungan,” jawab kristal itu.

“Itu tidak cukup. Agrona telah memiliki ratusan, jika tidak… ribuan tahun lebih cepat dariku!”

Kristal itu meredup.

“Tapi, terlepas dari semua itu, Agrona ini melihatmu sebagai ancaman, kan?”

Aku mengerutkan kening.

“Ya. Tapi…”

“Lalu, ada harapan. Itu berarti, ada kemungkinan kamu berhasil.”

Rasanya, aku seperti sedang berbicara dengan batu pada saat ini.

“Nah, ‘batu’ non-makhluk yang terbuat dari aether…”

“Pekerjaanku bukanlah untuk membimbing mu atau meyakinkanmu. Ini juga bukan di tanganku untuk mengontrol hasil dari Destiny/Takdir. Ini hanya untuk memberi keuntungan pada kita,” kata batu itu, seolah merasakan frustrasiku.

“Dan itulah mengapa, kamu akan menerima ini…”

 Tiba-tiba, lingkaran batu yang berputar di sekitar kristal berhenti, dan kilatan cahaya ungu menyelimutiku, sebelum aku sempat bereaksi.

 Rasa geli memancar dari lengan kananku hingga ke tulang punggungku. Tapi, bahkan itu hanya berlangsung sedetik.

Cahaya redup dan hal pertama yang aku perhatikan adalah, tanda hitam mengalir di bagian dalam lenganku.

“Apa ini?”

“Itu …” kata kristal itu,

“…adalah penyimpanan ekstra-dimensi, yang terukir langsung ke lenganmu. Kamu menyebutkan kepadaku tentang kemampuan regenerative-mu. Jadi, rune ini agak istimewa. Bahkan, jika lenganmu dipotong, selama itu tumbuh kembali… rune ini akan tetap bersamamu.”

“Jadi, tidak ada yang bisa mencuri apa pun, yang disimpan di dalam sana?”

Regis bertanya, menurunkan lenganku dengan cakarnya, sehingga dia bisa melihat lebih baik.

“Tepat,” jawab kristal itu.

“Ini memang membatasi ruang di dalam rune. Tapi menurutku, itu masih akan muat, tentang nilai dari apa pun yang tidak organik atau benda mati.”

Mataku mempelajari bentuk geometris kompleks, yang membentuk rune yang mengalir di lenganku.

“Ini…”

“Kamu juga memberi-tahuku, jika asura yang kamu lawan ini, telah menciptakan peradaban mage, dengan bentuk rune dasar yang mengalir di punggung mereka, untuk membantu mereka dalam sihir.

Supaya kamu bisa berasimilasi dengan lebih baik, aku mengukir beberapa rune tak berguna di punggungmu, yang secara kasar mendeskripsikan mantra aether-mu, sebagai subtipe langka dari mana murni,”

Kristal itu menjelaskan.

“Aku tidak yakin, seberapa baik mereka dapat membaca bentuk mantra. Tapi setidaknya, itu memungkinkan mu untuk menggunakan kemampuan aether dasar-mu, tanpa menimbulkan terlalu banyak kecurigaan.”

 “Wow. Kamu benar-benar seorang Alacryan sekarang,” goda Regis, menggunakan kakinya untuk mengangkat bagian belakang kemejaku.

 Menembak rekanku dengan tatapan tajam, aku menepiskan kakinya.

 “Berhati-hatilah. Jika kamu menggunakan decrypt aetheric, godrune akan bersinar di atas rune palsu ini,”

Kristal itu memperingatkan.

Aku mengangguk mengerti, menunjukkan rasa hormat untuk pertama kalinya.

“Terima kasih, sungguh. Kedua hadiah ini akan sangat membantu.”

 “Jangan berterima kasih dulu. Artefak asli ada di dalam penyimpanan ekstra-dimensi di lenganmu. Itu menyimpan knowledge yang dibutuhkan, untuk membuka kunci godrune lain.”

Mataku membelalak, saat aku dengan tergesa-gesa mengeluarkan satu item dari penyimpanan.

Sebuah batu berbentuk kubus kecil, terletak di telapak tanganku. Dan selain bentuknya dan bobotnya yang sangat berat, itu adalah yang terbaik.

Namun, aku tetap bersemangat dengan prospek membuka godrune lain, tanpa mencoba mendapatkan knowledge secara membabi buta.

“Akankah ini mengajariku, cara membuat aetheric weapon, seperti yang bisa kamu lakukan? Atau mungkin ‘meniadakan dampak serangan’?”

Aku mencoba menebak berdasarkan kemampuan yang ia gunakan di duel kami.

Kristal itu menjadi cerah.

“Tidak. Ini akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga, jika kamu bisa menguraikannya.”

“Menguraikan?”

Regis bertanya.

“Jadi, batu itu tidak hanya akan memberi Grey sebuah godrune?”

“Jika itu mungkin. aku yakin Klan Indrath atau Vritra, akan lama mengambil kendali atas decrypt Destiny,” jawab kristal itu.

“Tidak. Ini hanyalah kompas pikiran untuk mendapatkan knowledge. Dan, ini adalah salah satu yang bahkan tidak dapat aku uraikan, saat masih hidup.”

 “Apakah tidak mungkin bagiku, untuk menukar artefak ini dengan artefak lain, yang akan memberiku kemampuan yang aku sebutkan sebelumnya?”

Aku bertanya.

“Belajar memanifestasikan senjata atau mampu meniadakan serangan fisik, akan sangat membantuku dalam melawan Alacryan dan Vritra.”

“Kedua decrypt ini adalah cabang kecil, yang aku yakin kamu bisa mendapatkan knowledge-nya sendiri,” kata kristal itu.

“Di sisi lain, artefak itu menyimpan decrypt, yang mampu membantumu di area ‘Relictomb’ yang belum kamu lintasi. Dan juga, itu membantumu membalikkan keadaan dalam pertempuran mendatang.”

Aku menyimpan artefak itu kembali ke ektra-dimensi, bersama dengan tas-ku yang memiliki batu Sylvie di dalamnya.

“Baik, tapi kamu baru saja mengatakan, jika kamu tidak dapat memecahkan artefak ini. Jika kamu setidaknya bisa membantuku mendapatkan knowledge untuk memanifestasikan aether…”

 Tiba-tiba, kami kembali ke laboratorium, kami berdua berdiri di depan portal seperti kaca.

“Apakah kamu benar-benar harus menawar, dengan kristal ether kuno?”

Regis menghela nafas, menggelengkan kepalanya.

“Aku bisa mendapatkan beberapa keuntungan tambahan, karena itu, bukan?”

Aku membantah.

Dengan semua yang telah aku lalui sejak tiba di Relictomb ini, aku tidak merasa lebih dekat, untuk mengetahui bagaimana perjalanan ini akan terungkap.

Agrona tidak akan berhenti, sampai dia berhasil mendapatkan pemahaman tentang Destiny. Dan tidak mungkin mengetahui, apakah keluargaku, Tess, Virion… semua orang yang aku sayangi, akan aman.

Namun, aku menjadi lebih kuat, dan menerima beberapa tugas, yang harus aku selesaikan.

Regis berbalik, memandangiku dengan tatapan serius.

“Bagaimana kamu bisa mendapatkan knowledge tentang decrypt aetheric lainnya?”

“Burst Step,” jawabku dengan seringai.

“Ternyata, teknik yang aku kembangkan beberapa tahun yang lalu, sudah menjadi langkah pertama, untuk mendapatkan knowledge tentang decrypt khusus ini.”

Regis memiringkan kepalanya.

“Pun intended?”

Aku mengerutkan kening.

“Permainan apa?”

“Steps… lupakan.”

Regis menghela nafas.

“Jadi, apa yang berubah dari Burst Step yang asli?”

Meskipun sulit untuk dijelaskan menggunakan kata-kata, aku menggambarkan sensasi yang aku rasakan, saat menggunakan Burst Step, melawan monster kolosal yang menjaga portal.

Alih-alih memperkuat hanya bagian tubuhku yang diperlukan untuk mengambil ‘stpes’ itu, aku menyatukan aether ke seluruh tubuhku.

Berbeda dengan saat aku menggunakan aether untuk memperkuat diri, pemahaman yang aku peroleh dari knowledge rune, membimbingku.

Itu hampir seperti menyetel frekuensi aether ke saluran tertentu, selama sepersekian detik. Sehingga, memungkinkanku untuk memotong ruang, ke lokasi yang telah ditentukan.

Seperti yang diharapkan, Regis sebenarnya terlihat lebih bingung, daripada sebelum aku menjelaskannya.

Tanpa knowledge yang aku peroleh pada saat itu, aku mungkin akan memiliki penampilan yang sama juga.

Setelah mendapatkan knowledge tentang decrypt Destruction dan cabang ruang khusus ini. Aku dapat mengerti, mengapa upaya Indrath untuk mendapatkan knowledge tentang aether melalui penyiksaan para mage kuno, tidak membuahkan hasil.

Bukan karena mereka tidak menjelaskan, itu karena mereka tidak bisa. Bahkan, decrypt terbaru ini berbeda, dari saat aku telah sepenuhnya menggunakan dragon will milik Sylvia.

Dulu, ketika aku bisa menggunakan ‘Burst Step semu’ semacam ini. Itu adalah saat aku ‘melipat’ ruang dan mengambil langkah fisik melalui lipatan itu, untuk melewati jarak yang tidak mungkin.

Meski memiliki hasil yang serupa, ini berbeda.

Aku tidak memanipulasi ruang di sekitarku. Tapi, memanipulasi tubuhku menjadi getaran aether, yang mampu menyelinap melalui ruang, dengan kecepatan yang hampir seketika.

 “Jadi ini seperti Burst Step 2.0,” duga Regis.

 “Ini bukan teleportasi yang sebenarnya. Tapi menurutku, tingkatannya jauh lebih tinggi dari Burst Step.”

 Ekor Regis mulai mengibas.

“Jadi seperti… Heaven Steps?”

 Aku menghela nafas.

“Haruskah kamu memberi nama untuk semuanya? Tidakkah menurutmu, itu meremehkan tekniknya?”

 “Hanya jika namanya menyebalkan,” jawabnya.

“Hmm… Asura Steps?”

 Aku mengangkat alis.

“Musuh kita yang harus kita kalahkan, adalah asura.”

 “Kamu benar,” katanya sebelum matanya berbinar.

“Ooh! God Step.”

 Aku berpikir sejenak, sebelum sebuah senyuman muncul di wajahku.

“God Step… Aku menyukainya.”

“Bagus!”

Regis tiba-tiba melompat, menghilang ke punggungku.

‘Apakah kamu siap untuk Alacrya, Putri?’

 Mengambil napas dalam-dalam, aku menghadap portal, menatap pemandangan di sisi lain.

Aku harus mengambil langkah demi langkah.

Dimulai dengan yang ini.

 “Tentu saja.”




< Prev  I  Index  I  Next >

Post a Comment for "BAE_274"

Pemberitahuan Update via Email